7 views 6 mins 0 comments

Kiat Efektif & Produktif Mengajak dan Memengaruhi Warga Kota

Kota Surabaya punya penduduk dengan beragam latar belakang, kemampuan, dan keinginan. Bagaimana menyatukan mereka dalam satu cita-cita?

 

 

F a k t a  1:  Beragam Profil

Profil masyarakat kota sangat beragam. Mereka berbeda latar belakang budayanya. Kebanyakan bukan orang asli Surabaya? Mereka juga berbeda kemampuan materi maupun daya intelektualnya. Bidang pekerjaannya juga berbeda-beda. Aspirasinya pasti sangat beraneka. Dan yang paling nyata: problem hidupnya saling berbeda pula.

 

K i a t   1:

  • Kenali profil dan berbagai latar belakang yang mempengaruhinya (lihat  ‘fakta’ di atas). Anda tak mungkin melakukan tes psikologi-antropologi satu persatu. Periksalah data demografi peserta berdasarkan usia, pendidikan, status perkawinan, tingkat pendidikan, pekerjaan, jenis kelamin, daerah asal kelahiran.

 

  • Kelompokkan mereka (audience) dengan pedoman carilah profil mayoritas, terdiri atas orang-orang yang profilnya mirip dalam jumlah terbanyak. Kelompok mayoritas inilah yang Anda jadikan acuan komunikasi.

 

  • Profil sisanya anggaplah sebagai kembangan. Jangan kucilkan mereka menjadi kelompok minoritas yang jarang disapa dan diangkat persoalannya. Mereka justru dapat menjadi pelengkap, pendukung, dan faktor perekat kegiatan yang penting.

 

 

F a k t a  2:  Beda Aspirasi

 

Kelompok mayoritas itu belum tentu seragam (homogen). Mereka masih saling berbeda satu sama lain dalam hal aspirasi dan ketertarikan terhadap isu-isu baru. Satukan dan ikatlah mereka dengan cara memilih tema/isu pembicaraan yang paling menarik dan membuat mereka menikmati (exited).

 

K i a t  2:

 

  • Carilah tema – topik pembicaraan yang spesifik. Tema ini harus sederhana. Mungkin temanya pelik dan rumit, tapi selalu cari bahasa yang sederhana untuk merangsang ketertarikan. Ciptakan jargon/soundbite untuk tema Anda itu. Misalnya : Perangi Sampah Sekarang Juga, Sampah Sahabat Kita, Mari Bermesraan dengan Sampah, atau jargon lain yang lucu dan menggoda, tetapi mudah diingat.

 

  • Tegaskan berulang-ulang jargon Anda, agar merasuk ke dalam benak peserta. Jargon akan menjadi motivator dan ‘mesin penggerak’ kegiatan. Boleh juga dikuatkan dengan simbol atau ‘tanda pengingat’ yang lebih menancap.

 

  • Selain jargon, temukan pula beberapa kata kunci/kata sakti yang membentuk istilah-istilah baru yang komunikatif dan populer. Anda bisa mengutip beberapa kata yang sudah dikenal masyarakat sehari-hari.

 

F a k t a  3: Penguasaan Materi

Pelajarilah seluruh materi yang akan Anda sampaikan, lalu buatkanlah outline (garis-garis besar) berdasarkan prioritas masalah. Outline ini akan membimbing Anda menyampaikan materi itu kepada peserta latihan. Ibarat Thukul, Anda akan selalu dibimbing laptop.

 

K i a  t  3:

  • Anda harus benar-benar kuasai materi yang hendak disampaikan. Peserta akan tidak percaya dan ogah mendengarkan, bila tampak Anda sebenarnya tak menguasai persoalan.
  • Materi itu harus dibuat sederhana, lugas, dan langsung kepada pokok persoalan. Semakin Anda berkumpar-kumpar dengan banyak teori, peserta segera bosan.

 

 

F a k t a  4: Sampaikan dengan Menarik

 

Sepenting apapun materinya, bila penyampaiannya tidak menarik, tidak akan diingat. Peserta akan menguap berkali-kali, malas menatap, dan akhirnya melupakan semua yang telah Anda sampaikan. Kemampuan berkomunikasi sangat menentukan keberhasilan Anda tampil menarik. Kemampuan ini selain bakat, juga dapat diasah melalui latihan yang berulang-ulang.

 

K i a t  4:

  • Jangan berceramah, apalagi berpidato. Bahasa verbal dan oral sangat menuntut kemampuan public speaking yang memadai. Padahal hasilnya kadang terbatas.

 

  • Coba sampaikan materi Anda secara visual, atau dengan simbol/peragaan yang menarik. Ketertarikan orang kepada gambar/peragaan, jauh lebih besar ketimbang membaca kalimat atau mendengarkan pidato.

 

  • Tempatkan diri Anda pada mereka (berempati), misalnya dengan selalu menyebutkan : ‘’semuanya dapat Anda lakukan…!’’ atau ‘’Kita bisa melaksanakannya bersama….’’. Hindari kata aku/milikku; ini gagasan saya; teori ini saya temukan sendiri…..’’ dst.

 

F a k t a  6: Merasakan Keterlibatan

Para peserta umumnya tidak ingin digurui, diceramahi, atau diposisikan sebagai pihak yang kurang pandai. Mereka akan lebih suka ditempatkan sejajar dengan Anda, lebih diajak dan dilibatkan memecahkan masalah secara bersama-sama. Mereka butuh ‘diorangkan’

 

K i a t  6:

  • Rajinlah mencari contoh-contoh yang sangat dekat dengan problem keseharian mereka. Angkatlah contoh itu, seakan-akan berasal dari mereka pula, dan bukan dari Anda.

 

  • Ungkapkan lebih banyak contoh pengalaman (experience) yang nyata (empirical)  ketimbang sekadar memamerkan luasnya  pengetahuan dan teori Anda. Contoh-contoh itu dapat dipinjam dari pengalaman orang lain, atau lebih baik lagi,  pengalaman para peserta sendiri

 

  • Bila memungkinkan libatkan peserta dalam simulasi/permainan bersama yang membentuk teamwork. Tim ini dapat selalu bekerja sama menyelesaikan masalah yang mereka cari dan ciptakan sendiri pula

 

F a k t a  7: Reminding, Mengingatkan dan Mengulang

 

Orang modern mudah lupa. Setiap hari otaknya dipenuhi pesan-pesan hingga meluber. Daya tampung otaknya sudah tidak sebanding lagi dengan banyak dan beragamnya pesan yang masuk. Tanpa diingatkan lagi, kita mengalami efek ember bocor.

 

K i a t  7:

  • Upayakan selalu ada kesempatan mengulang pesan-pesan, baik melalui tatap muka maupun cara lain yang efektif.

 

  • Pada setiap pengulangan, sisipkan hal-hal baru yang lebih memperkaya materi, sehingga akan memperkembang kemampuan peserta.

 

Tjuk Suwarsono

Pemerhati & praktisi public relations

Leslie T. Giblin, ‘’Skill with People’’

Avatar photo
/ Published posts: 788

Bercerita berarti penyampaian cerita dengan cara bertutur. Yang membedakan adalah metode penyampaiannya.