24 views 7 mins 0 comments

Warna-warni Tempat Lidah Mertua di Tengah Kota Surabaya

Pemerintah Kota Surabaya terus mempercantik kota. Sentuhan-sentuhan baru diberikan dengan warna-warni.

Pot-pot warna-warni tampak cantik berjajar di median jalan. (sa)

Surabayastory.com – Jika Anda melintasi jalur-jalur utama Kota Surabaya, apakah Anda merasakan suasana baru dengan hadirnya pot warna-warni? Kota Surabaya tampak lebih semarak. Pengelola Kota Surabaya sepertinya tidak juga puas dengan terus menambah detil dan variasi visual di dalam kota.

Kali ini Pemerintah Kota Surabaya berusaha mempercantik dengan menambah pot warna-warni di beberapa median jalan. Jika melihat variasi sebelumnya, pot warna-warni ini melengkapi variasi bunga-bunga yang digantung di tiang Penerangan Jalan Umum (PJU). Dengan bentuk pot yang unik, warna bunga (merah dan kuning) yang digantung tampak menarik. Pengendara yang melintas pun akan tertarik untuk melirik. Bunga-bunga yang digantung tertata indah di sepanjang Jl Walikota Mustajab sepanjang sisi Kalimas, Jl Urip Sumoharjo dan Jl Walikota Mustajab yang mengarah ke Jl Pemuda. Rangkaian bunga yang digantung di tiang PJU itu menambah detil Kota Surabaya.

Pot warna-warni berpadu dengan ikon Surabaya membuat tengah kota makin megah. (sa)

Dari informasi yang didapatkan, beberapa variasi visual ini dilakukan untuk memberi arti lebih pada tamu-tamu asing yang datang ke Surabaya. Kota ini memang sering menjadi tempat even internasional. Dan yang terbaru Surabaya akan menjadi tuan rumah Kongres United Cities and Local Governments Asia Pacific (UCLG Aspac) ke-7, 11-15 September 2018. Kongres dua tahunan ini akan diikuti 800 orang dari 50 negara di dunia utamanya negara Asia Pasifik. Mempertemukan pemimpin daerah untuk membahas pembangunan di Asia Pasifik. UCLG adalah asosiasi organisasi pemerintah daerah yang diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berpusat di Barcelona.  Sebelumnya Surabaya juga didatangi perwakilan 10 negara dalam acara Cross Culture Festival.

Warna-warni Menyolok Mata

Berjajar di atas pagar. (sa)

Kembali ke pot yang baru. Dari melihat bentuknya, pot-pot itu tampak seperti galon bekas cat tembok, lalu diberi sentuhan warna-warni. Sementara yang ditempatkan di atas pagar pembatas jalan, adalah timba air yang juga dicat pelangi. Dalam pot-pot warna-warni itu ditempatkan tanaman lidah mertua. Nama keren tanaman ini adalah Sansevieria Trifasciata, namun di Indonesia lazim disebut lidah mertua. Mungkin karena bentuknya panjang seperti lidah. Mertua? Entah, mertua siapa yang punya lidah seperti ini.

Sansevieria termasuk tanaman hias yang sangat populer. Gampang dijumpai di setiap sudut rumah-rumah atau setiap jengkal tanah di Indonesia. Tanaman ini gampang tumbuh di daerah tropis. Biasanya lidah mertua sebagai hias. Tanaman ini dapat tumbuh dalam kondisi yang sedikit air dan cahaya matahari. Sansevieria memiliki daun keras, tegak, dengan ujung meruncing. Mungkin karena bentuknya yang tajam tanaman ini dinamai lidah mertua.

Menilik bentuk dan manfaatnya, lidah mertua memang pilihan yang tepat untuk menghias median jalan kota. Tanaman ini bentuknya ramping, sehingga tidak mengganggu pandangan para pengendara. Selain itu perawatannya mudah, cukup disiram teratur saja, tidak perlu dipangkas dalam waktu tertentu.

Tumbuhan ini juga memiliki kandungan air sukulen, sehingga tak perlu terlalu sering disiram. Namun jika tanahnya dibasahi sampai lembap, sansiviera bisa tumbuh subur. Tanaman ini juga memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan.

Selain itu, mungkin juga sudah diperhitungkan, lidah mertua ini sangat efektif menyerap debu dan karbon dioksida. Jadi, debu jalanan akan terkurangi, meski besarannya sulit untuk dihitung secara pasti. Lebih-lebih lagi, dibanding tumbuhan lain, Sanseviera memiliki keistimewaan menyerap bahan beracun, radiasi dan polusi.

Saat ini ada beberapa wilayah yang telah dipasang pot warna-warni dengan tanaman Sansiviera. Yang terlihat sangat menonjol adalah sisi timur Jl Walikota Mustajab, depan Grand City hingga batas traffic ligt menjelang Jembatan Pemuda. Tidak hanya di median jalan saja yang dipasang, tetapi juga di pagar pembatas menuju jalan naik viaduk Gubeng baru.

Sansevieria yang dipasang di pot warna-warni di Surabaya adalah jenis yang tumbuh memanjang ke atas dengan ukuran 50–75 cm. Kelompok memanjang ini memiliki daun meruncing seperti mata pedang, atau ada yang menyebutnya tanaman pedang-pedangan. Warna daunnya mulai hijau tua, hijau muda, hijau abu-abu, dan warna kombinasi hijau kuning  atau putih kuning. Daunnya bermotif alur atau garis-garis mengikuti arah serat daun, tidak beraturan.

Jl Prof dr Moestopo dan Jl Darmo

Median jalan jadi tidak membosankan. (sa)

Lokasi lain yang sudah tampak adalah di Jl Prof dr Moestopo yang hendak menuju pertigaan Jl Dharmahusada dan Jl Karangmenjangan. Belum semencolok Jl Walikota Mustajab, tetapi sudah lebih dari 10 buah jajaran pot warna-warni.

Wilayah lain yang juga disentuh adalah di pemisah jalan putar balik Jl Darmo depan Kebun Binatang Surabaya. Pot-pot itu tampak berjajar dengan cantik, walau posisinya terlihat terlalu rendah. Jika diberi pijakan pot setinggi 50 cm pasti akan tampak lebih ‘menyala’.

Tambahan-tambahan variasi yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Surabaya untuk mempercantik kota ini tentu harus diapresiasi. Banyak terobosan dan detil baru yang disodorkan, seperti tak pernah lelah untuk mengisi keindahan. Masukannya, tengah kota terlihat sudah terlalu banyak variasi warna-warni visual, mulai dari pot gantung, pot warna-warni, lampu hias, bola-bola di trotoar, payung-payung, kurungan burung, lampu-lampu hias, dan banyak lagi. Jika terus ditambah, bisa jadi akan membosankan. Pada dasarnya dalam teori visual, selalu ada bagian background (yang tidak terlalu menonjol) dan point of interest (yang menonjol). Jika semuanya menonjol (ditonjolkan) jadinya malah membuat mata sakit dan pusing kepala. Jalan keluarnya, variasi-variasi itu bisa dilebarkan ke wilayah-wilayah lain di luar pusat kota. Pusat kota sudah terlalu meriah. –sa 📌

Avatar photo
/ Published posts: 787

Bercerita berarti penyampaian cerita dengan cara bertutur. Yang membedakan adalah metode penyampaiannya.