ADVERTISEMENT
Selasa, Oktober 6, 2026
Surabayastory.com
No Result
View All Result
  • HEADLINE
  • SURABAYA TODAY
    • SKETSA KOTA
  • CERITA KITA
  • RANA
  • FIKSI & PUISI
  • INSPIRASI PAGI
  • JEJAK
  • JENAKA
  • JELAJAH
  • LENSA
  • Login
  • Register
  • HEADLINE
  • SURABAYA TODAY
    • SKETSA KOTA
  • CERITA KITA
  • RANA
  • FIKSI & PUISI
  • INSPIRASI PAGI
  • JEJAK
  • JENAKA
  • JELAJAH
  • LENSA
No Result
View All Result
Surabayastory.com
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT

Menelisik Jejak Falsafah Jawa

by surabayastory
11 April 2020
in Cerita Kita
Reading Time: 5 mins read
0
A A

Masyarakat Jawa yang dikenal sudah mempunyai tingkat peradaban tinggi sejak dulu kala, dilingkupi banyak falsafah hidup yang membuatnya tetap ‘hidup’ dan beradab..

Sumber foto: Tropenmuseum

.

Surabayastory.com – Luas dibicarakan, filsafat Jawa atau kehidupan manusia Jawa telah lama menjadi perbendaharaan dunia. Setelah bangsa Eropa meninggalkan tanah Jawa dan Indonesia, banyak hal yang mereka tinggalkan, begitu pula beraneka hal yang mereka bawa pergi ke negaranya. Catatan dan dokumen penting budaya dan falsafah Jawa kini lengkap tersimpan di museum-museum Eropa, terutama Belanda.

ArtikelTerkait

Perkenalan Singkat dengan Buah Tin

Mengelola CSR Menjadi Community Development

Mencari dan Memahami Makna Waktu

Selain Belanda yang berhasil menjajah negeri ini hampir 350 tahun, bangsa Inggris juga meninggalkan jejak di beberapa wilayah, antara lain Bengkulu di Sumatra Selatan. Beberapa peninggalan dan temuan penting di Bengkulu mengabadikan dengan nyata kehadiran Inggris, misalnya nama bunga bangkai (Rafflesia Arnoldi) di hutan jajaran Bukit Barisan yang dipadankan dengan Raffles. Benteng pertahanan yang melindungi Kota Bengkulu juga bernama Inggris, yakni Benteng Marlboro. Hampir semua patung atau penanda sejarah lainnya di pantai barat Sumatra ini juga berlabel Inggris.

Hanya bangsa Jepang yang pernah menjajah seumur jagung nyaris tidak meninggalkan jejak budaya apapun. Mungkin waktu berada di Jawa memang hanya sebentar. Selain itu penjajah Jepang lebih dikenal sebagai bangsa yang keras menindas dan meninggalkan banyak penderitaan. Hampir seluruh orang Jepang yang datang ke Jawa adalah tentara dan prajurit. Naluri dan alam psikologis mereka adalah perang, penaklukan, dan penjajahan. Tidak terdapat sentuhan budaya Jepang di sini, kecuali kecakapan penduduk Jawa yang mahir berbahasa dan bernyanyi lagu Jepang.

Negara-negara lain di kawasan Asia, khususnya Asia Tenggara, yang pernah singkat disinggahi penjajah Jepang, juga bernasib sama. Mereka itu umumnya mengenang kekejaman dan kebengisan tentara Jepang yang secara luas tega menodai gadis-gadis setempat tanpa tanggung jawab perkawinan sah (Jugun Ianfu). Gelombang protes datang dari banyak wanita Asia bekas jajahan Jepang. Namun sampai hari ini belum ada pernyataan maaf resmi pemimpin Jepang atas perlakuan buruk tentara mereka pada zaman Perang Dunia pertama itu.

Selama dijajah Belanda begitu lama, orang Jawa tidak terpuruk begitu dalam. Bahkan sebaliknya banyak pemikiran filsafat yang berkembang baik di kalangan keraton maupun masyarakat biasa di perdesaan. Salah seorang pemikir Jawa yang ajarannya mampu menembus zaman adalah Ki Ageng Soerjomentaram. Beliau adalah putra ke 55 di antara 79 putra-putri Sultan Hamengkubuwono VII yang lahir 22 Mei 1892. Ibunya BRA (Bendara Raden Ayu) Retnomandojo, seorang garwa ampil dan putri Patih Danuredja VI (Lihat ‘Psikologi Jawa’, Darmanto Jatman, Yayasan Bentang Budaya1997). Kelak dalam peristiwa politik keraton, Patih Danuredja VI diturunkan dari kepatihan, dan anaknya Retnomandojo diceraikan Sri Sultan.

Ki Ageng sendiri mendapatkan pendidikan dasar di sekolah keraton, kemudian bekerja sebagai pegawai administrasi. Pada umur 18 tahun beliau diangkat menjadi pangeran dengan gelar Bendara Pangeran Harjo (BPH) Soerjomentaram. Dalam perjalanan hidupnya Ki Ageng sangat tertarik pada kehidupan jiwa manusia Jawa yang kemudian dikenal sebagai  ‘kawruh jiwa’ atau ‘kawruh begja’. Ki Ageng banyak merenungkan penderitaan manusia dan perbedaan nasib antara para pangeran keraton yang menikmati hidup enak dengan para petani yang hidup tidak enak.

Begitu pula kehidupan para abdi dalem keraton yang sepanjang usia hanya menerima perintah, bekerja setulus hati dan sepenuh hari, tetapi tidak mendapatkan imbalan cukup. Bagaimana cara golongan bawah ini bisa membahagiakan hidupnya kalau hidup sangat dikekang formalitas dan perbedaan kelas? Ki Ageng tidak merasakan kehangatan hubungan antarmanusia, kecuali hanya ‘empat De’ ; Dangu, Dhawuh, Duka, Drana (bertanya, memerintah, marah, memberi hadiah).

Laku Ki Ageng Soerjomentaram

Dikisahkan Darmanto Jatman, psikolog, penyair, dan pengajar di Universitas Diponegoro Semarang, bahwa Ki Ageng sering bepergian keluar keraton untuk menyepi dan bersamadi. Beliau meninggalkan keramaian dan keagungan para pangeran keraton untuk mencari ‘sejatinya hidup’, karena kekayaan material telah menghambat kebahagiaan manusia. Beliau kemudian menanggalkan gelar kepangerannya dan hidup sebagai petani di desa Bringin, Salatiga, Jawa Tengah.

Hal ini mengingatkan orang akan riwayat Budha Gautama, atau filsuf India yang mashur sebagai pemikir modern Krishnamurti. Kedua tokoh ini pergi meninggalkan kemewahan dan kenikmatan hidup untuk menghayati makna hidup yang sesungguhnya. Pemikiran Krishnamurti juga mampu menembus zaman, bahkan melebar melampaui batas negaranya. Tak bisa disangkal, jalan filsafat Krishnamurti banyak kemiripan dan keselarasannya dengan para pemikir kejiwaaan Jawa seperti Ki Ageng. Mungkin keduanya tak jauh-jauh dari sumber yang sama, Hindu-Budha, atau falsafah apapun yang bersifat universal.

Sebagian masyarakat desa Bringin masih mengingat pakaian kebesaran Ki Ageng, yaitu celana hitam petani yang longgar dengan sabuk kulit tebal, berkalung kain batik parang rusak barong, kain yang biasa dipakai para raja. Atribut ini dipersepsi sebagai ‘pemberontakan’ seorang putera keraton, atau sebaliknya justru sebuah harmoni busana antara petani dan para pangeran. Selain bertani, Ki Ageng banyak melakukan ceramah berkeliling dari kota ke kota, serta menerbitkan majalah ‘Jawah Kawruh’ yang tak bertahan lama.

Makna kegiatan Ki Ageng yang terbesar adalah menerjemahkan nilai ke dalam laku sehari-hari yang nyata. Mengubah moralisme menjadi kegiatan hidup (Darmanto Jatman hlm 44). Wejangan-wejangan ini menjadi piwulang Ki Ageng di setiap kesempatan bertemu dengan rakyat. Sebagian lagi wejangan itu diajarkan dalam setiap pertemuan beliau bersama Ki Pronowidigdo di Yayasan Hidup Bahagia di Jakarta tahun 1959. Oleh sebuah panitia penerbitan, wejangan tersebut dirangkum dalam buku ‘Ilmu Jiwa Kramadangsa’

Sesungguhnya Kramadangsa hanyalah sekadar nama, sebagai penanda rasa pribadi yang identik dengan nama sendiri setiap orang. Manusia mempunyai kemampuan untuk mengerti tujuan hidup dan kebutuhan hidup dengan pikirannya. Tujuan hidup itu mendorong manusia menciptakan cita-cita. Namun kegagalan mencapai cita-cita (ataupun keinginan) adalah penyebab derita. Manusia itu identik keinginan, dan keinginan bersifat mulur-mungkret. Kalau tercapai manusia merasa senang, kalau tak tercapai mendatangkan kesusahan.

Ketidakmampuan memahami rasa senang dan rasa susah ini akan menimbulkan ‘rasa terikat’. Tetapi bila manusia berhasil memahami rasa itu akan timbul ‘rasa merdeka’. Kata Ki Ageng, dalam pergaulan, mengerti rasa sendiri akan menimbulkan rasa damai. Karenanya meneliti dan mengerti rasa sendiri itu perlu. Seluruh perjalanan jiwa dalam memahami proses mengerti rasa ini, tidaklah memerlukan kehadiran guru. Tidak ada guru dalam praktik pertemuan mereka.

Sikap mengajarkan tanpa guru ini juga digemakan Krishnamurti, yang membubarkan padepokan jiwa miliknya karena dia tidak memerlukan murid-murid. Menurut Krishnamurti, setiap manusia memiliki kapasitas dan kemampuan mencapai derajat tertinggi (transenden) yakni tatkala dirinya mampu menaklukkan alam pikiran dan nafsunya. Di sanalah terdapat kebahagiaan dan kesejatian hidup. Ajaran beliau berpusat pada perubahan batin yang menyeluruh di setiap individu, yang akan menghasilkan perubahan masyarakat dan perdamaian dunia. Diperlukan revolusi batin dengan cara melihat diri kita sendiri dalam keadaan yang sebenarnya. Bukan secara bertahap, melainkan seketika. (Mary Lutyens, Yayasan Idayu Jakarta dan Yayasan Krishnamurti Indonesia, 1976. Judul asli ‘’The Penguin Krishnamurti Reader’’ diterbitkan di Inggris 1954, 1963,1965).

 

Renungan Sosrokartono

Pemikiran Ki Ageng juga terlacak pada renungan Sosrokartono, kakak Raden Ajeng Kartini, yang hidup pada masa bersamaan dengan Ki Ageng. Sekalipun banyak orang menganggap Sosrokartono adalah guru, namun ia sendiri menolaknya dengan mengatakan: ‘’Murid, gurune pribadi. Guru, muride pribadi’’. (Kusnadi Partosatmoko, 1970). Sosrokartono dikenal luas sebagai cerdik pandai yang menguasai banyak bahasa asing, menguasai ilmu politik, hukum dan juga budayawan yang produktif dan andal. Tak heran pula orang lebih memuliakan beliau sebagai guru ilmu dan guru kehidupan.

Sebagai tokoh yang menjelajah dunia, Sosrokartono sudah pasti bergaul dengan berbagai-bagai pemikiran, keyakinan religi, dan agama-agama Barat. Boleh jadi buah pikirannya adalah kumpulan saripati keunggulan dunia. Saling terpengaruh dan saling menguatkan budaya Jawa bisa terjadi di antara  budaya dan religi dunia.

Douglas R. Groothuis menulis dalam bukunya ‘’Unmasking The New Age’’, A New Religious Movement Trying to Transform Society, 1986, tentang lahirnya generasi baru yang berbeda dengan pemikiran arus besar (mainstream) Kristiani. Yang disebut generasi baru tidak mengacu pada golongan usia muda, melainkan suatu gerakan meluas yang lintas usia, bahkan lintas Negara dan budaya. Douglas sendiri tidak berhenti sebagai pemikir Barat. Dia juga belajar ke religi-religi Timur yang beraneka di Asia. Secara ringkas dapat disimpulkan, gerakan New Age ini memahamkan pengertian baru tentang ketuhanan, hubungannya dengan seisi kehidupan dunia. Bahwa pada setiap makhluk hidup dan benda yang tercipta di dunia menyiratkan sifat ketuhanan yang Esa. Pemahaman yang disebutnya sebagai hybrid spirituality (gabungan dari agama besar Hindu, Budha, Tao, dan sempalan-sempalannya) itu diyakini Douglas bakal menjadi kekuatan yang mengubah masyarakat dengan spiritualitas baru. –tks

Bagikan tulisan ini:
Tags: Falsafah JawaKi Ageng Soerjomentaramperadaban JawaSosrokartono
Previous Post

Daftar Ulang PTN 2020 Dilakukan Secara Online

Next Post

Jejak dan Sejarah Mobil Klasik Studebaker di Surabaya

Artikel Terkait

Manfaat kesehatan buah/daun buah tin sangat banyak. Dengan kandungan nutrisinya yang berlimpah, buah tin berpotensi mampu mencegah banyak penyakit. (surabayastory,com)
Cerita Kita

Perkenalan Singkat dengan Buah Tin

2 tahun ago
CSR dalam konteks Community Development (pengembangan dan pemberdayaan masyarakat) merupakan salah satu bentuk investasi sosial demi peningkatan kualitas kehidupan dan lingkungan. (istimewa)
Cerita Kita

Mengelola CSR Menjadi Community Development

2 tahun ago
Waktu menjadi relatif tergantung kepada kerangka acuan yang digunakan. Dalam wacana fisika, waktu tidak memiliki kecepatan yang real, tempo yang terukur dan tidaklah mengalir. (surabayastory,com)
Cerita Kita

Mencari dan Memahami Makna Waktu

2 tahun ago
Dalam karya Wallace tentang Borneo ini, kita seakan diajak untuk berpetualang keliling Borneo dan Celebes, serta berkenalan dengan masyarakat dan alam lingkungan di sekelilingnya.(surabayastory.com)
Cerita Kita

Sejarah Awal Peradaban Borneo

2 tahun ago
Nenek moyang bangsa Nusantara menurunkan banyak warisan, ilmu pengobatan merupakan tradisi warisan. Minum jamu berkhasiat untuk mencegah penyakit, meningkatkan kesehatan, mengobati, dan mempercantik tubuh. (surabayastory.com)
Cerita Kita

Jamu Jawa, Tradisi Penyembuhan Nenek Moyang Nusantara

2 tahun ago
Ada 10 faktor utama yang perlu diperhatikan dalam usaha konservasi penanaman mangrove di wilayah pesisir. Tampak hutan mangrove di kawasan Wonorejo Surabaya Timur. (sa)
Cerita Kita

Faktor-faktor Penting dalam Penanaman Mangrove

2 tahun ago
Next Post
Prosesi launching mobil Studebaker ketika pertama kali masuk Surabaya di Jl Kedungdoro 44, tahun 1938. (Han Samentini)

Jejak dan Sejarah Mobil Klasik Studebaker di Surabaya

Patung Gubernur Suryo yang berdiri di depan Grahadi. Sayang jati diri dan perjuangannya tak banyak diceritakan pada generasi masa kini. (sa)

Jejak Gubernur Suryo Bukan Hanya Patung

Sekuntum Cinta Rumi

Comments 53

  1. Georgetogue says:
    4 minggu ago

    News129.online is an online destination for useful and engaging content where readers can discover informative articles, fresh updates, and interesting stories. The online resource brings together fresh publications covering noteworthy developments, useful topics, practical information, and subjects that may interest a wide audience.
    The website provides a convenient place for readers who enjoy exploring new subjects, finding useful information, and following current topics. Visitors can explore the website at https://news129.online. News129.online strives to provide a simple and convenient experience for discovering interesting content, as the platform continues to expand with new publications and topics.

    Balas
  2. Frank Heike says:
    2 minggu ago

    I recently began researching rare coins.
    I was looking for coin market insights, but many resources were too general.
    I discovered https://groshi.xyz
    The site provides valuable insights about coin collecting.
    A good source of coin-related information.

    Balas
  3. Allannup says:
    1 minggu ago

    MindSift Extends Data Analytics Solution to Help Marketing Teams Identify and Target Ready-to-Buy Buyers

    Integrated platform combines buyer insight, identity matching, purchase interest and multichannel engagement together to help brands drive smarter growth decisions

    Dunstable, NH — 2026 — MindSift, a audience intelligence and advertising technology company, today announced the ongoing growth of its unified technology created to help marketers, sales teams and company owners better find, understand and target priority buyers

    The MindSift platform combines B2C and B2B information, audience matching, website engagement data, segment construction and shopping indicators within a one advertising environment. By linking these capabilities, MindSift enables businesses to move from customer identification to outreach without using disconnected analytics tools and sales platforms

    “Current marketing departments have access to massive quantities of data, but translating that data into usable action stays a serious obstacle,” said a MindSift company spokesperson. “MindSift is committed to making that workflow simpler by allowing organizations find the correct customers, identify meaningful intent indicators and activate their data across the mediums they already work with.”

    Turning Data Into Practical Audience Intelligence

    MindSift delivers use of a huge collection of individual and company information that teams can apply to develop extremely targeted lists based on consumer, firmographic, behavior and purchase-intent attributes

    The platform’s features encompass segment construction, online engagement matching, data augmentation, purchase-intent data and data outreach

    As opposed to treating these capabilities as disconnected growth functions, MindSift brings them together to give companies a much more cohesive perspective of potential clients and their possible shopping activity

    Helping Companies Recognize Buyer Interest Faster

    A critical component of the MindSift platform is its capacity to assist teams recognize behaviors that may suggest increased demand in a certain topic, solution or category

    Teams can apply these signals to prioritize audiences, expand current prospect and prospect information and improve the timing and fit of their growth and sales engagement

    MindSift’s Outreach Intelligence technology also broadens this strategy by pushing intent data and purchase cues into present CRM and marketing tools

    Created for Today’s Analytics-Focused Marketing

    MindSift is created for companies including growth and revenue groups to media buyers, agencies and business leaders hoping to achieve smarter results of proprietary and partner insight

    The system enables several core marketing use cases, covering:

    Creating highly precise individual and business segments
    Matching previously unidentified website guests
    Enriching current CRM and opportunity data
    Spotting buyer-intent data
    Focusing on prospects based on relevant attributes
    Reaching buyers across marketing and sales channels
    Connecting audience intelligence with existing enterprise software

    By integrating these functions, MindSift seeks to cut the complexity needed for turning big data sets into real-world growth wins

    About MindSift

    MindSift is a marketing insight and marketing platform firm providing capabilities for audience development, customer verification, visitor insight, purchase intent, data expansion and growth deployment. Its technology is built to help advertisers, sales departments, digital buyers and companies translate information into practical buyer value

    mindsift marketing data platform alternatives for B2C

    Balas
Next

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA POPULER

  • Cara Belajar Membaca Not Angka dan Tangga Nada

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jejak Sepeda Onthel Hima di Surabaya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mulai Hari ini, 24 April 2020, Seluruh KA Jarak Jauh Jakarta Berhenti Operasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Batik di Zaman Majapahit

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kesederhanaan dalam Keindahan Karya Ernest Hemingway

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kurs

Kurs USD: Sel, 6 Okt.

RajaBackLink.com
">
Surabayastory.com

© 2024 Surabaya Story - Let's Make Story, Let's Make History

KATEGORI

  • HEADLINE
  • SURABAYA TODAY
  • CERITA KITA
  • RANA
  • FIKSI & PUISI
  • INSPIRASI PAGI
  • JEJAK
  • JENAKA
  • JELAJAH
  • LENSA

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • HEADLINE
  • SURABAYA TODAY
    • SKETSA KOTA
  • CERITA KITA
  • RANA
  • FIKSI & PUISI
  • INSPIRASI PAGI
  • JEJAK
  • JENAKA
  • JELAJAH
  • LENSA
  • Login
  • Sign Up

© 2024 Surabaya Story - Let's Make Story, Let's Make History

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist