10 views 7 mins 0 comments

Semua Ibu Ideal

Ini adalah sebuah kisah. Tentang remaja, tentang kehidupan sehari-hari yang lazim ditemui sehari-hari. Mungkin bisa menjadi renungan, atau juga disimpan sebagai kisah inspiratif. Selamat mengikuti.

 

 

 

Surabayastory.com – Sudah dua hari ini Bimby tidak pulang. Ia sengaja menginap di rumah Rusdy Zaki, sahabatnya satu kelas di SMP Matahari. Kebetulan  mereka sedang liburan.

Rusdy sudah  akrab dengan keluarga Bimby karena  ia  memang sering  bermain  ke  rumahnya.  Sebaliknya Rusdy pun sering bermalam di rumah Bimby. Keluarga Rusdy sayang pada Bimby karena meski anak keluarga berada, ia sangat baik.

Bimby sudah  membayangkan secara persis apa yang  terjadi  di rumahnya  sejak ia minggat. Ayah, adik, dan kakak-kakaknya  tentu bingung. Juga neneknya, dan mungkin juga ibunya.

”Mami bingung?  Akh,  mana mungkin. Mami orang  yang  sibuk dengan  dirinya  sendiri. Dia tidak akan peduli aku  pulang  atau tidak. Mamiku egois,” kata Bimby. Ia menangis di depan Bu  Emil, ibunya Rusdy.

”Itu  cuma perasaanmu. Tak baik berprasangka buruk  seperti itu.  Tak mungkin Mamamu tidak bingung kalau anaknya  pergi  tanpa pamit,” kata Rusdy.

”Kamu  nggak tahu Mamiku. Makanya kamu bisa  bilang  begitu. Aku  benci  Mami, benci!” Tangis Bimby kian  menjadi-jadi  merobek-robek keheningan malam.

Perumahan … Indah itu terletak sekitar 17 kilometer dari rumah Bimby. Tapi suasana rumah membayang jelas di pelupuk matanya. Leila adik kesayangannya menangis. Juga nenek yang selalu  memanjakannya.  Ayahnya mungkin marah, bisa juga sedih. Dan  Maminya … akh,  Bimby berusaha membayangkan Maminya tak di rumah.  Tapi  aneh, yang  muncul adalah gambar Maminya yang sedang duduk  tepekur  dan sesekali mengusap air matanya.

”Mami pernah juga menangis….,” kata Bimby tiba-tiba. Ucapannya mengagetkan Rusdy dan Bu Emil.

”Kenapa  Mamimu? Kenapa!?” desak Rusdy. Bimby terdiam,  dan ketika Rusdy mendesak lagi, bocah berwajah imut-imut itu akhirnya bicara. ”Mamiku pernah menangis ketika sangat kesal karena aku membantah kata-katanya,” katanya, kali ini suaranya melemah.

”Mamimu  cuma  menangis kesal, tapi tidak  memukulmu,  meski kamu  membantah.  Itu karena beliau sayang  kepadamu,”  kata  Bu Emil.

”Ibu  juga bilang begitu. Aku kepingin sekali  mempercayai kata-kata  Mami bahwa dia sayang sekali kepada Bimby.  Tapi  Mami tak pernah membuktikannya.”

Bu Emil dan Rusdy tersenyum mendengar kata-kata Bimby.

”Bukti apa lagi yang kamu minta dari Mamimu?!”

”Mami tidak sayang. Buktinya sudah dua hari aku minggat, tapi dia tidak mencari,” katanya.

”Lhoh, kamu kangen toh sama Mamimu?!” kata Bu Emil  menggoda. Bimby tak menjawab. Pikirannya berkecamuk. Ia mencoba mencari-cari alasan untuk membenarkan tindakan minggatnya.  Ia  jengkel karena sering pulang sekolah tanpa bertemu Maminya di rumah. Ia  juga kesal  karena  Maminya tak pernah  bersungguh-sungguh  membantunya mengerjakan  PR. Ia juga sangat jengkel karena Maminya tak  pernah sempat menonton ia bermain piano pada Malam Kesenian sekolah. Bimby bahkan marah sekali ketika Maminya tak acuh ketika ia  mencapai rangking pertama.

”Mami selalu  punya alasan,  seminar,  ceramah,  lokakarya, bisnis.  Aku pengen seperti anak-anak yang lain,  selalu  bersama Maminya. Saya iri kepada Rusdy,” katanya kemudian.

”Kalau Bimby  mau jadi anak ibu, boleh juga. Tapi  ibu  nggak bisa  lho  membiayai  kamu kursus piano,  kursus komputer,  bahasa  Inggris, berlibur  ke  vila  …”

”Dan kamu harus membantu aku mencuci piring, ngepel lantai, menyapu. Semua harus dikerjakan sendiri, nggak bisa tinggal perintah pembantu kayak di rumahmu,” sambung Rusdy memotong kalimat ibunya.

”Aku  mau, daripada dimanja-manja tapi tak pernah  mendapat kasih sayang,” sahut Bimby.

Bener nih!?” tanya Rusdy setengah menggoda.

Yang ditanya tak menjawab, karena ia sadar, ia mengucapkannya dengan setengah hati. Tiba-tiba  saja ia jadi ragu, apa benar kasih sayang mami yang selama ini dituntutnya, belum pernah  diperolehnya.

Samar-samar tergambar wajah Maminya yang cantik. Wajah  seorang  ibu yang hampir selalu kelihatan letih. ”Mami memang  selalu sibuk. Beberapa kali Mami mengajakku nonton  tivi,  tapi  hampir selalu aku kemudian melihat ia tertidur di depan tivi.  Kasihan Mamik,” kata Bimby. Kalimat itu meluncur begitu saja dari  bibirnya. Bimby yang tadi meledak-ledak, tiba-tiba berubah lembut.

Bu  Emil  dan  Rusdy tersenyum  bahagia.  ”Pada  dasarnya setiap  ibu  sama saja. Tak ada ibu yang tak sayang  pada  putra-putrinya.  Setiap ibu adalah tokoh ideal  bagi  putra-putrinya,” tutur Bu Emil.

”Maksud ibu?”

”Kita  harus menerima sosok ibu secara apa adanya.  Artinya kita harus siap menerimanya dengan segala  kelebihan dan kekurangannya. Ibu ideal yang digambarkan di film dan sinetron, itu  ya cuma ada di televisi,” tutur Bu Emil.

”Pokoknya jangan menuntut terlalu banyak dari ibumu. Kalau aku boleh menuntut, barangkali aku sudah minggat tujuh kali, masing-masing tujuh hari,” goda Rusdy disambut cubitan sayang ibunya. Mesra sekali.

”Nabi  Muhammad pernah ditanya tentang siapakah orang yang lebih berhak dihormati.  Nabi sampai tiga kali menyebut  kata ‘ibumu’, dan setelah itu baru ‘bapakmu’. Nabi tak memberi  syarat ibu yang bagaimana, pokoknya ibu,” tutur Bu Emil.

Evi  terdiam agak lama. Entah apa yang  dipikirkannya.  Dan ketika  ia  hendak bangkit dari duduknya dan bicara, tiba-tiba tangan lembut memeluk tubuhnya dari belakang. ”Mami menyayangimu Bim, sayang sekali, lebih dari yang engkau harapkan dari Mami.”

Suara  itu  terdengar lemah dan lembut  sekali.  Tapi  cukup untuk membuat Bimby tersentak. Suara Maminya. Bimby segera  menghambur dan bersujud. ”Maafkan Bimby, Mam, maafkan.”

”Tak ada yang perlu dimaafkan. Mami sudah di sini sejak pagi tadi. Bapaknya Rusdy yang mengabari Papimu. Mami  sudah mendengarkan  semua kejengkelanmu pada Mami. Mami bisa ngerti, kok.”

Suasana hening mencekam perasaan. Ibu dan anak itu tenggelam dalam keharuan.

”Maafkan  Bimby,  Mam,  maafkan…” –Zaenal Arifin Emka

Avatar photo
/ Published posts: 788

Bercerita berarti penyampaian cerita dengan cara bertutur. Yang membedakan adalah metode penyampaiannya.