Jejak penerbangan di Indonesia sudah lebih dari 100 tahun. Penerbangan pertama dilakukan di Surabaya.

Pilot Belanda Gijs Küller (1881 – 1959) ketika berada dalam pesawat Antoinette dalam penerbangan demo pertama di Surabaya, Indonesia (Hindia Belanda), 18 Maret 1911. (javapost)

Surabayastory.com – Ini adalah cerita tentang sejarah penerbangan di Indonesia. Waktu itu masih bernama Hindia Belanda. Kita mengingat kembali, bila nama Surabaya ada di bagian penting dalam jejak penerbangan. Ceritanya, dimulai dibulan Maret 1911. Kala itu ada acara pameran besar di Surabaya. Dan sebagai bagian dari pameran itu, tanggal 18 Maret 1911, seorang penerbang asal Belanda bernama Gijs Külle berhasil menerbangkan sebuah pesawat Antoinette. Penerbangan dalam kegiatan pameran yang berlangsung di Surabaya itu tercatat sebagai penerbangan pertama di Hindia Belanda. Sebagai penerbangan perdana, proses itu tak berlangsung mulus. Terjadi kecelakaan ketika akan mendarat, namun beruntung sang pilot selamat.

Kisah penerbangan pertama ini langsung mencuri perhatian. Di hari Senin tanggal 20 Maret 1911, surat kabar memberitakan bahwa penerbangan pertama telah dilakukan di Surabaya pada hari Sabtu sebelumnya, tanggal 18 Maret.

Dalam laporan surat kabar yang didokumentasikan javapost, dituliskan begini: “Pada Sabtu sore, Küller melakukan tiga penerbangan uji coba yang berhasil di sekitar bandar udara. Penerbang mencapai ketinggian 50 meter. Penerbangan terakhir melewati kota. Kerumunan di jalanan berkumpul dan berlari ke lapangan terbang. Küller diberi selamat di semua sisi dan akhirnya dibawa-bawa di pundaknya. Pendakian dan penurunan berlangsung dengan rapi dan tanpa ragu-ragu. Mesin itu lepas dari tanah setelah hanya 100 meter. Gilirannya dilakukan dengan anggun. Semua yang hadir antusias. Sebuah telegram dikirim ke keluarga Küller, melaporkan penerbangan pertama yang berhasil. ”

Berkat penerbangan perintis ini, sang pilot Belanda Gijs Küller (1881 – 1959) mendapat penghargaan.

Penerbangan Berikutnya

Setelah ujicoba terbang pertama di Surabaya, Küller kemudian melakukan penerbangan demonstrasi di Semarang, Jogja, Medan, Batavia, dan Solo. Proses itu dilakukan dalam beberapa bulan berikutnya. Proses ini tidak mudah karena pesawat Antoinette buatan Prancis itu harus dipindahkan sebagian ke lokasi berikutnya setelah setiap penerbangan. Komite lokal bekerja untuk mengumpulkan dana yang diperlukan.

Setelah Surabaya, penerbangan selanjutnya dilangsungkan di Semarang pada Sabtu, 1 April 1911. Dalam majalah De Locomotief hari Jumat tanggal 31 Maret 1911 sudah melaporkan adanya penerbangan demo di Semarang.

Laporannya begini: “Anggota panitia telah secara sukarela menjalani uji terbang. Karena tidak ada alasan bagi setiap orang untuk ikut, empat anggota panitia telah dipilih dengan undian, yang karenanya akan mengalami penerbangan dan kemudian sebagian berada di dalam mesin dan sebagian lagi di perangkat untuk ditempatkan di bagian bawah mesin.”

Kabar ini menyita banyak perhatian masyarakat. Mereka berbondong-bondong melihat dan ingin menjadi saksi akan keajaiban alat transportasi baru. Beberapa membawa kamera. Uji terbang di Semarang dilakukan pukul 8 pagi.

Penerbangan ujicoba di Semarang ini agak berbeda dengan di Surabaya. Penerbangan ini juga menyertakan empat penumpang. Karena adanya tambahan beban, maka penerbangan akan dilakukan lebih singkat dengan ketinggian kurang lebih 10 meter di atas atap rumah.

Dari atap-atap rumah masyarakat menonton dan dari balkon para orang terpandang memberikan selamat dengan mengacungkan gelas anggur. Beberapa kali pesawat Antoinette juga melakukan manuver.

Penerbangan itu berlangsung selama 15 menit, dan mencatatkan sejarah yang menyenangkan. Semuanya berjalan dengan baik. Tepuk tangan meriah setelah dua anggota komite keluar dari pesawat.

Media Het Nieuws van den Dag juga melaporkan peristiwa ini.

Gijs Küller ketika melakukan take-off dalam penerbangan demo di Batavia (Jakarta). (javapost)

Setelah itu Küller meneruskan penerbangan demo itu di Bandung dan Batavia (Jakarta).

Setelah kembali ke Belanda, dalam sebuah wawancara ia mengatakan bila demo terbang di Batavia tidaklah mudah. Beberapa penerbangan diikuti oleh sedikit kesialan. Untuk dirinya sendiri, selama di Semarang ia harus berbaring di tempat tidur berhari-hari karena serangan malaria. Sementara di Batavia ia menderita kolera.

Meski demo, penerbangan pertama ini menjadi peristiwa penting. Dan Surabaya mencatatkan diri sebagai jejak pertama pesawat terbang pertama di Indonesia. –sa

surabayastory
Bercerita berarti penyampaian cerita dengan cara bertutur. Yang membedakan adalah metode penyampaiannya.

Leave a Reply

  • (not be published)