21 views 10 mins 0 comments

Antisipasi Gempa di Surabaya

Kamis dini hari (11/11/2018) Surabaya terasa bergetar saat pantai utara Jawa terguncang. Ada kekhawatiran yang membuat Pemerintah Kota Surabaya membuat langkah antisipasi pada gempa.

Peta Geologi Kota Surabaya. (diolah dari data Tim ITS)

Surabayastory.com – Bumi Indonesia didera serangkaian gempa bumi dan bencana alam tektonik. Beberapa bulan terakhir, Indonesia didera keprihatinan berkepanjangan. Sejumlah bencana gempa bumi terjadi. Yang paling dekat adalah gempa di Situbondo (Jawa Timur) yang berdampak hingga Sumenep dan pulau-pulau di perairan Madura lainnya. Sebelumnya yang mengguncang dunia adalah dua gempa bumi di Lombok (Nusa Tenggara Barat) dan Palu-Donggala (Sulawesi Tengah). Kemudian disusul dengan beberapa wilayah Indonesia lainnya dengan skala yang lebih kecil.

Seperti yang telah dituliskan sebelumnya, Indonesia memang masuk kawasan rawan bencana. Namun mengapa akhir-akhir ini gempa seakan terus terjadi, dari catatan ringkas saintif.com, tahun ini rotasi Bumi mengalami perlambatan. Dampak dari perlambatan ini adalah efek besar dalam kejadian gempa Bumi. Ketika rotasi Bumi melambat, logam cair di dalam Bumi masih terus bergerak, sehingga menekan lapisan luar Bumi dan tekanannya menyebar melalui patahan di atasnya.

Episentrum (pusat gempa) Situbondo yang berjarak 170,72 km dari Kota Surabaya. (bmkg)

Kala Gempa Terasa di Surabaya

Ketika tanah Surabaya ikut bergetar Kamis dini hari (11/11/2018), kekhawatiran dan kepanikan sempat terjadi. Karena terjadi pada dini hari, di jam-jam tidur pulas, tidak sampai menimbulkan kepanikan yang sangat. Sementara yang merasakan ada guncangan dari efek gempa, beberapa penduduk mulai keluar rumah. Ada yang merasa saat tidur tiba-tiba terguncang. Ada yang melihat lampu gantung bergoyang. Juga ada yang memberikan kesaksian air di dalam gelas di atas meja yang mendadak bergolak.

Yang tinggal di gedung-gedung tinggi, apartemen, dll mulai berebut turun melalui tangga darurat. Lintasan di lini masa sosial juga meningkat keramaiannya dini hari itu. Gempa selama beberapa detik yang terjadi di Jawa Timur itu telah memberikan tepukan keresahan warga Kota Surabaya.

Selain Surabaya, guncangan juga dirasakan di sejumlah daerah seperti Sumenep, Pamekasan, Bondowoso, Jember, Banyuwangi, Sidoarjo, Gresik, Jombang, Bali dan beberapa daerah lain.

Guncangan seakan telah menjadi ketakutan (fobia) baru bagi masyarakat Indonesia. Gempa yang berakibat fatal di beberapa wilayah telah menyiratkan ketakutan yang tersembunyi.

Menengok peristiwa ini, akan sangat penting jika Kota Surabaya juga mempersiapkan diri. Mengantisipasi dampak jika Surabaya terkena gempa atau terdampak yang lebih besar. Antisipasi secara masif perlu dilakukan, mulai dari penggalian data saintifik, pemetaan, langkah antisipasi, hingga rencana tambahan terhadap dampak gempa atau bencana alam yang tak terkirakan sebelumnya. Langkah antisipasi ini tujuannya adalah untuk meminimalkan jumlah korban, karena bencana alam sudah pasti tidak dapat ditolak, ditunda, ataupun dipindahkan tempatnya.

Sebagai catatan, Surabaya memang menyimpan potensi terjadi gempa. Ini karena secara geografis wilayah Kota Surabaya berada di bawah dua patahan bumi; Patahan Kendeng dan Patahan Rembang. Dua patahan ini bergerak aktif, sehingga menimbulkan kemungkinan gempa bumi di Surabaya jika sesar itu bergeser dengan kekuatan besar. Setiap saat, patahan bumi itu bisa bergerak hingga mengguncangkan permukaan bumi Surabaya.

Sesar Kendeng (memanjang mulai dari Flores hingga ke Bandung) kemudian terbagi lagi menjadi dua; yang disebut dengan Sesar Surabaya dan Sesar Waru. Kedua sesar ini sudah lama diketahui para ahli. Sementara sesar Waru memanjang dari sekitar Waru (di sekitar kawasan Karangpilang) hingga ke Jombang, Nganjuk hingga Saradan, Madiun. Sedangkan Sesar Surabaya mulai dari kawasan kawasan atas Wonokitri, Mayjen Sungkono hingga ke kawasan Cerme Gresik. Jl Mayjen Sungkono yang sering retak-retak diduga akibat pergerakkan sesar ini.

LANSKAP KEGEMPAAN DI INDONESIA

Surabaya masuk dalam peta risiko gempa dalam Peta yang dirilis Pusat Gempa nasional Kementerian PUPR 2017.

Langkah Antisipasi Gempa Surabaya

Langkah paling awal dilakukan adalah memberikan edukasi kepada masyarakat. Memberikan pengetahuan dan pemahaman ketika terjadi gempa dan bagaimana menyelamatkan diri dan survive ketika gempa datang. Di Jepang program ini sudah masuk kurikulum sekolah. Di Surabaya (juga wilayah lain yang rawan bencana di Indonesia) kurikulum mengantisipasi bencana sangat diperlukan.

Selanjutnya, yang juga mendesak adalah mempersiapkan alat deteksi dini terhadap gempa. Pemerintah Kota Surabaya sudah waktunya untuk merencanakan untuk memasang perlengkapan ini. Pemerintah perlu segera memasang seismograf serta GPS di sepanjang sesar tadi supaya bisa diketahui pergerakkannya serta melihat potensi naik-turunnya tanah. Dengan alat pendeteksi dini, peringatan akan bahaya akan lebih cepat ditangkap dan disebar.

Setelah pendidikan, pendeteksian, masyarakat perlu pelatihan termasuk penyelamatan diri menuju titik kumpul apabila ada bencana.

Setelah itu, dengan adanya data pemetaan tentang kondisi tanah Surabaya.  Bersama dengan Kelompok Kajian Bencana LPPM ITS Pemerintah Kota Surabaya mulai melakukan penelitian. Pemkot telah memberikan data sondir untuk mengetahui kondisi tanah setiap wilayah di Surabaya. Dalam catatan awal, wilayah Surabaya Utara dan Timur didominasi dengan lapisan tanah berlumpur. Mulai dari Romokalisari, Margomulyo, Kalianak, dan Tanjung Perak. Sementara di Timur tanah lembek itu ada di sepanjang pantai timur Surabaya dari Kenjeran, Keputih, Medokan, hingga Gunung Anyar.

Dari data-data ini nantinya akan dilakukan langkah-langkah antisipasi terhadap risiko gempa di Surabaya. Selain dipengaruhi kuat oleh struktur bangunan, kondisi tanah juga menjadi parameter penting untuk melihat efek yang ditimbulkan oleh gempa. Dari wilayah dengan data tanah yang lembek (daya dukung tanah kecil), maka perlu dilakukan pemadatan tanah. Beberapa wilayah di Surabaya memiliki  jenis tanah berupa endapan rawa, jika gempa terjadi, berpotensi menimbulkan dampak yang lebih buruk.

Untuk kawasan Surabaya Timur dan Utara yang jenis tanahnya berupa endapan rawa, berpotensi untuk mengalami amplifikasi, yaitu dampak yang ditimbulkan akibat gempa menjadi lebih besar karena struktur bawah tanah. Pembesaran ini nantinya akan memengaruhi energi dari gempa tersebut. Dengan kata lain kekuatannya akan berlipat beberapa kali.

Untuk menekan risiko itu terjadi, pemadatan tanah menjadi salah langkah jangka pendek yang solutif. Kemudian dengan data tanah di semua wilayah Surabaya, maka tiap bangunan baru yang akan dibangun strukturnya bisa merespon data tanah yang dikaji pemerintah kota saat ini.

 

Perlu Penguatan Teknologi

Pergerakan alam semesta memanglah tidak bisa ditebak, kapanpun bisa terjadi risiko sebuah bencana. Peristiwa gempa yang kerap melanda Indonesia semakin menyadarkan akan rentannya Indonesia terhadap bencana tersebut. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Indonesia mendorong berkembangnya teknologi dalam upaya mengurangi risiko gempa.

BPPT telah memiliki program “BUOY InaTEWS” untuk peringatan dini tsunami. Upaya itu diperkuat juga dengan pengkajian mengenai teknologi Multi Hazard Early Warning System (MHEWS).

Sinergi yang kuat antar-lembaga, kemeterian, pemerintah daerah, industri, dan masyarakat menjadi penting sebagai titik tolak kesadaran bersama akan bahaya gempa. Dengan kualitas keilmuan yang tinggi, kesadaran masyarakat yang tumbuh, serta industri yang memandang kepentingan bersama dan sosial, implementasi teknologi ini dapat dengan lancar digelindingkan.

Teknologi-teknologi tersebut bertujuan untuk membangun kesiapan masyarakat dalam menghadapi kemungkinan bencana, memberikan dukungan percepatan bagi proses tanggap darurat, dan penerapan teknologi dalam proses pemulihan pasca bencana. Inovasi teknologi kebencanaan secara terus menerus merupakan kata kunci penting antisipasi dan penanganan bencana.

Penguatan inovasi teknologi kebencanaan di era modern ini sudah mengikuti perkembangan revolusi industri 4.0 yang bertumpu pada algoritma, analisa big data, kecerdasan buatan (AI) hingga modeling untuk prediksi bencana. Inovasi yang terus dikembangkan diantaranya Teknologi Kajian Keandalan Gedung Bertingkat Terhadap Ancaman Gempa Bumi (SIJAGAT) dan Teknologi Monitoring Gedung Bertingkat Terhadap Bencana Gempa Bumi (SIKUAT).

Gempa bumi itu memang sudah menjadi bagian dari siklus bumi. Kalau tidak di belahan satunya, gempa pasti akan terjadi di belahan yang lain.

Kita tunggu hasil penelitian lebih dalam dari hasil pemindaian tanah Surabaya dan inovasi-inovasi baru untuk mereduksi akibat bencana. Dari sana, langkah antisipasi lanjutan yang nyata sangat berarti bagi masyarakat Surabaya. –sa 📌

Sumber: situs resmi BMKG

Avatar photo
/ Published posts: 787

Bercerita berarti penyampaian cerita dengan cara bertutur. Yang membedakan adalah metode penyampaiannya.