Kabar Kabur Underpass Jalan Ahmad Yani Surabaya

Setelah digadang-gadang bisa segera direalisasikan tahun 2017, rencana underpass Jalan Ahmad Yani kini menjadi kabur kembali.

 

Gambar rencana dalam tiga dimensi proyek underpass Ahmad Yani Surabaya. (BBPJN VIII)

 

Surabayastory.com – Apa kabar rencana underpass Jalan Ahmad Yani Surabaya? Ini pertanyaan yang ada di kepala ketika melintasi ujung Jl Ahmad Yani menuju ke arah Waru, Sidoarjo. Pertanyaan macam ini pasti juga diingat oleh para pengguna jalan lainnya.

Sedikit mengenal jalan Ahmad Yani, ini adalah jalan poros utama Surabaya menuju luar kota di arah selatannya. Jalan ini menghubungkan Surabaya dengan kota-kota lain seperti Sidoarjo, Mojokerto, dan Malang.

Bila mengarah ke utara, dari Jl Ahmad Yani akan menuju pusat kota Surabaya. Bila diurut, setelah Jl Ahmad Yani akan masuk ke Jl Raya Darmo, bersambung ke Jl Panglima Sudirman, Jl Basuki Rahmat, dan berbelok ke Jl Embong Malang yang bersebelahan dengan Jl Tunjungan. Wilayah ini termasuk segitiga emas Surabaya.

Melihat kondisi ini terlihat betapa vitalnya Jl Ahmad Yani. Sejak bunderan Waru, intensitas kendaraan setiap hari selalu padat. Kemacetan pun tak terhindarkan setiap pagi hari, ketika jam masuk kerja, atau saat jam pulang kerja di sore hari. Selain jumlah kendaraan yang tinggi, berbagai jenis kendaraan pun bercampur di sini. Inilah yang terjadi hingga saat ini.

Sebagai jawaban akan kemacetan ini, digagas usaha untuk mengurai simpul kemacetan yang ada di sekitar budaran Waru. Sebagai jawaban, direncanakan akan dibangun jalan bersilang ke bawah (underpass) Ahmad Yani.

 

Gambar situasi pergerakan lalu lintas dengan underpass Ahmad Yani. (BBPJN VIII)

 

Direncanakan Sejak 2016

Rencana ini sebenarnya sudah ada sejak lama. Sekitar tahun 2016 wacana ini sudah digulirkan dan dimatangkan. Rencana pelaksanaan itu dulu terdengar akan dilaksanakan pada 2017, namun rencana Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) membangun underpass di Jalan Ahmad Yani tinggal rencana. Kabarnya semakin kabur karena tak ada lagi pembahasan dan tak ada rencana secara terinci soal waktu.

Rencana pembangunan underpass pertama di Surabaya di Jl Ahmad Yani sebenarnya telah diusulkan dalam program Tahun Anggaran 2017. Namun tidak diketahui kelanjutannya. Underpass ini dimaksudkan untuk mengurai kepadatan arus lalu lintas (lalin) yang kerap terjadi di Bundaran Dolog akibat crossing kendaraan yang melaju dari arah Sidoarjo menuju Jalan Jemursari dapat segera terurai.

Dalam rancangan yang ada, underpass Ahmad Yani dibuat di jalur utama Jalan Ahmad Yani arah Sidoarjo. Alurnya mulai depan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) hingga sisi selatan putar balik depan Dolog. Panjangnya 860 meter dengan kedalaman 8 meter dan terdiri atas dua jalur. Pengerjaannya diperkirakan memakan waktu 30 bulan atau 2,5 tahun.

Awalnya, BBPJN VIII berencana membangun flyover sebagai upaya untuk mengurai kemacetan di Bundaran Dolog. Namun, dari hasil evaluasi dan menjadi pilihan Wali Kota Surabaya, underpass dinilai lebih tepat. Review design underpass telah dilaksanakan sebanyak dua kali. Awalnya, nilai proyek ini Rp 350 miliar. Tetaapi kemudian mampu diefisiensikan menjadi Rp 273 miliar.

 

Posisi underpass serta alur lalu lintas Jl Ahmad Yani Surabaya. (BBPJN VIII)

 

Underpass ini dibangun dua lajur yang letaknya di Jalan Ahmad Yani arah Surabaya menuju Sidoarjo, pada dua jalur paling kanan. Satu lajur diatas tetap digunakan untuk kendaraan yang mengarah ke Jalan Jemursari. Underpass dimulai di seberang kantor Dinas Kesehatan Jatim atau sebelum traffic light ke arah Jalan Jemursari keluar di depan ruko depan frontage road Jalan Ahmad Yani.

Pembangunan underpass Ahmad Yani ini harus mempertimbangkan adanya bidang yang dilalui rel kereta api. Tentu saja rel yang aktif ini pasti menimbulkan getaran ketika KA lewat. Selain itu, ada sungai yang melintas dari timur ke barat di sisi selatan persimpangan Jl Jemursari. Berarti underpass itu harus dibuat lebih dalam, di bawah sungai itu.

Beberapa rekayasa lalu lintas pernah dicoba namun belum juga mendapatkan hasil yang melegakan. Pernah diujicoba rekayasa lalu lintas dengan membuat kendaraan dari timur dilewatkan Jemur Ngawinan dan frontage road timur. Sementara kendaraan yang mau putar balik ke arah Surabaya bisa melewati traffic light (TL) di depan Tamansari Papilio. Sedangkan Jl Jemursari yang terdiri atas empat lajur, khusus kendaraan dari arah barat ke timur, dari jalur utama Jl Ahmad Yani.  Hasilnya, saat diuji coba kemacetan semakin parah. Kendaraan yang ingin putar balik melalui TL Tamansari Papilio antre hingga Jalan Jemur Ngawinan. Akibatnya, arus lalu lintas dari timur ke barat terhambat. Dan ujicoba ini kemudian dihentikan

Kembali ke rencana pembangunan, hingga saat ini, belum ada kabar jelas mengenai permulaan pelaksanaan pekerjaan ini. Yang jelas, kemacetan di sekitar bundaran Dolog belum juga teratasi. Dan rencana untuk bisa menanggulangi kemacetan kembali kabur. –sa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *