ADVERTISEMENT
Sabtu, Januari 17, 2026
Surabayastory.com
No Result
View All Result
  • HEADLINE
  • SURABAYA TODAY
    • SKETSA KOTA
  • CERITA KITA
  • RANA
  • FIKSI & PUISI
  • INSPIRASI PAGI
  • JEJAK
  • JENAKA
  • JELAJAH
  • LENSA
  • Login
  • Register
  • HEADLINE
  • SURABAYA TODAY
    • SKETSA KOTA
  • CERITA KITA
  • RANA
  • FIKSI & PUISI
  • INSPIRASI PAGI
  • JEJAK
  • JENAKA
  • JELAJAH
  • LENSA
No Result
View All Result
Surabayastory.com
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT

Potret Kali Mas Surabaya, Dulu dan Sekarang

by surabayastory
10 Januari 2019
in Sketsa Kota
Reading Time: 4 mins read
0
A A
Kali Mas hingga saat ini masih aktif sebagai pelabuhan bongkar muat antar-pulau. Aktivitas di dalamnya tetap begdegub seiring perkembangan kota Surabaya sebagai metropolitan. (t)

Kali Mas hingga saat ini masih aktif sebagai pelabuhan bongkar muat antar-pulau. Aktivitas di dalamnya tetap begdegub seiring perkembangan kota Surabaya sebagai metropolitan. (t)

Jejak pelayaran dan pelabuhan Surabaya dimulai dari sini. Pelabuhan tradisional yang terus eksis di tengah metropolis.

 

Kali Mas hingga saat ini masih aktif sebagai pelabuhan bongkar muat antar-pulau. Aktivitas di dalamnya tetap begdegub seiring perkembangan kota Surabaya sebagai metropolitan. (t)

 

ArtikelTerkait

19 – 24 Agustus 2024, Gebyar UMKM dan Live Music di Surabaya Expo Center

Hari ini Surabaya Cerah Berawan. Potensi Hujan Ringan

“Awasi Boyo” Pengawas dan Teman Baru Koperasi Surabaya

Surabayastory.com – Lupakan revolusi industri 4.0. Di sini masih berderap proses ekonomi yang katanya tradisional. Semua masih dikerjakan secara manual. Alat bantu juga sangat sederhana. Tetap eksis walau tanpa otomatisasi, tetap bergerak meski dengan peralatan berserak dengan tenaga otot kuat dan peluh tanpa mengeluh. Namun, manusia selalu mampu beradaptasi dan berjuang dengan keadaan yang ada. Tentang Kali Mas dulu dan sekarang, mari kita nikmati cerita di bawah ini.

 

*****

 

Amukan buldoser sudah stop, rumah-rumah atau gubuk sudah rontok, jerit tangis sudah menguap. Kali Surabaya tetap menghilir. Mengaliri, menyaksikan, dan mencatat semua peristiwa. Kebangkitan dan kemunduran sebuah kota dalam kesaksian alirannya, deras atau lamban, mampat atau banjir, beriak atau tenang, pasang atau surut.

Sepanjang pinggiran sungai dan rel kereta, aktif maupun pasif, adalah naungan sekaligus lampiasan mengadu, mengaduh, protes, serah diri, pasrah, dan tegakkan bendera gombal, batang ranting, karton, plastik, tali-temali, untuk sekadar bernama gubuk, bagi yang belum berumah atau sudah kehilangan rumah. Dan harus siap hengkang lagi jika diterjang buldoser, banjir, atau gerbong langsir.

Di sinilah wajah ketegangan, ketertekanan, dan kemiskinan kota, wajah yang sebenarnya, yang ditopengi hias rias dan hingar-bingar kota berupa gedung tinggi berkaca, boulevard teduh, restoran siap saji, pusat belanja-jajan-hiburan, apartemen dan kampus, kantor birokrasi dan bank, hotel dan rumah musik-minum-dansa.

Menurut hasil penelitian yang masih dianggap akurat, jumlah penduduk miskin di desa ternyata lebih kecil dibanding di kota. Kota lebih membengkak kelompok miskin dan kawasan slum-nya. Ditopengi “benteng” baja-beton-kaca.

 

Potret Kali Mas yang ramai sebagai tempat persinggahan dan perdagangan di Surabaya tahun 1915. (istimewa)

 

Di kampung-kampung Surabaya dulu ada arsitektur khas kampung yang disebut “rumah topeng”, atau “gaya topengan”. Bentuknya ruang depan berdinding tembok, berjendela kaca lebar, berlantai ubin atau keramik; pokoknya rapi dan terang benderang. Dari kamar tidur sampai dapur berlantai tanah dan berdinding anyaman bambu (gedhek sesek). Topeng-(an) depan menyembunyikan segala tempel-menempel pating srentel (tergantung berserakan) dan tambal-menambal pating srekal (saling bertumpuk) di belakang, sumur dengan timba turun-naik pakai senggot bambu, bambu kakus jumbleng, dan kubangan limbah.

 

Kali Mas menjadi pusat perdagangan komoditas di Surabaya tahun 1900-an. (istimewa)

 

Rupanya gaya “topengan” justru diambil alih jadi wajah kota kita, menyembunyikan segala kekumuhan kampung yang gangnya berliku-liku, dari gang lebar, sempit, pertolongan, buntu, teritis, sisiran, sampai, “kelinci” dan “tikus”, bagai labirin. Dan juga menutup-nutupi “tamasya” panjang kekumuhan dipinggir sungai, kali, kalen, kalimir, got; dan jalur-jalur rel yang masih dipakai maupun yang sudah berkarat, terkubur, hilang, terlupakan.

 

Truk-truk tua di pelabuhan Kali Mas menjadi simbol ‘perlawanan’ untuk menolak mati atau menyerah pada keadaan. (t)

 

Kali Mas yang membelah jantung kota, sebenarnya simbol sumber kehidupan. Di pedalaman sungai mengairi lahan, menyuburkan sawah, menggenangi kolam ikan, menghasilkan panen, memakmuran desa. Pemanfaatan sungai secara intensif dan proporsional. Kali Mas seharusnya bisa dimanfaatkan sepenuhnya dan sewajarnya bagi kesejahteraan penduduk.

Ada kisah lama di zaman Raden Rahmat/ Sunan Ampel, abad ke-15, yang tanah pemberian dari Raja Majapahit meliputi Ngampel Dento, barangkali dari Botoputih sampai Kalimas, menyebutkan bahwa setiap perahu ikan masuk kota orang perahu melemparkan dua-tiga ikan besar ke daratan timur yang dijaga santri. Ikan-ikan itu untuk Kanjeng Sunan dengan permohonan berkah dan doanya.

Episode lain Raden Rahmat memerikan (mendiskripsikan) bahwa ketika wudlu di Kali Mas menemukan sebutir delima hanyut. Dia ingin makan temuannya, maka sebelum itu dia menyusuri ke arah udik untuk minta izin pada sesiapa yang kehilangan delima atau si empunya kebun yang delimanya jatuh ke sungai. Tak satu pun ada orang mengaku atau tak ada kebun delima sepanjang tepian, dia telusuri makin ke udik dan menemukan kebun delima di suatu kawasan (Darmokali sekarang). Kebun delima itu milik Mbah Bungkul, cikal-bakal di kawasan situ (Darmo sekarang). Raden Rahmat menemui si pemilik dan minta izin makan delima temuannya. Mbah Bungkul sangat terkesan kejujuran Raden Rahmat, dan Raden diambil menjadi menantu. (Di bawah kacamata penelitian sejarah Sunan Ampel sebagai pemegang kuasa spiritual, dan Ki Ageng Bungkul kuasa “praja”, bukan dalam hubungan menantu-mertua. Mertua Sunan Ampel adalah Sunan Giri, Gresik, dan Mbah Karimah, Kembang Kuning.)

Untuk mengurangi kesemrawutan lalu lintas darat, apa tidak bisa dikembangkan lagi lalu lintas air, dengan, tentu saja, manajemen sungai yang harus lebih siap dan andal kinerjanya, tidak saling menohok dan menyalahkan sesama instansi atau pihak lain? Jika lalu lintas membuka “lahan basah” yang menjanjikan, tentu wajah arsitektur kota berubah, seperti dulu banyak menghadap ke sungai, dan berangsur kekumuhan menghilang di sepanjang tepian.

Rel kereta api dalam kota sekarang tinggal jalur-jalur: yang ganda dari Wonokromo ke Semut, yang tunggal Pasarturi-Jakarta, Pasarturi-Gresik lewat simpangan Kandangan, Tandes. Dari Gubeng ke stasiun barang Sidotopo, Sidotopo-Pasarturi lewat jembatan di atas Jalan Kapasari, Bunguran, Semutkali, Pahlawan, bersambung ke Tanjung Perak. Dari Semut ke depo-lokomotif Sidotopo.

Jalur-jalur lain sudah tak terpakai dan hilang tertimbun. Jalur trem listrik dari Wonokromo, Darmo, Keputran, Embing Kaliasin, Simpang Lonceng, Tunjungan, Kebonrojo, Jembatan Merah, ke Tanjung Perak. Dari Sawahan, Tidar, Embong Malang, Simpang Lonceng, ke Gubeng.

Trem uap dari Karangpilang, Wonokromo, Diponegoro, Arjuno, Pasarturi, Kebonrojo, Jembatan Semutkali, Halte Bibis, ke utara menyebrangi Kembang Jepun, menyusuri Jalan KH Mas Mansyur, Benteng, Petekan, sepanjang pinggiran timur Kali Mas, dan berhenti di halte terakhir Ujung, untuk naik feri ke Kamal. Dermaga penyeberangan yang sekarang sebutannya Ujung Baru. Ujung (lama) sudah berubah menjadi bangunan gedung baru, termasuk dalam kompleks Angkatan Laut.

Dua kekayaan antik, trem listrik dan uap, lenyap dari kesibukan Surabaya. Akan tetapi, pengalaman kota-kota besar dunia, justru berbagai jenis trem tetap berseliweran dan menambah keantikan khas bagi kota yang sudah berumur tua namun masih berjaya. Justru itu yang didambakan para turis. Kota besar dunia menyedot perhatian karena kontrasnya yang artistik. Surabaya kita tercinta tampilannya kontras tragis: “topeng indah selubung buritan kumuh”. – Akhudiat, budayawan

Bagikan tulisan ini:
Tags: AkhudiatKali Mas SurabayaKalimas dulu dan sekarangPotret Kalimas
Previous Post

Surabaya Semakin Menarik, Wisata Kota Menarik Lebih dari 20 Juta Wisatawan

Next Post

Warga Surabaya, Ini Trik Waspada pada Kosmetika Berbahaya

Artikel Terkait

Surabaya Expo Center akan menjadi destinasi wisata baru kota Surabaya sekaligus memberi ruang untuk UMKM serta lahan konser yang terbuka. (bangga surabaya)
Headline

19 – 24 Agustus 2024, Gebyar UMKM dan Live Music di Surabaya Expo Center

1 tahun ago
Cuaca dan suhu udara kota Surabaya hari ini cerah, berawan, dan berpotensi hujan di beberapa tempat. (BMKG)
Sketsa Kota

Hari ini Surabaya Cerah Berawan. Potensi Hujan Ringan

1 tahun ago
Prosesi peluncuran aplikasi "Awasi Boyo" di Balai Kota Surabaya. (kominfo pemprov)
Sketsa Kota

“Awasi Boyo” Pengawas dan Teman Baru Koperasi Surabaya

1 tahun ago
Fantasi menjadi kajian psikoanalisis penting meski oleh Sigmund Freud ditemukan dengan cara yang tak sadar. (rafy-a.com)
Headline

Kajian Psikoanalisis tentang Fantasi dan Fungsinya

4 tahun ago
Jalaluddin Rumi mengekspresikannya tulisannya dalam bahasa cinta yang syarat makna. Sajak, puisi, syair, dengan pendekatan cinta dan humanisme. (surabayastory.com)
Headline

Pengantar Singkat Karya dan Perjalanan Spiritual Jalaluddin Rumi

5 tahun ago
Warna merah selalu mencuri perhatian. Psikologi merah sangat kuat. (qz)
Headline

Makna Warna Merah di Bulan Februari

5 tahun ago
Next Post

Warga Surabaya, Ini Trik Waspada pada Kosmetika Berbahaya

Memahami Kembali Makna Belajar, Cara Alami Meraih Prestasi Tinggi

Gelombang Perubahan Iklan dalam Bisnis dan Kehidupan

Comments 8

  1. Amelia Stacy Wibowo says:
    7 tahun ago

    Ok web bagus

    Balas
  2. Ping-balik: monix bet casino met iDEAL
  3. Ping-balik: Vichaibet มาพร้อมบริการเกมสล็อตมากกว่า 23 ค่ายเกมชั้นนำ
  4. Ping-balik: อ่านมันฮวา
  5. Ping-balik: Giffarine
  6. Ping-balik: ufa118
  7. Ping-balik: uodiyala
  8. Ping-balik: OligioX ทำที่ไหนดี

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA POPULER

  • Inilah Sistem Pencernaan Manusia yang Hebat  (info visual)

    Mengenal Sistem Pencernaan Manusia yang Hebat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Awal Perjumpaan dan Kisah Inggit-Soekarno

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jejak Sejarah Braat NV dan Pabrik-pabrik di Sepanjang Kalimas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta Pandangan Pertama Dante Alighieri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Protokol Walikota Surabaya untuk Hotel dan Restoran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kurs

Kurs USD: Sab, 17 Jan.

RajaBackLink.com
">
Surabayastory.com

© 2024 Surabaya Story - Let's Make Story, Let's Make History

KATEGORI

  • HEADLINE
  • SURABAYA TODAY
  • CERITA KITA
  • RANA
  • FIKSI & PUISI
  • INSPIRASI PAGI
  • JEJAK
  • JENAKA
  • JELAJAH
  • LENSA

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • HEADLINE
  • SURABAYA TODAY
    • SKETSA KOTA
  • CERITA KITA
  • RANA
  • FIKSI & PUISI
  • INSPIRASI PAGI
  • JEJAK
  • JENAKA
  • JELAJAH
  • LENSA
  • Login
  • Sign Up

© 2024 Surabaya Story - Let's Make Story, Let's Make History

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist