Napoleon Bonaparte adalah bagian dari sejarah perang dunia. Ini adalah kisah perang pamungkasnya.

Perang Waterloo menjadi perang puncak bagi Napoleon Bonaparte. Satu-satunya kekalahan perang ini membuat Napoleon harus tersingkir dan meninggal dunia di pengasingan. Perang Waterloo adalah salah satu dari enam perang terbesar di dunia. (gazette665.files)

Surabayastory.com – Perang ini termasuk salah satu dari enam perang terdahsyat sepanjang sejarah dunia. Pertempuran Waterloo terjadi 18 Juni 1815, di dekat kota Waterloo. Sekitar 15 km selatan Brussels, ibukota Belgia. Perang ini berlangsung ketika Napoleon Bonaparte memerintah Prancis (1799-1815). Dampaknya sangat luas di Eropa. Napoleon yang merebut kekuasaan di Prancis melalui kudeta 18 Brumaire, menata ulang sistem kemiliteran di Prancis dan secara mengejutkan berhasil memperluas kekuasaan Prancis hingga menguasai hampir seluruh wilayah Eropa.

Namun Prancis tidak berdaya melawan Inggris dan Rusia. Perang Napoleon berakhir ketika ia mengalami kekalahan dalam pertempuran Waterloo dan disepakatinya Pakta Paris yang kedua, dengan jumlah korban sekitar 6 juta jiwa. Pertempuran ini merupakan pertempuran terakhir Napoleon. Kesalahan strategi dengan menunda penyerangan dianggap sebagai awal dari kekalahan. Hujan yang turun sangat deras (konon karena letusan Gunung Tambora di Indonesia, sehingga menyebabkan perubahan suhu dan musim –red), membuat pasukan dan senjata artileri sulit untuk bergerak. Napoleon menunda hingga jalanan kering. Namun penundaan ini justru membuat koalisi musuh menjadi lebih kuat dengan adanya armada tambahan. Kekalahan dalam perang ini menjadi penutup sejarah Kekaisaran Prancis yang pertama pada 22 Juni 1815.

Napoleon memang fenomenal. Lebih dari separuh hidupnya dihabiskan di medan perang. Ketika masih sebagai prajurit di bawah rezim revolusioner yang masih labil, ia terjun ke medan perang melawan koalisi negara-negara Eropa yang memusuhi negaranya. Ketika tampil sebagai penguasa, ia melanjutkan permusuhan itu dan bahkan berambisi menjadi penguasa Eropa.

Dengan segala superioritasnya, ia berhasil mengalahkan lawan-lawannya. Namun Napoleon juga manusia. Di tengah kegemilangannya sebagai ahli strategi yang ikut terjun langsung ke medan perang, ia menjadi terlalu percaya diri, sering meremehkan lawan-lawannya dan pernah menyatakan bahwa dirinya tak akan pernah salah. Terbukti bahwa ia juga memiliki banyak kelemahan sehingga tak jarang pasukannya ditaklukkan lawan-lawannya.

Perang Waterloo adalah puncak dari semua perang yang pernah dijalani Napoleon. Dalam perang yang melibatkan banyak bangsa itu, terjadi adu strategi yang melelahkan antara Napoleon dengan pemimpin koalisi, Wellington. Puluhan ribu nyawa melayang dan berbagai kerusakan terjadi. Di sinilah, ia ditaklukkan oleh Koalisi Ketujuh yang dipimpin oleh Inggris. Di sini pula karirnya sebagai kaisar sekaligus panglima perang berakhir di tempat pengasingan.

Napoleon Muda

Napoleon muda adalah seorang pendukung Revolusi Prancis. Walau berasal dari keluarga bangsawan, tapi dia menolak hak-hak istimewa kalangan itu. Ketika menjadi kaisar, ia memberlakukan kesamaan hak bagi semua warga negara. Rekruitmen dan kenaikan pangkat tak lagi berdasarkan kebangsawanan, tapi lebih berdasarkan pada senioritas dan bakat. Ia juga menciptakan hukum yang disebut Kode Napoleon yang memberlakukan kesamaan hak bagi semua warga negara.

Kode Napoleon berisikan tata kehidupan sipil. Pertama kali diterapkan di Prancis, kemudian dipakai juga di seluruh tempat yang pernah ditaklukkan Napoleon, dan kemudian menjadi inspirasi dasar atas perundangan sipil di banyak negara Eropa, Amerika, dan Afrika. Kumpulan aturan ini mendukung persamaan hak sipil sehingga mempercepat berakhirnya feodalisme di Eropa. Mungkin inilah kemenangan Napoleon terbesar yang dicapainya tanpa peperangan.

Namun ia juga seorang yang ambisius. Dalam waktu yang relatif singkat ia mampu menggulingkan Pemerintahan Direktorat yang membesarkannya. Ia lalu menjelma menjadi seorang diktator dengan kekuasaan absolut. Dengan kekuasaannya itu ia berniat meneruskan perang dengan negara-negara Eropa lainnya dan berambisi menjadi penguasa Eropa.

Banyak kalangan yang menolak Napoleon disebut sebagai figus revolusioner karena mengabaikan kebebasan warga negara. Namun tak jarang ahli sejarah yang menyebutnya sebagai revolusioner yang menggabungkan prinsip-prinsip revolusi dengan monarki.

Napoleon tetap dikenang sebagai tokoh besar yang memiliki pengaruh terhadap sejarah dunia. Begitu pula dengan Perang Waterloo yang menjadi perang pamungkas sekaligus akhir dari kejayaan Napoleon Bonaparte. –sam

surabayastory
Bercerita berarti penyampaian cerita dengan cara bertutur. Yang membedakan adalah metode penyampaiannya.

Leave a Reply

  • (not be published)