Ini cerita keberadaan alat transportasi di Surabaya. Lebih bersih dari kereta tenaga kuda, tetapi lebih murah dari mobil. Ini sejarah kendaraan hybrid di Surabaya, namun sekarang sulit menemukan bekasnya.

Demmo kendaraan hybrid roda tiga yang menjadi bagian dari sejarah transportasi Surabaya. (javapost)

 

Surabayastory.com – Abad ke-20 menampilkan berbagai penemuan baru yang akan mengubah kehidupan sehari-hari. Yang paling penting adalah mobil, radio, dan telepon. Untuk kehidupan rumah tangga, lahir produk-produk penting yang mengubah keseharian manusia seperti mesin cuci, lemari es, kompor, dan penyedot debu. Hadirnya barang-barang baru itu sebagian besar berasal dari Amerika Serikat, tetapi Eropa juga bekerja keras pada semua jenis hal baru. Barang-barang tersebut juga masuk ke Hindia Belanda. Barang-barang konsumen tersebut masuk melalui rumah-rumah perdagangan seperti Lindeteves dan Borsumij yang melakukan bisnis dengan mengimpor semua produk ini.

Penampilan paling mencolok dalam kehidupan publik yang paling terlihat adalah mobil. Kala itu, mobil dipandang sebagai produk yang – setidaknya bagi pemiliknya – tampak hanya memiliki kelebihan. Namun, hal-hal kendaraan transportasi yang modern ini justru membuat rumit bagi masyarakat secara keseluruhan. Hingga awal abad ke-20, semua orang di Hindia Belanda, kaya dan miskin, masih bergantung pada daya tarik kuda untuk transportasi. Dengan kedatangan mobil, pemandangan jalanan Surabaya berubah banyak. Mobil mulai digunakan oleh orang kulit putih yang kaya. Sementara kelas menengah Indo-Eropa dan penduduk asli yang miskin terus bergantung pada kendaraan tenaga kuda seperti sado, delman dan gerobak. Namun perlahan masyarakat mulai menyadari transportasi dengan mobil lebih enak. Orang-orang menyadari kerugian dari penggunaan alat transportasi tenaga kuda. Ini diperburuk oleh peningkatan jumlah lalu lintas Surabaya yang semakin padat. Akibatnya, jumlah angka kecelakaan transportasi kuda meningkat dari waktu ke waktu.

Sebagai jawaban, muncul alternative kendaraan baru. Kendaraan yang lebih bersih dan lebih mudah dirawat daripada kereta tenaga kuda, tetapi lebih murah daripada mobil. Ini semacam kendaraan hybrid yang juga marak saat ini meski dengan pendekatan berbeda.

Kendaraan Hybrid

Karena itu tidak terhindarkan bahwa kendaraan baru diperkenalkan. Sekitar tahun 1930 muncul kendaraan baru yang mencuri perhatian di jalanan Surabaya dan kemudian kota-kota di Jawa. Kendaraan ini dinamai Demmo. Sebuah kendaraan roda tiga penggerak roda depan dengan mesin dua tak berpendingin udara yang diimpor dari Jerman. Kendaraan ini dapat digunakan untuk transportasi penumpang dan barang. Perusahaan yang memproduksinya asli Surabaya, Demmo NV.

Dalam iklan yang digembar-gemborkan gimmick yang dipakai adalah “kendaraan dengan waktu bergerak cepat, gampang digunakan. Perusahaan ini kemudian membuat banyak iklan di surat kabar dan pamflet.

Suasana pembukaan tempat bisnis Demmo NV baru (javapost)

Jalan Darmokali 7

Kendaraan Demmo ini mendapat sambutan hangat masyarakat Surabaya. Meskipun dalam kenyataannya kendaraan ini suaranya menderu kencang, namun ternyata sukses besar dalam pemasaran.

Perkembangan berikutnya, pada 11 Juni 1932, Demmo pindah ke gedung baru di Darmokali 7 Surabaya untuk meningkatkan produksi. Acara peresmian ini cukup megah dan tak terlupakan. Dihadiri oleh walikota Surabaya, Mr.H.I. Bussemaker. Dalam pidatonya, sang walikota menyatakan kendaraan ini akan menjadi bagian dari kendaraan masa depan, karena lebih bersih, dan lebih sehat daripada kendaraan ditarik kuda yang kotorannya tak terkendali di mana-mana. Demmo bisa memecahkan masalah dari kondisi tidak sehat dari ribuan kuda di masa mendatang.

Sementara direktur pabrik, Mr. Kanis, menekankan pentingnya pekerjaan, tidak hanya untuk pemasok dan karyawan pabrik baru, tetapi juga – dan yang paling penting – untuk para operator dan pekerja di kota Surabaya. Dengan pabrik baru akan bisa menerima para pekerja teknis yang di-PHK pabrik lain sebelumnya. Dengan perkembangan yang bagus, para pekerja bisa mendapatkan penghasilan yang layak.

Dalam sebuah laporan pembukaan di majalah De Motor, dilaporkan lebih lanjut bahwa Demmo NV bekerja sama dengan Indo-Europeesch Verbond (IEV) untuk merekrut personel dari teknisi-teknisi muda dari India. Perlahan Demmo juga menjadi kendaraan umum untuk public Surabaya. Dengan naik bersama-sama maka ongkos transportasi masyarakat Surabaya menjadi lebih murah.

Mengenai Pajak

Atax pesaing baru Demmo (javapost)

Demmo itu begitu sukses sehingga tahun 1932 kendaraan Demmo sudah beredar di semua kota besar di Jawa. Seperti hukum bisnis yang belaku sejak lampau, ketika satu produk laris luar biasa, akan keluar produk sejenis yang mengikuti.

Seiring dengan meningkatnya penjualan Demmo, perusahaan perdagangan Borsumij (Perusahaan Sumatra) mengimpor kendaraan rakitan penuh, dari pabrik Raleigh, Inggris. Kendaraan ini sangat mirip dengan Demmo. Kendaraan ini bernama Atax. Berbeda dengan Demmo, Atax memiliki penggerak roda belakang dengan mesin empat berderu.

Persaingan pun mulai terjadi. Masing-masing produk kemudian terus menyempurnakan diri. Surat kabar The Indische Courant kagum dengan perkembangan pesat di sektor transportasi. Koran ini menulis: “Yang mengejutkan kami adalah cara cepat di mana kendaraan ini ditingkatkan dan disesuaikan dengan persyaratan lalu lintas.”

Salah satu perbaikan produk yang dilakukan adalah dengan mengimpor mesin baru yang membuat kebisingan jauh lebih sedikit. Mesin baru yang dipakai Demmo diimpor dari pabrik Merkur Jerman yang terkenal. Produk yang baru ini secara teknologi lebih dekat dengan prinsip mobil.

Sempat juga terdengar adanya rencana pengoperasian kendaraan Demmo yang menggunakan mesin Ford dari Amerika. Teknologinya lebih baik, namun harganya lebih murah dari produk mobil.

Salah satu keunggulan Demmo waktu itu adalah layanan purna jualnya yang baik. Bila ada kendaraan Demmo yang rusak atau mogok, perbaikan dilakukan dengan cepat. Karena itulah, orang yang berduit menengah tak ragu-ragu membeli Demmo.

Meskipun pada awalnya ada banyak pesimis, namun secara perlahan transportasi mekanis dan mesin ini pada akhirnya mendorong transportasi dengan penarik kuda minggir sepenuhnya dari jalanan.

Ketika masyarakat Surabaya sedang getol-getolnya dengan kendaraan mekanis ini, ternyata eforia itu harus berhenti. Ancaman perang, beberapa tahun kemudian, memiliki konsekuensi negatif untuk pasokan kendaraan dan suku cadang. Perkembangan Demmo dan Atax akhirnya macet dan kemudian dihentikan. Tahun 1950-an, selepas perang, orang kembali melirik Demmo. Namun kemudian terganjal dengan adanya penurunan harga mobil yang lebih modern dan lebih prestis. Selanjutnya, taksi modern mulai diperkenalkan. Penjualan Demmo dan Atax mulai terseok-seok. Namun, Demmo tidak sepenuhnya hilang. Mereka yang melakukan beberapa langkah kreatif dengan membuat varian mesin untuk becak yang disebut dengan ‘memo’. Varian ini kemudian mulai masuk ke beberapa kota di Jawa. Meski demikian seiring semakin berkembangnya penjualan mobil modern, membuat keberadaan Demmo dan Atax tinggal cerita.

Bagaimanapun, Demmo dan Atax sempat terkenal di Surabaya dan menguasai jalanan Kota Surabaya. —sa, javapost

surabayastory
Bercerita berarti penyampaian cerita dengan cara bertutur. Yang membedakan adalah metode penyampaiannya.

Leave a Reply

  • (not be published)