9 views 6 mins 0 comments

Sampah Kulit Kerang di Kenjeran Surabaya yang Tak Terselesaikan

Di antara keindahan pantai Kenjeran yang terus ditata, masalah pembuangan kulit kerang belum juga ada jawabannya.

 

Kulit kerang yang dibuang terus menggunung di bibir pantai Bulak, Kenjeran, Surabaya. Berpadu dengan sampah plastik yang mengganggu pemandangan. (sa)

 

Surabayastory.com – Kehidupan di pantai Bulak, kawasan Kenjeran Surabaya, terus dipercantik dengan berbagai sentuhan; taman, patung ikon Suro-Boyo, penataan wilayah, hingga sentra ikan. Sebagai daerah baru, dikembangkan untuk tempat tujuan wisata kota di perbatasan Surabaya Timur dan Surabaya Utara.

Di antara ‘keindahan baru’ yang diciptakan, masih menyisakan masalah lama yang belum ada jalan keluarnya. Masalah ini belum juga tersentuh, melihat masih bertumpuknya material buangan yang ada di sana.

Limbah buangan sisa hasil laut sangat mengganggu. Limbah itu berupa kulit kerang yang jumlahnya terus meningkat. Di kampung Bulak, Kenjeran, sebagai kawasan di wilayah pantai, masyarakat mayoritas hidup sebagai nelayan. Di antara mereka menangkap ikan, dan sebagian lagi mereka mencari kerang. Untuk mendapatkan kerang mereka harus menyelam.

Kerang yang mereka dapatkan bermacam-macam, salah satunya kerang bulu. Kerang ini bentuknya bulat, dan ada bulu-bulu tipis di cangkangnya. Kerang ini diambil dagingnya lalu cangkangnya dibuang. Lainnya ada cangkang dari kerang hijau, kerang gong-gong, kerang simping dan lainnya. Dari kerang-kerang tersebut, limbah itu bermula. Setelah ditangkap, kerang tersebut kemudian dikupas. Warga sekitar yang bekerja sebagai pengupas kerang, selain dari hasil tangkapanan sendiri juga berasal dari para pengepul.

 

Kulit kerang yang ditumpuk di bibir pantai Kenjeran, bercampur dengan sampah-sampah plastik. (sa)

Kesulitan Membuang

Setiap hari, kulit kerang ini terus bertambah jumlahnya, dan dibuang begitu saja di bibir pantai. Mengapa bisa begitu? Ternyata, tidak ada tempat pembuangan untuk kulit kerang yang mampu menampung jumlahnya sangat banyak. Sampah kulit kerang juga tidak bisa diterima di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Benowo. Para nelayan di sana menyatakan kebingungan ke mana harus membuangnya. Akhirnya ditumpuk saja di daerah yang kosong. Dan banyak pula yang dibuang kembali ke laut.

Setiap minggu ada sekitar 3 ton kulit kerang yang dibuang di sini. Sementara yang mampu diolah baru 10 persennya saja. Di antaranya dibuat kerajinan berbagai bentuk. Seperti kerajinan  sebagai  oleh-oleh  khas  daerah  Kenjeran Surabaya. Akan tetapi kebutuhan kerang untuk kerajinan jumlahnya tak sebanyak limbah  yang  dihasilkan. Tidak  semua cangkang  bisa  digunakan  sebagai  kerajinan.  Hanya  kerang yang  memenuhi bentuk dan  ukuran  yang  bisa dipakai.

Pengolahan lain yang juga tengah dikembangkan adalah dihancurkan lalu dibuat campuran material bangunan seperti batu blok paving.

Usaha lain untuk mengatasi limbah kulit kerang adalah meleburnya dan menjadikannya pakan ternak. Cangkang kerang yang mengandung kalsium tinggi sangat baik untuk pakan ternak. Kajian tentang pemanfaatan cangkang kerang banyak  dilakukan.  Dari hasil  laboratorium diketahui kandungan  cangkang  kerang meliputi  Calsium  (Ca)  sebesar  30-40%,  Fosfor  (P) 1% dan  protein  3%. Dengan komposisi ini cangkang  kerang  sangat  bagus  sebagai  pakan ternak  bebek petelur, bebek pedaging,  ayam pedaging,  ayam  petelur,  ayam  hias, juga jenis burung pemakan bijian seperti burung dara dan kenari. Tepung kulit kerang sangat baik untuk pertumbuhan  ternak.

Masalahnya, jumlah mesin penghancur cangkang itu masih sangat terbatas. Jumlah terpasang di sana lebih banyak dipakai sebagai percobaan. Permintaan bubuk kerang untuk bahan baku pakan ternak juga kecil.

Dengan serapan yang sangat sedikit membuat penumpukan  limbah  kerang  di  sekitar pemukiman  warga  semakin tidak terkendali. Akibat lanjutannya adalah berpengaruh pada polusi udara. Penumpukan kulit kerang ini menyebabkan bau yang tidak sedap, sehingga mengundang  datangnya tikus dan  serangga  yang menyebabkan  berbagai  penyakit  perut.

Selain itu, penumpukan  kulit  kerang  ini  menjadi  sarang hidupnya Bakteri  Coli,  yang mengakibatkan wabah muntaber atau diare. Juga menjadi sarang nyamuk yang menyebabkan demam berdarah.

Lingkungan ini tidak menarik menjadi bagian pemandangan tempat yang dipromosikan sebagai destinasi wisata. Perlahan, bila tak juga mendapatkan solusi, kondisi ini tidak menyehatkan dan mengganggu lingkungan. Dampaknya negatif untuk rencana  pembentukan  daerah  pesisir  ini  menjadi daerah parawisata.

Manusia merupakan komponen lingkungan, yang hidup bersama komponen alam lainnya, dan mengelola lingkungan. Karena manusia adalah makhluk yang memiliki akal dan pikiran, menjadi komponen utama dalam mengelola lingkungan sangat besar. Lingkungan mempunyai daya dukung dan hokum alam. Keduanya hidup berdampingan untuk dapat memenuhi kebutuhan sejumlah makhluk hidup agar dapat tumbuh dan berkembang secara wajar di dalamnya. –sa

Sumber: GESAMP (1976)

Avatar photo
/ Published posts: 788

Bercerita berarti penyampaian cerita dengan cara bertutur. Yang membedakan adalah metode penyampaiannya.