11 views 19 mins 0 comments

Mempersiapkan Anak Siap Masuk Sekolah

Ada macam-macam sebab anak terhambat ketika awal masuk sekolah. Sikap terhadap anak-anak yang kaku atau kurang kedekatan secara psikologis membuat Anak enggan kembali ke sekolah. Sebab lain Anda perlu tahu, dan bisa dibaca di bawah ini.

 .

 .

Surabayastory.com – Tahun ajaran baru sudah didepan mata. Banyak tantangan dan hal baru yang dihadapi untuk bisa membuat anak mulus mengikuti proses belajar di tempat barunya. Anak-anak mempunyai banyak alasan kenapa mereka tidak dapat menyesuaikan diri. Umpamanya kekurangan-kekurangan badan: pendengaran yang kurang terang, lekas lelah, atau penjakit yang kronis. Dilihat dari sudut rohani, kita melihat adanya anak-anak yang tak dapat mengenal perkataan, anak-anak yang terlalu gelisah mengenai persoalan-persoalan lain, atau anak-anak yang tak dapat bergaul dengan guru atau teman sekelasnya. Juga kita melihat anak-anak yang terlampau cerdas, atau yang terlalu lambat sehingga tak dapat mengikuti pelajaran.

Seorang anak yang mengalami kesusahan di sekolah dengan pelajarannya jangan dimarahi atau ditegur. Usahakan agar Anda mengetahui apa sebabnya. Ada beberapa sebab dan tipikal anak yang luar biasa dan tidak sama dengan yang lain. Masing-masih butuh pendekatan. Berikut ini beberapa uraiannya untuk menghadpi beberapa tipe anak dan menyelesaikan hambatannya.

.

  1. Si anak yang terlalu cerdas

Di dalam suatu kelas di mana pelajaran selalu sama, seorang anak yang sangat cerdas, dan lebih pintar dari teman-teman sebayanya, mungkin akan mera­sa bosan kalau pelajarannya terlalu mudah. Dalam hal ini, lebih baik kita usahakan supaya ia melangkahi satu kelas. Soal ini akan lebih mudah dilakukan, kalau anak Anda bertubuh agak besar dan wataknya juga lebih matang. Tapi kalau tidak, ia mungkin akan merasa terasing, terutama kalau teman-teman sekelasnya masuk masa “tanggung.” Mung­kin ia terlampau kecil untuk ikut olahraga mereka, dan tidak dapat ikut dalam latihan menari. Perhati­annya masih perhatian anak-anak, sehingga sukar baginya untuk bergaul dengan mereka.

Apa gunanya kalau seorang anak masuk Sekolah Menengah atau Sekolah Tinggi pada umur yang ma­sih muda kalau ia akan menjadi seseorang yang tidak memiliki teman?

Lebih baik dalam hal ini seorang anak yang dibiarkan duduk dalam kelas dimana ia seharusnya duduk, asal sekolah itu memunyai rencana pela­jaran yang memberi kesempatan pada seseorang yang pintar untuk mendapat pelajaran tambahan. Um­pamanya dimana ia dapat diberi tugas untuk membaca buku-buku yang lebih sukar dalam perpustakaan. Kalau seseorang yang cerdas hanya bekerja untuk mendapat angka-angka yang tinggi, atau untuk menarik perhatian gurunya, teman-temannya tidak akan suka padanya dan mereka akan memberikan nama julukan : “anak emas,” atau “si pintar,” dan sebagainya. Tapi kalau ia diikutsertakan dalam usaha-usaha bersama, mereka akan lebih menghargainya, karena ia dapat membantu mereka.

Sekalipun Anda menganggap anak Anda sangat pintar, janganlah berusaha memasukkan dia dalam kelas yang lebih tinggi dari yang sewajarnya. Biasanya sang guru yang lebih tahu dimana ia pantas duduk. Janganlah begitu kejam untuk memaksa anak bekerja lewat batas kemungkinannya. Pada akhirnya ia toh akan ketinggalan.

Soal ini mengingatkan saya pada masalah mengajar seorang anak yang cerdas untuk membaca dan berhitung di rumah sebelum ia dapat masuk sekolah. Tentu saja sang ibu atau ayah yang bangga akan mengatakan bahwa si anaklah yang menanyakan huruf apa dan angka apa dan ingin belajar. Memang ini benar terjadi sesekali, dan tidak ada salahnya kalau Anda memberi jawaban secara sambil lalu.

Tapi soal ini memunyai segi lain. Biasanya kita lihat bahwa ibu ayah ingin sekali anaknya menjadi pintar, ingin sekali ia selalu nomor satu di kelas. Kalau ia main-main biasa atau bergelut seperti kebiasaan anak-anak lain, mereka hanya sedikit menaruh perhatian. Tapi, kalau ia waktu masih muda memperlihatkan minatnya pada membaca, ibu dan ayah pasti menjadi gembira dan mereka mengajarinya dengan rajin. Si anak, karena melihat kesenangan ibu bapaknya tentu memperlihatkan perhatian lebih banyak. Dengan jalan begini, mungkin sekali ia dijauhkan dari perhatian-perhatian lain dari seorang anak yang seumuran dia, dan menjadi seorang cendekiawan sebelum waktunya.

Kita dapat mengerti, bahwa ibu bapak yang baik, senang dengan kepintaran anaknya. Tetapi mereka harus memunyai pikiran dingin dan dapat membedakan, mana yang betul-betul menjadi perhatian si anak, dan mana yang hanya hasrat orang tua sendiri. Kalau ibu bapak yang jujur pada diri sendiri pasti dapat mengerti hal ini, mereka akan berhati-hati supaya mereka tidak mengendalikan kehidupan anak mereka. Soal ini tidak hanya berlaku bagi kepintaran seorang anak untuk lekas pandai menulis atau membaca, tetapi juga berlaku kalau anak Anda lebih tua. Janganlah Anda memberikan terlalu banyak paksaan dalam pelajaran di sekoahnya, pelajaran musik, pelajaran menari, olah raganya, dan sebagainya.

 .

  1. Susah belajar karena “gelisah”

Banyak kesukaran dan pikiran, ketegangan di ru­mah, dan sebagainya dapat menghalangi pelajaran seorang anak di sekolah. Di bawah ini saya berikan beberapa contoh : Seorang anak perempuan yang berumur 6 tahun mungkin “terbakar” oleh iri hatinya terhadap seorang adik laki-laki, sehingga ia men­jadi tegang, tak dapat memusatkan pikiran dan sering marah-marah pada teman-teman sekelasnya tanpa alasan.

Mungkin juga seorang anak gelisah karena ada anggota keluarga yang sakit, atau hubungan antara ibu dan ayah yang tak baik, atau karena cerita-cerita yang salah yang didengarnya tentang persoalan-persoalan kelamin. Mungkin, kalau ia masih kecil, ada yang ditakutinya dalam perjalanan ke sekolah seperti seorang anak besar yang suka mengganggu, atau anjing, atau pak jaga sekolah, atau seorang guru yang berwajah keras, atau malu minta permisi kebelakang, atau malu membaca di depan kelas. Untuk orang dewasa, persoalan-persoalan ini nampaknya remeh, tapi bagi seorang anak yang berumur 6-7 tahun, persoalan-persoalan ini mengerikan, sehingga ia tak dapat berpikir.

Seorang anak yang berumur 9 tahun, yang selalu diberi peringatan atau terlalu banyak ditegur di ru­mah sehingga ia menjadi gelisah dan tegang dan tak dapat memusatkan perhatian.

Seorang anak yang kita anggap “pemalas” dan tidak mau berusaha memerhatikan dan mengerjakan pelajarannja, mung­kin tidak malas sama sekali. Setiap makhluk memunyai perhatian yang luar biasa terha­dap segala soal. Tapi kalau perhatiannya sudah hilang, mungkin ini disebabkan karena ada yang mematikan perhatiannya. Seorang anak mungkin kelihatan malas karena bermacam-macam sebab : yang satu berkepala batu karena terlalu diperintah-perintah. Anda akan melihat, bahwa ia cukup rajin mengenai hal-hal yang menjadi kesenangannya sendiri. Kadang-kadang kita melihat seorang anak takut berusaha (di sekolah atau di rumah) karena takut membuat kesalahan. Ini disebabkan karena keluarganya terlalu banyak menuntut dari dia dan tidak ingin melihat kesalahan.

Sebaliknya ada juga anak-anak yang pelajarannya di sekolah tidak baik karena hati nuraninya terlalu teliti. la terus menghafalkan pelajarannja yang su­dah dihafalnya, ia memeriksa pekerjaannya yang sudah beberapa kali diperiksa karena takut ada ketinggalan, dan takut ada salah. Anak semacam ini selalu ketinggalan karena terlalu meributkan yang tak perlu.

Seorang anak yang tidak mendapat cukup kasih sayang atau rasa aman diwaktu masih muda, kalau sudah bersekolah menjadi tegang, gelisah, tak bertanggung jawab dan tidak dapat menaruh perhatian terhadap pelajaran atau bergaul dengan guru dan teman-temannya.

Apapun sebabnya dari kesukaran seorang anak di sekolah, kita harus mencoba menyelesaikannya dari dua jurusan. Pertama cobalah selidiki apakah latar belakangnya. Tapi sekalipun Anda tak dapat mengetahui apakah latar belakangnya, Anda dapat memperbincangkan soal ini dengan gurunya dan tahu dari mereka tentang sifat-sifat baik dan perhatian sang anak, kemudian mempergunakan sifat-sifat baik dan perhati­annya itu dalam usaha Anda supaya ia dapat bergaul dengan teman-temannya.

 .

  1. Sukar membaca karena alat penglihatannya kurang kuat

Untuk Anda dan saya kata “sapi dan siap” berlainan. Tapi anak yang baru belajar membaca akan menganggapnya sama karena huruf-hurufnya sama. Begitu juga huruf b dan p hampir tak dapat dibedakan kedua, seperti juga huruf d dan q. Tapi lambat laun seorang anak belajar mengenal perbedaan ini dan kalau mereka sudah masuk kelas dua, kesalahan ini tidak akan terjadi lagi.

Tapi ada anak-anak, kurang lebih 10% dari jumlah anak, dan terutama laki-laki, yang sangat susah mengenal perbedaan antara huruf-huruf dan mereka suka memba­ca terbalik selama beberapa tahun. Mungkin mere­ka akhirnya dapat membaca dengan baik, tetapi ada juga diantara mereka yang seumur hidup tak dapat menulis dan membaca dengan baik.

Anak-anak demikian akan mendapat pikiran, bahwa mereka bodoh dan mereka mulai membenci sekolah karena tak dapat mengikuti teman-temannya. Dalam hal ini para orang tua dan guru harus menenteramkan, bahwa ini hanya suatu persoalan ingatan (seperti juga banyak anak tak dapat mengingat lagi); bahwa ini tidak berarti mereka bodoh atau malas, dan akhirnya mereka akan dapat be­lajar juga.

Banyak anak dapat ditolong dengan latihan tambahan dengan jalan membaca keras-keras sambil menunjukkan huruf-huruf satu per satu. Dengan demiki­an lambat-laun mereka belajar mengenalnya. Bila pelajaran tambahan ini tak dapat diberikan di se­kolah, sebaiknya seorang ibu atau bapak meminta nasihat pada guru atau guru kepala, apakah tidak baik ia diberi pelajaran tambahan di luar jam se­kolah dari seorang guru, atau anggota keluarga yang bijaksana dan sabar. Juga baik untuk pergi ke seorang ahli jiwa anak (psikolog) untuk mengetahui mungkin si anak mengalami suatu tekanan jiwa.

.

  1. Membantu seorang anak dengan pelajarannya

Kadang-kadang seorang guru menasihatkan supaya si murid mendapat pelajaran tambahan dalam satu mata pelajaran tertentu, karena si anak agak ketinggalan dalam mata pelajaran itu, atau ibu bapaknya mengira begitu. Soal ini harus Anda pikirkan baik-baik. Bila Anda dapat seorang guru yang baik, silakan. Tapi biasanya tidaklah baik kalau ibu atau bapak mengajar anaknya sendiri, bukan karena mereka tidak memahami mata pelajaran, tetapi karena mereka terlalu bersemangat dan lekas marah kalau anaknya tidak mengerti.

Seorang anak yang sudah tegang karena pelajar­an akan makin terganggu oleh ibu atau bapak yang tegang. Disamping itu cara mengajarnya seorang bapak atau ibu mungkin lain daripada yang dipakai di sekolah. Kalau si anak sudah bingung menghadapi mata pelajaran itu di sekolah, ia jadi makin bingung kalau ibu bapaknya memberi pelajaran dengan cara yang lain.

Maksud saya bukan melarang ibu atau bapak, ti­dak boleh sama sekali membantu pelajaran anaknya, kadang-kadang memang baik hasilnya. Saya hanya menasihatkan supaya Anda meminta nasihat guru dulu sebelum Anda mau mengambil langkah itu dan berhenti kalau kelihatan akibatnya tidak memadai.

Bagaimana sikap kita kalau kita diminta pertolongan untuk pekerjaan rumahnya. Kalau ia betul-betul bingung dan ia yang minta pada Anda, tidak ada salahnya menerangkan (setiap orang tua bangga kalau ada kesempatan memperlihatkan pada anaknya bahwa ia masih ingat pelajaran sekolahnya). Tapi kalau anak Anda meminta Anda untuk mengerjakan pekerjaan rumahnya yang dia tidak mengerti, lebih baik Anda membantu pekerjaannya yang dia tidak mengerti, atau akan lebih baik jika Anda mendiskusikannya dengan guru. Dalam tiap sekolah yang baik, yang penting ialah supaya seorang anak me­ngerti dan kemudian mencari jalan sendiri. Kalau guru terlalu sibuk untuk memberi perhatian kepada tiap anak, Anda dapat menolongnya. Dalam hal inipun Anda hanya menerangkan saja, tapi jangan sekali-kali mengerjakan pekerjaannya.

.

  1. Takut sekolah

Sesekali kita melihat seorang anak tiba-tiba takut pergi ke sekolah tanpa sebab yang dapat dimengerti. Biasanya hal ini terjadi kalau ia beberapa hari tak masuk karena sakit atau mengalami kecelakaan, apalagi kalau penyakit atau kecelakaan itu terjadi  di sekolah. Yang aneh ialah si anak tak me­ngerti sendiri mengapa ia takut. Dari penyelidikan tuntunan anak, kita dapat mengetahui bahwa ketakutan ini jarang berhubungan langsung dengan se­kolah. Si anak merasa lebih terikat pada ibunya, mungkin karena ia merasa bersalah, karena sesekali merasa benci pada ibunya itu dalam alam bawah sadarnya.

Penyakitnya yang mengharuskan dia tinggal di rumah membawa perasaan ini keluar. Dan jika dibolehkan tinggal di rumah lebih lama, ketakutan ini akan makin menjadi. Ditambah lagi dengan ke­takutan ketinggalan di sekolah dan akan ditegur oleh guru atau diejek oleh teman-teman sekelasnya. Jadi ibu bapak dalam hal ini harus bertindak tegas, dan menyuruh dia ke sekolah, dan mereka tidak boleh dilunakkan oleh keluhan, bahwa ia masih sakit atau mencari dokter untuk memeriksanya kembali. (Tentu saja ia harus diperiksa oleh dokter apa sudah boleh pergi ke sekolah). Bila mungkin ibu dan anak harus mendapat tuntunan dari seorang ahli jiwa anak dalam hal ini. Mereka menganggap hal ini sebagai keadaan darurat yang harus segera diatasi.

 .

  1. Bila seorang anak tak dapat sarapan sebelum ke sekolah

Persoalan ini sesekali terjadi, terutama kalau sang anak masih di kelas 1 dan kelas 2, kalau pelajaran baru mulai. Hal ini biasanya terjadi pada anak-anak yang penuh tanggung jawab yang canggung melihat kelas yang besar dan guru yang berkuasa sehingga ia tak dapat makan, diwaktu pagi. Kalau ibunya memaksa dia juga, ia mungkin akan muntah dalam perjalanan ke sekolah atau di sana. Hal ini makin memalukan baginya.

Cara terbaik untuk menyelesaikan soal ini ialah memberi kebebasan pada si anak diwaktu makan pagi; biar dia minum hanya susunya saja atau air jeruknya. Kalau itupun tak dapat masuk perutnya, biarlah dia lapar-lapar ke sekolah. Memang buat seorang anak tak baik untuk pergi ke sekolah dengan perut kosong, tapi akhirnya perasaannya akan menjadi aman juga, dan dia akan sanggup makan pagi asal Anda tak memaksa dia. Anak semacam ini akan makan cukup diwaktu siang, dan nanti juga diwaktu malam, untuk mengimbangi kekurangannya. Kalau ia sudah biasa pada sekolah dan gurunya yang baru, perutnya akan makin merasa lapar diwaktu pagi, asal saja ia tidak mesti berjuang melawan ibunya.

Yang lebih penting bagi seorang anak yang pemalu, ialah supaya sang ibu membicarakan hal ini de­ngan guru, supaya ibu guru mengerti dan membantu dia dalam mengatasi kekurangannya. Sang guru da­pat bersikap lebih manis padanya dan membantunya dalam usaha-usaha bersama, supaya ia mudah men­dapat teman.

 .

  1. Orang tua dan guru

Memang mudah bergaul dengan seorang guru kalau anak Anda baik dan pintar di sekolah. Tapi kalau anak Anda seseorang yang sulit belajar, ia sulit bergaul dengan gurunya. Guru yang bagaimanapun baiknya dan orang tuapun juga hanya manusia biasa. Dan masing-masing memunyai kebanggaan pada kecakapannya sendiri. Masing-masing merasa berhak atas anak itu. Dan masing-masing dalam hati kecilnya — betapa pun bijaksananya — beranggapan bahwa si anak akan jauh lebih baik, kalau yang lain bertindak lebih bijaksana. Baiknya seorang ibu mengerti bahwa gurunya juga memunyai perasaan, dan bahwa mereka berdua akan mencapai lebih banyak, kalau hubungan mereka dijalin dengan ramah dan saling bekerja sama. Banyak orang tua segan menghadapi sang guru, tapi mereka lupa bahwa sang guru juga takut pada orang tua muridnya.

Tugas orang tua ialah memberikan keterangan yang lengkap tentang watak si anak, apakah yang menjadi perhatiannya, dengan cara apa ia dapat ber­gaul lebih mudah dan membiarkan si guru untuk mencari jalannya sendiri. Jangan lupa memuji sang guru kalau ada sesuatu dalam pelajaran yang patut dipuji. –vee

Avatar photo
/ Published posts: 787

Bercerita berarti penyampaian cerita dengan cara bertutur. Yang membedakan adalah metode penyampaiannya.