Simalakama yang Berbahaya di Jalanan Surabaya

Sebuah kebiasaan kecil ini bisa berbahaya. Kelihatannya sepele, tetapi bisa berujung petaka.

 

Sang ibu sedang menantang bahaya di Jalan Manyar dengan menyeberang dengan melawan arus. (sa)

 

Surabayastory.com – Namanya simalakama. Dilakukan berbahaya, tidak dilakukan terpaksa harus dilakukan. Sebuah situasi yang tak mengenakkan tetapi tetap harus dilakukan. Situasi seperti ini juga kerap tampak di pemandangan jalanan kota Surabaya. Tampaknya sederhana, namun bisa berakibat fatal. Di jalanan, semua bisa saja terjadi. Berjalan di jalur yang benar saja bisa saja tertabrak, apalagi yang melanggar dan melawan arus lalu lintas?

Dalam gambar di atas kita bisa melihat seorang ibu yang memboncengkan anaknya. Kelihatannya sedang menjemput dari sekolah. Sebagai tindakan ibu yang menjemput anaknya adalah tindakan mulia. Namun bila membawanya dengan melawan arus lalu lintas, itu bisa menjadikan masalah.

Kejadian ini disaksikan di Jl Manyar Surabaya. Kejadian seperti ini gampang ditemui di sekujur badan jalan Kota Surabaya. Alasannya beragam. Mulai dari jaraknya yang dekat, kepraktisan, atau tak ada alat transportasi lain. Dengan alasan lebih mudah atau lebih dekat, jalur yang salah pun tak masalah untuk ditempuh. Potong jalur adalah jalan yang paling mudah, namun paling berbahaya.

Alat transportasi dari dan ke sekolah di Surabaya memang belum mendapatkan jawaban yang sempurna. Bis sekolah yang di sediakan lebih banyak dimanfaatkan oleh pelajar SMA. Itu pun dengan tujuan utama pusat kota, Jl Wijaya Kusuma. Sementara untuk wilayah lain, atau angkutan untuk anak sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah (SMP) belum tersentuh.

Di jalanan Surabaya kasus seperti ini banyak terjadi. Dan tidak ada langkah konkret untuk menyelesaikan masalah warga ini.

Untuk kasus di Jl Manyar ini, perjalanan bisa dilakukan dengan mengikuti arus lalu lintas. Namun tentu saja harus memutar. Dengan jalan memutar, mengikuti arus lalu lintas ebenarnya bisa menjadi pembelajaran bagi sang anak yang dibonceng. Apa mau dikata, dengan memutar jarak yang ditempuh sangat jauh. Apalagi ini dilakukan dengan sepeda angin, di siang hari yang panas. Alternatif lain bila memakai kendaran bermotor juga belum tentu tersedia. Sebuah simalakama. Bahaya, tapi mau tidak mau harus tetap dilakukan. –sa

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *