Jejak Gubernur Suryo Bukan Hanya Patung

Di manakah letak Gubernur Suryo berada? Gubernur Suryo dipandang hanya sebagai patung di seberang Grahadi, jatidiri dan karyanya tak pernah diungkap.

 

Patung Gubernur Suryo yang berdiri di depan Grahadi. Sayang jati diri dan perjuangannya tak banyak diceritakan pada generasi masa kini. (sa)

 

Surabayastory.com – Gubernur dan wakil gubernur Jawa Timur belum lama berganti. Mereka segera bekerja, mewujudkan rencana-rencana kerja yang telah dijanjikan. Gubernur demi gubernur terus berganti, namun masyarakat Jawa Timur sering terlupa, siapa sebenarnya yang membangun pondasi awal pemerintahan Jawa Timur? Siapa gubernur pertama di Jawa Timur?

Mungkin kita hanya mengetahui keberadaannya dengan sebuah patung yang berdiri di depan gedung Grahadi, Jl Pemuda Surabaya. Jati diri gubernur Jawa Timur sering dilupakan. Sekarang, marilah kita baca sejarah dan jejaknya. Setelah bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, Gubernur Jawa Timur yang pertama adalah Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo atau lebih dikenal dengan sebutan Gubernur Suryo. Masa bakti 1945-1948. Sebelumnya, di zaman Jepang, Pak Suryo adalah Residen Bojonegoro. Kemudian Pak Suryo adalah bupati Magetan (1938-1943). Gubernur Suryo memang asli Magetan, lahir 9 Juli 1898. Lulus OSVIA yang pernah jadi mantri polisi di zaman kolonial.

Menjelang akhir masa pendudukan Jepang, Pak Suryo terpilih menjadi salah seorang anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, dia diangkat menjadi Gubernur Jawa Timur. Sosok tegas dan pemberani. Situasi saat itu di Surabaya menuntutnya untuk bersikap. Tak lama setelah dilantik, Gubernur Soerjo dihadapkan dengan situasi yang mencekam setelah perang Surabaya yang berlangsung beberapa hari di akhir Oktober 1945. Situasi genting ketika pemimpin Inggris Jenderal Mallaby terbunuh di daerah Jembatan Merah, 31 Oktober 1945.

Terbunuhnya sang pemimpin membuat tentara Inggris murka. Kemudian Inggris mengirimkan Mayor Jenderal EC Mansergh sebagai pengganti Mallaby. Dengan waktu singkat ia mengeluarkan ultimatum kepada bangsa Indonesia di Surabaya agar rakyat Surabaya menyerahkan senjata sampai batas waktu yang ditentukan, 10 November 1945. Jika tuntutan itu tidak dipenuhi, tentara Inggris mengancam akan membumihanguskan Surabaya.

Gubernur Suryo bergelora jiwanya, namun tetap berusaha tenang. Menghadapi situasi seperti itu, Pak Suryo kemudian mengadakan rapat dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Dan keputusan pun diambil, sehari sebelum batas waktu yang ditentukan, 9 November 1945, malam hari pukul 23.00 WIB, Gubernur Suryo justru berpidato menggugah semangat arek-arek Surabaya melalui siaran radio. Dengan tegas Gubernur Suryo menolak ultimatum sekutu untuk menyerahkan diri dan senjata.

Semangat yang tiupkan malam hari itu kemudian menjadi bahan bakar arek-arek Suroboyo untuk bertempur hidup mati melawan sekutu esok harinya, 10 November 1945. “Berulang-ulang telah kita katakan, bahwa sikap kita ialah lebih baik hancur daripada dijajah kembali. Juga sekarang dalam menghadapi ultimatum pihak Inggris, kita akan memegang teguh sikap ini. Kita tetap menolak ultimatum,” pekik Gubernur Suryo dengan berkobar.

Keesokan harinya pecahlah pertempuran 10 November 1945. Pidato semalam kemudian digelorakan lagi oleh Bung Tomo. Arek-arek Suroboyo berperang dengan tanpa takut. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung. Sekali berjuang sampai tuntas. Sekutu pun meminta rakyat Surabaya menghentikan peperangan.

 

Dari Gubernur Jadi DPA

Gubernur Suryo sosok pemberani, yang pantang untuk menyerah pada penjajahan. (sa)

 

Era kemerdekaan kemudian berjalan. Gubernur Suryo mulai menata Jawa Timur, secara administratif maupun pembangunan. Tahun 1947, Gubernur Suryo mendapat tugas baru, menjadi Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) berkedudukan di Jogjakarta. Kala itu ibukota Indonesia ada di Jogjakarta. Tak lama kemudian Pak Suryo menjadi ketua dewan tersebut karena sang ketua, Ahmad Wiranatakusumah, menderita sakit.

Sementara posisi Gubernur Jawa Timur kemudian dijabat Dr Moerdjani, sebuah nama yang juga tidak banyak terungkap di permukaan dan benak masyarakat Jawa Timur.

Dan waktu terus berjalan, bergerak bergegas mengikuti progres bangsa Indonesia yang masih dalam masa euforia merdeka. Hingga terjadi sebuah kejadian yang mengagetkan. Adik Pak Suryo, RM Sarjuno meninggal dunia. Dan ketika akan peringatan 40 harinya, Pak Suryo berniat menghadiri. Tetapi naas, saat melintas Desa Bago, Kedunggalar, Ngawi, dia berpapasan dengan gerombolan sisa-sisa PKI. Pak Suryo bersama Kombes Pol M Doerjat dan Kompol Soeroko ditangkap, dibawa ke Hutan Sonde, dan kemudian dibunuh. Jenazah ketiganya baru ditemukan empat hari kemudian, dan dimakamkan di Sasono Mulyo, Sawahan, Kabupaten Magetan.

Gubernur Suryo kemudian diberi penghargaan sebagai Pahlawan Nasional Pembela Kemerdekaan, dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 294 tanggal 17 Nopember 1964. Gubernur Suryo akan terus dikenang. –sa

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *