Komunikasi menjadi elemen penting dalam keseharian, terutama dalam lingkungan bisnis. Komunikasi yang lancar, akan membuat hidup Anda menjadi lebih mudah karena tak mudah terjadi salah paham, ataupun salam mengartikan pesan yang disampaikan.

Komunikasi sejatinya adalah bagaimana menangkap pesan, yang terucap maupun tidak terucap. Yang terjadi, sudah, ataupun belum terjadi. Kepandaian membaca pesan akan menjadi kunci lain kesuksesan dalam berkomunikasi.

Tentu tidak mudah memahami. Namun ada beberapa bagian yang bisa dicatat. Ada empat jenis komunikasi bisnis yang digunakan untuk menyampaikan pesan efektif:

  1. Komunikasi Nonverbal :
    Komunikasi nonverbal lebih sulit dipelajari ketimbang ketrampilan verbal. Perilaku nonverbal meliputi kontak mata, ekspresi wajah/mimik, sikap tubuh, gerak tubuh/gesture, dan penggunaan waktu, ruang, serta wilayah. Pesan yang dikirim melalui bahasa tubuh dan cara kita mengatur waktu/ruang selalu menimbulkan interpretasi. Jika diinterpretasi positif, audiens akan paham dan berterima (acceptable). Sebaliknya jika interpretasinya negatif, yang terjadi adalah penolakan, pembangkangan (disobedience), bahkan sikap permusuhan. Komunikasi nonverbal untuk warga yang sama budayanya saja sulit, apalagi bila mereka berbeda budaya.
  2. Pesan Lisan/Verbal :
    Segala jenis penyampaian pesan yang dilakukan secara verbal melalui kata-kata, ucapan, pernyataan (statement), himbauan, gurauan, rayuan, bahkan juga ‘ancaman’ yang terbungkus kalimat-kalimat santun. Pesan verbal sangat dipengaruhi cara Anda berbicara, pilihan kata (diction), tekanan suara (intonasi), isi pesan (message), dan tentu yang sangat penting ekspresi non-verbal Anda. Pesan lisan dapat dilakukan secara langsung bertatap-muka (face to face), melalui perwakilan tokoh setempat, atau secara masif melalui saluran media publik (Berbentuk iklan, adlibs, talkshow, dialog interaktif)
  3. Pesan Tertulis/ Teks :
    Segala bentuk komunikasi melalui tulisan atau uraian pesan yang disusun begitu rupa sehingga memunculkan kesan-kesan tertentu bagi yang membacanya. Contoh: pesan melalui surat-menyurat berbeda dengan advertorial, respon surat pembaca, atau produk promosi seperti leaflet, brosur, iklan, prospektus, dan siaran pers. Pesan tertulis diharapkan lebih kuat menancap di benak, namun selalu berhadapan dengan ‘kemalasan’ membaca sebagai akibat kesibukan, latar pendidikan rendah, dll.
  4. Pesan Simbol dan Visual :
    Jenis pesan ini tergolong mutakhir untuk audiens yang sudah sadar-simbol/visual. Pesan simbol umumnya berbentuk lambang, logo, gambar, peta, foto-foto, statistik, desain bungkus, dan berbagai bentuk karya grafis. (meliputi warna, tipografi, komposisi). Pesan simbol sangat kuat dampaknya, cepat dilihat dan dipahami, bahkan mampu menumbuhkan kebanggaan dan kesetiaan konsumen. Contoh simbol/lambang/logo Harley Davidson, Mercedes Benz, Subaru, Spesialized, Colnago, Google, Nike, Adidas, Sosro, Coca Cola, Garuda Indonesia, Pertamina, dsb. Hanya sekilas melihat logo ini, terbayang sudah secara utuh seluruh bentuk citra dan kinerja perusahaan pemiliknya. Hebatnya simbol-logo ini juga melahirkan daya magis, kekuatan sihir merk, dan para pembela kehormatan yang sangat taat, bagaikan umat religi abad-modern (mencapai brand religion).

Di luar itu, ada sisi lain yang menarik untuk diperhatikan. Ada bBeberapa contoh keunikan komunikasi verbal yang tidak bisa diabaikan. Bererapa diantaranya adalah:

  • Orang Barat menilai diam sebagai hal yang negatif, karena mencerminkan penolakan, ketidaksukaan, depresi, penyesalan, malu, dan ketidaktahuan. Sementara orang Jepang menganggap sebaliknya. Diam dipandang sebagai kunci kesuksesan.  Lebih 60% pebisnis wanita Jepang lebih suka menikah dengan lelaki pendiam. Sikap diam disamakan dengan bijaksana. Ada pepatah Jepang: ‘’Mereka yang tahu tidak bicara, mereka yang bicara tidak tahu’’
  • Hampir sama dengan Jepang, orang Jawa pun menganggap diam lebih baik ketimbang banyak bicara. Sebab bagi orang Jawa, mendengarkan lawan bicara dengan sabar dan penuh perhatian adalah ekspresi penghormatan kepada tamu, pula menunjukkan kesantunan dan kerendahan hati. Namun sebagian orang Indonesia (boleh jadi juga berlatar Jawa) yang tinggal di metropolitan, umumnya banyak bicara, acapkali bahkan memotong dan tidak memberi kesempatan orang lain menyela.
  • Menggunakan jari telunjuk untuk menjelaskan sesuatu adalah biasa di Barat, tetapi di Asia dianggap tidak sopan. Orang Thailand, Myanmar, Vietnam (dan tentu orang Jawa) menggunakan ibu jari kanan yang digenggam, untuk menunjuk sesuatu. Orang Asia lainnya menggunakan telapak tangan kanan yang terbuka. Ibu jari juga bermakna persetujuan, penghormatan, pengakuan kehebatan. Namun jangan gunakan ibu jari di Iran dan Ghana/Afrika karena simbol ini merupakan isyarat cabul.
  • Jangan mengelus kepala meskipun anak kecil di Thailand, karena kepala dianggap suci. Jangan bersalaman, mempersilakan, membukakan pintu, atau mengarahkan sesuatu dengan tangan kiri. Tetapi bagi orang Barat tangan kiri digunakan untuk apa saja, termasuk menulis, pegang sendok makan, mengangkat gelas (toast), dan menggandeng wanita. Di Barat menjadi kidal (southpaw, left-handed) itu lazim belaka. –tks
surabayastory
Bercerita berarti penyampaian cerita dengan cara bertutur. Yang membedakan adalah metode penyampaiannya.

Leave a Reply

  • (not be published)