Anneke Gronloh dan Surabaya yang Selalu Dipikirkannya

“Surabaya, Surabaya, mijn gedachten zijn altijd bij jou”

(Surabaya, Surabaya, pikiranku selalu bersamamu)

 

Cover album Anneke Gronloh dengan lagu Soerabaja. (Philips recording)

 

Surabayastory.com – Kerinduan yang sangat tak hanya bisa menitikkan air mata. Dalam dada yang pengap dibekap rindu, romatika yang membekas kuat akan menyublim menjadi karya. Cinta dan keindahan yang membekas kuat itu telah menghadirkan karya legendaris meski sudah terpisah jarak dan waktu.

Kecintaan akan sebuah tempat atau kota kemudian menitiskan karya sepanjang masa. Adalah Anneke Gronloh, yang menyimpan kenangan dan kecintaan itu. Anneke disebut-sebut sebagai penyanyi Belanda kelahiran Indonesia, meski ia lahir, tumbuh dewasa di Indonesia.

Johanna Louise Grönloh atau dikenal dengan Anneke Gronloh lahir di Tondano, di Sulawesi Utara, 7 Juni 1942. Anneke menikmati masa kanak-kanaknya hingga remaja di tanah kelahirannya. Menyanyi sudah menjadi bagian dari hidupnya sejak kecil.

Setelah perang, ketika usia menjelang 17 tahun, Anneke dan keluarga migrasi ke Belanda. Anneke dibesarkan di Eindhoven. Anneke mulai belajar bidang antropologi dan kemudian pindah ke jurusan hukum. Namun kecintaannya pada seni suara membuatnya pindah jurusan ke jurusan seni. Di sini Anneke mendapatkan dunianya dan berkembang dengan pesat. Ia mulai tampil dengan band-band terkenal di Belanda. Tahun 1959, Anneke dinobatkan menjadi pemenang adu bakat menyanyi. Dan sejak itu pula ia mengawali karirnya sebagai penyanyi profesional.

 

Album Pertama

Momentum yang bagus itu kemudian dimanfaatkan dengan merilis album pertamanya. Lagu yang diandalkan adalah Brandend Zand, dirilis tahun 1962. Tak perlu menunggu lama, lagu ini langsung menduduki tangga lagu teratas lebih dari 30 minggu. Lagu ini adalah single terlaris sepanjang masa Belanda dengan terjual lebih dari 3,5 juta kopi. Dalam sekejap, Anneke pun menjadi terkenal di Belanda dan Eropa.

Berikutnya ia mengeluarkan empat lagu; Buka Pintu, Rambut Hitam Matanya Galak, O Ina Ni Keke, dan Tjerewerewe. Ia juga mewakili Belanda di Kontes Lagu Eurovision 1964 di Kopenhagen (Denmark) dengan lagu Jij bent mijn leven.

Bagaimana dengan Indonesia? Sebelumnya, penyanyi yang lahir di masa pendudukan Jepang itu digandrungi di tanah Indonesia, Singapura dan Brunei Darussalam. Anneke juga adalah penyanyi pertama yang mempopulerkan lagu pengantar tidur paling terkenal di Indonesia: Nina Bobo.

Nama Anneke semakin dikenal setelah dua hist berikutnya Paradiso dan Soerabaja. Dua lagu ini memuat lirik dan suasana Indonesia yang sangat kuat. Para pengamat meyakini hati Anneke masih bertaut dengan negeri kelahirannya. Sebuah lagu yang dinamai dari nama kota Indonesia, Surabaya, menyiratkan akan kenangan yang dalam akan kota Surabaya. Coba simak liriknya. Kita akan mendapatkan sebuah kerinduan yang terus mengusik benaknya. Melukiskan kerinduan akan kota Surabaya yang berlangit biru, indah, dan banyak hal-hal lain yang membuat terus memikirkan Kota Pahlawan ini.

Lagu Soerabaja yang dibawakan berbahasa Belanda terdengar sangat lirih dan menyentuh. Iramanya pop-keroncong yang lazim saat itu. Lagi Soerabaja sangat popular kala itu. Sangat populer di zaman tempo dulu.

 

Legenda Indonesia

Meski karir berkembang di Belanda, Anneke Gronloh juga dipandang sebagai salah satu legenda musik Indonesia. Dia lahir dan tumbuh di Indonesia. Lagu-lagu yang dibawakannya juga lekat dengan nama dan budaya Indonesia. Ia juga mengambil lagu-lagu rakyat Indonesia sebagai lagu utama seperti Bengawan Solo, Boeroeng Kaka Nina bobo, dan Cimeroni (kehidupan bisa indah). Di Eropa, sebagai performer Anneke dikenal sebagai penyanyi musik jazz. Ia tampil bersama dengan Dutch Swing College Band, dia merekam Doctor Jazz.

Selain sebagai penyanyi solo, Anneke Gronloh melanjutkan karirnya dalam repertoire. Namun untuk bentuk ini secara komersial kurang sukses. Tidak banyak hits yang dihasilkan. Setelah 1965, Anneke lebih banyak dikenal di luar Belanda. Dia mencetak top di Yugoslavia yang berjudul Wladimir dan Ximeroni dalam bahasa Serbia.

Setelah lama beredar di Eropa, tahun 1986 Anneke kembali ke Belanda. Kembali bersama Philips Recording Anneke kembali mendapat sambutan besar penikmat music di Belanda. Hits demi hits dihasilkan. Akhirnya, Anneke Gronloh terpilih sebagai Penyanyi Terbaik Abad ini di Belanda. Dia juga menjadi artis paling dicintai di abad ke-20. Anneke sebenarnya tak ingin berhenti menyanyi meski usia sudah senja. Hanya penyakit paru yang membuatnya harus berhenti. Ia menyepi di rumahnya di selatan Prancis.

Sepanjang kariernya selama 58 tahun Anneke Gronloh menjadi salah satu penyanyi favorit di banyak Negara. Anneke Gronloh meninggal di rumahnya, 14 September2018 pada umur 76 tahun. Ia terus menyimpan kenangannya akan Surabaya, Tondano, dan Indonesia yang tak juga sanggup ia tinggali dalam waktu yang lebih lama. –sa

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *