ADVERTISEMENT
Senin, April 20, 2026
Surabayastory.com
No Result
View All Result
  • HEADLINE
  • SURABAYA TODAY
    • SKETSA KOTA
  • CERITA KITA
  • RANA
  • FIKSI & PUISI
  • INSPIRASI PAGI
  • JEJAK
  • JENAKA
  • JELAJAH
  • LENSA
  • Login
  • Register
  • HEADLINE
  • SURABAYA TODAY
    • SKETSA KOTA
  • CERITA KITA
  • RANA
  • FIKSI & PUISI
  • INSPIRASI PAGI
  • JEJAK
  • JENAKA
  • JELAJAH
  • LENSA
No Result
View All Result
Surabayastory.com
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT

Belajar Bangkit dari Etos Kerja Korea Selatan

by surabayastory
28 April 2020
in Cerita Kita
Reading Time: 3 mins read
0
A A

Korea Selatan dan Indonesia berangkat dari dasar yang mirip. Kenapa Korea Selatan maju lebih cepat? Kita bisa belajar.

Surabayastory.com – Sejarah korsel dengan Indonesia sebenarnya tidak begitu berbeda. Korsel menjadi negara merdeka dua hari lebih awal dari Indonesia. Setelah merdeka, kedua negara tidak bisa langsung fokus membangun negara. Korea disibukan dengan perang saudara dan Indonesia harus menghadapi ambisi Belanda untuk menjajah kembali.

ArtikelTerkait

Perkenalan Singkat dengan Buah Tin

Mengelola CSR Menjadi Community Development

Mencari dan Memahami Makna Waktu

Di tahun 1950, Korea Selatan merupakan salah satu negara termiskin di dunia. Sama dengan sejumlah negara di Afrika dan Asia. Sementar ekonominya hanya bersandar pada pertanian. Begitu juga Indonesia mulai pembangunannya sebagai negara miskin yang bertumpu pada pertanian. Justru kita punya kelebihan yang tidak dimiliki Korea, sumber daya alam yang besar.

Namun 4 dekade kemudian Korea Selatan berubah cepat dari negara termiskin menjadi salah satu negara paling kaya dan tercanggih di dunia. Kekuatannya berlipat-lipat dari negeri kita. Ini bisa dilihat dari berbagai indicator mulai dari PDB, pendapatan perkapita, volume ekspor, cadangan devisa, dan sebagainya.

Seperti di Indonesia, di Korea Selatan pun ada pengemis. Berbeda dengan pengemis dan gelandangan di Indonesia yang mengemis karena tidak ada pekerjaan lain, di Korsel pengemis benar-benar orang malas. Kalau di Indonesia para pengemis berpakaian kotor, usianya dari tua sampai muda, sering dikejar-kejar Satpol PP, sedangkan di Korsel mereka bersepatu, berpakaian lumayan rapi, dan sesekali berkaca mata hitam. Tak jarang para pengemis Korsel bermodalkan alat musik untuk sekadar menghibur. Mereka lebih cenderung sebagai pengamen.

Di manapaun mereka berada , pengemis Korea tak pernah merasa takut dijaring petugas ketertiban. Hanya saja di beberapa tempat keramaian ada tulisan himbauan untuk tidak memberi uang kepada mereka.

Para peminta-minta di Korsel bisa ditemukan di stasiun-stasiun kereta api. Sasaran mereka adalah orang-orang asing.  Ini memang merupakan sisi lain dari Korea Selatan yang mengejutkan, Sebagai gambaran di China, kita akan sulit sekali menemukan pengemis.

Namun keberadaan pengemis ini  tak ada artinya dibanding etos kerja kebanyakan orang Korea. Mereka tak sampai menghambat kemajuan Korsel karena terlalu banyak pekerja keras yang ada di Korsel.

Ada yang bilang etos kerja orang Jepang adalah 5 kali lipat dari etos kerja orang Indonesia , sedangkan etos kerja penduduk Korea Selatan adalah 3 kali lipat dari etos kerja penduduk Jepang.

Keberhasilan Korsel jelas didukung budaya kerja keras dan etos kerja yang tinggi. Orang Korsel dikenal sebagai pekerja keras, dengan jam kerja jauh lebih panjang dibandingkan bangsa di negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) lain. Faktor lain adalah adanya kemitraan kuat antara pemerintah, swasta dan masyarakat, serta kemampuan masyarakat untuk beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan teknologi dan tantangan baru.

Etos Kerja Sejak Sekolah

Etos kerja rakyat Korsel sudah ditempa para orangtua sejak masa sekolah.  Di Korea Selatan semua orang ingin anaknya menjadi yang terbaik dari segi akademik. Seorang anak yang baru menginjak umur tiga tahun sudah harus masuk sekolah berasrama (boarding school) dari Senin hingga Jumat. Otomatis si anak hanya dua hari bertemu dengan kedua orangtuanya.

Ketika masa sekolah yang sesungguhnya tiba, selain pelajaran di sekolah anak-anak masih dileskan. Begitu berambisinya para orangtua menjadikan anaknya pintar, sampai-sampai jumlah pengajar tempat les (hagwon) jauh lebih besar dibanding jumlah guru sekolah.

Jurnalis Time menemukan angka-anak Korea belajar sampai dinihari. Mereka hanya tidur 5-6 jam per hari dari yang seharusnya sembilan jam. Efek negatifnya tentu ada. Kehidupan yang penuh tekanan seperti itu akan memicu stres. Tak heran bila Korea Selatan mencatat angka bunuh diri tertinggi di antara 30 negara maju, melebihi angka bunuh diri negara Jepang.

Menyadari hal ini, Pemerintah Korea Selatan mengambil tindakan drastis dengan menghentikan kegiatan belajar anak-anak yang dirasa berlebihan.  Majalah Time pernah memberitakan, pemerintah negeri ginseng itu menurunkan tim kecil berkekuatan 5-6 orang untuk merazia anak-anak yang masih belajar setelah jam 10 malam. Yang menjadi sasaran utama adalah tempat-tempat les/bimbingan belajar.

Time menemukan bahwa murid-muris itu bekerja keras (work hard), tetapi tidak bekerja secara cerdik (work smart). Contohnya, pada malam hari banyak siswa yang belajar sampai dinihari. Tapi keesokan harinya ketika di kelas mereka tertidur.  Seandainya mereka memusatkan perhatian di dalam kelas, niscaya mereka tidak perlu mengikuti les ini-itu di malam hari.

Sebagai perbandingan adalah negara Finlandia sebagai satu-satunya negara maju yang mencatat hasil ujian akademik anak usia 15 tahun sebanding dengan Korea, hanya 13% anak sekolah yang mengambil les tambahan di malam hari. Jadi sebenarnya les-les semacam itu tidak
perlu jika si anak benar-benar memusatkan perhatian di sekolah.

Kegilaan belajar anak Korea juga diakibatkan oleh kompetitifnya proses masuk ke perguruan tinggi. Hanya ada tiga perguruan tinggi top di Korea Selatan yang diperebutkan oleh 580 ribu lulusan sekolah menengah. Tingkat penerimaan hanya 14%. Yang gagal biasanya mengambil les hagwon, dan setelah bekerja keras bagai kesetanan selama dua minggu untuk ujian ulang, sebagian di antara mereka bisa masuk ke perguruan tinggi top tersebut.

Korea Selatan dengan cepat bangkit dari keterpurukannya. Negara menfasilitasi semua keperluan warga negaranya untuk maju bersama. Kita bisa mencontohnya, belajar untuk bangkit dengan bekerja keras. Bukan hanya pintar berdebat dan komentar di media sosial. –drs

Bagikan tulisan ini:
Tags: belajar dari koreaetos kerjakorea selatankorsel
Previous Post

Garis-garis Eksotis Gedung NIAS

Next Post

Mulai 1 Mei Pelanggar PSBB Akan Kena Sanksi

Artikel Terkait

Manfaat kesehatan buah/daun buah tin sangat banyak. Dengan kandungan nutrisinya yang berlimpah, buah tin berpotensi mampu mencegah banyak penyakit. (surabayastory,com)
Cerita Kita

Perkenalan Singkat dengan Buah Tin

2 tahun ago
CSR dalam konteks Community Development (pengembangan dan pemberdayaan masyarakat) merupakan salah satu bentuk investasi sosial demi peningkatan kualitas kehidupan dan lingkungan. (istimewa)
Cerita Kita

Mengelola CSR Menjadi Community Development

2 tahun ago
Waktu menjadi relatif tergantung kepada kerangka acuan yang digunakan. Dalam wacana fisika, waktu tidak memiliki kecepatan yang real, tempo yang terukur dan tidaklah mengalir. (surabayastory,com)
Cerita Kita

Mencari dan Memahami Makna Waktu

2 tahun ago
Dalam karya Wallace tentang Borneo ini, kita seakan diajak untuk berpetualang keliling Borneo dan Celebes, serta berkenalan dengan masyarakat dan alam lingkungan di sekelilingnya.(surabayastory.com)
Cerita Kita

Sejarah Awal Peradaban Borneo

2 tahun ago
Nenek moyang bangsa Nusantara menurunkan banyak warisan, ilmu pengobatan merupakan tradisi warisan. Minum jamu berkhasiat untuk mencegah penyakit, meningkatkan kesehatan, mengobati, dan mempercantik tubuh. (surabayastory.com)
Cerita Kita

Jamu Jawa, Tradisi Penyembuhan Nenek Moyang Nusantara

2 tahun ago
Ada 10 faktor utama yang perlu diperhatikan dalam usaha konservasi penanaman mangrove di wilayah pesisir. Tampak hutan mangrove di kawasan Wonorejo Surabaya Timur. (sa)
Cerita Kita

Faktor-faktor Penting dalam Penanaman Mangrove

2 tahun ago
Next Post
Volume kendaraan dari arah Selatan Surabaya terus menurun dengan adanya pembatasan sosial. (sa)

Mulai 1 Mei Pelanggar PSBB Akan Kena Sanksi

Sebuah Pendahuluan tentang Postmodern

Narcissus melekat pada bayangannya sendiri di musim semi.  JW  Waterhouse, 1903. (public domain).

Story Panjang tentang Narsis dan Sejarahnya

Comments 7

  1. Reyna Hemans says:
    1 tahun ago

    Throughout this awesome pattern of things you actually secure an A just for effort and hard work. Where you actually lost me personally was first in your details. You know, people say, details make or break the argument.. And it couldn’t be much more correct right here. Having said that, allow me reveal to you just what did give good results. Your authoring is definitely pretty powerful which is most likely why I am making the effort to opine. I do not make it a regular habit of doing that. Secondly, although I can see the jumps in reason you make, I am definitely not certain of how you seem to unite the ideas which help to make your final result. For right now I shall subscribe to your issue however hope in the future you connect the dots better.

    Balas
  2. Merlin Caberto says:
    1 tahun ago

    Hello.This article was really interesting, particularly because I was looking for thoughts on this topic last Tuesday.

    Balas
  3. Sign Up says:
    1 tahun ago

    Thank you for your sharing. I am worried that I lack creative ideas. It is your article that makes me full of hope. Thank you. But, I have a question, can you help me?

    Balas
  4. Ping-balik: monixbet casino online spelen
  5. Ping-balik: ufa118
  6. Ping-balik: sa789
  7. Ping-balik: บริษัทรับทำเว็บไซต์

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA POPULER

  • Mengenal Jenis-jenis Konsumen

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • RANTING & DAHAN TAK PERNAH MENGELUH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • TERIK PAGI

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tilang Karena Tak Lihat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perlindoengan Peladjar dan Asrama Jalan Kamboja Surabaya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kurs

Kurs USD: Sen, 20 Apr.

RajaBackLink.com
">
Surabayastory.com

© 2024 Surabaya Story - Let's Make Story, Let's Make History

KATEGORI

  • HEADLINE
  • SURABAYA TODAY
  • CERITA KITA
  • RANA
  • FIKSI & PUISI
  • INSPIRASI PAGI
  • JEJAK
  • JENAKA
  • JELAJAH
  • LENSA

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • HEADLINE
  • SURABAYA TODAY
    • SKETSA KOTA
  • CERITA KITA
  • RANA
  • FIKSI & PUISI
  • INSPIRASI PAGI
  • JEJAK
  • JENAKA
  • JELAJAH
  • LENSA
  • Login
  • Sign Up

© 2024 Surabaya Story - Let's Make Story, Let's Make History

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist