Membayangkan Kota Tanpa Listrik PLN

Ini adalah ide gila sekaligus membelalakkan mata. Namun bila dirunut satu persatu, ide ini sangat mungkin terjadi. Yaitu bagaimana membangun listrik tanpa harus membeli setrum pada perusahaan listrik negara macam PLN.

Kompleks SolarCity yang sepenuhnya menggunakan listrik tenaga matahari. Tak ada lagi sambungan listrik dari perusahaan listrik. (gigaom.com)

Surabayastory.com – Energi masa depan yang ramah dan tidak membebani bumi terus digali dan dikembangkan. Salah satu yang terus mengembangkannya adalah Elon Musk, sosok kontroversial jenius yang dipercaya sebagai teknolog-visioner pasca Steve Jobs.

Salah satu gagasannya adalah bagaimana membangun listrik tanpa harus membeli setrum pada perusahaan listrik negara macam PLN. Yang dikembangkan adalah bagaimana memproduksi sendiri daya listrik itu tanpa sambungan kabel distribusi. Daya yang dikembangkan pun diambil dari alam, yaitu matahari. Indonesia sangat diuntungkan dengan teknologi ini karena sinar matahari berlimpah sepanjang tahun.

Panel atap rumah untuk menghasilkan energi listrik (electrek.com)

Story (cerita) ini bermula dari tahun 2016, Tesla Motor telah membeli SolarCity. Perusahaan ini bergerak di bidang penyediaan dan pemasangan solar panel yang didirikan oleh dua sepupu Elon Musk, Lyndon dan Peter Rive. Elon Musk menyumbangkan konsep bisnis dan juga modal awal sebesar 10 juta dollar AS hasil penjualan saham Paypal pada tahun 2006.

Pada saat ini SolarCity adalah pemasok dan pemasang solar panel terbesar di Amerika Serikat dan telah menjadi perusahaan publik dengan nilai hampir 2 miliar dollar AS. Pada Juni 2016, Elon Musk melalui perusahaannya Tesla Motor, menawarkan rencana untuk mengakuisisi SolarCity senilai  2,5-3 miliar dollar AS untuk menciptakan integrasi horizontal energi terbarukan. Pada 1 Agustus 2016, SolarCity menerima tawaran Tesla Motor senilai 2,6 miliar dollar AS.

Di tengah melejitnya namanya sebagai pebisnis teknologi futuristik, Elon nyaris bangkrut untuk ketiga kalinya.  Hal ini disebabkan oleh berbagai kegagalan proyeknya. Misalnya saja beberapa kali roketnya meledak saat dilakukan ujicoba peluncuran, yang menyebabkan dia mengalami kerugian yang sangat besar.

Selain kegagalan peluncuran roketnya, masalah yang berpotensi menyeret Musk ke dalam kebangkrutan finansial adalah SolarCity. Ini merupakan perusahaan produsen solar panel dan suplier baterai mobil listrik Tesla.

Yang menjadi masalah, SolarCity memiliki utang 3 miliar dollar AS dan hampir bangkrut. Di tengah kondisi kritis, Musk memproses akuisisi dan merger antara SolarCity dan Tesla. Rencana merger ini menuai protes dari investor Tesla. Alasannya, SolarCity dianggap membebani masa depan keuangan Tesla.

“Musk pebisnis yang nekat. Tapi kali ini dia bisa meledakkan dirinya sendiri,” ujar Ross Gerber, CEO Gerber Kawasaki Wealth & Investment Management, seperti dilansir Bloomberg. Saat berbicara, Gerber baru saja menjual seluruh saham Tesla senilai 5 juta dollar AS, terpicu rencana merger Tesla dan SolarCity.

Catatan Bloomberg Billionaires Index, harta Musk lenyap 779 juta dollar AS dalam sehari pada Kamis (1/9/2016). Ada dua faktor yang menyebabkan harta orang terkaya ke-37 di Amerika Serikat (AS) ini anjlok. Pertama, harga saham Tesla yang terus anjlok dalam beberapa hari terakhir. Kedua, Musk dikabarkan mengalami kesulitan dana segar.  Rabu (31/8/2016), Musk menggadaikan saham Tesla dan SolarCity senilai 489 dollar AS sebagai jaminan atas utang pribadi. Musk juga diketahui tidak lagi menerima gaji sebesar 37,584 dollar AS dari Tesla.

Mulai Februari 2017, perusahaan yang sudah berdiri sejak Juli 2003 ini berganti nama dengan menghilangkan kata ‘Motors’ menjadi Tesla Inc. Perubahan nama sengaja dilakukan untuk menguatkan ambisi Tesla sebagai perusahaan yang tidak hanya mengembangkan dan menjual mobil listrik saja, tetapi juga memproduksi energi terbarukan yang ramah lingkungan.

Misi Tesla ini sesuai dengan rencana tahun lalu Elon Musk dalam sebuah tulisannya bertajuk “Master Plan, Part Deux” dalam situs blog Tesla. Dalam tulisannya itu, Musk ingin menciptakan atap rumah dengan teknologi panel surya, melebarkan bisnis mobil listrik ke segala segmen pasar, mengembangkan mobil otonom yang 10 kali lebih aman dari mobil manual, serta memungkinkan pemilik mobil menghasilkan pendapatan ketika mobil sedang tidak digunakan.

Tesla bisa jadi akan membangun mobil yang baterainya dapat diisi ulang oleh tenaga Matahari dengan membekalinya sebuah panel surya di bagian atap. Perusahaan ini telah membangun pabrik besar untuk memproduksi baterai jenis lithium ion yang juga akan dijual untuk sumber listrik di rumah.

SolarCity kemudian menawarkan sebuah produk baru pada sebuah sebuah perhelatan yang diadakan pada tanggal 28 Oktober 2016 di San Francisco. Produk itu sendiri merupakan sebuah atap yang diintegrasikan dengan panel tenaga surya.

Seperti yang tertera pada akun Twitter Elon Musk, atap tenaga surya ini akan mengintegrasikan baterai Powerwall 2.0—sebuah perangkat home battery bertenaga surya—dengan charger mobil Tesla. Selain itu juga, ini akan menjadi yang pertama kalinya mereka menampilkan Powerwall versi 2.0 yang pernah diumumkan oleh Musk di sebuah acara di Prancis pada awal tahun ini.

Pada umumnya, panel tenaga surya akan dipasang pada atap dengan menggunakan sistem pemasangan logam. Namun, SolarCity ini berencana untuk menjual atap yang sudah terintegrasi dengan serangkaian panel tenaga surya—bukan hanya sekadar panelnya saja. Musk mengatakan bahwa produk ini akan menarik para pemilik rumah yang berencana untuk membeli atap baru.

Walau merger antara SolarCity dengan Tesla ini kerap kali dipandang sebelah mata oleh para pemegang saham dan analis, namun Musk berulang kali menekankan betapa pentingnya merger ini dalam rancangan master plan buatannya. Ia mengungkapkan bahwa merger ini sangat berkontribusi terhadap visinya untuk menciptakan sebuah ekosistem mandiri yang sepenuhnya dimotori oleh tenaga surya dan memiliki tingkat emisi nol persen. Musk juga menambahkan bahwa merger tersebut akan mendobrak hambatan yang ditemui pada saat kedua perusahaan itu masih terpisah.

Kerjasama Tesla dan Panasonic

Bloomberg melaporkan bahwa Tesla tengah mendiskusikan rencana kemitraan dengan Panasonic untuk memproduksi panel tenaga surya di pabrik SolarCity yang baru di Buffalo, New York. Dalam postingan blognya, Tesla menjelaskan bahwa kerjasama ini berkaitan dengan produksi sel photovoltaic dan modul yang digunakan di sistem tenaga surya pada Powerwall dan alat penyimpanan energi keluaran Tesla, “Powerpack”. Kemitraan ini juga merupakan ekspansi terhadap operasi SolarCity di Buffalo. Diharapkan, rencana kerja sama ini dapat mempererat dan memperdalam hubungan antara kedua perusahaan tersebut.

Rencana kerjasama itu akhirnya terealisasi.  Reuters pada 27 Desember 2016 melaporkan bahwa Panasonic Corp. akan menggelontorkan dana lebih dari 30 miliar yen (setara Rp 3,4 triliun) pada fasilitas produksi Tesla Motors di Buffalo, New York, untuk memproduksi sel photovotaic (PV).

Mengenai hal ini, Howard Zemsky selaku kepala eksekutif Embire State Development menjelaskan, “Aspek finansial dan kemitraannya sangatlah kuat, kerja samanya sangat mendalam, dan prospeknya juga sangat cerah.” Ia juga menggarisbawahi bahwa keduanya adalah produsen tenaga listrik ramah lingkungan terbesar di dunia dan yang satu lagi merupakan pembuat sel tenaga surya terbesar di dunia. Jika keduanya digabungkan, maka mereka akan memiliki kapitalisasi pasar yang mencapai angka 60 miliar dollar AS.

Menurut laporan, sel dan modul photovoltaic tersebut akan digunakan pada panel tenaga surya dan juga atap tenaga surya yang rencananya akan segera diproduksi oleh Tesla. Proses produksi ditargetkan akan dimulai pada pertengahan tahun 2017 mendatang. Menurut Tesla, rencana ini akan memberikan kurang lebih 1400 lowongan pekerjaan baru di Buffalo, 500 di antaranya merupakan pekerjaan pabrik. Pabrik Buffalo yang akan beroperasi di bawah nama SolarCity ini memiliki kapasitas memproduksi 10 ribu panel tenaga surya setiap harinya. Meskipun begitu, masih belum ada informasi lagi mengenai tanggal pasti kapan proses produksi tersebut akan dimulai.

“Dengan pengalaman yang dimiliki oleh Panasonic, ditambah dengan dana jutaan dollar yang mereka miliki akan menjadi nilai plus bagi pabrik tersebut dan bagi Buffalo sendiri,” jelas Zemsky. Panasonic dan Tesla juga kabarnya tengah melakukan perbincangan untuk mengembangkan photovoltaic generasi terbaru pada pabriknya di Fremont, California.

Ini bukanlah yang pertama kalinya kedua perusahaan ini menjalin kerjasama. Panasonic sendiri selama bertahun-tahun telah menjadi rekan utama Tesla di bidang industri. Perusahaan asal Jepang ini bahkan turut membantu memproduksi baterai lithium-ion untuk mobil elektrik Tesla Model S dan model X di Gigafactory Nevada.

Tawaran ‘Gila’ untuk Australia

Elon Musk kembali melontarkan gagasan gila. Ia menawarkan suplai energi 100 megawatt kepada sebuah pemerintah daerah di Australia dalam waktu 100 hari saja. Ucapan CEO Tesla dan SpaceX itu merupakan solusi yang ia tawarkan kepada pemerintah daerah Australia Selatan yang kerap dilanda krisis listrik.

Pada 9 Maret 2017, Musk mencuit bahwa penyediaan energi 100 MW tenaga surya dalam waktu 100 hari itu tak tepat waktu, beayanya akan digratiskan.  “Tesla akan memasang sistem dan mengerjakannya dalam 100 hari sejak tanda tangan kontrak atau gratis. Apa itu cukup serius?” tulis Musk menjawab pertanyaan seseorang di Twitter.
Australia Selatan diketahui mengalami kekurangan pasokan energi listrik sehingga beberapa kali terjadi pemadaman. Tesla berencana memanfaatkan sinar matahari yang ‘dipanen’ melalui panel surya dan disimpan ke dalam PowerPack, baterai raksasa penyimpan energi buatan Tesla.

Untuk memperoleh sinar matahari dalam jumlah besar, Tesla akan membutuhkan wilayah yang cukup luas untuk membuat ‘ladang’ sinar matahari. Proyek ini mirip dengan yang baru mereka umumkan di Hawaii beberapa hari lalu.

Penawaran Musk ini langsung direspon oleh pemerintah Australia. Musk mengaku ada ketertarikan serius dari pemerintah pusat maupun Australia Selatan terhadap proposalnya. “Terima kasih @elonmusk atas diskusi yang mendalam hari ini mengenai penyimpanan energi dan perannya untuk listrik yang murah dan bisa diandalkan,” ucap Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull di akun twitter miliknya.

Pada proposal ini, Musk memasang tarif 250 dollar AS untuk setiap kilowatt per jam dalam paket 100 megawatt. Total biaya yang diperlukan berarti sekitar 250 juta dollar AS atau Rp3,3 triliun.
Musk sebelumnya memang menyebut bisnis energi terbarukan akan jadi salah satu sektor yang akan laris di masa depan. “Menurut saya bisnis ini akan sebesar bisnis mobil dalam jangka panjang.” –drs

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *