Madura sebenarnya akan kaya akan budaya, benda seni, dan menyimpan peradaban yang tinggi sejak dulu kala. Sayang, tak banyak yang menggali dan mengangkatnya ke dunia luar.

Celurit adalah bagian dari sejarah, budaya, dan tradisi masyarakat Madura. (surabayastory.com)

Surabayastory.com – Celurit memang tak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat Madura, Jawa Timur. Sebilah senjata tajam yang berbentuk melengkung ini begitu melegenda. Sejak dahulu kala hingga saat ini, hampir setiap orang di Tanah Air mengenal senjata khas etnis Madura ini.

Begitu populernya, celurit kerap diidentikkan dengan tindak kekerasan. Bahkan celurit juga digunakan untuk menakuti lawannya. Boleh jadi, begitu mendengar kata Madura, dalam benak sebagian orang bakal terbayang wajah yang keras, alam yang tandus,  dan perilaku kasar. Namun, bila menggali budaya dan peradaban Madura lebih jauh dan lebih dalam, semua itu hanyalah stigma yang ada di atas permukaan.

Kesan itu seolah menjadi benar tatkala muncul kasus-kasus kekerasan yang menggunakan celurit dengan pelakunya orang Madura. Kendati demikian tak semua orang mengetahui sejarah dan proses sebuah celurit itu dibuat hingga dikenal luas. Di tempat asalnya, celurit pada mulanya hanyalah sebuah arit. Petani pun kerap menggunakan arit untuk menyabit rumput di ladang dan membuat pagar rumah. Celurit adalah alat, benda tajam yang dimanfaatkan untuk membantu kebutuhan sehari-hari. Tak beda dengan benda tajam di daerah lain dengan berbagai bentuk dan nama.

Dalam perkembangannya, arit itu diubah menjadi alat beladiri yang digunakan oleh rakyat jelata ketika menghadapi musuh. Demikian pula pendapat D. Zawawi Imron. Seniman sekaligus budayawan Madura ini menuturkan, kalangan rakyat kecil memperlakukan celurit sebagai senjata tajam biasa. Dengan kata lain, celurit itu bukan dianggap senjata sakti. Kini, masyarakat Madura masih memandang celurit sebagai senjata yang tak terlepas dari kehidupan sehari-hari.

Pusat Celurit

Tak mengherankan, bila pusat kerajinan senjata tajam itu banyak bertebaran di Pulau Madura. Tersebutlah sebuah desa kecil bernama Peterongan. Kampung ini terletak di Kecamatan Galis, sekitar 40 kilometer dari Kabupaten Bangkalan. Di sana, sebagian besar penduduk menggantungkan hidupnya sebagai pandai besi pembuat arit dan celurit.

Keahlian mereka adalah warisan leluhur sejak ratusan tahun lampau. Tak salah memang, bila desa ini
menjadi kondang. Maklum, celurit buatan para perajin di Desa Peterongan itu dikenal kokoh dan halus pengerjaannya.

Selain membuat celurit secara umum dan massal, para perajin celurit juga memerima pesanan khusus. Bahasa keren sekarang adalah custom. Salah satu yang banyak diminta adalah mengerjakan sebilah celurit berjenis bulu ayam. Bagi para perajin logam, membuat celurit adalah bagian dari napas kehidupannya. Celurit tak hanya sekadar dimaknai sebagai benda tajam yang digunakan untuk melukai orang. Akan tetapi celurit adalah karya seni yang mesti dipertahankan dari warisan leluhurnya. Celurit itu di sini biasanya berbahan besi tua yang dibeli pengepul besi bekas di sudut Desa Peterongan. Di antara tumpukan besi itu, besi bekas rel kereta api dan per bekas jip dibuat sebagai bahan baku membuat celurit pesanan Sunarto.

Besi pilihan itu lantas dibawa menuju bengkel pandai besi yang biasanya menyatu dengan halaman rumah. Batangan besi tersebut kemudian dibelah dengan ditempa berkali-kali untuk mendapatkan lempengannya. Setelah memperoleh lempengan yang diinginkan, besi pipih itu lantas dipanaskan hingga mencapai titik derajat tertentu.

Logam yang telah membara itu lalu ditempa berulang kali sampai membentuk lengkungan celurit yang diinginkan. Beberapa padepokan silat di Madura adalah salah satu pelanggan celurit dengan permintaan khusus. Pesanan padepokan silat tersebut dengan penuh ketelitian. Sebab dia memandang celurit harus mencirikan sebuah karya seni. Tak sekadar sepotong besi yang ditempa berkali kali, melainkan harus memiliki arti dan makna bagi yang memilikinya.

Lantaran itulah, sebelum mengerjakan sebilah celurit, para perajin biasa berpuasa terlebih dahulu. Bahkan saban tahun, tepatnya pada bulan Maulid, sering dilakukan ritual kecil di bengkelnya. Ritual ini disertai sesajen berupa ayam panggang, nasi dan air bunga. Sesajen itu kemudian didoakan. Baru setelah itu, air bunga disiramkan ke bantalan tempat menempa besi. Mereka memercayai ritual ini untuk menghalau para pengganggu. Hingga kini, tombuk atau bantalan menempa besi pantang dilangkahi terlebih diduduki oleh orang.

Keahlian para perajin membuat celurit tak bisa dilepaskan dari warisan orang tua dan leluhur kakeknya. Semenjak kecil dirinya sudah dilibatkan cara membuat celurit yang benar. Untuk mengerjakan sebuah celurit besar, dibutuhkan waktu sekitar dua hingga empat hari. Adapun harga celurit tergantung dari bahan dan ukuran motifnya.

Meski sudah ribuan celurit yang dihasilkan dari tempaan dari desa ini, namun kini semakin sedikit orang yang memahami filosofi celurit. Minimnya pemahaman inilah yang mengakibatkan celurit lebih banyak digunakan untuk tindak kejahatan. Sebaliknya, bagi yang mengerti, celurit itu tentunya digunakan lebih berhati-hati. Pendapat itu memang beralasan. Soalnya celurit juga diartikan sebagai lambang ksatria. Dan, bukan malah untuk sembarang menyabet orang.

Di Madura, banyak dijumpai perguruan pencak silat yang mengajarkan cara menggunakan celurit. Dan celurit menjadi bagian dari seorang ksatria Madura. Pperguruan -perguruan silat di Madura banyak mengorbitkan atlet pencak silat nasional itu secara rutin berlatih meneruskan citacita dan semangat leluhurnya, Joko Tole. Padepokan silat di Madura selama ini cukup kesohor di kalangan pencak silat di Tanah Air. Terutama dalam mengajarkan penggunaan senjata tradisional celurit. Walaupun hanya sebuah benda mati, celurit memiliki beragam cara penggunaannya. Ini tergantung dari niat pemakainya. Di perguruan silat, misalnya. Celurit tidak sekadar diajarkan untuk melumpuhkan lawan. Namun seorang pemain silat harus memiliki batin yang bersih dengan berlandaskan agama.

Sebagian masyarakat menganggap celurit tak bisa dipisahkan dari tradisi carok yang dianut oleh sebagian orang Madura. Sayang, hingga kini, belum satu pun peneliti yang bisa menjelaskan awal mula carok menjadi bagian hidup orang Madura. Yang terang, pada dasarnya carok biasa dilakukan ketika seseorang merasa dipermalukan dan harga dirinya dilecehkan. Maka, penyelesaian yang terhormat adalah dengan berduel secara ksatria satu lawan satu.

Latar belakang perkelahian seperti itu diakui Zawawi Imron. Budayawan ini menerangkan, ada adagium Madura yang mengatakan: Dibandingkan dengan putih mata lebih bagus putih tulang. Artinya, daripada hidup malu lebih baik mati. Dengan kata lain, ketika orang Madura dipermalukan, maka ia berbuat pembalasan dengan melakukan carok terhadap yang menghinanya itu.

Namun dalam perkembangannya, arti carok sendiri menjadi tidak jelas. Terutama bila dihubungkan dengan nyelep, yakni menyerang musuh dari belakang atau ketika lawan sedang lengah. Dan, hal itu semakin tidak jelas manakala banyak kasus kekerasan yang bermotifkan sosial-ekonomi.
Jadi, untuk mengubah stereotip itu, orang Madura harus berani mengangkat sendiri tradisi, budaya, serta peradaban tinggi yang sebenarnya telah dipunyai sejak lama. Ini seperti kerinduan budayawan sekaligus penyair Madura, Zawawi Imron dalam puisi berjudul Celurit Emas:

Bila musim melabuh hujan tak turun

kubasahi kau dengan denyutku.

Bila dadamu kerontang,

kubajak kau dengan tanduk logamku.

Di atas bukit garam kunyalakan otakku.

Lantaran akutahu, akulah anak sulung yang sekaligus anak bungsumu.

Aku berani mengejar ombak.

Aku terbang memeluk bulan.

Dan memetik bintang gemintang di ranting-ranting roh nenek moyangku.

Di bubung langit kuucapkan sumpah.

Madura, akulah darahmu.

–sa

surabayastory
Bercerita berarti penyampaian cerita dengan cara bertutur. Yang membedakan adalah metode penyampaiannya.

Leave a Reply

  • (not be published)