Proses pembatikan di Madura zaman dulu. Melakukan reng-reng (pencantingan dengan malam) tanpa menggunakan “mal” atau patron adalah ciri khas batik Madura.

Canting dan malam (lilin) dalam batik Madura sangat khas dengan aroma yang wangi. (surabayastory.com)

Surabayastory.com – Batik Madura memang menyimpan karakter yang kuat. Setiap detil dalam proses pembuatannya mempunyai ciri khusus. Secara lebih dalam, dapat ditelaah sebagai berikut:

  • Batik Madura klasik memiliki kepekatan warna yang kuat. Ini adalah hasil dari penggunaan warna alam. Proses pembatikan di atas kain putih (mori) dilakukan berulang kali. Setelah itu pencelupan warna dalam zat warna alam (soga – bahasa Madura) dilakukan secara berulang. Pembatikan ulang itu dinamakan guri.
  • Selain pekat, warna-warna batik Madura sangat khas. Yang utama adalah merah mengkudu (dari akar mengkudu/ Morinda Citrifelia L, Morinda Tincteria Roxeb) yang dalam bahasa Madura disebuat – koddoe. Kemudian biru indigo atau biru pekat (beddel) yang berasal dari daun tarum (Indigofera). Warna hijau tua berasal dari kulit pohon mundu (Garnicia dulcis) yang dalam bahasa Madura dinamakan mondoe. Sedangkan warna hitam yang merupakan campuran warna-warna tersebut di atas.
  • Untuk motif yang ditampilkan mencerminkan garis dan bentuk yang jelas, tegas, ekspresif, dan apa adanya. Apa yang dilihat, itu yang digambar. Deformasi yang dilakukan tidak terlalu banyak. Ragam hias diambil dari lingkungan hidup sehari-hari, tumbuh-tumbuhan, dunia binatang, laut dan sekitarnya. Beberapa motif yang banyak digambar adalah burung, ayam bekisar, kapal dan perahu, udang, kepiting, kerang , sekerat tersi (acan sakerra, bahasa Madura); tumbuhan pacarcina (carcena); sendok/centong nasi (tong-centong); tempat kuah atau basi (si-basi); akar tumbuh-tumbuhan (mo-ramo).

Beberapa pola yang tercipta dari pengulanan ragam hias, cenderung disederhanakan. Motif-motif tertentu dibuat cukup besar atau sangat besar dengan seolah-olah ingin mengekspresikan sesuatu. Batik Madura juga kerap menampilkan kesan tegas, keras, dan berani, sesuai dengan sifat alam dan lingkungannya.

  • Menggambar ragam hias di atas kain mori tanpa menggunakan “mal” dan tanpa menjiplak “patroon”. Para pembatik langsung menggambarkan motif di atas kain dengan canting. Teknik ini membutuhkan kemampuan tersendiri hingga mencapai motif yang diinginkan. Karena itu tidak ada ketepatan dalam pengulangan motif. Ini mencerminkan sifat yang bebas, tidak ingin terikat pada patron tertentu sehingga dalam proses penggambaran ragam hias itu terjadilah pengembangan detil-detilnya.
  • Batik Madura tidak mengenal cap, sekalipun untuk batik murahan. Penggambaran ragam hias pada batik murahan dilakukan dengan mempergunakan canting kasar dan tidak diberi isen-isen. Dalam batik yang bagus dijumpai bentuk-bentuk “isen” yang mempunyai fungsi sebagai pengisi, baik terhadap latar maupun terhadap ragam hias atau motif. Dalam bahasa Madura, isen disebut juga guri, karena selalu memerlukan proses pembatikan ulang pula.

Bentuk-bentuk dari guri ini umumnya dikembangkan dari titik dan garis. Nama-nama guri berasal dari benda yang sehari-hari di jumpai di lingkungan mereka, seperti dapat dilihat pada himpunan macam-macam guri. Betapa pentingnya guri, dalam batik Madura kualitas selembar batik bias diukur dari kehalusan penggambaran guri, serta dari banyaknya jenis guri yang  dipergunakan dalam luas bidang kain.

Selain beberapa ciri khas dan karakter tersebut, ada beberapa hal yang membuat batik Madura mempunyai citra estetik tinggi. Pertama, aroma lilinnya (malam) yang khas. Di beberapa pusat pembatikan klasik, campuran malan batik kerap dicampur dengan madu. Dengan campuran sari bunga yang dikumpulkan lebah itu, bau karbon yang menyengat pada malam jadi netral. Bahkan baunya menjadi wangi nan unik. Di atas kain, warna yang dihasilkan juga menjadi lebih berkarakter dan eksotis. Dari bau yang ditimbulkan juga membawa kesan magis dan syahdu. –sa

surabayastory
Bercerita berarti penyampaian cerita dengan cara bertutur. Yang membedakan adalah metode penyampaiannya.

Leave a Reply

  • (not be published)