8 views 10 mins 0 comments

Memenangkan Persaingan dengan Menangkap Bahasa Tubuh

Setiap bahasa tubuh seperti sebuah kata dalam bahasa. Dengan kemampuan membaca yang tak terucap, kemungkinan untuk memenangkan persaingan dalam kehidupan ini jadi lebih besar.

Ilustrasi foto: detikHealth

 

Surabayastory.com – Dalam kehidupan, keseharian kita penuh dengan berbagai visual dan bahasa. Diantaranya tersampaikan secara nyata, dan sebagian lainnya tak terucap. Agar dapat dipahami dalam bahasa, seseorang harus menyusun kata-kata dalam suatu susunan, atau kalimat-kalimat yang menyampaikan pemikiran yang utuh. Bahasa yang terucap sebagai bahasa tutur, dimulai dari menemukan kata-kata, kemudian dirangkai dalam kalimat-kalimat, dan dipahami maknanya.

Sebaliknya, bahasa-bahasa yang terucap cenderung sulit bisa diartikan langsung. Pemahaman bahasa tubuh akan sangat sulit ketika berbagai unsurnya dipisahkan dari konteksnya. Meski demikian apabila bahasa tubuh sudah sesuai dengan susunan sikapnya maka gambaran yang utuh pun sudah diperoleh. Beberapa diantaranya percaya kalau memahami dunia komunikasi nonverbal secara sepintas dapat melengkapi mereka untuk berbahasa dengan lebih lancar. Sebaliknya usaha ini hanya akan membuat mereka kepada tingkat kesadaran namun tidak untuk menjadikan mereka pakar. Kami mencoba mendorong individu dari membuat kesimpulan melompat kepada kesimpulan dengan cepat berdasarkan observasi dan pemahaman terhadap bahasa tubuh yang dipisahkan. Memahami kecocokan antara bahasa tubuh yang satu dengan yang lain secara bersamaan jauh lebih penting. Suatu bahasa tubuh yang statis berlangsung selama beberapa detik mungkin mendukung kontradiksi dengan gerakan tubuh sebelumnya [ketidaksesuaian] , yang disangkal oleh bahasa tubuh sesudahnya.

Sesuatu yang sering kali disebut dengan tawa gugup adalah contoh yang baik dari ketidaksesuaian. Di setiap contoh kita telah merekam dalam tawa gugup ada ketidaksesuaian antara suara yang seharusnya dapat diindikasikan dengan suatu kegirangan dengan penempatan kelompok bahasa tubuh yang menggambarkan ketidaknyamanan yang amat sangat. Tidak hanya terdapat gerakan kegugupan tangan dan kaki, namun keseluruhan tubuh seperti sekuat tenaga ingin mencoba melarikan diri dari situasi yang tidak menyenangkan. Kelompok bahasa tubuh ini jarang dihasilkan dari ungkapan yang bersifaat candaan. Hal ini mengindikasikan orang yang tertawa tersebut menunjukan ketidakyakinan akan dirinya sendiri atau rasa takut akan situasi tertentu.

Dengan mencocokkan sekumpulan bahasa tubuh yang sesuai kita dapat memahami makna perilaku yang disampaikan dan mengetahui artinya. Tentu saja apa yang perlu kita temukan adalah bahasa tubuh yang sama tidak hanya mendukung satu dengan lainnya tapi juga bermanfaat untuk membentuk suatu gabungan. Sebagai contoh suatu rangkaian bahasa tubuh yang sesuai dari seorang salesman yang begitu cemas dan antusias mengenai penjualan produknya mungkin saja akan duduk di tepi kursi kaki terpisah satu dengan yang lain, mungkin ujung jari kakinya  seperti posisi pelari yang sedang bersiap, tangan diatas meja, dan posisi tubuh condong ke arah kedepan. Kesesuaian ekspresi wajah semakin memperkuat posturnya, mata memperhatikan dengan tajam, senyum tipis, dan mungkin alisnya nampak tidak bertaut.

Tubuh dan Perilaku

Memahami kesuaian bahasa tubuh bermanfaat untuk mengenali perilaku seseorang dan kemudian memberikan arti dari setiap perbuatannya. Hal ini bermanfaat sebagai pengontrol “anti menduga” yang akan memaksa kita untuk menganalisa lebih jauh sebelum membuat kesimpulan. Pada awalnya akan nampak sangatlah mudah untuk membaca bahasa tubuh seseorang dan menyenangkan mengetahui apa yang mungkin mereka maksudkan. Namun demikian, seseorang yang serius mempelajari bahasa tubuh dengan cepat mengerti bahwa setiap bahasa tubuh dengan cepat dapat disanggah, dijelaskan atau membingungkan orang lain. Pada saat yang berbeda, orang-orang tidak melatih kesadaran komunikasi nonverbalnya mungkin dapat melakukan penilaian yang cepat mengartikan bahasa tubuh tanpa memperhatikan kesesuaian. Dari pengalaman kami, hal ini  merupakan contoh yang terbukti paling merugikan bagi mereka.

Meski pada awalnya sulit berkonsentrasi untuk melihat bahasa tubuh secara obyektif, namun dengan melatih kesadaran kita setiap hari maka akan menjadikannya lebih mudah, seperti ketika mempelajari bahasa asing. Mengenai kesesuaian, apabila kita berkonsentrasi terhadap bahasa tubuh sebagai bagian yang harus disesuaikan untuk mengartikan kelompok bahasa tubuh, maka kesesuaian antara gerakan-gerakan dan bahasa tubuh akan lebih mudah untuk dipahami. Kontribusi ini bagus untuk mengetahui keseluruhan makna.

Dalam keseharian, komunikasi tidak selalu terucap dalam bahasa verbal. Sikap, gerakan-gerakan tubuh, juga bisa menjadi sebuah maksud dan keinginan. Bahasa tubuh seperti ini kerap dinamakan komunikasi nonverbal. Akan sangat bermanfaat jika kita bisa membaca dan menangkap maksud seseorang dari gerakan tubuhnya, jari-jarinya, kepalanya, atau bagian lainnya. Hal ini bertujuan untuk dapat menangkap sinyal awal dan maksud ‘tersembunyinya’, sehingga kita tahu bagaimana meresponnya.

Penggunaan ekspresi wajah juga merupakan salah satu komunikasi nonverbal. Contoh komunikasi nonverbal ialah menggunakan gerak isyarat, bahasa tubuh, ekspresi wajah dan kontak mata, penggunaan objek seperti pakaian, potongan rambut, dan sebagainya, simbol-simbol, serta cara berbicara seperti intonasi, penekanan, kualitas suara, gaya emosi, dan gaya berbicara.

Para ahli di bidang komunikasi nonverbal biasanya menggunakan definisi “tidak menggunakan kata” dengan ketat, dan tidak menyamakan komunikasi non-verbal dengan komunikasi nonlisan. Contohnya, bahasa isyarat dan tulisan tidak dianggap sebagai komunikasi nonverbal karena menggunakan kata, sedangkan intonasi dan gaya berbicara tergolong sebagai komunikasi nonverbal. Komunikasi nonverbal juga berbeda dengan komunikasi bawah sadar, yang dapat berupa komunikasi verbal ataupun nonverbal.

Objek Komunikasi

Salah satu jenis komunikasi nonverbal yang gampang ditangkap adalah komunikasi objek. Seorang polisi menggunakan seragam. Ini merupakan salah satu bentuk komunikasi objek.Komunikasi objek yang paling umum adalah penggunaan pakaian. Orang sering dinilai dari jenis pakaian yang digunakannya, walaupun ini dianggap termasuk salah satu bentuk stereotipe. Misalnya orang sering lebih menyukai orang lain yang cara berpakaiannya menarik. Selain itu, dalam wawancara pekerjaan seseorang yang berpakaian cenderung lebih mudah mendapat pekerjaan daripada yang tidak. Contoh lain dari penggunaan komunikasi objek adalah seragam.

Jenis lain yang lain adalah sentuhan. Sentuhan dapat termasuk: bersalaman, menggenggam tangan, berciuman, sentuhan di punggung, mengelus-elus, pukulan, dan lain-lain. Masing-masing bentuk komunikasi ini menyampaikan pesan tentang tujuan atau perasaan dari sang penyentuh. Sentuhan juga dapat menyebabkan suatu perasaan pada sang penerima sentuhan, baik positif ataupun negatif.

Berikutnya, dalam komunikasi nonverbal, kinesik atau gerakan tubuh meliputi kontak mata, ekspresi wajah, isyarat, dan sikap tubuh. Gerakan tubuh biasanya digunakan untuk menggantikan suatu kata atau frase, misalnya mengangguk untuk mengatakan ya; untuk mengilustrasikan atau menjelaskan sesuatu; menunjukkan perasaan, misalnya memukul meja untuk menunjukkan kemarahan; untuk mengatur atau menngendalikan jalannya percakapan; atau untuk melepaskan ketegangan.

Sementara vokalik atau paralanguage adalah unsur nonverbal dalam suatu ucapan, yaitu cara berbicara. Ilmu yang mempelajari hal ini disebut paralinguistik. Contohnya adalah nada bicara, nada suara, keras atau lemahnya suara, kecepatan berbicara, kualitas suara, intonasi, dan lain-lain. Selain itu, penggunaan suara-suara pengisi seperti “mm”, “e”, “o”, “um”, saat berbicara juga tergolong unsur vokalik, dan dalam komunikasi yang baik hal-hal seperti ini harus dihindari.

Bagian lain yang tidak kalah pentingnya adalah kingkungan untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu. Diantaranya adalah penggunaan ruang, jarak, temperatur, penerangan, dan warna. Budaya asal seseorang amat menentukan bagaimana orang tersebut berkomunikasi secara nonverbal. Perbedaan ini dapat meliputi perbedaan budaya Barat-Timur, budaya konteks tinggi dan konteks rendah, bahasa, dan sebagainya. Contohnya, orang dari budaya Oriental cenderung menghindari kontak mata langsung, sedangkan orang Timur Tengah, India dan Amerika Serikat biasanya menganggap kontak mata penting untuk menunjukkan keterpercayaan, dan orang yang menghindari kontak mata dianggap tidak dapat dipercaya.

Akan memberikan gambaran lengkap kepada Anda tentang komunikasi nonverbal mulai dari sinyal hingga gerakan-gerakan tertentu yang tersembunyi. Hadirnya ilustrasi akan menyegarkan mata dan Anda dapat memahaminya dengan lebih jelas.

Panduan tipe-tipe komunikasi nonverbal yang akan memberi Anda wawasan hingga perbedaan dari jenis-jenis bahasa tubuh –dari kejadian-kejadian biasa yang seringkali hanya dimengerti samar-samar atau bahkan sama sekali diabaikan. Materi ini bila diasah secara terus-menerus akan memberikan makna keseluruhan yang dapat mempengaruhi situasi dalam kehidupan. Di sanalah kemudian Anda bisa memetik hikmah lebih awal dan memenamgkan persaingan dalam kehidupan. –drs

Avatar photo
/ Published posts: 787

Bercerita berarti penyampaian cerita dengan cara bertutur. Yang membedakan adalah metode penyampaiannya.