Menengok Kembali Borobudur Sebagai Keajaiban Dunia

Salah satu keajaiban dunia yang monumentak itu ada di Indonesia. Candi Borobudur memberi bukti masa lalu bangsa Nusantara yang beradab.

Surabayastory.com – Dengan luas bangunan 15.129 m2 (123 x 123 meter),  Borobudur merupakan salah satu monumen Buddha terbesar di dunia. Candi Budha yang  dibangun pada abad ke 8-9 ini, jauh lebih tua umurnya daripada Angkor Wat di Kamboja. Candi didesain memiliki 10 teras berundak, 1.460 relief dan 504 stupa yang disusun sesuai filsafat mazhab Mahayana.

Candi ini didirikan oleh raja dari Dinasti Syailendra untuk menghormati kejayaan Buddha dan pendirnya, raja sejati Bodhisattva. Nama Borobudur dipercaya diambil dari bahasa Sansekerta vihara Buddha uhr, yang berarti biara Buddha di atas bukit. Candi ini berlokasi di daerah Muntilan Magelang, sekitar 42 kilometer dari kota Yogyakarta.

Peninggalan sejarah ini dibangun antara  tahun 750 sampai 842:. Ini berarti  300 tahun sebelum Angkor Wat Kamboja, dan 400 tahun sebelum katedral-katedral besar Eropa berdiri. Sedikit yang diketahui tentang sejarah  awal kecuali, para pekerja yang membangun  Borobudur harus mengukir batu dengan volume sebesar 60,000 m.

Candi Borobudur memiliki struktur dasar punden berundak, dengan enam pelataran berbentuk bujur sangkar, tiga pelataran berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa utama sebagai puncaknya. Selain itu tersebar di semua pelatarannya beberapa stupa.

Sepuluh pelataran yang dimiliki Borobudur menggambarkan secara jelas filsafat mazhab Mahayana. Dalam kerangka filsafat ini, Borobudur menggambarkan sepuluh tingkatan Bodhisattva  yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha.

Bagian kaki Borobudur melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai oleh kama atau “nafsu rendah”. Bagian ini sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi. Pada bagian yang tertutup struktur tambahan ini terdapat 120 panel cerita Kammawibhangga. Sebagian kecil struktur tambahan itu disisihkan sehingga orang masih dapat melihat relief pada bagian ini.

Candi Borobudur tampak atas (wikipedia)

Silsilah Kehidupan

Empat lantai dengan dinding berelief di atasnya oleh para ahli dinamakan Rupadhatu. Lantainya berbentuk persegi. Rupadhatu adalah dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Tingkatan ini melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas. Pada bagian Rupadhatu ini patung-patung Buddha terdapat pada ceruk-ceruk dinding di atas ballustrade atau selasar.

Mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Tingkatan ini dinamakan Arupadhatu (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud). Denah lantai berbentuk lingkaran. Tingkatan ini melambangkan alam atas, di mana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana. Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa yang  berlubang-lubang seperti dalam kurungan. Dari luar patung-patung itu masih tampak samar-samar.

Tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi. Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang.

Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain. Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Di lorong-lorong inilah umat Buddha diperkirakan melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur bertingkat-tingkat ini diduga merupakan perkembangan dari bentuk punden berundak, yang merupakan bentuk arsitektur asli dari masa prasejarah Indonesia.

Pada permulaan abad ke-11 karena situasi politik di Jawa Tengah, monumen-monumen suci di kawasan itu, termasuk Borobudur, menjadi terbengkalai dan terancam mengalami pemb usukan. Cagar sejarah ini juga terancam terpapar letusan gunung berapi dan keganasan alam. Candi ini tidak tersentuh pemugaran hingga abad ke-19.

Pada tahun 1907, pada zaman Pemerintahan Hindia Belanda,  Theodoor van Erp  memimpin  pemugaran hingga tahun 1911. Pemugaran terakhir dilakukan pada tahun1973-1984. Pada 21 Januari 1985 terjadi serangan bom yang merusakkan beberapa stupa pada Candi Borobudur yang kemudian segera diperbaiki kembali. Pada tahun 1991   Borobudur ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO.  –drs

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *