Tak perlu rindu untuk mengenang yang dingin di masa lalu. Es puter yang dulu sempat jadi jajanan andalan, kini sudah kembali tersebar di Surabaya. Rasanya otentik hingga milenial.

Surabayastory.com – Kuliner di kota Surabaya memang beragam. Manis-asem-asin atau panas-dingin, semuanya ada. Tinggal pilih sesuai selera. Panasnya kota selalu berbanding lurus dengan mencari yang dingin.

Sebagai obat kerinduan akan jajanan masa lalu, kali ini sebelum mencicipi kita akan mengulas story tentang es puter. Es puter sejak dulu termasuk jajanan rakyat. Jika kaum the have mencicipi es krim yang berbahan dasar susu, sedangkan es puter bahan terbesarnya santan kelapa. Namun kini, es puter dinikmati oleh siapa saja. Aneka rasa dan tampilan milenial kekinian membuat es puter seakan lahir kembali dan tampil lebih cantik.

Sketsa penjual es puter dengan pikulan di zaman Belanda. (ist)

Bagaimana es puter ini bisa ada di Surabaya? Yuk kita putar sejarahnya. Dari dulu, sebagai kota pesisir (mepet laut) Surabaya dikenal sebagai kota dengan udara panas. Karena itu ketika es masuk Surabaya akhir tahun 1879, es batu termasuk komoditas yang banyak dicari dan harganya mahal. Pabrik es batu kemudian berdiri di beberapa wilayah kota seperti Ijsfabrieken Petodjo di Raderrsmatraat, NV. Ijsfabrieken Ngagel dan NV. Ijs En Handel Mij di Passar Toeri.

Setelah es batu, sekarang cerita soal es puter. Es puter adalah es tradisional khas Indonesia. Bahan dasarnya santan. Es puter punya kekhasan, yaitu teksturnya yang lebih kasar dan lebih padat. Rasanya juga tak hanya manis dan dingin, di sana ada legit dan gurih karena bahan dasarnya kelapa.

Keberadaan es puter bermula dari keterbatasan masyarakat Indonesia. Karena tak bisa menikmati es krim dari bahan susu, lalu muncullah kreativitas dengan membuat “persamaannya”, yaitu mengganti susu dengan santan kelapa. Sama-sama cair, sama-sama putih.

Santan kelapa yang diolah ini kemudian diberikan rasa tambahan yang diambil dari buah-buahan lokal seperti kelapa muda, nangka, dan durian. Ketika waktu berjalan, lalu muncullah rasa coklat , ketan hitam, kacang hijau, dan moka.

Es puter bertekstur kasar dan dibekukan secara tradisional. Pembuatannya adalah dengan memasukkan santan cair yang sudah diberi rasa yang dikehendaki dalam tabung besi atau aluminium. Lalu tabung tersebut direndam dalam es batu yang sangat banyak yang sudah diberikan garam kasar. Tabung ini lalu diputar terus menerus hingga mendapatkan dingin maksimal dan adonan yang mengkristal dan es yang membeku.

Asosiasi Penjual Es Puter

Sebagai jajanan rakyat, es puter dijajak keluar-masuk perkampungan. Dulu dimulai dari kampong-kampung lama Surabaya seperti, kampung Plampitan, Nyamplungan, Pabean, Peneleh, dan Kepoetran. Sebagai jiplakan es krim, es puter juga memakai gelas bertangkai pendek dengan mulut lebar. Sama persis dengan yang dipakai orang-orang kaya di rumah-rumah es krim (Ijspaleisje).

Meskipun es puter adalah jajanan rakyat, kala itu tak semua rakyat bisa membeli. Bagi kalangan bawah, lebih baik beli sembako. Jadi yang beli adalah masyarakat kalangan menengah-atas alias golongan priyayi.

Es puter khas Indonesia, namun kala itu hanya bisa dinikmati kalangan priyayi. (ist)

Cara penyajiannya sangat sederhana. Awalnya diletakkan di gelas tangkai pendek seperti cawan yang digantung di sekitar lengan pikulan. Setelah zaman berkembang, ada yang disajikan diantara roti tawar dengan warna pelangi yang dilipat atau cone yang berbentuk kerucut yang di Surabaya lazim disebut dengan cuncum. Namanya pun menjadi es cuncum. Bila ingin lebih istimewa, versi paling mahal, akan ditambahkan topping sagu mutiara, nangka, da nada juga yang memakai ketan hitam.

Dulu awalnya penjual es puter berjalan tanpa alas kaki, keliling kampung dengan dipikul. (ist)

Meski tradisional, para pedagang es puter zaman Belanda sudah punya pikiran maju. Mereka membuat asosiasi pedagang es, namanya Soerabaiasche Ijsverkoop Organisatie (SIJVO) yang berkantor di Societe Itstraat 19. Dengan perkumpulan ini maksudnya agar lebih mudah berkoordinasi sesame penjual es di Surabaya.

Mengulik Kenangan

Di tahun 1970-an hingga 1980-an, es puter banyak dijajakan di depan sekolah-sekolah SD atau masuk perkampungan. Di era 1990-an masih ada, namun masuknya merek-merek es krim dari luar negeri plus semakin banyaknya es krim produksi lokal, membuat harganya lebih terjangkau. Ini secara perlahan membuat anak-anak tahun 2000-an lebih memilih es krim daripada es puter.

Namun, namanya kenangan tetap saja mengusik benak. Dan kenangan itu kemudian ditangkap sebagai peluang untuk kembali dihadirkan. Sekarang ini, banyak es puter yang ramai dikunjungi pelanggannya. Merata di seluruh Surabaya. Di Surabaya Timur para pecintanya pasti mengenal es puter di Manyar Kertoarjo seberang supermarket Bonnet, di selatan ada di sekitar UK Petra Siwalankerto, di Barat ada di sekitar Puncak Permai atau Darmo Permai, dan sebagainya.

Es puter membangkitkan kenangan tersendiri bagi setiap orang yang rasa kangen untuk menikmatinya kembali. –sa

surabayastory
Bercerita berarti penyampaian cerita dengan cara bertutur. Yang membedakan adalah metode penyampaiannya.

Leave a Reply

  • (not be published)