Minum teh  secara teratur tidak selalu mendatangkan manfaat bagi kesehatan tubuh. Bahkan cara minum teh yang salah justru dapat menyebabkan sejumlah gangguan kesehatan. Lalu bagaimana minum teh yang tepat agar kita bisa mendapatkan manfaat yang optimal?

Minum teh yang sehat dan enak dengan memperhatikan penyeduhan, kualitas teh dan air. (sa)

Surabayastory.com – Minum teh yang sangat akrab dengan kehidupan masyarakat Indonesia, masih menyisakan sederet celah pertanyaan. Tentang manfaatnya, khasiatnya, hingga bagaimana cara minum teh yang benar dan sehat. Pertanyaan semacam ini kerap muncul bukan hanya dari kalangan orang awam. Para insan yang hari-hari bergulat dengan teh sekalipun belum tentu baik dan benar dalam memahami hal ini.

Salah satu kunci cara sehat minum teh ada pada teknik dan cara penyeduhannya. Meskipun sampai saat ini belum ada standar yang baku untuk memperoleh seduhan teh yang (paling) benar, namun panduan berikut ini bisa dipertimbangkan:

Teknik Penyeduhan

Sejatinya proses penyeduhan merupakan proses ekstraksi atau pemisahan satu atau lebih komponen. Penyeduhan merupakan proses ekstraksi dari padat ke cair, artinya pemisahan senyawa padat (theaflavin, thearubigin, kafein dan lain-lain) dengan mengunakan air sebagai pelarutnya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses penyeduhan adalah suhu air atau kondisi penyeduhan dan lama penyeduhan. Semakin tinggi suhu air atau proses penyeduhan, kemampuan air dalam mengekstrak kandungan kimia yang terdapat dalam teh akan semakin tinggi. Demikian juga halnya dengan lama penyeduhan. Lama penyeduhan akan mempengaruhi kadar bahan terlarut, intensitas warna, serta aroma.

Soal penyeduhan ini sangat erat berkaitan dengan keberadaan katekin. Katekin merupakan senyawa kimia yang paling banyak mendapat perhatian belakangan ini karena terbukti mampu mereduksi risiko penyakit degeneratif yang merupakan silent killer papan atas dunia. Baik teh hitam maupun teh hijau  mengadung katekin tapi jumlahnya berbeda. Dalam hal ini kandungan katekin  teh hijau lebih besar dibandingkan dengan teh hitam.

Katekin (catechin) mengalami banyak perubahan kimia seperti oksidasi dan epimerisasi selama proses pengolahan dan penyeduhan. Pada proses pengolahan, oksidasi dihambat dengan cara inaktivasi enzim polifenol oksidase dalam daun teh melalui proses pelayuan, pengeringan atau pengukusan.

Epimerisasi katekin merupakan salah satu reaksi terpenting dalam penyeduhan. Masing-masing katekin dapat mengalami epimerisasi dari epistruktur menjadi non epistruktur. Penyeduhan menyebabkan kandungan senyawa epistruktur seperti Epigallocatechin gallate (EGCG)Epigallocatechin (EGC)Epicatechin (EC) dan Epicatechin gallate (ECG) menjadi turun. Sementara itu, kandungan katekin non epistruktur seperti Gallocatechin (GC)Catechin (C),Gallocatechin gallate (GCG) dan Catechin gallate (CG) menjadi meningkat. Meskipun kandungan total katekin tidak mengalami penurunan kuantitas, namun secara kualitas dengan terjadinya epimerisasi ini khasiatnya bagi  kesehatan menjadi berkurang.

Epimerisasi berlangsung lebih mudah pada air ledeng daripada air murni. Publikasi terkini melaporkan bahwa teh hijau yang diseduh dengan air murni mengalami epimerisasi pada suhu 82°C. Sedangkan penyeduhan dengan air ledeng, epimerisasi sudah terjadi pada suhu 40°C.

Hasil penelitian lain menjelaskan bahwa katekin stabil dalam air pada suhu kamar (27°C). Katekin terdegradasi sebesar 20% ketika penyeduhan dilakukan pada suhu 98°C. Ketika teh diseduh menggunakan autoclave (alat merebus ayang biasanya dipakai utuk sterilisasi) pada suhu 120°C, katekin terdegradasi sebesar 24% dan sebagian besar EGCG terepimerisasi menjadi GCG. Dengan demikian bisa diambil kesimpulan, bahwa untuk mengambil manfaat katekin dari teh, disarankan untuk tidak menyeduh pada suhu tinggi.

Teknik penyeduhan dengan suhu sedang, sekitar 60°C yang banyak dilakukan oleh orang Jepang terbukti cukup bermanfaat menghasilkan katekin secara optimal. Meskipun kandungan katekin teh Jepang lebih rendah dibandingkan dengan teh Indonesia, namun dengan cara menyeduh yang benar bukan tidak mungkin orang Jepang akan lebih banyak mengambil manfaat katekin dibandingkan dengan kita.

Lebih spesifik lagi green tea  diseduh dengan menggunakan suhu air antara 70-80 °C. Selain itu teh ini jangan diseduh dengan menggunakan teko dari tanah liat dimana sifat tanah liat menyimpan panas akan membuat daun teh terlalu matang dan rusak.

Teh putih sebaiknya tidak diseduh dalam air dengan suhu lebih dari 85 °C, teh Oolong kurang dari 90 °C, dan teh merah 90 °C. Teh hitam tidak boleh lebih dari 90 °C.

Kualitas Teh

Berbicara mengenai mutu dan grade suatu teh tentunya tidak terlepas dari bahan baku atau pucuk. Sejumlah penelitian menyatakan bahwa mutu teh dibentuk di kebun. Dengan kata lain, baik tidaknya kualitas teh akan sangat tergantung pada kualitas daun teh. Proses pengolahan hanya berfungsi untuk mempertahankan kualitas yang sudah ada jangan sampai mengalami penurunan yang cukup serius.

Mutu atau grade teh ini akan berbanding lurus dengan kandungan kimia yang dapat larut dalam air. Semakin tinggi mutu atau grade teh, maka kandungan kimia yang dapat larut dalam air adalah lebih banyak. Menurut SNI 01-1902 Tahun 2000 bahwa syarat minimal kandungan kimia yang dapat larut dalam air adalah 32%.

Air Penyeduh

Air merupakan komponen terbesar dalam produk minuman. Peranannya terhadap produk yang dihasilkan sangat besar. Dengan demikian perlu kecermatan dan pertimbangan yang matang dalam memilih jenis air yang sesuai untuk menghasilkan produk yang baik tidak terkecuali dalam hal menyeduh teh.

Kualitas air secara kimia ditentukan oleh pH dan kandungan garam-garam terlarut. Kandungan garam-garam terlarut akan mempengaruhi sifat kesadahan dan daya ekstraksi air. Pengaruh air terhadap warna dan rasa seduhan teh dihubungkan dengan kemampuan air untuk mengekstraksi komponen teh terutama theaflavin dan thearubigin  pada teh hitam atau katekin pada teh hijau.

Kemampuan air untuk mengekstraksi akan berkurang bila kandungan zat terlarutnya tinggi. Sedangkan warna seduhan akan sangat dipengaruhi oleh pH air. Bila pH air lebih dari 7 (tujuh), theaflavin dan thearubigin cenderung untuk mengalami autooksidasi menghasilkan warna seduhan yang gelap.

Dalam seduhan teh hitam, thearubigin berada dalam bentuk bebas yang bersifat asam atau sebagai garam netral dari K dan Ca. Thearubigin dalam bentuk garam berwarna lebih tua daripada thearubigin dalam bentuk bebas. Jika air yang digunakan untuk menyeduh bersifat sadah sementara, maka Ca(HCO3)2 dan Mg(HCO3)2 akan bereaksi denganthearubigin yang bersifat asam dan membentuk garam-garam Ca dan Mg dengan melepaskan CO2 sehingga warna seduhan menjadi lebih gelap.

Derajat dan kecepatan oksidasi theaflavin dalam teh tergantung pada pH air yang akan digunakan untuk menyeduh. Bila pH > 7, air cenderung menghasilkan seduhan dengan warna gelap. Adanya logam-logam alkali atau garam bikarbonat diduga menjadi penyebab tingginya pH. Air yang bersifat basa atau mengandung besi dalam jumlah tertentu akan memberikan warna seduhan teh yang gelap dan suram.

Komponen kimia teh lebih cepat larut dalam air lunak dibandingkan dengan air yang bersifat sadah (air yang memiliki kadar mineral yang tinggi, seperti mengandung kapur). Hasil penelitian menyebutkan bahwa air yang paling baik untuk proses penyeduhan adalah air sumber yang berasal dari daerah pengunungan. Hal inilah yang menyebabkan mengapa menyeduh teh dengan air dari Jakarta lebih gelap bila dibandingkan dengan air yang berasal dari Pangalengan meskipun dengan teh dan teknik penyeduhan yang sama.

Jumlah Konsumsi

Dalam minum teh dosisnya harus benar-benar mendapatkan perhatian. Dalam teh terkandung zat yang disebut kafein. Kafein pada teh (tehine) dapat menyebabkan proses penyerapan makanan menjadi terhambat. Batas aman untuk mengkonsumsi kafein dalam sehari adalah 750 mg/hari atau setara dengan 5 cangkir teh berukuran 200 ml.

Kalau mengkonsumsi lebih dari ukuran itu maka akan bisa menyebabkan terjadinya keracunan kafein kronis: Bila setiap hari kita mengkonsumsi teh  melebihi batas aman, maka lambat laun akan muncul tanda dan gejala seperti gangguan pencernaan makanan (dispepsia), rasa lemah, gelisah, tremor, sukar tidur, tidak nafsu makan, sakit kepala, pusing (vertigo), bingung, berdebar, sesak napas, dan kadang sukar buang air besar.

Tips & Trik

Selain apa yang telah diungkapkan di atas masih ada sejumlah tip yang harus diperhatikan agar kita benar-benar mendapatkan manfaat yang optimal dari aktivitas minum teh. Diantaranya adalah:

  • Yang terbaik adalah menyeduh teh tidak boleh lebih dari  tiga menit dan tidak membiarkan daun teh terendam lebih lama dari waktu tersebut. Dengan cara ini kita akan mendapatkan kenikmatan rasa dan aroma teh secara optimal.
  • Seduh teh selagi hangat dan jangan pernah menyeduh teh dalam kondisi panas.
  • Konsumsi teh kental terlalu banyak dapat menimbulkan masalah, terutama untuk orang yang konsumsi zat besinya rendah. Ini karena, tanin yang terkandung dalam teh dapat mengganggu penyerapan zat besi dalam tubuh. Zat besi berikatan dengan tanin membentuk ikatan kompleks yang tidak larut pada sistem pencernaan makanan. Akibatnya, zat besi tak dapat diserap oleh tubuh dan akan dikeluarkan via feses (tinja). Ini dapat menyebabkan timbulnya anemia karena kurang zat besi. Jangan minum teh saat atau sesudah makan kerena zat yang terkandung dalam makanan dapat dicuri oleh zat stimulan teh.
  • Jangan minum teh saat perut kosong sebab dapat meningkatkan produksi asam lambung.
  • Hindari minum teh dicampur dengangula karena menyebabkan zat-zat yang dikandungnya menjadi berkurang.
  • Jangan minum teh yang sudah semalaman karena sudah banyak zatnya yang teroksidasi dan basi sehingga berdampak tidak baik untuk tubuh.
  • Hindari minum teh saat hamil dan menyusui. Karena kafein dan zat stimulan pada teh bisa merangsang kontraksi rahim. Selain itu untuk ibu menyusui akan mengganggu produksi kelenjar penghasil susu ibu atau ASI.
  • Teh bisa dicampur dengan susu tapi kita akan kehilangan efek stimulan dari teh karena kalsium susu akan mengikat zat-zat stimulan pada teh.
  • Teh bisa ditambah lemon yang sering kita kenal dengan sebutan Lemon Tea. Lemon akan memberikan perlindungan bagi pencernaan, karena asam sitrat dalam lemon mencegah timbulnya kerak pada dinding usus.

Dari berbagai temuan penelitian,  teh  ternyata  memiliki berbagai zat yang berkhasiat bagi kesehatan. Kini aktivitas minum teh  bukan hanya menjadi sesuatu yang menyenangkan tapi juga menyehatkan. Ini memperkuat  pepatah kuno drinking tea each day will starve the doctor (minum teh setiap hari akan mengurangi kunjungan kita ke dokter). Dengan syarat: tanpa gula. –drs

surabayastory
Bercerita berarti penyampaian cerita dengan cara bertutur. Yang membedakan adalah metode penyampaiannya.

Leave a Reply

  • (not be published)