Gabriel García Márquez sangat mengagumi wanita. Menurutnya, di sana ada keindahan, dan sumber karya-karya di dunia.

Gabriel García Márquez selalu menampilkan pesona yang berbeda dan akrab dengan dunia wanita. (AP)

Surabayastory.com – Wanita selalu dikaguminya. Makhluk yang indah dan menakjubkan, katanya. Dia kemudian menulis dalam salah satu memoarnya, “Wanitalah yang menjaga dunia, sedangkan kami pria cenderung menjerumuskannya ke dalam kekacauan dengan semua kebrutalan bersejarah kami.”

Membaca Gabriel García Márquez kita juga akan dibuat terpesona dengan nama-nama cantik seorang wanita. Pilihan-pilihan namanya selalu indah, megah, dan menggugah keingintahuan. Seperti apa wajahnya? Gesturenya? Kebiasaannya? Dan Marquez selalu mampu menghadirkan diskripsinya dengan sangat apik, melankolik, sekaligus absurd. Wanita di tangan Marquez selalu tampil memesona dengan daya pikat yang memukau.

Gabriel Garcia Marquez adalah salah satu penulis terpenting abad ke-20. Penulis legendaris dunia, lahir di Aracataca, kawasan pantai Karibia di Kolombia, 6 Maret 1927. Nama lengkapnya Gabriel José García Márquez, nama panggilan akrabnya Gabo.

Marquez anak pertama dari 11 bersaudara. Dia tumbuh bersama kakek dan neneknya dan sering merasa kesepian sebagai seorang anak. Ia dikelilingi oleh wanita, binya yang lebih tua dan pembantu rumah tangga.

Setelah studi awal di bidang hukum, Garcia Marquez memulai karir sebagai wartawan. Situasi sosial-politik Kolombia saat itu menjadi pusat perhatiannya. Esai-esai tentang penderitaan rakyat Kolombia menjadi karya awalnya.

Jurnalisme Baru

Dalam perkembangannya, Marquez dipercaya sebagai pelopor jurnalisme baru dengan gaya penulisan yang naratif-diskriptif.

Karir Marquez kemudian semakin berkembang ketika ia lebih menitikberatkan sebagai penulis ketimbang wartawan. Puncaknya adalah ketika novelnya One Hundred Years of Solitude (Seratus Tahun Kesunyian) mendapat sukses besar di tahun 1967. Dia menjadi sorotan internasional ketika karyanya ini terjual lebih dari 10 juta eksemplar kala itu.

Kemudian disusul dengan novel terkenal lainnya, Autumn of the Patriarch, Chronicle of a Death Foretold, dan Love in the Time of Cholera yang menjadikannya sebagai ikon realism-magis.”

Garcia Marquez juga sempat bekerja di kota New York untuk Presa Latina, sebuah kantor berita yang dibentuk pada rezim pemimpin Kuba Fidel Castro. Pada 1967 hingga 1975, dia tinggal di Spanyol. Dia juga pernah menyewa rumah di Mexico City dan sebuah apartemen di Paris. Namun, sebagian besar waktunya dihabiskan di Havana, di mana Castro memberinya sebuah rumah mewah.

Tak Pernah Membaca Ulang

Bagaimana Marquez menuntaskan karya-karyanya? ‘’Saya selalu memikirkan bahwa setiap versi cerita lebih baik daripada yang sebelumnya. Tidak patuh hukum akal sehat melainkan keajaiban insting. Saya tak pernah membaca ulang buku saya yang manapun karena takut saya akan menyesalinya.’’

Begitu kata Gabriel García Márquez. Karya-karya cipta Marquez memang enak untuk dibaca, seakan kita terbawa, terhanyut dalam kisah yang sedang diceritakan. Duduk, membaca cerita Marquez membuat kita akan terbuai dalam cerita halu yang seakan nyata.

Karya-karya Marquez menarik dan memikat. Marquez dikenal sebagai pencetus lahirnya realisme magis, sebuah genre yang menggabungkan cerita lebih konvensional dengan fantasi. Karyanya yang terkenal adalah Cien Anos de Soledad  (One Hundred Years of Solitude) tahun 1967. Dalam buku itu, dia menceritakan kisah Macondo, sebuah kota terisolasi di Amerika Latin dalam imajinasi pikirannya.

Cerita ini juga akan banyak memuat cerita tentang wanita dengan berbagai karakter dan pesonanya, hingga sosok putri dalam khayalan. Cerita-cerita Marquez akan menjadi teman duduk Anda yang menarik, di kala senggang, atau rehat sejenak, sebelum kembali berancak dengan sebentuk khayalan tenang wanita.

Garcia Marquez menikah dengan Mercedes Barcha, seorang tetangga masa kecil, pada tahun 1958.

Márquez memenangkan penghargaan yang tak terhitung jumlahnya. Yang paling penting adalah Hadiah Nobel Sastra yang dia terima tahun 1982. Karya-karyanya, diterjemahkan ke dalam banyak bahasa di dunia, dan laris di tangan pembacanya. Marquez juga dianggap titisan Miguel de Cervantes (hidup di abad ke-17), sebagai penulis dengan bahasa Spanyol.

Di tahun-tahun terakhirnya, Garcia Marquez mengeksplorasi kehidupan pribadinya dalam karya berjudul Vivir para Contarla (2002), yang diterbitkan tahun berikutnya dengan judul Living to Tell the Tale. Karya itu lagi-lagi menerima ulasan dan pujian hangat dari para kritikus serta penggemar. Garcia Marquez didiagnosis kanker sejak 1990-an. Dia meninggal di Mexico City pada 17 April 2014 pada usia 87 tahun.

Karya-karya Gabriel Garcia Marquez, masih tetap bisa dinikmati sampai hari ini, bergulir dari generasi ke generasi yang lebih muda. Karyanya enak dibaca kapan saja, dan akan tetap abadi. –sa

surabayastory
Bercerita berarti penyampaian cerita dengan cara bertutur. Yang membedakan adalah metode penyampaiannya.

Leave a Reply

  • (not be published)