9 views 9 mins 0 comments

Strategi Merawat Pedestrian Surabaya

Siapa yang tak senang jalan kaki di Surabaya saat ini? Lapang, bersih, bersahabat. Strategi perawatan berkala perlu dilakukan agar tak kembali jadi berantakan.

Pembersihan dengan menyemprotkan air bertekanan tinggi secara berkala menjadi kunci perawatan pedestrian di Surabaya. (sa)

Surabayastory.com – Surabaya kini dikenal sebagai kota dengan jalur pejalan kaki (pedestrian) yang bersih dan nyaman. Sebagai pelopor pembangunan kota dan pedestrian yang lebar, Surabaya terus berupaya merawat dan meningkatkan fasilitas kota. Pedestrian menjadi indikator penting bagi kota yang berkemajuan peradaban dan pembangunan masa depan. Saat ini, kota-kota di Indonesia becermin dari kesuksesan Surabaya membangun kota yang cantik. Kota-kota besar berlomba membangun pedestrian yang nyaman, sekaligus bisa mengubah wajah kota menjadi rupawan. Tiap warga kota kini bangga dengan perubahan-perubahan wajah kotanya. Pedestrian yang nyaman, teduh dan bersahabat membuat pejalan kaki tak lagi enggan melintasinya.

Sebagai kota yang disebut-sebut sebagai kota dengan jalur pedestrian terbaik di Indonesia, pemerintah Kota Surabaya secara terpadu melakukan revitalisasi sejumlah jalur pedestrian. Jalur pedestrian dilebarkan, tingginya dibuat standar, tata artistik diperhatikan, serta material dibuat lebih baik. Di sepanjang jalur ini juga dibuat rindang, teduh, dan ramah untuk kaum difabel. Secara perlahan mulai dari jalur-jalur tengah kota hingga kemudian menyebar ke seluruh kota. Belum selesai memang, tetapi pergerakannya terus berlangsung.

Pemerintah Kota Surabaya tahun 2018 juga berencana membangun lebih dari 5.000 meter pedestrian. Tahun lalu, di tengah tahun saja pedestrian yang berhasil dibangun sepanjang 5.225,67 meter, yang terbagi dalam Jl Dharmawangsa (425 meter), Jl Kertajaya Indah (192 meter), dan Jl Kertajaya (149 meter), Jl Manyar Kertoarjo (277,67 meter), Jl Bubutan (510 meter), Jl Margorejo Indah-Raya Prapen (244,60 meter), Jl Dr Sutomo (350 meter), Jl Diponegoro (250 meter), Jl Perak Barat (150 meter), Jl Tunjungan (200 meter), Jl Tegalsari (204 meter), Jl Biliton (289 meter), Jl Manukan (137 meter), Jl Tidar (246 meter), Jl Semarang (346,40 meter), Jl Dupak (397 meter), Jl Tambaksari (93 meter), dan Jl Simokerto (400 meter).

Sejak 2005

Pembangunan pedestrian Kota Surabaya tidak datang tiba-tiba. Rencana pembangunan itu sudah dilakukan sejak 2005, kemudian diperkuat tahun 2010 seperti tertuang dalam Peraturan Daerah Kota Surabaya No. 03 Tahun 2007 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Surabaya Tahun 2010-2030. Di tahun pertama pelaksanaan (2010), pemerintah Kota Surabaya membangun 16 proyek jalur pedestrian. Tahun berikutnya 14 proyek jalur pedestrian.

Setiap pedestrian berkembang masing-masing mengikuti kondisi lingkungan yang ada di sekitarnya. Salah satu ruas jalan dengan jalur pedestrian yang telah berkembang adalah Jl. Pemuda. Jalan ini sangat strategis, berada di pusat kota dengan aktivitas pedestrian yang padat. Juga di Jl. Basuki Rahmad, Jl. Embong Malang, dan sekitarnya. Di sana ada gedung perkantoran, pusat perdagangan, bisnis dan jasa, pusat perbelanjaan, apartemen, dan fasilitas. Kawasan jantung kota ini juga sebagai salah satu akses utama masyarakat kawasan Surabaya Utara dan Surabaya Timur munuju kawasan pusat Kota Surabaya.

Sudah lama tak disadari, jalur pedestrian sebenarnya sangat penting. Bukan saja sebagai tempat untuk jalan kaki, namun juga tempat interaksi dan alur pergerakan manusia. Pedestrian adalah ruang publik (public space) tempat beraktivitasnya manusia.

Di kota-kota besar di negara-negara yang telah maju peradabannya, jalur jalan kaki didukung dengan fasilitas kawasan yang lengkap dan menjadi suatu aktivitas yang populer.

Pedestrian yang nyaman seperti ini sangat memanjakan pejalan kaki. Strategi perawatan yang tepat akan membuat pedestrian ini berumur panjang. (sa)

Evaluasi dan Strategi Perawatan

Ruang bagi pejalan kaki sangat berperan dalam menciptakan lingkungan yang manusiawi. Untuk itu, setelah pembangunan, bagian terberat adalah bagaimana merawatnya. Dengan perawatan yang konsisten dan berkala, maka pengguna pedestrian tetap merasa aman dan nyaman. Tidak ragu lagi untuk kembali jalan kaki. Tanpa perawatan dan pengawasan, dikhawatirkan pedestrian Surabaya akan kembali kumuh dan disalahgunakan sebagai lahan parkir, tempat jualan PKL, atau tumbuh bangunan liar semi permanen. Akibatnya, pejalan kaki kembali tidak mendapat tempat. Untuk memulai kembali, pasti akan sangat sulit.

Beberapa strategi perawatan yang utama adalah menjaga keamanan pejalan kaki. Aman dari tindak kriminal maupun aman dari kendaraan bermotor. Keamanan di pedestrian dari tindak kriminal diantisipasi dengan menyebar personel satpol PP di berbagai penjuru kota. Selain itu mereka juga bertugas membantu warga kota. Sementara aman dari kendaraan bermotor diantisipasi dengan menempatkan bola-bola batu atau semen yang dicat warna-warni. Bila melintasi jalan-jalan utama, kita melihat bola-bola di pinggir pedestrian, itu bermanfaat untuk menghindarkan kendaraan bermotor naik ke pedestrian dan bisa menyebabkan pejalan kaki celaka.

Strategi kedua adalah kebersihan. Sebuah pedestrian yang bersih dan rapi akan membuat pejalan kaki senang melintasinya. Di Surabaya, kebersihan pedestrian adalah utama. Kita sering melihat, di pagi hari jalur tersebut disemprot dengan air bertekanan tinggi, digosok menggunakan air sabun setiap hari. Yang paling sering disemprot adalah di kawasan Taman Bungkul, Jl Panglima Sudirman, Jl Basuki Rahmat, Jl Urip Sumoharjo, Jl Rajawali, Jl Tunjungan dan di sekelilingĀ  Taman Surya. Yang mendapat pengecekan harian adalah pedestrian baru dan lebar. Dalam sehari tim satgas ini bisa melakukan perawatan di tiga hingga lima titik. Hasilnya, nyata, nyaris di semua pedestrian Surabaya tampak bersih dan rapi.

Strategi ketiga adalah menempatkan tempat sampah sebagai fasilitas umum. Dengan pemasangan tempat sampah yang estetik mendorong warga meningkat kedisiplinan dengan membuang sampah yang dipilah sesuai tempat yang telah ditentukan. Membuang sampah menjadi asyik dan menjadi bertanggungjawab. Yang tak kalah penting adalah monitoring serta jadwal pengangkutan sampah yang tepat ke lokasi pengumpulan sampah berikutnya.

Strategi keempat termasuk yang bagian menonjol, yaitu penggantian material dan elemen yang sudah tidak layak pakai. Di Surabaya, hal ini diantisipasi dengan adanya tim khusus yang berkeliling menjaga dan monitoring pedestrian yang rusak. Ada lima tim rayon satgas yang bertugas. Mereka bekerja melaksanakan jadwal perawatan pedestrian dan merespon laporan warga.

Pedestrian rusak biasanya berlubang atau keramik rusak dan pecah-pecah. Penyebabnya lapisan atas pedestrian ini tidak mampu menahan beban yang melintas di atasnya. Ini sering terlihat di mulut jalan karena sering dilewati sepeda motor atau mobil.

Untuk menyelesaikan ini ada tim yang berkeliling menjaga pedestrian membawa bahan/ material untuk perbaikan pedestrian seperti semen, pasir dan juga batuan pecah (kerikil). Tim yang disebut satgas penambal ini juga akan mengganti keramik yang lepas atau menambal pedestrian yang bolong.

Lubang-lubang di pedestrian seperti ini yang membutuhkan kontrol dan perawatan. Biasanya bermula dari keramik yang pecah. (sa)

Dan bagian terakhir adalah merawat tanaman peneduh dan penghias di sepanjang pedestrian. Yang jelas melakukan penyiraman tanaman, pemupukan, dan pemangkasan tanaman. Bagian ini juga perlu jadwal yang berkala hingga keasrian tanaman dapat terjaga.

Tingkat pelayanan (level of service) jalur pedestrian di Surabaya termasuk sangat memuaskan. Memang tidak mudah harus memperhatikan pedestrian Surabaya sepanjang 46 kilometer. Namun inovasi-inovasi baru perlu didorong untuk membuat hal-hal baru di jalur pedestrian agar tidak membosankan.

Dengan sarana prasarana bagus dan pedestrian yang cantik, akan menempatkan masyarakat makin peduli dalam menjaga lingkungannya. Perawatan pedestrian bukan hanya tugas Pemkot Surabaya, juga tanggungjawab seluruh warga Surabaya dan pengguna pedestrian. —sa šŸ“Œ

Avatar photo
/ Published posts: 788

Bercerita berarti penyampaian cerita dengan cara bertutur. Yang membedakan adalah metode penyampaiannya.