Mendampingi dan Mengendalikan Perkembangan Masa Remaja

Remaja mengisi ruang hidup hampir di setiap keluarga. Di masa ini ditentukan masa depannya. Sebagai pencari identitas, remaja sering beperilaku aneh, dan banyak meniru. Perlu pendampingan agar tak salah arah.

.

.

.

Surabayastory.com – Ini adalah contoh. Falina, seorang ibu rumah, beberapa bulan  ini dibuat heran melihat sikap anak pertamanya Roi, yang sekarang berusia 13 tahun. Kalau biasanya dia menyambut antusias acara makan-makan di restoran bersama ayah, ibu dan adiknya yang masih berusia 7 tahun, kini ia memilih mengikuti acaranya sendiri. Katanya, ia akan nonton film bersama teman-temannya. Sebulan yang lalu, Roi juga menolak ikut rekreasi keluarga di Taman Safari. Katanya, ia ada acara berenang bersama teman-temannya.

Padahal selama ini Roi dikenal sangat dekat sekali dengan ayah, ibu, dan adiknya. Kedua orangtuanya, meski keduanya bekerja, memang selalu berusaha dekat dengan anak-anaknya. Kalau di rumah mereka selalu menyempatkan berbincang dan bercanda dengan mereka.  Pada saat weekend atau hari libur,  Falina selalu mengajak suami dan anak-anaknya jalan-jalan. Wanita ini juga sering mendampingi anak-anaknya belajar di rumah.

Namun akhir-akhir ini Roi sepertinya menjaga jarak dengan keluarganya. Selain tak mau lagi jalan-jalan bersama keluarga, kini ia juga memilih belajar sendiri ketimbang didampingi ibunya. Tapi akhirnya Falina menyadari, kalau anaknya kini sudah menginjak masa remaja. Kini Roi bukan anak-anak lagi.

Saat mempunyai anak yang masih kecil, kita  sangat senang bisa bersama dan mengajari mereka banyak hal. Akan tetapi ketika anak kita memasuki masa remaja, kita  menghadapi begitu banyak kekhawatiran mengenai mereka. Kadangkala sebagai orangtua, kita  dibuat pusing karena anak mulai sering membantah. Kita pun jadi sering berselisih dengan anak.

Beberapa tahun yang lalu anak kita selalu bersikap sangat manis dan menginginkan kita  selalu ada di dekatnya. Tapi lihat sekarang, perkataan kita sering dipotong dan dibantah. Dia tak lagi mau mendengarkan nasehat kita, melawan kata-kata kita dan bahkan terlihat tidak mau berada di dekat Anda. Ke mana perginya hari-hari dimana dia dulu bermanja-manja. Kita mulai bertanya-tanya apakah ada yang salah dengan diri kita?

Memahami sikap anak

Sebenarnya sikap anak semacam itu sudah pernah terjadi sebelumnya, coba putar kembali ingatan  ke masa dimana dia masih berusia sekitar 2 tahun. Saat itu kita sering mendengar dia mengatakan “ga mau” sambil menjerit – jerit dan menangis. Ya. Tepat. Itulah yang sedang dilakukannya sekarang. Hanya saja dia melakukannya dengan cara yang  berbeda. Kalau dulu ia menjerit kini ia mungkin hanya akan berdiam diri atau bahkan mendiamkan kita dan pura-pura tidak mendengar. Kita harus pahami, ini saatnya ia sedang mencari jati dirinya dan tugas kita adalah mengarahkan.

Mungkin kita kadang terluka dengan sikapnya atau cara mereka memperlakukan kita dengan penolakan mereka. Itu jelas tidak baik. Tapi bagaimanapun juga, seorang anak remaja tahu bahwa dia masih butuh orangtua meskipun mereka tidak mau menyatakannya.

Perasaan campur aduk dalam diri orangtua sebenarnya juga dirarasakan oleh remaja sendiri. Mereka juga memiliki konflik batin karena masa pencarian jati diri. Sebagai orangtua, kita harus tetap bersikap tenang dan bertahan. Ingatlah bahwa ini adalah masa pemberontakan mereka sebagai remaja dan biasanya akan berakhir waktu mereka berumur 16 – 17 tahun.

Tidak ada yang bilang bahwa anak kita boleh bersikap tidak sopan atau membentak orangtua. Tapi kala ini terjadi, cobalah bersikap tenang dan katakan pada mereka “Kalau kamu tidak bisa mengatakan sesuatu dengan baik tanpa marah-marah, sebaiknya kamu jangan berbicara dulu dan renungkan baik-baik yang mau kamu bicarakan, nanti kita bicara lagi setelah kamu berpikir dan tenang. Kami akan tunggu dan mendengarkan apa yang mau kamu sampaikan nanti”.

Dengan demikian anak kita tahu bahwa kita selalu ada untuk mereka saat mereka butuh. Biarkan mereka berpikir baik buruknya sendiri lalu ajak mereka berdiskusi. Dengan begitu anak kita tidak akan merasa dimarahi, digurui dan mereka akan senang diajak berdiskusi karena sudah dianggap dewasa.

Memang setiap manusia mengalami tahap-tahap perkembangan, mulai dari bayi, anak-anak, masa remaja/pubertas, dan kemudian dewasa. Lalu pada usia berapakah seorang manusia dikatakan memasuki masa remaja. Kata “remaja” dalam bahasa latin adolescere  berarti to grow atau to grow maturity (Golinko, 1984 dalam Rice, 1990).

Banyak tokoh yang memberikan definisi remaja, seperti DeBrun (dalam Rice, 1990) sebagai periode pertumbuhan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Papalia dan Olds (2001) menyatakan, masa remaja adalah masa transisi antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun.

Adams & Gullota (dalam Aaro, 1997) menyebut  masa remaja adalah usia antara 11 hingga 20 tahun. Sedangkan Hurlock (1990) membagi masa remaja menjadi masa remaja awal (13 hingga 16 atau 17 tahun) dan masa remaja akhir (16 atau 17 tahun hingga 18 tahun). Masa remaja awal dan akhir dibedakan oleh Hurlock karena pada masa remaja akhir individu telah mencapai transisi perkembangan yang lebih mendekati masa dewasa.

Anna Freud (dalam Hurlock, 1990) berpendapat bahwa pada masa remaja terjadi proses perkembangan yang meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan psikoseksual,  perubahan dalam hubungan dengan orangtua dan cita-cita mereka. Pada masa ini seorang anak mulai membentuk cita-cita dan memikirkan masa depan.

Periodisasi Perkembangan Renaja

Pada umumnya masa remaja dapat dibagi dalam periodisasi berikut ini:

  1. Periode Masa Pra Puber usia 12-14 tahun

Masa Pra Pubertas: peralihan dari akhir masa kanak-kanak ke masa awal pubertas.  Cirinya: Anak tidak suka diperlakukan seperti anak kecil lagi, dan mulai bersikap kritis

  1. Masa Pubertas usia 14-16 tahun

Masa remaja awal. Cirinya: mulai cemas dan bingung tentang perubahan fisiknya, memperhatikan penampilan, sikapnya tidak menentu/plin-plan, dan suka berkelompok dengan teman sebaya dan senasib

  1. Masa Akhir Pubertas usia 17-18 tahun

Peralihan dari masa pubertas ke masa adolesen. Cirinya: Pertumbuhan fisik sudah mulai matang tetapi kedewasaan psikologisnya belum tercapai sepenuhnya. Proses kedewasaan jasmaniah pada remaja putri lebih awal dari remaja pria.

  1. Periode Remaja Adolesen 19-21 tahun.

Merupakan masa akhir remaja. Beberapa sifat penting pada masa ini adalah: perhatiannya tertutup pada hal-hal realistis, mulai menyadari akan realitas, sikapnya mulai jelas tentang hidup, mulai nampak bakat dan minatnya.

Untuk anak laki-laki, masa remaja merupakan persiapan dari boy menjadi man, dan bagi anak perempuan dari girl menjadi woman. Perubahan-perubahan yang terjadi pada masa ini demikian pesatnya sehingga menimbulkan kejutan-kejutan, baik bagi remaja itu sendiri maupun bagi lingkungannya. Kalau perkembangan itu diumpamakan sebagai gelombang lautan, maka masa remaja merupakan lautan dengan gelombang tertinggi. Disebut juga dengan masa badai dan topan

Dibanding ketika masih kanak-kanak, seorang remaja akan menunjukan perubahan yang besar. Masa ini ditandai dengan 3 ciri utama:

  1. Ciri primer berupa matangnya karateristik seksual primer dalam bentuk menstruasi bagi wanita dan keluarnya sperma pertama pada laki-laki. Organ-organ seksual primer sudah berfungsi untuk reproduksi
  2. Ciri sekunder: membesarnya buah dada, melebarnya pinggul, kulit menjadi halus (perempuan); perubahan suara, munculnya jakun,  dan otot-otot (laki-laki), tumbuhnya bulu-bulu, pertambahan berat badan, dan lain-lain
  3. Ciri tersier: perubahan emosi, sikap, jalan fikiran, pandangan hidup, kebiasaan, minat dan lain-lain.

Berangkat dari ciri-ciri umum tersebut, maka masa remaja ditandai dengan karakteristik sebagai berikut:

  1. Meningkatnya intensitas emosional sehubungan dengan perkembangan fisik dan mental;
  2. Perubahan kematangan organ seksual membuat remaja menjadi kurang yakin akan dirinya;
  3. Perubahan fisik, minat dan peran-peran sosial membuat remaja  mampu mengkreasi cara-cara menghadapi masalah.
  4. Perubahan nilai karena perubahan pola hidup dan perilaku.

Hal-hal yang Perlu Perhatian

Perubahan-perubahan yang terjadi pada masa remaja ini seringkali menimbulkan masalah psikologis pada remaja seperti mengalami stres, depresi, rendah diri, dan bingung dalam memposisikan diri serta gamang dalam berbuat sesuatu. Dalam upaya menghadapi perubahan dalam diri remaja, secara psikologis ada hal-hal yang dapat dijadikan sebagai pangkal tolak yaitu: berusaha memahami perasaan dan situasi remaja dan memahami perasaan diri sendiri. Untuk ini beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:

  1. Perlu mengetahui pengalaman mereka di masa lalu (seperti perkembangannya, penerimaan dirinya, perlakuan masa kecil yang dia alami, kepuasan dirinya, dan lain-lain).
  2. Perlu mengetahui dorongan-dorongan (motif) yang menyebabkan mereka berbuat sesuatu (misalnya kebutuhan untuk disayangi, ingin meniru, ingin diperhatikan, ingin disayangi dan lain-lain).
  3. Bersikap jujur dan terbuka kepada mereka dan jangan pura-pura.
  4. Hidup bersama mereka dan bukan hidup untuk mereka.
  5. Memberi kesempatan kepada mereka untuk mengemukakan pendapat secara bebas, penuh pengertian, dan perhatian dalam suatu komunikasi dialogis.

Berdasarkan hasil penelitian, anak-anak dan remaja bermasalah (terlibat perkelahian/tawuran, pergaulan bebas, perkosaan, narkoba, miras, dll.) pada umumnya adalah anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang tidak menerapkan pola pembinaan yang kondusif. Keluarga broken home dan sering mengalami percekcokan/pertengkaran menyebabkan anak-anak tidak betah di rumah, menjadi anak liar dan mencari kompensasi kasih sayang di luar rumah. Anak-anak seperti itu akan cenderung sangat mudah dipengaruhi untuk berbuat hal negatif . Mereka akan mudah dimanfaatkan sebagai pion-pion pelaku tindakan anarkis, sabotase, kerusuhan dan pemberontakan.

Anak-anak dan remaja yang dimanja dan terlalu dikekang akan tumbuh menjadi generasi yang kurang percaya diri, cengeng, dan tidak survive dalam menghadapi masalah, lambat untuk dewasa, mudah dibujuk dan ditipu serta kurang dapat menghargai orang lain dan kurang memiliki kepedulian sosial.

Anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga yang terlalu bebas, akan tumbuh menjadi generasi yang kurang bertanggung jawab, permisif, liar, semau gue, masa bodoh dan tidak memiliki tatakrama/sopan santun.

Generasi (muda) dengan perilaku negatif seperti itu sekarang makin tumbuh berkembang. Generasi yang bukan saja tidak/kurang memiliki kepedulian sosial melainkan kepedulian terhadap masa depan dirinya sendiri, generasi jalan pintas yang ingin memperoleh sesuatu tanpa kerja keras, generasi peminta-minta. Generasi seperti itu diyakini sangat minim mendapatkan sentuhan kasih sayang dan perhatian ibu serta tidak mendapatkan bimbingan dan pengasuhan keluarga yang memadai. –drs, dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *