Cinta adalah sesuatu yang berliku-liku. Tak ada yang cukup bijak untuk bisa menemukan semua di baliknya. (Brown Penny, W.B.Yeats, 1865 – 1939).

Taman berdinding Abad Pertengahan menggabungkan daerah berumput dan kesenangan yang teduh dengan kebun rempah, diambil dari manuskrip Roman de la rose (“Romance of the Rose” abad ke 15 ). (britannica)

Surabayastory.com – Cinta adalah emosi/perasaan paling penting dan paling kompleks pada diri semua manusia. Cinta tak bisa diuraikan dalam definisi yang cukup. Dalam kekuatan imajinatif dan keagungannya atas hidup kita, cinta bisa bersifat kreatif sekaligus destruktif, indah sekaligus menakutkan.

Cinta itu lebih dari sekadar kasih sayang, kendati kata yang sama makin sering digunakan untuk menggambarkan kedua perasaan itu. Cinta memiliki banyak misteri dan wajah. Kerinduan pertapa terhadap roh Tuhan (spirit of God) atau terhadap Yang Mutlak (the Absolute), cinta antara orang tua dan anak atau antara saudara lelaki dan perempuan, ikatan antara dua sahabat yang saling menyayangi, kasih sayang abadi antara pasangan yang saling mencintai, yang bertahan setelah hasrat seksual mereka surut, semua itu adalah bentuk cinta yang dalam – kata sebagian orang itu lebih kuat dan lebih permanen daripada gairah romantik.

Untuk memahami cinta, kita perlu meninjau semua bentuk itu dan tentang hubungan misterius serta tumpang tindih diantara semuanya.

Dari satu sudut pandangan, semua bentuk cinta sejati adalah erotik bila melibatkan keinginan (longing). Eros dalam istilah Yunani atau ‘cinta-nafsu’ (passion-love) adalah hasrat seksual yang tak diragukan untuk melebur dengan apa yang kita rasakan sebagai kehilangan.

Cinta demikian membarui diri pada tiap generasi, kendati banyak naskah yang mendokumentasikan konsekuensi-konsekuensi yang sering kali tragis. Cinta tak bahagia, cinta yang frustrasi, cinta yang membawa malapetaka (doomed love) atau cinta yang menyesatkan (lost love) adalah tema-tema dominan dalam drama, novel, balet klasik, opera dan film bioskop.

Agama, filosofi dan psikologi sering tampak tak mempercayai keliaran cinta birahi (passionate love) yang tak bertanggung jawab, menempatkan nilai lebih tinggi pada hubungan personal yang lebih tenang, atau pada cinta yang lebih awet kepada manusia atau Tuhan.

Tak sulit untuk melihat kenapa cinta birahi (passionate love) memiliki daya tarik yang kuat (compelling).  Cinta birahi memikat kita karena menjanjikan kebahagiaan yang tak tenang, namun luar biasa. Di bawah pengaruh cinta, dunia di sekitar kita tampak benar-benar berbeda. Beban duniawi dari kehidupan sehari-hari tampak lebih ringan. Pandangan dan sentuhan Yang Lain meracuni kita sehingga pikiran kembali sendirian ke dunia biasa hampir tak tertahankan.

Buku ini meninjau ulang sebagian ide paling signifikan yang dianut orang tentang sifat cinta dan mengenali pola dasar fundamental yang tanpa sadar mempengaruhi perilaku kita. Banyak sisi cinta dan bahasa cumbuan (flirtation) yang berubah, selebrasi cinta sebagai sesuatu yang erotik, bergairah dan romantis sebagai suatu transformasi gaib.

Cinta di Zaman Modern

Cinta modern berkembang dari campuran membingungkan antara ritual, fashion, hukum dan kebiasaan. Teori-teori filosofi dan larangan-larangan agama atau firman juga ikut andil sebagai model peran dalam kesusatraan (as have literary role models). Dibandingkan dengan hampir periode apapun dalam sejarah, cinta tak tak pernah begitu terbebaskan dari batasan-batasan sosial seperti sekarang.

Ini bukan berarti lebih mudah untuk jatuh cinta atau untuk mempertahankan gairah romantis sekarang ini. Yang sebaliknya mungkin benar. Sejarah cinta telah berulang kali memperlihatkan bahwa keinginan meningkat secara positif berkat berbagai rintangan dan penundaan, perpisahan dan aturan berpacaran (courtship). Terkikisnya (removal) aturan tersebut secara terus-menerus telah mengubah sifat hubungan manusia di dunia Barat.

Selama berabad-abad ada ketaksepakatan mendasar bukan hanya tentang apa yang membuat kita jatuh cinta, namun juga tentang apakah konsep romantis jatuh cinta adalah ‘cinta yang nyata’. Bentuk lain cinta secara tradisional ditempatkan lebih tinggi dalam skala moral. Bangsa Yunani menyebutnya agape, cinta terhadap manusia. Agape sering dikaitkan dengan cinta yang ideal karena berada di luar hasrat kita sendiri atau kebutuhan terhadap tuntutan-tuntutan lain.

Keningratan (nobility) bentuk cinta ini tak terbantahkan. Ini serupa dengan apa yang dipandang kaum Nasrani sebagai ‘cinta karunia’ (gift love)  dari Tuhan dan melibatkan tindakan sadar dari kehendak bebas, suatu pilihan.

Di sisi lain, cinta birahi tampaknya tak menawarkan kita pilihan sama sekali. Cinta birahi melingkupi kita semata, mengalir sebagai kekuatan bawah sadar atau menurut naluri yang tak mampu kita lawan. Eros adalah personifikasi kekuatan ini menurut istilah Yunani. Kandungan seksual eros selalu tak dipercaya oleh kaum filsuf dan tetap tak dipercaya oleh para psikoterapis yang harus berurusan/menangani masalah-masalah yang diciptakan eros.

Troilus and Cressida karya Chaucer melukiskan pasangan yang sedang memadu romansa (luminarium)

Eros dan Agape

Dalam sejarah cinta selama ini, dibuat pemisahan tegas antara eros dan agape, seolah-olah cinta tanpa pamrih dan seksual tak pernah bisa dipadukan. Pada abad pertengahan di Eropa, gereja melihat pada ajaran Santo Paulus (St.Paul) yang ditemukan tentang pembedaan antara penyatuan/perpaduan spiritual dan fisik. Pandangan anti-erotik ini hanya memberi dorongan kecil terhadap cinta sekuler. Keperawanan dan kesucian (chastity) diagungkan di atas perkawinan.

Kendati sebagian besar filsuf dunia mengetahui bahwa cinta adalah emosi multi-sisi, agama-agama telah lama mengakui bahwa cinta bisa memainkan peran penting dalam kebahagiaan spiritual. Pahatan-pahatan yang sangat erotis seperti lukisan-lukisan tentang eksploitasi seksual Krishna dan gopi (milkmaid) Radha menghiasi bagian depan sebagian candi, sementara penyatuan/perpaduan spiritual dan seksual Dewa Siwa dan Dewi Parwati menjadi dasar filosofi Tantris dan Shakta.

Pada masa humanisme baru, para seniman dan penulis Renaisans Eropa melontarkan ide bahwa cinta seksual tidak konsisten dengan cinta sakral (sacred love). Mereka melukiskan cinta antara pria dan wanita sebagai emosi yang berubah (transforming) dan riang gembira, yang pada gilirannya menghadirkan (celebrated) otoritas ilahi dan alami.

Sebagian besar penulis modern tentang cinta percaya bahwa eros dan agape bukan hanya bisa ‘didamaikan’, namun juga yang satu bisa tumbuh/berkembang dari lainnya. Cinta romantik bisa berkembang menjadi persahabatan penuh kasih dengan cinta yang dewasa, namun tetap mengusung soal hasrat yang menginspirasinya.

Sejarah menunjukkan cinta birahi adalah hadiah yang tak mudah dimenangkan. Di tengahnya/intinya (at its heart) ada risiko error, kekecewaan atau kesengsaraaan (torment). Kaum muda yang mengambil risiko terbesar cinta tak mampu bertahan karena bagi mereka jatuh cinta sering jadi bagian proses menyeluruh penemuan jati diri.

Ide memiliki seseorang yang dicintai muncul kemudian dan risiko kehilangan kemudian bahkan lebih menyakitkan, kecuali pasangan itu mampu bergerak di luar diri. Keegoisan selalu jadi komponen jatuh cinta. Kita ingin memuja orang lain, namun juga ingin dipuja. Bila cinta kita tak dibalas menjadi kesedihan yang cukup dalam. Dicintai lalu kehilangan cinta itu adalah penderitaan. Cinta yang bercampur suka cita dan kesedihan akan terus menghantui imajinasi manusia.

Pada masyarakat Barat, banyak batasan/larangan (restriction) lama dan aturan tingkah laku yang kaku dirancang untuk melindungi kaum wanita agar tak melahirkan di luar perkawinan yang ‘pantas’. Dalam perubahan pola hubungan seks, kontrasepsi yang aman juga telah mengubah pola cinta. Misalnya aturan pacaran berarti orang harus menahan diri tak berhubungan intim sebelum menikah.

Dan setelah menikah, antara pemisahan dan kedekatan diberlakukan oleh pembedaan yang jelas antara peran laki-laki dan perempuan di masyarakat.  Suatu tingkat misteri dipelihara/dipertahankan antara kedua jesnis kelamin itu. Kini pasangan saling mengenal lebih baik dan punya lebih banyak kesempatan untuk bisa berduaan. Kaum pria biasanya mengatasi hal ini tak sebaik kaum wanita dan sebagian tetap menghilang pada waktu-waktu tertentu (periodic) secara harfiah maupun emosional.

Perubahan lebih dalam adalah penerimaan modern terhadap ide bahwa cinta birahi bisa bersemi di dalam perkawinan atau hubungan jangka panjang. Harapan demikian kontras dengan kondisi pada abad 18 ketika perkawinan dipandang terutama sebagai kontrak finansial. Perkawinan sering diatur oleh orang tua dan ‘kecocokan cinta’ adalah langka.

Jauh sebelumnya, romansa pacaran di Eropa pada abad pertengahan menarik perbedaan jelas antara janji cinta dan sumpah perkawinan. Seorang bangsawan pada abad 13, Marie Comtesse de Champagne menulis, “Cinta tak bisa memberikan hak-haknya kepada orang-orang yang telah menikah karena pasangan saling memberikan tanpa dipaksa/terpaksa, sebagaimana adanya itu bukan masalah dalam perkawinan.”

Cinta romantik pada abad 19 dianggap bisa cocok dengan perkawinan bila pikiran dan jiwa saling menyesuaikan secara sempurna. Keyakinan modern yang lebih sedikit sinis bahwa cinta mampu mempertahankan perkawinan juga bisa tumbuh lebih kuat di dalamnya adalah didorong oleh kesadaran seksual lebih besar.

Selama ‘Revolusi Seksual’ pada 1960-an, keahlian bercinta dianggap sebagai kunci menuju cinta abadi. Naiknya tingkat perceraian sejak itu menimbulkan keraguan terhadap pandangan sederhana demikian. Pasangan modern umumnya percaya bahwa pengetahuan dan saling menghargai membentuk landasan/dasar lebih kuat bagi suatu hubungan.

Ini mengungkapkan pendekatan baru terhadap cinta, bukannya mata yang skeptis maupun bercahaya. Bila membentuk suatu pandangan baru tentang cinta, itu hanya bisa terbentuk berdasarkan pengertian terhadap masa lalu.

Kaitan antara seks, cinta dan mood yang berubah di hati manusia tetap misterius. Filosofi tradisional, mitologi dan literatur masih punya banyak untuk mengajarkan kita tentang cinta dalam semua kemungkinan manifestasinya. –nat

surabayastory
Bercerita berarti penyampaian cerita dengan cara bertutur. Yang membedakan adalah metode penyampaiannya.

Leave a Reply

  • (not be published)