Setiap orang selalu punya kekuatan dalam diri yang tersembunyi. Bila bisa digali dan dikembangkan, itu bisa menjadi kekuatan yang tak terduga.
Surabayastory.com – Ini adalah sebuah cerita. Cerita ringan yang menyiratkan kehidupan dengan sejuta problema. Di setiap langkah kehidupan selalu membentuk sekaligus menggali potensinya. Berikut ini salah satu ceritanya.
Suara di ujung lain telepon itu terdengar tidak lazim, ragu-ragu, tidak seperti yang pernah kudengar sebelumnya. ’’Halo, Jann? Namaku adalah Perry Cross. Aku adalah seorang quadriplegic (cacat) dan aku ingin mendaftar kursus public speaking pada Anda.’’
Untuk sesaat aku kehilangan kata-kata. Bagaimana bisa aku mempertimbangkan kemungkinan dirinya berpartisipasi dalam salah satu kursusku? Selama bertahun-tahun aku telah menerima pendaftaran dari banyak orang dengan beragam karir, dan dengan bermacam alasan menarik. Mereka ingin mengembangkan kemampuan presentasi mereka. Ada yang berprofesi teknisi elektronika dan direktur manajer, stripper, dan sebagianya, tetapi tidak ada yang seunik orang muda satu ini.
Aku mencoba untuk membuat gambaran tentang dirinya dalam benakku. Aku kesulitan karena aku tidak pernah mendengar quadriplegic. Bahkan selama karirku sebagai perawat. Aku melihat dia bukanlah salah seorang yang membutuhkan alat bantu pernafasan.
’’Aku berusia dua puluh tahun dan aku mengalami patah leher ketika bermain rugby. Aktivitas Olah raga adalah segalanya bagiku dan aku ingin public speaking sebagai olah raga baruku.’’
Awal keraguanku mulai terjawab ketika kami melanjutkan percakapan. Ya, dia paham, orang lain dalam kursus itu akan melihat penampilannya dengan sedikit kesulitan dan bahkan awalnya tampak menakutkan. Namun, Perry yakin dia bisa berpartisipasi secara penuh untuk menuntaskan berbagai penugasan mingguan selama periode enam minggu kursus itu. Dan aku sendiri menemukan kesenangan bekerja dengannya.
Pada malam pertama kursus, Perry ’’menggelinding’’ dalam ruang seminar (dalam kursi roda bermotornya) dan dalam kehidupanku. Dia berbicara layaknya seperti seekor itik yang bertemu air, mengagumkan kami semua. Tak ada rasa malu-malu dan penuh dengan hasrat yang menakjubkan. Enam pekan berlalu. Tumbuh kekaguman padanya, pada setiap orang di antara kami. Semua menghargai dan peduli terhadap lelaki muda luar biasa ini.
Kala itu adalah bulan April 1994, ketika kehidupan Perry mengalami perubahan begitu dramatis. Dia merasa, akibat dari jegalan keras dalam permainan Rugby di Ballymore di Brisbane, lehernya patah. Keselamatannya merupakan hasil prestasi besar dari keajaiban dunia pengobatan modern. Selama tiga bulan dia kesulitan makan dan kala itu enam bulan sebelum dia bisa berbicara. Setelah melalui proses negosiasi panjang dan dukungan dari keluarganya dia diizinkan untuk pulang, tinggal di Gold Coast. Dia diperbolehkan pulang meski baru menjalani rawat inap selama delapan bulan sejak kecelakaaan! (Banyak penderita quadriplegic tidak pernah meninggalkan rumah sakit, dan meninggalkan rumah sakit di bawah waktu delapan bulan adalah luar biasa).
Setelah menyelesaikan kursus, aku begitu mengagumi hasrat Perry, serta kekuatan pesan yang disampaikannya. Aku menawarkan diri untuk membantu karir profesionalnya. Pada 28 Februari 1996, hanya enam bulan setelah memulai karir barunya, Perry berbagi kedudukan dengan motivator andal Laurie Lawrence dan juara olah raga Guy Andrews dan Reen Corbett. Dia mengukir sejarah sebagai pembicara profesional penderita quadriplegic Australia pertama.
500 penonton memberi Perry sebuah standing ovation atas pembicaraan inspirasionalnya dalam mengatasi berbagai rintangan dalam kehidupan dan menghargai hubungan baik. Bersamaan dengan berputarnya banyak kamera televisi aku merasakan kebanggaan yang sama dengan yang bisa dirasakan semua orang terhadapnya.
Perry adalah orang berbakat pada olah raga barunya. Dia mencapai itu bukannya tanpa kesulitan dan tantangan yang tak terlihat. Dalam kata-kata Perry sendiri: “Potensi Anda itu tak terbatas, apa pun situasi Anda.’’ –Jan











Comments 6