ADVERTISEMENT
Selasa, Mei 26, 2026
Surabayastory.com
No Result
View All Result
  • HEADLINE
  • SURABAYA TODAY
    • SKETSA KOTA
  • CERITA KITA
  • RANA
  • FIKSI & PUISI
  • INSPIRASI PAGI
  • JEJAK
  • JENAKA
  • JELAJAH
  • LENSA
  • Login
  • Register
  • HEADLINE
  • SURABAYA TODAY
    • SKETSA KOTA
  • CERITA KITA
  • RANA
  • FIKSI & PUISI
  • INSPIRASI PAGI
  • JEJAK
  • JENAKA
  • JELAJAH
  • LENSA
No Result
View All Result
Surabayastory.com
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT

Pendidikan dan Palagan Maraton

by surabayastory
29 Agustus 2018
in Cerita Kita
Reading Time: 2 mins read
0
A A
surabayastory 14

surabayastory 14

MEMPERBINCANGKAN pendidikan di Indonesia bukanlah tugas yang mudah. Ibarat seorang pelari maraton yang harus berlari penuh 42,195 km, tak hanya stamina tangguh yang dibutuhkan, melainkan juga  waktu yang melebihi kewajaran orang awam berlari.

Ibarat maraton tak semua kapasitas pelari layak menjadi pesertanya. Banyak peserta yang berlari sekadar bergaya sambil mematut-patut penampilan di depan kerumunan. Hanya sebagian saja yang serius mencoba menaklukkan seluruh jarak yang terbentang. Dan meski berusaha keras hingga stamina terkuras, toh tidak banyak orang sanggup bertahan hingga garis akhir.

ArtikelTerkait

Perkenalan Singkat dengan Buah Tin

Mengelola CSR Menjadi Community Development

Mencari dan Memahami Makna Waktu

Di sepanjang perjalanan berlaga, seorang pelari dipaksa terus ketat bersaing dan berkompetisi. Tidak tersisa kesempatan sedetik pun berleha-leha. Inilah salah satu laga yang paling bengis dan tanpa ampunan, meski sesungguhnya juga penuh kegembiraan. Bandingkan dengan tenis dan atletik yang sudah diharuskan berhenti jika hujan menderas di lapangan. Panahan bahkan sudah buru-buru melipat busur tatkala mendung tampak menggelayut rendah.

Syahdan, para penembus palagan maraton tidak mungkin berkompromi dengan alam. Mereka tidak akan dimanjakan jalur berlari yang serba mulus, layaknya para pegolf yang boleh dimanjakan kelembutan beludru rumput ketimbang lapangan hijau tempat kambing digembala. Begitu pun cabang olahraga lain, malah hanya bisa dihelat di ruangan sejuk berpendingin atau di kamar kedap bunyi.

Para pelari maraton, seperti halnya pejuang-pejuang pendidikan, tidak akan pernah sempat lama bersolek atau lebay menikmati privilege berlebihan. Sebaliknya mereka harus menyiapkan susah-payah melebihi kapasitas fisiknya. Sadar sepenuhnya bahwa berlari marathon pastilah digantang terik matahari, digelincirkan jalan becek dan berbatu, pun dihadang angin dari tujuh penjuru.

Realitas Perjuangan

Inilah realitas dunia pendidikan kita hari ini. Sebuah bentang perjuangan yang jauh dari singkat dan sederhana. Ia mewujud bagaikan kumparan benda yang acapkali digambarkan (atau sengaja dibuat) begitu rumit nan ruwet pula. Melibatkan banyak sekali kekuatan yang tampak mata seperti fasilitas dan sarana, sekaligus daya tak tampak seperti moralitas dan etika.

Dengan menggambarkan kerumitan itu, sekilas tampaklah begitu bobrok dan menyeramkan dunia pendidikan kita. Ibarat porselin retak, dengan hanya satu senggolan ringan saja, akan luluh-lantak berkeping-keping seluruhnya. Pleonasme ini hanya akan menimbulkan rasa ngeri bagi setiap insan cerdas dan kreatif, yang ingin menghampiri dunia pendidikan kita dengan sentuhan pesona.

Agaknya dibutuhkan cara penghampiran yang berbeda. Kita perlu sejenak menarik diri dari kumparan masalah. Menjaga garis pemisah dengan melambungkan pikiran kita di ketinggian, menggunakan mata-elang (hawk eye) agar kita dapat melihat jelas peta masalah yang terhampar. Dengan cara menatap tajam  seperti  itulah kita akan mampu menukik, menyambar, dan mengeksekusi berbagai-bagai masalah pendidikan langsung di titik lemahnya.

Bukankah teknologi hawk-eye juga telah membuktikan dirinya berhasil mengatasi perdebatan panjang tentang bola masuk dan bola keluar pada badminton dan tenis? Lama sudah para pemain jadi pesakitan belaka, takluk pada hegemoni kekuasaan absolut para wasit dan penjaga garis yang menetapkan jatuhnya bola.

Jangan-jangan kita suka menempatkan dunia pendidikan sebagaimana ‘pesakitan’, dan menikmati betapa gagahnya kita mengumbar kuasa layaknya wasit dan penjaga garis. Patut kita bertanya, siapa sesungguhnya yang sedang ‘sakit’. Apakah pemain badminton sebagai simbol dunia pendidikan (bernasib pesakitan)  ataukah kita (pelaku, pengamat, pejuang pendidikan)  yang nyaman menggenggam otoritas wasit dan penjaga garis?  Terjadilah debat sengit siang-malam.

Sementara itu para pelari maraton yang hebat sukses menembus finis dengan wajah-wajah berseri. Sejenak saja mereka tampak letih, selebihnya senyum menebar dan mata berbinar, menikmati pertarungan panjang yang amat menggairahkan. Sayup terdengar mereka asyik berdendang, merayakan kalah-menang sesamanya tanpa sehelai pun perbedaan.

Mereka inilah para petualang sejati, penjelajah masalah (pendidikan) tak kenal lelah. —Tjuk Suwarsono

*) Palagan = Bhs Kawi : paperangan, medan perang
*) Materi ini juga dipakai sebagai pembuka dalam buku pendidikan Dewan Pendidikan Jawa Timur
Bagikan tulisan ini:
Tags: pelari maratonpendidikan Indonesiarealitas perjuangan
Previous Post

Menunggu Realisasi Pelebaran Jalan Tambang Boyo

Next Post

Kebahagiaan Relatif

Artikel Terkait

Manfaat kesehatan buah/daun buah tin sangat banyak. Dengan kandungan nutrisinya yang berlimpah, buah tin berpotensi mampu mencegah banyak penyakit. (surabayastory,com)
Cerita Kita

Perkenalan Singkat dengan Buah Tin

2 tahun ago
CSR dalam konteks Community Development (pengembangan dan pemberdayaan masyarakat) merupakan salah satu bentuk investasi sosial demi peningkatan kualitas kehidupan dan lingkungan. (istimewa)
Cerita Kita

Mengelola CSR Menjadi Community Development

2 tahun ago
Waktu menjadi relatif tergantung kepada kerangka acuan yang digunakan. Dalam wacana fisika, waktu tidak memiliki kecepatan yang real, tempo yang terukur dan tidaklah mengalir. (surabayastory,com)
Cerita Kita

Mencari dan Memahami Makna Waktu

2 tahun ago
Dalam karya Wallace tentang Borneo ini, kita seakan diajak untuk berpetualang keliling Borneo dan Celebes, serta berkenalan dengan masyarakat dan alam lingkungan di sekelilingnya.(surabayastory.com)
Cerita Kita

Sejarah Awal Peradaban Borneo

2 tahun ago
Nenek moyang bangsa Nusantara menurunkan banyak warisan, ilmu pengobatan merupakan tradisi warisan. Minum jamu berkhasiat untuk mencegah penyakit, meningkatkan kesehatan, mengobati, dan mempercantik tubuh. (surabayastory.com)
Cerita Kita

Jamu Jawa, Tradisi Penyembuhan Nenek Moyang Nusantara

2 tahun ago
Ada 10 faktor utama yang perlu diperhatikan dalam usaha konservasi penanaman mangrove di wilayah pesisir. Tampak hutan mangrove di kawasan Wonorejo Surabaya Timur. (sa)
Cerita Kita

Faktor-faktor Penting dalam Penanaman Mangrove

2 tahun ago
Next Post
Kebahagiaan Relatif

Kebahagiaan Relatif

Jejak Gardu Listrik Belanda yang Tertinggal di Surabaya surabayastory

Jejak Gardu Listrik Belanda yang Tertinggal di Surabaya

surabayastory

KIKIL BU SUGENG: Enaknya Kuliner Klasik Surabaya est. 1952

Comments 14

  1. Lacy Clowes says:
    1 tahun ago

    Those are yours alright! . We at least need to get these people stealing images to start blogging! They probably just did a image search and grabbed them. They look good though!

    Balas
  2. Ping-balik: av
  3. Ping-balik: เด็กเอ็น
  4. Ping-balik: พรมรถยนต์
  5. Ping-balik: รับผลิตของพรีเมี่ยม
  6. Ping-balik: cygnus 5 rtp
  7. Ping-balik: ทำฟัน กระบี่
  8. Ping-balik: 711pg
  9. Ping-balik: Mallorca Solarstrom
  10. Ping-balik: hl789
  11. Ping-balik: non gamstop casino
  12. Ping-balik: หวย24
  13. Ping-balik: Online Marketing Zürich
  14. Ping-balik: Comprehensive Porn

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA POPULER

  • langit2

    Dramatisnya Langit Surabaya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tilang Karena Tak Lihat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rahasia dalam Cerita Agatha Christie

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Roti Kembalian

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • RANTING & DAHAN TAK PERNAH MENGELUH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kurs

Kurs USD: Sel, 26 Mei.

RajaBackLink.com
">
Surabayastory.com

© 2024 Surabaya Story - Let's Make Story, Let's Make History

KATEGORI

  • HEADLINE
  • SURABAYA TODAY
  • CERITA KITA
  • RANA
  • FIKSI & PUISI
  • INSPIRASI PAGI
  • JEJAK
  • JENAKA
  • JELAJAH
  • LENSA

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • HEADLINE
  • SURABAYA TODAY
    • SKETSA KOTA
  • CERITA KITA
  • RANA
  • FIKSI & PUISI
  • INSPIRASI PAGI
  • JEJAK
  • JENAKA
  • JELAJAH
  • LENSA
  • Login
  • Sign Up

© 2024 Surabaya Story - Let's Make Story, Let's Make History

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist