Sekolah libur sudah hampir dua bulan. Siswa atau mahasiswa sudah kangen dengan suasana sekolah, teman-teman, dan gurunya. Belajar di rumah beda dengan belajar di sekolah. Bagaimana caranya menjaga motivasi belajar agar tidak malas setelah libur lama? Pahami dulu unsur-unsur dalam motivasi.

Surabayastory.com – Sudah bosan dengan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru atau dosen lewat internet? Menjawab soal-soal lewat office365 sudah jenuh? Atau ngobrol tatap layar melalui zoom juga sudah tak menarik lagi?

Bisa jadi itu berarti kamu sudah berada di puncak kebosanan, dan ingin sesuatu yang baru. Atau yang lama ingin datang kembali.

Di puncak kebosanan ini, motivasi adalah kata kunci untuk membangkitkan semangat kembali. Motivasi belajar memegang peran yang sangat penting dalam pencapaian prestasi belajar. Lalu apa yang disebut dengan motivasi belajar? Motivasi menurut Wlodkowsky adalah suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu dan yang memberi arah dan ketahanan pada tingkah laku tersebut. Motivasi belajar yang tinggi tercermin dari ketekunan yang tidak mudah kendur untuk mencapai sukses meskipun dihadang oleh berbagai kesulitan.

Setiap tindakan yang akan Anda  lakukan pasti ada motivasinya. Motivasi sudah ada pada saat Anda akan melakukan sesuatu, namun mungkin tidak disadari. Misalnya saja mungkin Anda mengikuti perkuliahan di Universitas Terbuka (UT) untuk mendapatkan gelar sarjana sebagai syarat kenaikan pangkat. Apapun motivasi Anda, cobalah untuk mengenalinya. Ini agar kita bisa mengatur langkah ke depan dengan lebih baik dan selalu berusaha meningkatkan motivasi.

Lalu apa sebenarnya yang disebut motivasi. Seperti yang telah diungkapkan Wlodkowsky, motivasi merupakan suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu dan yang memberi arah dan ketahanan pada tingkah laku tersebut.

Menurut Gleitman dan Reber, motivasi adalah semacam pemasok daya (energizer) untuk bertingkah laku secara terarah. Motivasi adalah suatu faktor inner (batin) yang berfungsi menimbulkan, mendasari, mengarahkan suatu per­buatan. Motivasi juga dapat menentukan berhasil tidaknya  mencapai tujuan sehingga sema­kin besar motivasinya akan semakin besar pula kesuksesannya. Selain itu, motivasi adalah suatu proses kontinyu di mana seseorang mempertahankan perhatian untuk mencapai keberhasilan dalam suatu kegiatan yang sedang berlangsung.

Motivasi juga segala sesuatu yang mendorong sese­orang untuk melakukan sesuatu. Motivasi adalah perasaan atau pikiran yang mendorong sese­orang melakukan atau men­jalankan pekerjaan atau tindakan.

Motivasi belajar adalah suatu daya penggerak atau pendorong yang dimiliki oleh manusia untuk melakukan suatu aktivitas be­lajar. Seseorang yang belajar dengan motivasi kuat akan melaksanakan semua ke­giatan belajarnya dengan sungguh-sungguh, penuh gairah. Sebaliknya, belajar de­ngan motivasi yang lemah akan muncul dalam bentuk kemalasan belajar dan bahkan tidak mau me­ngerjakan tugas-tugas yang berhubungan de­ngan pelajaran sekolah.

Motivasi siswa untuk belajar merupakan kecenderungan siswa untuk melakukan kegiatan akademik yang berarti dan berharga, serta untuk  memperoleh manfaat akademik tambahan. Pada saat siswa  menerima aktivitas pelajaran, di situlah motivasi untuk belajar muncul. Motivasi belajar berfungsi menggerakan siswa untuk mencapai  tujuan belajar.

Motivasi untuk belajar lebih dari sekadar keinginan atau kehendak untuk belajar, namun juga mencakup kualitas mental yang ada di balik usaha siswa. Oleh karena itu motivasi dalam belajar dapat dikatakan efektif apabila dapat meningkatkan mental belajar. Kalau tidak  motivasi malah akan menjadi kekuatan yang merusak dan bukan kekuatan yang membimbing.

Motivasi dan Aktivitas Belajar

Dalam argumen Winkel motivasi yang berkaitan dengan aktivitas belajar, dibagi menjadi dua jenis, yaitu  motivasi ekstrinsik dan motivasi intrinsik.

  • Motivasi Ekstrinsik

Adalah dorongan untuk melakukan sesuatu dengan tujuan memperoleh sesuatu yang lain (sebagai alat mencapai tujuan akhir). Motivasi ekstrinsik biasanya sering dipengaruhi oleh insentif eksternal seperti hadiah dan hukuman. Contoh: seorang siswa belajar dengan keras untuk menghadapi ujian agar dapat memperoleh nilai bagus di sekolah. Contoh lainnya adalah  belajar demi memenuhi kewajiban, belajar karena khawatir dimarahi orangtua kalau prestasi kurang bagus, belajar demi memperoleh hadiah material yang dijanjikan, belajar demi meningkatkan gengsi sosial, belajar demi memperoleh pujian dari orang penting, belajar demi tuntutan jabatan yang ingin dipegang atau demi memenuhi persyaratan kenaikan jenjang atau golongan administratif.

Menurut Winkel dalam motivasi yang bersifat ekstrinsik, aktivitas belajar dimulai dan dilanjutkan  berdasarkan kebutuhan dan dorongan yang tidak mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar itu sendiri. Selanjutnya Winkel juga menyatakan bahwa motivasi belajar ekstrinsik bukanlah bentuk motivasi yang secara langsung dapat diidentikkan berasal dari luar siswa. Sebab motivasi belajar selalu berpangkal pada suatu kebutuhan yang dihayati oleh orangnya sendiri, biarpun orang lain mungkin yang memegang peranan dalam menimbulkan motivasi itu. Kekhasan motivasi belajar ekstrinik bukan pada ada atau tidak adanya pengaruh dari luar, melainkan apakah kebutuhan yang ingin dipenuhi  hanya dapat dipenuhi melalui belajar ataukah juga dapat dipenuhi dengan cara lain.

  • Motivasi Instrinsik

Ini adalah dorongan untuk melakukan sesuatu berdasarkan keinginan sendiri. Contoh: seorang siswa belajar keras untuk menghadapi ujian karena dia menyukai pelajarannya. Hasil penelitian menyarankan perlu dibangun kondisi  kelas yang baik untuk dapat memotivasi siswa secara instrinsik. Siswa lebih termotivasi untuk belajar ketika mereka diberikan pilihan dan menerima imbalan yang mengandung nilai informasional, tetapi fungsi hadiah tersebut tidak untuk mengontrol perilaku.

Dalam motivasi yang bersifat intrinsik, biasanya orang lain juga memegang peranan. Misalnya orang tua atau guru dapat berperan menyadarkan anak akan kaitan antara belajar dengan menjadi orang yang menguasai pengetahuan.

Hal-hal yang dapat menggerakan  motivasi intrinsik diantaranya adalah:

1. Pengetahuan tentang kemajuannya sendiri

Siswa yang mengetahui hasil prestasinya  menyadari apakah dirinya mengalami kemajuan atau kemunduran dalam belajarnya. Siswa yang mendapatkan nilai kurang bagus akan terdorong untuk lebih giat belajar lagi agar mendapat nilai yang lebih baik. Sebaliknya, siswa yang mendapat nilai baik akan terdorong untuk mempertahankan prestasi yang telah dicapai.

2. Cita-cita

Seseorang yang mempunyai cita-cita akan terdorong untuk mencapai tujuan yang dikehendaki. Cita-cita siswa dapat berfungsi sebagai pemacu dalam hal belajar.

3. Kebutuhan

Adanya kebutuhan tertentu mendorong siswa untuk berbuat dan berusaha dalam mencapai tujuan tertentu.

Di sisi lain, Biggs dan Telfer membuat penggolongan motivasi yang lain. Ia mengelompokan motivasi menjadi empat jenis :

  • Motivasi instrumental

Motivasi instrumental berarti bahwa siswa belajar karena didorong oleh adanya hadiah atau menghindari hukuman.

  • Motivasi Sosial

Motivasi sosial berarti bahwa siswa belajar untuk memenuhi tugas yang telah diberikan pihak sekolah,, dalam hal ini keterlibatan siswa pada tugas menonjol

  • Motivasi Berprestasi

Motivasi berprestasi berarti bahwa siswa belajar untuk meraih prestasi atau keberhasilan yang telah ditetapkannya.

  • Motivasi Intrinsik

Motivasi instrinsik berarti bahwa siswa belajar karena keinginannya sendiri.

Bagaimana kita bisa melihat seorang siswa memiliki motivasi belajar yang kuat atau tidak. Anderson dan Faust mengukur motivasi belajar  dengan melihat:

  • Minat dalam Belajar

Siswa yang memiliki motivasi belajar yang kuat akan menampakkan minat yang besar untuk belajar. Siswa akan tertarik dengan pelajaran-pelajaran yang diterimanya di sekolah dan selalu berusaha mempelajarinya kembali. Siswa yang memiliki motivasi belajar yang tinggi akan menunjukkan minat yang besar terhadap berbagai macam ilmu pengetahuan serta senang mencari dan memecahkan  soal-soal pelajaran yang dihadapinya.

  • Konsentrasi terhadap Pelajaran

Konsentrasi yang penuh terhadap pelajaran yang sedang berlangsung di dalam kelas akan membawa pengaruh yang positif dalam mencapai hasil belajar. Siswa yang mempunyai motivasi belajar tinggi akan senantiasa mengkonsentrasikan pikirannya pada pelajarannya di sekolah, konsentrasinya tidak terpecah pada hal-hal di luar sekolah.

  • Ketekunan dalam belajar

Ketekunan dalam belajar sangat berpengaruh terhadap pencapaian hasil belajar yang baik. Siswa yang memiliki ketekunan dalam belajar tidak mudah merasa putus asa ketika mendapat kegagalan dalam proses belajar. Salah satu karakteristik siswa yang memiliki motivasi belajar yang tinggi adalah dimilikinya ketekunan dalam belajar. Juga menyatakan bahwa siswa yang memiliki motivasi belajar yang tinggi menunjukkan adanya ketekunan dalam belajar serta tidak mudah putus asa dalam hal belajar.

Cara Melihat Motivasi

Motivasi belajar seorang siswa juga bisa dilihat dengan cara sebagai berikut:

  • Dalam mempelajari modul, siswa yang mempunyai ketekunan tinggi akan berusaha membacanya sampai selesai secara teratur. Mereka akan merasa terganggu kalau suatu topik bahasan yang mereka baca belum terselesaikan. Sedangkan orang yang memiliki motivasi rendah, akan mudah kehilangan minat untuk belajar. Mereka tidak merasa terganggu jika mereka tidak selesai membaca modul seluruhnya. Bagi tipe ini, mungkin tugas belajar yang cocok bagi mereka adalah tugas-tugas kecil yang termasuk “short assignment”

Cobalah membaca modul sedikit demi sedikit sambil diselingi kegiatan lain, seperti membuat ringkasan, atau mengerjakan tes formatif. Dengan cara memecah tugas belajar seperti itu, diharapkan Anda akan tetap termotivasi dalam menyelesaikan tugas jangka panjang, yaitu membaca modul secara keseluruhan.

  • Tebalnya modul yang harus dipelajari seringkali mematahkan semangat untuk belajar. Namun bagi mahasiswa tertentu, semakin tebal atau banyak modul yang harus dibaca, semakin bersemangat dalam belajar. Di sisi lain, ada tipe orang yang justru menganggap berat untuk membaca modul yang banyak dan tebal. Mereka cenderung termotivasi jika beban belajar sedikit.

Jika Anda termasuk yang alergi terhadap modul yang tebal, maka Anda dapat mencoba untuk membuat tugas membaca modul menjadi “short assignment” seperti pada aspek ketekunan. Buat jadwal membaca modul yang tidak terlalu panjang. Bacalah modul sedikit demi sedikit. Yang terpenting adalah memecah beban tugas menjadi bagian kecil sesuai dengan tipe anda untuk menjaga semangat belajar. Jika Anda termasuk tipe kombinasi, maka anda dapat menggabungkan kiat-kiat belajar dari kedua tipe yang lain.

  • Pelajar/mahasisa tertentu memilih belajar dengan cara/aturan yang terstruktur. Misalnya, belajar dengan jadwal belajar yang teratur, membuat sistem kontrak dalam belajar, atau meminta bantuan  pengarahan yang rinci dari dosen maupun orang-orang yang lebih tahu. Sebaliknya, Anda mungkin merasa terbebani bila harus membuat jadwal belajar. Jika ini terjadi, anda mungkin termasuk tipe orang yang tidak terstruktur. Kalau demikian halnya, anda tetap harus membuat jadwal belajar dengan gaya anda sendiri.

Motivasi belajar yang tinggi dapat dilihat pada  perilaku siswa sebagai adanya kualitas keterlibatan siswa dalam aktivitas belajar yang sangat tinggi. Kemudian ditambah perasaan dan keterlibatan afektif  siswa dalam belajar, serta siswa senantiasa memiliki ikatan kuat untuk mencapai kemajuan pelajarannya.

Mengembalikan motivasi siswa dapat dimulai dengan membawanya kembali ke lingkungan yang sebelumnya membuatnya nyaman. Lingkungan sekolah dengan atmosfer yang dirindukannya. Tak perlu membebani dengan tugas yang berat dulu, biarkan mereka “menghirup udara segar” setelah sekian bulan “terkungkung” di dalam rumah dengan hati gelisah. Perlahan aktivitas sekolah dapat dilakukan kembali dengan motivasi siswa yang kembali utuh. –drs

surabayastory
Bercerita berarti penyampaian cerita dengan cara bertutur. Yang membedakan adalah metode penyampaiannya.

Leave a Reply

  • (not be published)