Yang menjadi persoalan bila beban pekerjaan begitu berat sehingga seorang ibu tak memiliki waktu di rumah. Di sisi lain di rumah ada seorang bayi, anak-anak atau  remaja yang membutuhkan perawatan dan curahan kasih sayang dari seorang ibu.

Surabayastory.com – Keluarga hakikatnya satuan terkecil yang menjadi inti suatu sistem sosial yang ada di masyarakat. Sebagai satuan terkecil, keluarga merupakan miniatur dan embrio berbagai unsur sistem sosial manusia. Suasana keluarga yang kondusif akan menghasilkan warga masyarakat yang baik karena di dalam keluargalah seluruh anggota keluarga belajar berbagai dasar kehidupan bermasyarakat.

Dalam masyarakat yang makin kompleks tampaknya sulit untuk menghindari terjadinya peranan ganda wanita, sebagai  seorang ibu yang mengurus keluarga di rumah sekaligus sebagai pencari nafkah. Kondisi masyarakat saat ini menuntut agar  wanita ikut aktif dalam pergaulan di luar rumah dengan cara bekerja. Sebagian karena wanita ingin diakui oleh lingkungan di sekitarnya sebagai seorang wanita yang modern. Tak sedikit di antaranya yang terpaksa bekerja karena tuntutan ekonomi padahal sebenarnya sang ibu lebih suka berada lebih dekat dengan anak-anak dan keluarganya.

Perkembangan peradaban dan kebudayaan, yang sangat dipengaruhi perkembangan ilmu dan teknologi, telah banyak memberikan pengaruh pada tatanan kehidupan umat manusia, baik yang bersifat positif maupun negatif. Kehidupan keluarga mengalami banyak perubahan dan mulai melenceng jauh dari nilai-nilai keluarga tradisional. Dalam situasi yang ditandai dengan modernisasi dan globalisasi, banyak pihak yang melihat kondisi kehidupan masyarakat dewasa ini khususnya generasi mudanya dalam keadaan mengkhawatirkan. Dan semua ini berakar dari kondisi kehidupan dalam keluarga yang mengalami perubahan nilai-nilai secara mendasar.

Oleh karena itu, pembinaan terhadap anak secara dini dalam keluarga merupakan suatu yang sangat vital. Pendidikan agama, budi pekerti, tatakrama, dan baca-tulis-hitung yang diberikan secara dini di rumah serta teladan dari kedua orangtuanya akan membentuk kepribadian dasar dan kepercayaan diri anak yang akan mewarnai perjalanan hidup selanjutnya. Dalam hal ini, seorang ibu memegang peranan yang sangat penting dan vital.

Kehidupan keluarga pada dasarnya mempunyai fungsi sebagai berikut:
1. Pembinaan nilai-nilai dan norma agama serta budaya.

  1. Memberikan dukungan afektif, berupa hubungan kehangatan, mengasihi dan dikasihi, mempedulikan dan dipedulikan, memberikan motivasi, saling menghargai, dan lain-lain.
    3. Pengembangan pribadi, berupa kemampuan mengendalikan diri baik fikiran maupun emosi; mengenal diri sendiri maupun orang lain; pembentukan kepribadian; melaksanakan peran, fungsi dan tanggung jawab sebagai anggota keluarga; dan lain-lain.
    4. Penanaman kesadaran atas kewajiban, hak dan tanggung jawab individu terhadap dirinya dan lingkungan sesuai ketentuan dan norma-norma yang berlaku di masyarakat.

Pencapaian fungsi-fungsi keluarga ini akan membentuk suatu komunitas yang berkualitas dan menjadi lingkungan yang kondusif untuk pengembangan potensi setiap anggota keluarga.
Untuk membangun generasi yang sadar dan siap menjalankan fungsi sosialnya, ibu mempunyai peranan sangat penting. Ini karena tugas utama seorang ibu adalah mengelola urusan rumah tangga. Dengan naluri keibuannya, secara psikologis ibu mempunyai kedekatan dengan anak-anaknya dan anggota keluarga yang lain. Tentu agar bisa menjalankan perannya secara efektif, seorang ibu harus memiliki cukup waktu untuk melakukan kontak personal dengan anak-anak dan suami mereka.

Dalam sebuah rumah tangga, ibu mempunyai peran antara lain sebagai:

  1. Peran sebagai istri
    Ada sejumlah prinsip yang harus dijalankan agar hubungan suami istri senantiasa harmonis dan langgeng. Beberapa prinsip untuk menciptakan keluarga harmonis itu adalah:
  2. Saling pengertian antara suami-istri,
  3. Setia dan cinta mencintai,
  4. Siap menghadapi persoalan dan kesulitan secara bersama-sama,
  5. Saling mempercayai dan saling membantu,
  6. Dapat memahami kelemahan dan kekurangan masing-masing,
  7. Lapang dada dan terbuka,
  8. Selalu konsultasi dan musyawarah,
  9. Hormat menghormati keluarga masing-masing,
  10. Dapat mengusahakan sumber penghidupan yang layak, dan
  11. Mampu mendidik anak dan anggota keluarga lain.

 

Dalam hubungan suami-istri, juga diperlukan:
a. Keyakinan dan agama yang sejalan untuk dijadikan sebagai tuntunan hidup dalam berkeluarga .
b. Kepribadian yang matang ditandai dengan rasatanggung jawab, mandiri, percaya diri, dan lain-lain.
c. Memiliki citra diri yang positif, ditandai dengan berfikir positif, terbuka, toleran, tidak gampang curiga, dan lain-lain.
d. Kemampuan mengelola keuangan dan mengatur rumah tangga.

Keberhasilan  seorang suami dalam karirnya (pangkat dan jabatan) sangat ditentukan dukungan motivasi, cinta kasih dan doa dari seorang istri. Begitu juga kebahagiaan seorang suami sangat bergantung dari sikap seorang istri dalam menjalankan tanggungjawabnya dalam urusan rumah tangga.

Dalam menjalankan perannya sebagai seorang istri, seorang wanita seyogyanya:
a. Siap berbagai rasa suka dan duka serta memahami pekerjaan suami baik sebagai PNS, tentara/kepolisian, swasta atau pengusaha. Beberapa jenis pekerjaan sangat menyita tenaga dan waktu suami sehingga istri harus memahami dan memberikan dukungan.

  1. Memberikan motivasi dalam bekerja, dan tidak menuntut sesuatu di luar batas kemampuan suami.
    c. Memposisikan sebagai istri sekaligus ibu, teman dan kekasih bagi suami. Suami adalah manusia biasa yang sekali waktu perlu dimanja, butuh perhatian/kasih sayang. Suami juga butuh tempat berlindung dan mengadukan kesulitan/problem yang dialaminya.
    d. Menjadi teman diskusi seraya memberikan dukungan motivasi, semangat dan doa bagi suami ketika menghadapi tugas berat.

Bilamana peran istri sebagaimana dimaksud dapat dijalankan dengan baik, akan berpengaruh terhadap perangai dan perilaku suami di tempat bekerja. Mereka akan bekerja sebaik mungkin demi rasa cinta terhadap istri dan anak-anaknya. Hal ini juga akan mencegah suami untuk berbuat hal-hal negatif seperti: korupsi, mabuk-mabukan, selingkuh, dll. Selanjutnya ia akan berusaha membangun karir yang baik untuk menyenangkan keluarga.

Dalam agadium Jawa dikatakan bahwa wanita adalah sebagai garwa,artinya sigarane nyowo atau belahan jiwa suami. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara suami dan istri sangat erat sekali, ibarat sebuah jiwa di mana yang separuh milik suami dan separuhnya adalah milik istri.

Dalam kaitannya sebagai wanita karir, istri  pertama-tama dituntut untuk melayani suaminya dengan sepenuh hati. Ia dituntut untuk memiliki sikap kepatuhan, ketaatan dan kesetiaan terhadap suaminya. Tentunya ketaatan dalam arti yang bersifat positif. Seorang istri harus merasa bahwa dirinya adalah milik dan hanya diabdikan untuk suaminya dalam hal cinta kasih bukan kepada orang lain, serta menjaga dan membelanjakan harta dan pendapatannya secara bijaksana.

Ketaatan dan kesetiaan adalah merupakan persoalan yang fundamental dalam kehidupan berumah tangga. Sehingga apabila kesetiaan ini dilanggar oleh satu pihak akan membuat keluarga menjadi berantakan.

Seorang wanita karier yang telah melanggar kesetiaan terhadap suaminya, ia akan seenaknya mengabaikan tugas-tugas rumah tangganya. Ia akan dengan mudah melakukan tindakan penyelewengan-penyelewengan, tidak jujur kepada diri sendiri, kepada suaminya, harta bendanya dan bahkan kepada anak-anaknya. Seorang istri yang tidak dapat dipercaya, ibarat pencuri di dalam rumah yang selalu dicurigai dan diawasi oleh suami dan anak-anaknya.

Oleh karena itu, sebagai wanita karier, istri harus mampu menanamkan kepercayaan kepada suaminya, bahwa dirinya istri yang setia dan dapat dipercaya. Kalau perlu, seorang wanita karier hendaknya mau diantarkan oleh suaminya sampai ke tempat kerja dan ia sanggup menjelaskan bahwa teman-temannya adalah baik dan dapat dipercayai. Dengan demikian ia bisa meraih kepercayaan dari suaminya.

Di antara hal-hal yang bisa merusak kesetiaan ialah berhias diri yang berlebihan. Seorang wanita karier ingin tampil prima, ingin dihargai dan dipandang unggul oleh atasannya. Padahal apabila di rumahnya, ia tidak pernah berdandan dan berhias. Penampilan yang berlebihan akan menimbulkan kecurigaan. Seorang istri seharusnya berdandan untuk suaminya, dan bukan untuk yang lain, atau dengan istilah tabarruj, yaitu berbuat maksiat dengan menampakkan kecantikannya untuk tujuan memikat laki-laki lain dengan tanpa rasa malu. Perhiasan yang melebihi batas atau yang mengundang maksiat seharusnya ditinggalkan dan diganti dengan pakaian yang sopan dan tak menggoda.

Di sisi lain, di dalam bekerja seorang wanita karier hendaknya memperoleh izin dari suaminya dan memiliki niat yang baik yaitu semata-mata untuk mengabdikan diri kepada suami dan keluarganya, bukan untuk dirinya sendiri atau yang lain. Islam memperbolehkan seorang istri berkarier di luar rumah selama mendapatkan izin dari suaminya dan semata-mata membantu mencukupi kebutuhan keluarga. Apabila ia mengejar karier untuk melepaskan kedudukannya sebagai anggota keluarga, atau sebagai jalan melepaskan kewajibannya sebagai istri, maka hal tersebut dilarang dalam agama dan berlawanan dengan fitrah. Jika izin atau kerelaan suami ini didapatkan, maka kebahagiaan dan kesejahteraan hidup berkeluarga akan diperoleh. Kerelaan suami menunjukkan bahwa suami ikhlas dan mengizinkan istrinya untuk mengabdikan diri demi kepentingan karier, masyarakat, bangsa dan negara. Karena semua itu ditujukan untuk memperoleh keharuman, kebahagiaan dan ketentraman jiwa. Seorang istri yang memperoleh izin dari suaminya, akan dengan tenang menekuni kariernya, yang pada akhirnya akan mengantarkan kepada kebahagiaan keluarga.

Wanita karier juga dituntut untuk mampu menjaga rahasia keluarganya. Tidak bisa dipungkiri bahwa seorang wanita karier biasanya memiliki pergaulan yang luas. Di dalam setiap pergaulan, tidak mesti semua hal yang menyangkut urusan rumah tangga boleh diceritakan. Seorang istri tidak boleh menceritakan tentang kelemahan-kelemahan suaminya di hadapan orang lain. Sebab dengan membuka kelemahannya kepada orang lain, akan menyebabkan orang lain mempunyai pandangan yang tidak baik kepada suaminya atau setidaknya orang lain akan mempergunjingkan kelemahan suaminya, yang pada akhirnya orang lain akan merendahkannya.

  1. 2. Peran sebagai ibu bagi anak-anak
    Anak-anak dalam sebuah keluarga merupakan amanat dan rahmat dari Tuhan, generasi penerus serta pelestari norma yang berlaku dalam keluarga dan masyarakat. Oleh karenanya, keluarga sebagai lingkungan yang pertama dan utama bagi anak seyogyanya mampu menjadi peletak dasar dalam pembentukan karakter yang baik sebagai landasan pengembangan kepribadian anak yang akan membentuk karakter bangsa di kemudian hari.

Berbagai keterampilan kehidupan seyogyanya dikembangkan pada anak sejak dini di lingkungan keluarga dalam suasana kasih sayang. Keteladanan dalam suasana hubungan yang harmonis serta komunikasi yang efektif antar anggota keluarga merupakan hal yang fundamental bagi berkembangnya kepribadian anak.

Sebagai seorang wanita karier, seorang wanita berkeluarga tetap dituntut untuk mendidik dan memperhatikan anak-anaknya. Di dalam masyarakat manapun, baik yang sudah maju maupun yang masih terbelakang, peranan ibu terhadap hari depan anak tidak bisa dipungkiri.

Apakah seorang anak akan menjadi baik atau tidak, sukses atau tidak dalam hidupnya di kemudian hari, peran ibu sangatlah besar. Karena ibulah yang pertama kali dikenal dan memberikan pengalaman pertama kali kepada si anak, apakah pengalaman itu menyenangkan atau tidak.

Setiap pengalaman yang dilalui seorang anak, baik dilihat, didengar atau dirasakannya pada tahun-tahun pertama dari umurnya akan merupakan unsur penting dalam membina kepribadiannya. Jika pengalamannya menyenangkan dan baik, maka akan baik bagi perkembangan si-anak. Demikian pula sebaliknya, jika pengalamannya tidak menyenangkan dan tidak baik, maka akan mengganggu perkembangan si-anak. Seorang ibu yang tenang, penyayang, bijaksana dan pandai mendidik serta mengatur suasana rumah tangga, akan menyebabkan anak-anaknya hidup gembira dan merasa bahagia dalam keluarga sekalipun keadaan ekonominya sederhana saja. Sedangkan ibu yang gelisah, pencemas, pemarah, tidak bijaksana, tidak pandai mendidik dan tidak mampu menciptakan ketenangan dalam rumah tangga, akan menyebabkan anak-anaknya tegang, gelisah, sedih dan tidak bahagia dalam keluarganya, walaupun keadaan ekonominya cukup baik.

Oleh karena itu tidaklah cukup, apabila menginginkan anak yang sehat, bahagia, dan berakhal baik, cukup dengan harta saja. Justru pemenuhan rasa cinta dan kasih sayang, serta pendidikan yang baiklah yang merupakan hal paling penting yang tidak bisa diabaikan dalam membina kepribadian anak.

Seorang ibu juga dituntut untuk mampu memanfaatkan dan meluangkan waktu yang sebaik-baiknya untuk bertemu dengan anak-anaknya. Sebab tidak bisa dipungkiri, seorang ibu, sebagai wanita karier sering meninggalkan anak-anaknya dalam jangka waktu yang panjang. Terkadang ibu berangkat kerja sementara anak belum bangun dari tidurnya, anak pulang dari sekolah sementara ibu belum pulang, dan ibu pulang ke rumah, si anak telah terlelap tidur. Keadaan yang demikian ini jelas tidak menguntungkan bagi perkembangan si-anak. Dalam situasi keluarga semacam ini, akan mudah menimbulkan konflik-konflik psikologis yang mendorong timbulnya kenakalan anak.

Bisa jadi di zaman sekarang, orang tua menitipkan anaknya kepada orang yang dipercaya, ke tempat-tempat penitipan anak, atau babby sitter. Tapi ini tidaklah cukup. Sebab, pada hakikatnya transformasi nilai pendidikan dan keagamaan pada akhirnya tetap akan berlangsung lebih lama bersama orang tuanya. Dengan demikian sudah seharusnyalah seorang ibu menyediakan waktu khusus dan mengusahakan waktu ekstra untuk berkumpul bersama anak-anaknya. Sebab dengan begitu kehangatan dan kasih sayang seorang ibu dan sekaligus pendidikan langsung dari ibu sebagai pembina utama kebahagiaan anak bisa diberikan.

 

  1. Peran sebagai ibu rumah tangga

Kalau seorang suami disebut sebagai kepala keluarga maka yang menjadi kepala rumah tangga adalah seorang istri. Dalam perannya sebagai kepala rumah tangga terkandung fungsi pengelolaan/ manajemen. Peran yang utama adalah mengatur dan merencanakan kebutuhan rumah tangga, hidup sederhana, tidak kikir dan berorientasi ke masa depan.

Dari peran di atas, yang harus dikelola adalah barang, manusia dan uang. Dalam pengelolaan barang tercakup di dalamnya mengurus rumah (terlepas apakah dikerjakan sendiri atau oleh pembantu), sirkulasi barang, pemenuhan kebutuhan berdasarkan skala prioritas, dan lain-lain. Dalam pengelolaan orang, tercakup di dalamnya pembagian tugas, kewajiban, hak dan wewenang setiap anggota keluarga. Dalam pengelolaan uang tercakup di dalamnya penggunaan berdasarkan kebutuhan prioritas, sumber keuangan dan keluarga sebagai muara penggunaan.

Agar peran ibu lebih terarah dan berdayaguna maka diperlukan peningkatan pengetahuan dan keterampilan termasuk pengetahuan/wawasan mengenai situasi dan kondisi lingkungan lokal, nasional hingga internasional. Apabila peran-peran yang diberikan kepada seorang ibu/istri dijalankan sebaik mungkin maka akan memberikan dukungan kepada setiap anggota keluarga untuk dapat mengaktualisasikan dirinya secara optimal. Sebaliknya persoalan akan muncul manakala ketiga peran tersebut diatas tidak berjalan sebagaimana mestinya bahkan mungkin akan mengganggu ketentraman setiap anggota keluarga terutama mengganggu suami/beban tugas suami dan akhirnya akan menjadi beban mental/stress. Masalah-masalah yang mungkin akan muncul sebagai akibat dari kondisi di atas dapat berupa konflik dan bahkan mungkin berupa stress.

Mengingat begitu penting dan mendasarnya pendidikan, bimbingan dan pengasuhan anak secara dini oleh para ibu di rumah dalam memberikan landasan dalam pola hidup dan perilaku anak di kemudian hari, seyogyanya menjadi perhatian serius kaum ibu dan calon ibu rumah tangga. Untuk itu psikologi keluarga sebagai pengetahuan dasar bimbingan dan pengasuhan anak perlu disosialisasikan melalui berbagai media komunikasi.

  1. 4. Peran dalam masyarakat

Sebagai anggota masyarakat, wanita tidak bisa terlepas dari keterlibatannya dalam kegiatan masyarakat. Dalam nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat kita, seperti diajarkan Islam misalnya, melakukan kegiatan yang memberikan manfaat kepada orang lain sangat dianjurkan: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat pada orang lain.”

Sebagai wanita karier, tidak seharusnya ia meninggalkan tugas-tugas kemasyarakatannya. Apabila hal itu dilanggar, maka ia akan dikucilkan dari lingkungan masyarakatnya. Dengan menyumbangkan tenaga dan pikirannya di tengah-tengah masyarakat, ia akan menjadi orang yang berguna di mata masyarakat, demikian juga ia akan memiliki kegiatan yang bervariatif. Sehingga ia bisa mengalihkan perhatian dan pikirannya dari pekerjaan sehari-hari di tempat kerja, sehingga tidak bosan. Setelah itu, ia dapat mengerjakan kembali tugas–tugas kariernya dengan suasana dan semangat yang baru. Penunaian tugas-tugas kemasyarakatan akan memberikan kepuasan batin, apalagi sampai mendapatkan kedudukan di dalam masyarakat. Kepuasan batin ini akan terbawa sampai di dalam keluarga, sehingga keluarga bertambah harmonis dan bahagia.

Namun betapapun, seorang wanita karier karena tugas-tugas kemasyarakatannya, hendaknya juga tidak meninggalkan perannya sebagai istri dan ibu rumah tangga. Jadi ia harus tetap menjaga keseimbangan antara perannya baik sebagai seorang istri, seorang ibu, dan sekaligus sebagai seorang anggota masyarakat. –drs, dari berbagai sumber

surabayastory
Bercerita berarti penyampaian cerita dengan cara bertutur. Yang membedakan adalah metode penyampaiannya.

Leave a Reply

  • (not be published)