Karya-karya Pramoedya Ananta Toer menjadi catatan sejarah , menjadi cermin refleksi bagi perjalanan bangsa, hingga potret sosial yang bisa mengasah kelembutan kalbu.

Pramoedya Ananta Toer adalah tonggak besar dalam sastra Indonesia yang mampu merekam realitas sejarah, ideologi, serta kemanusiaan. (Surabayastory)

Surabayastory.com – Pramoedya Ananta Toer, yang karib dipanggil Pram, memang adalah kenangan sekaligus inspirasi bagi siapa saja di dunia ini. Bagi bangsa Indonesia, ia adalah seorang penulis dan prosais besar yang pernah lahir. Namanya kuat mengisi jejak sastra dan literasi di Indonesia.

Pram terus berkarya tanpa henti. Ia adalah penulis sangat produktif dalam sejarah sastra Indonesia. Pram telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing. Buku-buku yang ia tulis sebagian merupakan fiksi, sebagian lagi non-fiksi. Pram menulis sastra politik. Sastra yang bertendensi. Sastra yang berpihak. Sastra yang selalu membawa para pembacanya ke  satutujuan objektif. Dan akhirnya, sastra yang memikul tugas sosial! Dalam lingkungan social yang bertumbuh kemudian menciptakan benturan budaya dalam masyarakat feodal dan budaya patriarki. Hal inilah yang ditampilkan cukup kuat. Pram mengemas ceritanya itu dengan menawan dan mampu menyihir para pembaca, dan di zaman ini secara diam-diam membangkitkan kesadaran si pembaca tentang jatidiri sebagai manusia.

Karya-karya sastra Pram merekam realitas. Secara khusus karya ini bukanlah dokumen sejarah. Namun lebih dikenal sebagai historical novel (novel sejarah), yang menggambarkan peristiwa sejarah. Sebuah cerita yang ditulis dengan setting sejarah manusia. Dalam kajian sastra ada bagian yang disebut dengan bukti mental (mental evidence). Karya sastra memang bukan dokumen fakta atau dokumen sejarah, namun ia merupakan  bukti mental yang memotret kehidupan lalu yang menjadi sejarah.

Karya-karya Pram bernafaskan humanisme universal. Tentang jati diri manusia, mengungkap persoalan dan pemikiran pada zamannya, dan dinilai masih relevan dengan kehidupan zaman sekarang. Karena itu, karya-karya tetap dibaca dan disukai hingga sekarang. Sejak dulu hingga kini, novel-novel Pram menjadi buku yang harus dibaca dan menjadi bahan ajar wajib sekolah-sekolah dan universitas luar negeri.

Catatan Realitas Sejarah

Banyak pelajaran berharga yang bisa kita dapatkan, yang tentu saja masih ada relevansinya dengan zaman sekarang. Lewat tulisan dan pemikirannya, Pram mengajarkan kita tentang kebebasan, kehidupan, pendidikan, kemanusiaan, hingga kebijaksanaan.

Pram di sisi lain terbukti sebagai seorang sejarawan handal yang menawarkan cara pandang sejarah yang berbeda. Sementara sejarah yang ada selama ini menurutnya hanyalah sejarah para penguasa dan peperangan, ia pun selalu berusaha memotret dan menggali sejarah dari sudut pandang rakyat dan kaum jelata. Keteguhan sikap dan pembelaan terhadap kaum marjinal disampaikan melalui karya sastranya. Pram mengabdi pada masyarakat melalui karya sastra. Sastra bagi Pram, tidak mungkin berada di luar konteks masyarakatnya.

Pram merupakan sastrawan yang mewarisi pembangunan bangsanya. Tidak sebatas di wilayah sastra, melainkan menyeluruh bagi kehidupan bangsanya dan kehidupan itu sendiri.

Kehidupan Pram dalam dunia literasi sepertinya sudah menyatu. Selain menulis novel, Pram pernah ikut membuat buku Kronik Indonesia sebanyak empat jilid. Di usia tuanya, Pram juga bersemangat menyelesaikan buku ensklopedia Indonesia. Ketika kesehatan membuatnya tak dapat menulis lagi, kegiatannya adalah mengumpulkan kliping sebagai bahan proyek ensiklopedia Nusantara. Ia merencanakan ensiklopedi itu tebalnya mencapai 4 meter! Proyek itu sendiri rencananya akan mulai dikerjakan dengan uang honor yang akan diterima jika ia menerima penghargaan Nobel. Sayang, rencana itu tidak terselesaikan karena Pram lebih dulu meninggal pada 30 April 2006.

Pram dikenal sebagai sastrawan besar Indonesia yang produktif menulis, dan dianggap sebagai simbol dan pelopor sastra perlawanan. Namanya juga muncul beberapa kali dalam kandidat peraih Nobel Sastra dan satu-satunya wakil Indonesia yang mendapat kesempatan ini. Selain itu ia dianugerahi pelbagai penghargaan Internasional, di antaranya: The PEN Freedom to Write Award 1988 dan Ramon Magsasay Award 1995.

Kesadaran Manusia Indonesia

Lewat karyanya, Pram banyak menggugah jiwa dan membuka mata manusia Indonesia untuk menyadari realitas sosial. Namun melalui sastra saja tidaklah cukup. Untuk mengubah kondisi ketimpangan sosial dibutuhkan sebuah gerakan lanjutan, yaitu membangun pendidikan, organisasi, dan ekonomi. Tanpa bangunan itu, kesadaran itu akan kembali lumpuh.

Pram mengatakan dalam tulisannya dalam buku Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia, dunia sebenarnya terbelah menjadi dua kekuatan besar: kekuatan lama (the old established force) dan kekuatan baru yang sedang bangkit (the new emerging force). Dua kekuatan ini kemudian memunculkan karakter dan problema kelas penguasa yang menindas, berhadapan dengan rakyat yang bangkit dan melawan.

Pram lebih jauh menegaskan bahwa para sastrawan harus tetap berkembang bersama dengan perkembangan dari aktualitas yang berhubungan dengan gerakan massa. Mereka harus dapat menyatukan dirinya dengan seluruh proses peningkatan kesadaran rakyat. Sastra harus menjadi alat yang luwes untuk tujuan ini. Sastra harus jadi senjata untuk memenangkan perjuangan rakyat. –sa

surabayastory
Bercerita berarti penyampaian cerita dengan cara bertutur. Yang membedakan adalah metode penyampaiannya.

Leave a Reply

  • (not be published)