10 views 7 mins 0 comments

Di Bawah Kibasan Samurai Wanita

Samurai tidak hanya diisi oleh para lelaki. Kibasan pedang samurai wanita telah mencatat sejarah tersendiri di Jepang.

Gambaran kibasan samurai wanita legendaris Empress Jingū, dalam cetak kayu karya Tsukioka Yoshitoshi bertarikh 1880. (wiki)

Surabayastory.com – Adakah wanita yang menjadi samurai pada masyarakat Jepang tempo dulu? Ternyata ada. Dari penelusuran Kallie Szczepanski, jauh sebelum istilah “samurai” digunakan,  para prajurit Jepang dilatih menggunakan pedang dan tombak. Di antara mereka termasuk beberapa wanita, seperti Empress Jingu (169 – 269) yang memimpin invasi ke Korea. Kemudian Jingu menjadi samurai wanita legendaris.

Selain sebagai samurai yang memimpin perang, dalam cerita disebutkan, sebagai wanita Jingu menikah dengan kaisar keempatbelas Jepang, Chuai, yang memerintah antara tahun 192 hingga 200 M. Sesudah kematian suaminya, ia memerintah sebagai seorang regent (pimpinan wilayah) untuk putranya yang masih muda. Saat memerintah ia melakukan invasi dan penaklukan ke Korea.

Sebenarnya istilah “samurai” adalah kata maskulin yang karena itu tidak ada “samurai wanita.” Meskipun demikian selama ribuan tahun, wanita-wanita Jepang kelas atas tertentu telah mempelajari keahlian berperang dan ikut dalam pertempuran.

Antara abad ke-12 sampai ke-19, banyak wanita kelas samurai mempelajari bagaimana menggunakan pedang dan naginata (pisau dengan tongkat panjang) terutama untuk mempertahankan diri dan rumah mereka. Bila benteng mereka diserbu musuh, wanita-wanita itu diharapkan bertempur sampai titik darah penghabisan dan mati terhormat, dengan senjata di tangan.

Beberapa wanita muda dengan keahlian berperang memilih ikut berperang bersama laki-laki. Beberapa di antara samurai wanita Jepang yang terkenal adalah:

  1. Tomoe Gozen

Tomoe Gozen (wiki)

Walau ia seorang wanita, Tomoe adalah seorang samurai yang mengagumkan. Ia digambarkan sebagai wanita dengan kecantikan yang luar biasa, rambut hitam yang panjang dan ahli pedang serta panah. Ia mendapatkan julukan sebagai wanita yang “Siap Melawan Iblis Maupun Dewa”.

Ia adalah prajurit Minamoto Yoshinaka dan dipercaya ikut bertempur dalam Genpei War sebagai pemimpin utama dengan pedang yang melebihi ukuran tubuhnya serta keberanian yang melebihi pejuang lain di unitnya.

Sesudah perang, beberapa versi mengatakan ia pensiun sebagai biarawati, beberapa lainnya mengatakan ia hidup sebagai istri dari Wada Yoshimori. Sayangnya, kebanyakan mengatakan ia hanyalah kisah fiksi dari Heike. Tapi, kuburan wanita bawahan Yoshinaka, seperti Yamabuki Gozen dapat ditemukan dan beberapa kisah fiksi Heike juga dipercaya benar. Kebenaran dari Tomoe Gozen hanya tergantung atas kepercayaan masing-masing.

  1. Hangaku Gozen

Hangaku Gozen (trans)

Pejuang wanita terkenal lainnya pada Perang Genpei adalah Hangaku Gozen, yang juga dikenal sebagai Itagaki. Ia bersekutu dengan klan Taira, yang kalah perang.

Kemudian Hangaku Gozen dan keponakannya, Jo Sukemori, bergabung dalam pemberontakan Kennin tahun 1201, yang mencoba menggulingkan keshogunan baru Kamakura. Ia membentuk pasukan sebanyak 3.000 orang untuk mempertahankan benteng Torisakayama melawan serangan prajurit loyalis Kamakura yang berjumlah 10.000 orang atau lebih.

Tentara Hangaku takluk sesudah ia terkena anak panah. Ia ditangkap dan dipenjara pihak keshogunan. Walaupun shogun bisa memaksanya melakukan seppuku, salah satu tentara Minamoto jatuh cinta dengannya dan ia diberi izin menikahinya.

  1. Yamakawa Futaba

Yamakawa Futaba (wiki)

Perang Genpei pada akhir abad ke-12 tampaknya memberikan inspirasi bagi banyak prajurit wanita untuk ikut berperang. Mereka juga ikut berperang pada Perang Boshin War.(1868-69). Termasuk di antaranya adalah Futaba (1844-1909) yang dalam perang tersebut ikut mempertahankan Benteng Tsuruga.

Perang Boshin adalah perang saudara yang lain, yang berusaha mempertahankan Keshogunan Tokugawa melawan orang-orang yang ingin mengembalikan kekuasaan politik pada kaisar. Kaisar Meiji muda menggenggam dukungan dari klan Choshu dan Satsuma yang kuat. Mereka memiliki jumlah tentara yang lebih sedikit tapi diperlengkapi senjata modern.

Sesudah pertempuran hebat di daratan dan lautan, shogun turun tahta dan pemerintahan militer keshogunan di Edo menyerah pada Mei 1868. Walaupun demikian, pasukan keshogunan di kawasan utara negara itu masih berkuasa hingga beberapa bulan kemudian. Salah satu pertempuran paling penting melawan gerakan Meiji Restorasi, yang menampilkan beberapa prajurit wanita, adalah Perang Aizu (Oktober dan November 1868).

Sesudah pengepungan selama sebulan, wilayah Aizu takluk. Samurainya dikirimkan ke penjara kamp-kamp perang, dan wilayahnya dibagi dan didistribusikan pada pengikut-pengikut setia kaisar.

Sebagai putri dan istri pejabat keshogunan di Aizu, Yamakawa Futaba dilatih untuk berperang. Ia ikut mempertahankan Benteng Tsuruga melawan pasuka  Kaisar. Ketika pertahanan benteng jebol banyak samurai melakukan seppuku. Yamakawa Futaba tetap hidup dan memimpin gerakan peningkatan pendidikan untuk wanita di Jepang.

  1. Yamamoto Yaeko

Yamamoto Yaeko (alchetron)

Prajurit wanita Yaeko (1845-1942), telah bertempur sebagai penembak selama mempertahankan Aizu dalam Perang Boshin (1868-9). Ayahnya adalah instruktur senjata untuk daimyo wilayah Aizu, dan Yaeko muda adalah seorang penembak yang sangat terampil.

Sesudah kekalahan pasukan keshogunan terakhir pada tahun 1869, Yamamoto Yaeko bergerak ke Kyoto untuk menjaga saudara laki-lakinya, Yamamoto Kakuma. Ia dipenjara oleh klan Satsuma menjelang akhir Perang Boshin,  dan diperkirakan menerima hukuman yang kejam.

Yaeko segera menjadi pemeluk Kristen, dan menikah dengan pendeta. Dalam usia yang sangat lanjut, ia membantu mendirikan Universitas Doshisha, sekolah Kristen di Kyoto.

  1. Nakano Takeko

Nakano Takeko (seenthies)

Takeko (1847-1868) adalah pemimpin korps tentara wanita selama Perang Boshin (1868-69). Ia putri seorang pejabat Aizu yang dilatih seni perang dan bekerja sebagai instruktur ketika masih remaja.

Selama Pertempuran Aizu, Nakano Takeko memimpin korps samurai wanita melawan pasukan kekaisaran. Ia bertempur dengan menggunakan naginata, senjata tradisional yang disukai para prajurit wanita.

Takeko sedang memimpin suatu serangan terhadap pasukan kaisar ketika dadanya tertembus peluru. Ketika mengetahui ia akan mati, wanita berusia 21 tahun itu memerintahkan saudara wanitanya, Yuko, untuk memenggal kepalanya dan menyembunyikannya dari musuh. Yuko memenuhi permintaannya dan kepala Nakano Takeko dikuburkan di bawah sebuah pohon di kuil Hokaiji. –vee

Avatar photo
/ Published posts: 788

Bercerita berarti penyampaian cerita dengan cara bertutur. Yang membedakan adalah metode penyampaiannya.