Kisah 1001 malam sangat legendaris, dan terus diceritakan hingga hari ini. Sudah berbilang abad, cerita ini memuat rahasia yang membuat siapapun ingin membacanya.

Geotimes

Surabayastory.com – Syahdan pada dahulu kala pernah bertahta seorang raja yang bernama Raja Shariar. Raja itu amat membenci wanita. Anehnya justru setiap hari dia menikah dengan seorang wanita. Istrinya yang baru dinikahi satu hari, langsung dibunuhnya, kemudian dia menikahi wanita yang lain.

Pada suatu hari sang raja menikahi seorang gadis bernama Scheherazade, perempuan cantik anak seorang Wazir dari India. Pada pernikahan ke sekian itulah raja baru kena batunya. Pedang yang telah dipersiapkan untuk memenggal kepala istrinya itu tetap tersimpan dalam sarungnya, bahkan hingga memasuki malam yang ke seribu.

Sejak malam pengantin, Scheherazade mengisahkan pada suaminya sebuah cerita yang mengasyikkan, tetapi setiap kali cerita itu belum juga berakhir. Ujungnya masih menggantung dan membuat raja itu ingin mengetahui kelanjutannya. Tiap hari dia menunda memenggal leher istrinya dan meminta supaya Scheherazade melanjutkan cerita bersambung itu pada malam berikutnya.

Semakin lama cerita yang dikisahkan Scheherazade semakin mengasyikkan hati Sang Raja, sehingga dia selalu menunda niatnya membunuh dan meminta cerita dilanjutkan malam berikutnya. Begitulah cerita Scheherazade menjadi sambung menyambung hingga genap seribu satu episode. Leher Scheherazade berhasil selamat dari penggalan sang raja. Karena itulah kumpulan cerita ini kemudian disebut sebagai Kisah Seribu Satu Malam.

Abunawas: Sebuah Kisah

Kisah Abunawas merupakan bagian dari kisah seribu satu malam yang legendaris ini. Kisah ini memotret kehidupan Khalifah Harun Ar-Rasyid dan Abuanawas penyair terkemuka di era kekuasaan Abbasiyah.  Di masa pemerintahan khalifah Abbasiyah, Harun al-Rashid abad ke-8, Bagdad merupakan salah satu kota perdagangan yang sangat penting. Pedagang dari China, India, Afrika, dan Eropa singgah dapat ditemukan di sana. Pada saat itulah cerita-cerita tradisional dari berbagai bangsa dikumpulkan jadi satu dan dinamakan Hazar Afsanah.

Seribu Satu Malam merupakan sastra epik dari Timur Tengah yang lahir pada Abad Pertengahan.  Buku Seribu Satu Malam terdiri dari kumpulan-kumpulan kisah dengan tokoh yang berbeda dan alur cerita yang menarik. Di dalamnya termasuk legenda, fabel, roman, dan dongeng dengan latar yang berbeda seperti Baghdad, Basrah, Kairo, dan Damaskus. Juga Cina, Yunani, India, Afrika Utara dan Turki.

Di abad ke-9, seorang pendongeng dari Arab bernama Abu abd-Allah Muhammed el-Gahshigar menerjemahkan kumpulan cerita ini ke dalam bahasa Arab. Kerangka cerita mengenai Scheherazade dan Shahryar baru ditambahkan pada abad ke-14. Bentuk modern pertama dari cerita Seribu Satu Malam, namun masih dalam bahasa Arab, diterbitkan di Kairo pada tahun 1835.

Konon, pada era itulah cikal-bakal Hikayat 1001 Malam mulai dirajut. Terdapat beragam versi tentang asal muasal lahirnya karya sastra epik Arab yang termasyhur itu. NJ Dawood dan William Harvey dalam bukunya berjudul Tales from the Thousand and One Nights mengungkapkan, Hikayat 1001 Malam merupakan satra epik yang berasal dari tiga rumpun kebudayaan dunia, yakni India, Persia, dan Arab.

Masterpieces seni cerita bertutur itu berasal dari sebuah buku dari Persia yang hilang berjudul Hazar Afsanah (Seribu Legenda),” papar Dawood dan Harvey. Menurut keduanya, buku cerita dari Persia itu kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab pada tahun 850 M.

Hazar Afsanah, imbuh keduanya, berisi tentang cerita rakyat India dan Persia. ”Para pendongeng Muslim yang profesional membumbui dan mengadopsi cerita itu dengan warna lokal Arab.” Versi lainnya menyebutkan, Hikayat 1001 Malam sebagai kumpulan ceritera rakyat Arab. Adalah Abu Abdullah bin Abdus Al-Jasyayari seorang pengarang muslim terkemuka yang merangkai dan dan menulis kisah yang legendaris itu. Kitab Alf layla wa-layla yang ditulis Al-Jasyayari ide ceritanya berasal dari Hazar Afsanah yang diterjemahkannya ke dalam bahasa Arab.

Pendapat lainnya menuturkan, dongeng 1001 Malam yang dikenal dalam bahasa Persia berjudul Hezar-o yek sab itu merupakan sebuah kumpulan cerita yang disusun selama berabad-abad oleh begitu banyak pengarang, penerjemah, dan sarjana. Cerita rakyat yang mulai lahir antara abad ke-8 M hingga 9 M itu berawal dan berakar dari cerita rakyat Arab dan Yaman Kuno, India Kuno, Asia Kecil Kuno, Persia Kuno, Mesir Kuno, Suriah Kuno, dan era kekhalifahan Islam. Cerita rakyat India mewarnai dongeng 1001 Malam melalui fabel Sanskerta kuno. Sedangkan, cerita rakyat Baghdad hadir dalam hikayat yang populer itu melalui kekhalifahan Abbasiyah.

Hikayat 1001 Malam mengandung beragam cerita seperti, kisah percintaan, tragedi, komedi, syair, ejekan, serta beragam bentuk erotika. Sejumlah kisah yang termuat dalam 1001 Malam juga melukiskan tentang jin, tukang sihir, tempat-tempat legendaris yang sering kali menampilkan tempat dan orang-orang yang sesungguhnya.

Kisah-kisah dalam Seribu Satu Malam, menekankan tiga hal pada pembaca yaitu:

  1. Suatu masalah akan selalu ada penyelesaiannya
  2. Keteguhan akan membuat suatu masalah mencapai penyelesaiannya
  3. Kekuatan batin dapat membantu untuk mempertahankan keteguhan.

Khalifah Harun Ar-Rasyid, Abu Nuwas dan Wazir (perdana menteri) Ja`far Al-Barmaki juga menjadi tokoh cerita. Popularitas Hikayat 1001 Malam semakin mengkilap lantaran diramaikan dengan kisah-kisah lainnya yang menarik seperti, Aladdin dan Lampu Wasiat, Ali Baba, Sinbad si Pelaut, serta 40 Pencuri.

Namun justru cerita-cerita rakyat Timur Tengah yang asli itu tak muncul dalam kitab Alf layla wa-layla versi Arab. Kisah-kisah yang menarik itu justru baru muncul dalam The Arabian Nights yang diterjemahkan seorang sarjana Prancis bernama Jean Antonie Galland. Galland mengaku menulis kisah- kisah yang banyak diangkat ke dalam film di berbagai negara itu setelah mendengarnya dari seorang penutur cerita asal Aleppo, Suriah bernama Hanna Diab.

Hikayat 1001 Malam yang merupakan sumbangsih peradaban Islam, kini telah menjadi cerita rakyat seluruh dunia. Sastra epik Arab di zaman kekhalifahan itu telah memberi pengaruh yang besar dalam peradaban manusia terutama dalam bidang kebudayaan. Dengan sederet kisah yang memikat, Hikayat 1001 Malam telah memberi warna dalam bidang sastra, film, musik dan permainan di berbagai belahan dunia. –drs, dari berbagai sumber

Baca kelanjutannya besok: Abunawas sebenarnya adalah…….

surabayastory
Bercerita berarti penyampaian cerita dengan cara bertutur. Yang membedakan adalah metode penyampaiannya.

Leave a Reply

  • (not be published)