Prof Dr Ibeni Ilias SpKK (K): Penerus Cita-cita dr Soetomo

Di SMF Kulit dan Kelamin Universitas Airlangga Surabaya, namanya seakan tak tergantikan. Sosok Prof Ibeni Ilias sangat inspiratif dan menjadi teladan.

—————

Surabayastory.com – Dalam kehidupan keseharian, Prof Ilias sangat mengidolakan dr Soetomo. Setiap ada dokter muda yang datang ke beliau, Prof Ilias selalu bercerita tentang sosok dan cita-cita dr Soetomo yang luhur. Beliau juga sering bertanya ke mahasiswanya, di manakah letak makam dr Soetomo? Ternyata banyak mahasiswa yang tidak tahu. Lalu beliau menjelaskan jika dr Soetomo dimakamkan di Gedung Nasional Indonesia (GNI), Jl. Bubutan Surabaya. Selanjutnya, perjalanan hidup dr Soetomo kembali dikutip. Kalau beliau sedang bicara, semuanya mendengarkan dengan seksama. Prof Ilias punya gaya bertutur dan retorika yang memikat.

Kekagumannya pada dr Soetomo, juga diikuti dengan mengikuti jejaknya dengan menanamkan kepeduliannya pada penderita penyakit kusta. Pada penderita kusta yang sebelumnya diisolasi di bangsal paling belakang, kemudian sekitar tahun 1978, beliau membuat terobosan dengan membuat perawatan integrasi dalam rawat inap umum. Pada mulanya terjadi pro-kontra, namun secara perlahan gagasan ini bisa diterima, sehingga RS dr Soetomo kemudian menjadi percontohan dan menjadi tempat studi banding beberapa rumah sakit, termasuk yayasan kusta dari Belanda.

Jejak dr Soetomo

Jejak selanjutnya adalah mengadakan bakti sosial di desa Ngepeh, Nganjuk, daerah asal dr Soetomo. Di sini para kader PKK dilatih untuk mencegah dan merawat para penderita kusta. Hasilnya, penderita kusta di Jawa Timur termasuk paling rendah. Beliau selalu suka memperjuangkan kepentingan masyarakat kecil.

Setiap mahasiswa Prof Ilias pasti masih ingat kalau profesor yang satu ini terkenal sangat disiplin; tepat waktu, rapi, dan akurat. Beliau bisa marah besar kalau pekerjaan tidak rapi dan tidak tuntas.

Namun di balik itu, Prof Ilias adalah pribadi yang hangat. Beliau bisa memisahkan antara urusan pekerjaan dengan urusan di luar kampus. Di kampus sebagai atasan, dosen, serta kepala jurusan, sedangkan di luar menjelma menjadi teman, sahabat, sekaligus ‘bapak’ bagi para anak didiknya. Dengan style seperti ini membuat Prof Ilias mempunya banyak teman dari segala lapisan. Pergaulan internasional pun sangat luas.

Sisi lain yang juga melekat kuat, Prof Ilias mempunyai cita rasa seni yang tinggi. Dalam berbusana selalu tampak stylish dengan desain yang khas, meskipun menurut beliau dari bahan-bahan yang murah. Ketertarikan dalam dunia seni juga mencatatkan nama Prof Ilias sebagai salah satu kolektor lukisan yang disegani di Surabaya. Koleksinya beragam dari old maestro hingga pelukis kontemporer di zaman itu.

Prosesi pengukuhan Guru Besar Prof Ibeni Ilias. (tribute lecture)

Tokoh SMF Kulit dan Kelamin

Sejarah sebuah institusi atau lembaga sering kali tak bisa dipisahkan dengan kisah tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Begitu juga yang terjadi bila kita hendak menyusuri sejarah berdirinya Departemen/SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.

Dalam hal ini nama Prof dr. Moch. Ibeni Ilias, SpKK mengemuka untuk disebutkan. Beliau berperan besar dalam upaya pengembangan Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin serta berhasil membawa civitas akademika di dalamnya untuk ikut mengenyam kemajuan ilmu pengetahuan kedokteran dalam tataran internasional.

Ada banyak tokoh yang berperan dalam kemajuan ilmu kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Apalagi sejarah menujukkan bahwa perkembangan dunia kedokteran juga tak lepas dari sejarah bangsa ini. Mulai dirintis di masa kolonial, kemudian melintasi zaman pendudukan Jepang, dan akhirnya masuk ke zaman kemerdekaan. Tumbuh dan berkembang sejalan dengan semangat keilmuan dari para  pengasuhnya. Tokoh yang berjasa di bidang Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin sebelum Prof dr. Moch. Ibeni Ilias, SpKK adalah Soetomo (dosen pribumi pertama di bidang Dermato-Venereology) dan Prof. dr. K. Loedin (Kepala Bagian Pertama di bidang Dermato-Venereology).

Dari diplomasi, revolusi, kemerdekaan dan pembangunan. Masing-masing tokoh punya peran yang ikut serta membawa kemajuan. Ibaratnya, dulu mengangkat senjata, kini pengembangan ilmu pengetahuan kedokteran, khususnya Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin yang harus terus dikembangkan untuk mencapai masyarakat dan bangsa Indonesia yang sejahtera.

Menghormati dan mengenang apa yang telah dicapai Prof dr. Moch. Ibeni Ilias, SpKK, sambil menengok kembali kilas balik sejarah untuk kemudian menyongsong masa depan yang lebih baik.

Dalam perjalananannya sebagai pendidik, ada 14 orang murid Prof Dr Ibeni Ilias yang menjadi profesor, di antaranya adalah: Prof Winsy Warrouw (Manado), Prof Jusuf Barakbah (Surabaya), Prof Hari Sukanto (Surabaya), Prof Sunarko Martodihardjo (Surabaya), Prof Indropo Agusni (Surabaya), Prof Saut Sahat Pohan (Surabaya), Prof Harijono KS (Solo), Prof Swastika (Denpasar), Prof Dali Amirudin (Makassar), Prof Soeroso Alinugroho (Palembang), Prof M. Cholis (Malang), Prof Harry Pandeleke (Manado), Prof Levy Suling (Manado), dan Prof Bambang Hariyanto (Jember).

Prof Ibeni Ilias SpKK (K) memang telah tiada. Beliau telah mendahului kita menghadap yang Maha Kuasa. Namun cita-cita dan semangatnya tetap menyala, terpatri kuat di setiap insan di SMF Kulit dan Kelamin Universitas Airlangga Surabaya. –tribute lecture

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *