Tak pernah ada sukses yang diraih tanpa disiplin dalam penggunaan waktu. Masih pakai “jam karet” hari ini?

Waktu yang tak digunakan dengan baik akan menghablur dan tak pernah kembali lagi.

Surabayastory.com – Budaya jam karet memang bukanlah hal baru di Indonesia. Itu seakan sudah mengakar dan menjadi kultur yang sudah sangat dekat dengan kehidupan di Indonesia.  Bicara soal jam karet, seringkali acara atau kegiatan waktu selalu mundur. Misal, acara yang akan diselenggarakan pukul 09.00, undangan dibuat pukul 08.30, dengan asumsi kalau molor acara bisa tepat dimulai pukul 09.00. Konyolnya, acara baru bisa dimulai jam 10.00!

Hal-hal semacam ini terjadi di segala sektor, segala kesempatan. Memang susah sekali jika jam karet sudah jadi bagian dari masyarakat. Namun tidak bagi mereka yang ingin sukses dan maju.

Untuk bisa menempatkan diri untuk tak larut dalam budaya jam karet, ada baiknya untuk mengetahui mengapa jam karet itu ada, dan mengapa bisa terjadi.

Berikut ini ke-3 penyebab yang menjadikan budaya jam karet ini sulit dihilangkan dari kehidupan kita.

  1. Orang-orang Suka Menunda

Ya, suka menunda adalah penyebab utama dari budaya jam karet ini. Tak bisa dipungkiri, ada cukup banyak orang yang kerap menunda melakukan sesuatu. Misalnya menunda datang ke pertemuan, tentu saja hal semacam ini akan mempengaruhi waktu orang lain. Dan jika waktu seseorang sudah terganggu maka dampaknya bisa meluas ke berbagai hal lain. Mau tak mau, keterlambatan akan sering terjadi. Dan ini yang disebut jam karet.

  1. Orang-orang Menganggap Jam Karet Sudah Jadi Budaya

Banyak orang yang berpikiran buat apa datang cepat, toh akhirnya acaranya pasti molor. Dengan begitu, mereka menjadi malas datang tepat waktu (datang cepat) karena mereka meyakini bahwa biasanya acara akan jadi molor. Dari jam 9 jadi jam 9.30, dari jam 10 jadi jam 10.45 dan seterusnya. Dan jika kebiasaan ini sudah jadi kebiasaan, akan tidak mudah untuk dihilangkan.

  1. Kebiasaan Memaklumi Keadaan

Di Indonesia bukanlah hal yang tabu untuk memaklumi sesuatu, misalnya seseorang terlambat ke kantor. Kalau sang karyawan ditanya oleh atasannya, kenapa kamu terlambat? Jawabannya enteng saja: di jalan tadi macet pak.

Ya hal semacam ini tidaklah asing bagi sebagian orang. Akan selalu ada saja alasan agar kita dimaklumi. Jika toleransi terlalu sering diberikan akan menjadi tidak baik. Pemimpin jadi terlihat kurang tegas dan akibatnya disiplin pun rusak. Walhasil imbasnya adalah kebiasaan jam karet akan tumbuh dengan subur.

Disiplin tidak  menjamin kesuksesan, tapi tidak ada kesuksesan yang diraih

tanpa kedisiplinan.

 

Cara Mengatasinya

Cara mengatasi kebiasaan jam karet adalah menyadari diri sendiri. Soal waktu adalah soal personal. Soal pengaturan, perencanaan, pemanfaatan, kedisiplinan, serta optimasi. Dengan menyadari pentingnya waktu, maka setiap orang akan menggunakannya secara optimal. Hasilnya juga akan optimal dalam kehidupannya.

Selanjutnya adalah membangun budaya untuk tepat waktu. Setiap hari semua kegiatan direncanakan dan dicatat waktunya. Bila menghadapi orang yang sering tidak tepat waktu, buatlah rentang waktu yang lebih panjang. Kemudian sesekali sentil kalau sudah menunggu, dan banyak waktu yang terbuang. Bila dalam rentang waktu yang ditentukan belum juga datang, tinggal saja. Buat waktu pertemuan baru dan sampaikan kalau harus tepat waktu.

Evaluasi penggunaan waktu secara berkala akan membuat Anda bisa efektif dalam penggunaan waktu dan optimal dalam pencapaian kehidupan. –drs

surabayastory
Bercerita berarti penyampaian cerita dengan cara bertutur. Yang membedakan adalah metode penyampaiannya.

Leave a Reply

  • (not be published)