Kahlil Gibran: Cinta & Bahagia (2)

Apakah cinta, penderitaan, dan kebahagiaan adalah satu untai dalam kehidupan manusia? Kita baca perlahan, kita resapi, dan nikmati kata-kata sastrawi Kahlil Gibran ini

 

 

  

Penderitaan dan Kebahagiaan

 

Kami adalah keturunan Penderitaan, dan kalian adalah

Keturunan Kebahagiaan. Kami adalah putra-putra Penderitaan,

Dan Penderitaan adalah bayang-bayang Tuhan yang

Tinggal tidak dalam wilayah jantung iblis.

 

Kami adalah spirit-spirit yang menderita, dan Penderitaan

Terlalu besar untuk berada dalam hati sempit.

Ketika kalian tertawa, kami menangis dan meratap; dan dia

Yang dibakar dan disucikan sekaligus dengan

Air matanya akan tetap murni selamanya.

 

Kalian tidak memahami kami, namun kami menawarkan

Simpati kami untuk kalian. Kalian bergegas-gegas dengan

Arus Sungai Kehidupan, dan kalian

Tidak melihat pada kami; namun kami duduk di dekat

Pantai, mengawasi kalian dan mendengar

Suara-suara asing kalian.

 

Kalian tak memahami tangisan kami, karena

Hingar bingar hari menyibukkan telinga kalian.

Menutupi dengan substansi padat

Ketidaktahuan kalian yang menahun pada kebenaran;

Namun kami mendengar

Lagu-lagu kalian, karena bisikan malam

Telah membuka lubuk hati kami. Kami melihat jalian

Berdiri di bawah telunjuk cahaya yang menuding,

Namun kalian tak bisa melihat kami, karena kami berlambat-lambat

Dalam kegelapan yang menerangi.

 

Kami adalah anak-anak Penderitaan; kami adalah penyair

Dan nabi dan pemusik. Kami menenun

Pakaian untuk para dewi dari helaian

Hati kami, dan kami mengisi tangan Bidadari

Dengan benih dari dalam diri kami.

 

Kalian adalah anak-anak pengejaran kesenangan duniawi.

Kalian menempatkan hati kalian dalam tangan

Kehampaan, karena sentuhan tangan

Kekosongan adalah lembut dan mengundang.

 

Kalian bertempat dalam kediaman Ketidaktahuan, karena

Dalam tumah ini tak ada cermin untuk

Memandangi jiwamu.

Kami mendesah, dan dari desahan kami muncul

Bisikan bunga-bunga dan desiran daun-daun dan

Gemericik anak sungai.

 

Saat kalian mengolok kami, olokan kalian bercampur

Dengan retakan tengkorak dan

Gemerincing belenggu dan ratapan

Jurang dalam laut. Ketika kami menangis, air mata kami jatuh ke dalam

Hati Kehidupan, waktu butiran embun jatuh dari

Kedua mata Malam ke dalam hati Fajar; dan

Ketika kalian tertawa, tawa mengejek kalian tertumpah

Bagaikan bisa upar menjadi sebuah luka.

 

Kami menangis, dan bersimpati pada pengelana yang

Menyedihkan dan janda yang merana; namun kalian bergembira

Dan tersenyum pada kilauan emas yang gemerlap.

 

Kami menangis karena kami mendengarkan pada keluhan

Si miskin dan berduka untuk si lemah yang tertekan;

Namun kalian tertawa karena tidak mendengar apapun selain

Suara bahagia dari piala-piala anggur.

 

Kami menangis karena spirit kami pada saat ini

Dipisahkan dari Tuhan; namun kalian tertawa karena

Tubuh kalian melekat dengan remah tanah yang tak risau.

 

Kami adalah anak-anak Penderitaan, dan kalian adalah

Anak-anak Kebahagiaan . . . . Ijinkan kami mengukur hasil

Penderitaan kami bertentangan dengan perilaku kegembiraan kalian

Di depan wajah surya . . . .

 

Kalian telah mendirikan Piramida di atas jantung

Para budak, namun sekarnag Piramida itu berdiri di atas

Pasir, mengenang Masa Keabadian kami dan

Lenyapnya kalian.

 

Kalian telah membangun Babilonia pada tulang belulang

Yang lemah, dan mendirikan istana-istana Nineveh di atas

Kuburan mereka yang merana. Sekarang Babilonia tidak lain adalah

Jejak kaki unta di atas pasir bergerak di gurun, dan

Sejarahnya berulang pada setiap negeri yang memberkahi

Kami dan mengutuk kalian.

 

Kami telah mendambakan Ishtar dari pualam yang keras,

Dan membuatnya bergetar dalam kekerasannya dan

Berbicara melalui kesunyiannya.

 

Kami telah menggubah dan memainkan

Lagu tenang Nahawand pada senar, dan menyebabkan

Spirit Terkasih datang melayang dalam

Cakrawala di dekat kami; kami telah memuja

Yang Maha Kuasa dengan kata-kata dan perbuatan; kata-kata

Yang menjadi kata-kata Illahi, dan perbuatan

Yang menjadi berlimpahan cinta bidadari.

 

Kalian mengikuti Kesenangan, yang memiliki cakar tajam

Yang telah mencabik ribuan martir di arena

Romawi dan Antioch . . . . Namun kami mengikuti

Keheningan, yang memiliki jemari teliti yang telah memintal

Illiad dan Kitab Ayub dan Ratapan Jeremiah.

 

Kau berbaring dengan Nafsu, yang menyimpan badai

Yang telah menyapu ribuan prosesi jiwa perempuan

Menjauh dan jatuh ke dalah lembah memalukan dan

Kengerian . . . . Namun kami memeluk Kesendirian, yang

Mempunyai bayangan keindahan Hamlet dan Dante.

 

Kau membumbui sesuai kesenangan Keserakahan, dan mempertajam

Pisau Keserakahan yang telah mencucurkan seribu sungai darah . . . .

Namun kami mencari kawan Kebenaran, dan

Tangan Kebenaran yang telah membawakan

Pengetahuan dari Hati yang Besar dari Lingkaran Cahaya.

 

Kami adalah keturunan Penderitaan, dan kalian adalah

Keturunan Kebahagiaan; dan di antara derita kami dan

Kebahagiaan kalian ada selajur jalan kasar dan sempit yang

Tidak bisa dilewati oleh kuda spiritual kalian, dan yang

Tak dapat dilalui oleh kereta kalian yang megah.

 

Kami mengasihani kekerdilan kalian seperti kalian membenci

Kebesaran kami; dan di antara belas kasih kami dan kebencian

Kalian, Waktu terhenti kebingungan. Kami datang pada

Kalian sebagai sahabat, namun kalian menyerang kami seperti musuh;

Dan di antara persahabayan kami dan permusuhan kalian,

Ada jurang dalam yang mengalirkan air mata dan darah.

 

Kami membangun istana-istana untuk kalian, dan kalian menggali

Kuburan untuk kami; dan di antara keindahan istana dan

Kegelapan kuburan, Kemanusiaan

Berjalan seperti seorang prajurit dengan senjata besi.

 

Kami menaburi jalan kalian dengan mawar, dan kalian menutuoi

Ranjang kami dengan onak duri; dan di antara mawar dan

Duri, Kebenaran tertidur tertegun-tegun.

 

Sejak permulaan dunia kalian telah

Bertempur melawan kekuatan lembut kami dengan

Kelemahan kalian yang kasar; dan ketika kalian memenangi

Kami selama satu jam, kalian berkoar-koar dan ribut bergembira

Seperti katak di air. Dan ketika kami

Menaklukkan kalian dan menundukkan kalian selama satu Abad,

Kami tetap tenang laksana Raksasa.

 

Kalian menyalib Yesus dan berdiri di bawahNya

Menghina dan mengejekNya; namun akhirnya

Dia turun dan mengatasi berbagai generasi,

Dan berjalan di tengah kalian bagaikan pahlawan, mengisi

Semesta dengan kemulianNya dan keindahanNya.

Kalian meracuni Sokrates dan melempari Paul dan

Menghancurkan Ali Talib dan membunuh Madhat Pasha,

Namun mereka yang kekal selalu bersama kami

Di depan wajah Keabadian.

 

Namun kalian tinggal dalam kenangan manusia seperti

Jasad pada wajah bumi; dan kalian

Tak dapat menemukan seorang kawan yang akan menguburkan kalian

Dalam kegelapan kematian dan yang terlupakan,

Yang kalian cari di muka bumi.

 

Kami adalah anak-anak Penderitaan, dan derita adalah

Awan yang kaya, menyirami banyak orang dengan

Pengetahuan dan Kebenaran. Kalian adalah anak-anak

Kebahagiaan, dan setinggi apapun kebahagiaan yang bisa kalian raih,

Oleh Hukum Tuhan itu akan dihancurkan

Di depan angin surga dan dihamburkan

Ke dalam kehampaan, karena itu bukan apapun selain

Tonggak asap yang kurus dan bergerak ragu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *