Sejarah dan Strategi Pendidikan di Surabaya ala Tjokroaminoto

Strategi pendidikan dalam lingkup rumah Tjokroaminoto dapat menjadi inspirasi keluarga masa kini. Pendidikan yang diterapkan oleh Tjokroaminoto kemudian mempengaruhi pemikiran dan aktivitas sang pembelajar.

 

Buku-buku koleksi HOS Tjokroaminoto yang mempunyai pengaruh besar bagi siapa saja yang pernah tinggal di rumahnya. (sa)

 

Surabayastory.com – Pendidikan dinilai menjadi dasar penting bagi kemajuan generasi sebuah bangsa. Pendidikan dapat berupa pendidikan formal, pendidikan non-formal atau pendidikan informal. Keluarga memiliki peran besar sebagai panggung awal pendidikan informal. Haji Oemar Said Tjokroaminoto (HOS Tjokroaminoto), punya strategi pendidikan berbeda untuk para siswa yang ada di rumahnya.

Strategi pendidikan Tjokroaminoto telah melahirkan orang-orang besar di negeri ini dengan berbagai pandangan dan ideologi yang berbeda. Bagaimana bentuknya? Mari kita telusuri jejaknya dan belajar menjelajahi sejarahnya. Dari belajar sejarah ini kita bisa mempelajari jejak baik maupun buruk yang terjadi di masa lalu. Pijakan masa lalu itu kita bisa belajar dan mengantisipasi masa depan.

Belajar mengenai pemikiran Tjokroaminoto tentang pendidikan, kita akan dibawa pada sebuah pemikiran sekaligus solusi alternatif dalam mengatasi permasalahan dalam pendidikan keluarga. Dari keluarga kemudian keluarga bias dikembangkan pendidikan informal yang mampu berkembang seiring zamannya. Pendidikan informal dari rumah akan membawa cara untuk mengendalikan tantangan-tantangan kehidupan, dan menjalani kehidupan yang berarti. Pendidikan informal yang dikembangkan Tjokroaminoto juga dipandang mampu  menumbuhkan sikap kritis dan berusahan mencari tahu lebih dalam tentang sesuatu permasalahan. Pendidikan menjadi sebuah dasar dalam membekali nilai-nilai kebaikan kepada seseorang sebelum berbaur dalam masyarakat.

Di sinilah Tjokroaminoto menekankan bahwa orang tua dan sekolah memiliki peran besar dalam melakukan penanaman nilai-nilai tersebut pada diri seorang anak. Penanaman nilai-nilai yang dilakukan diharapkan mampu menjadi pijakan awal bagi seseorang untuk membedakan hal baik dan buruk sebelum terjun dlam lingkungan sosial kemasyarakatan.

Dengan pendidikan informal, seorang anak diharapkan memeperolah nilai-nilai, sikap, keterampilan, dan pengetahuan kehidupan yang berbeda dengan lingkungan sekolah.

Belajar tentang pendidikan informal, belajar dari rumah HOS Tjokroaminoto pastilah sangat menarik. Di sini terlihat keluarga memiliki posisi dan peranan utama dalam pendidikan informal. Pendidikan di rumah Tjokroaminoto ini dapat dijadikan suatu model penyelenggaraan pendidikan informal yang baik. Potret pembelajaran itu semakin kuat ketika rumah ini juga dibuka sebagai tempat kos beberapa pemuda tahun 1912. Anak-anak kos yang rata-rata pelajar Hogere Burger School (HBS), Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), Middelbare Technise School (MTS) maupun Nederlands Indische Artsen School (NIAS), sekolah-sekolah milik pemerintah Hindia Belanda di Surabaya, semakin menghidupkan suasana belajar informal di sana.

Di tahun 1918, jumlah pelajar yang tinggal bersama Tjokroaminoto sekitar 18-20 orang. Mereka indekos di sana. Namun di balik itu, mereka (orang tua mereka) menginginkan belajar langsung dari tokoh kebangsaan sekelas Tjokroaminoto. Kualitas pendidikan yang diperoleh secara informal menarik minat banyak orang tua. Salah satu diantaranya adalah ayah Soekarno yang kemudian menitipkan Putera Sang Fajar di sini.

 

Strategi Pendidikan Tjokroaminoto

Para pelajar yang berada dalam rumah kos mendapatkan pendidikan mengenai kebangsaan dan pemahaman akan nilai-nilai moralitas. Prosesnya melalui diskusi-diskusi yang hampir setiap hari terjadi di rumah Tjokroaminoto. Diskusi bisa dilakukan di mana saja, di ruang tamu, di halaman belakang, atau di Panti Harsoyo di mana Tjokroaminoto berpidato tentang kebangsaan dan nasionalisme dan menggelar acara seni-budaya.

 

Di ruang bagian depan rumah Tjokroaminoto ini diskusi kebangsaan seringkali dilakukan. (sa)

 

Selain itu, Tjokroaminoto juga mengajarkan kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai aturan yang bersifat mendidik diterapkan dalam rumah kos. Bentuk pendidikan informal yang diterapkan oleh Tjokroaminoto serta strategi yang digunakan, dapat dijadikan contoh penyelenggaraan pendidikan keluarga.

Kedisiplinan yang diterapkan keluarga Tjokroaminoto membentuk kepribadian yang baik bagi anaknya maupun para pemuda penghuni kamar kos. Menurut Tjokroaminoto, disiplin adalah dasar yang kemudian menjadi tekad yang kuat, dan dengan tekad sebuah perjuangan akan mencapai hasil. Dari penanaman nilai kedisiplinan membuat banyak anak kos menjadi individu-individu yang kuat. Kedisiplinan dalam pendidikan pada dasarnya ingin ditanamkan oleh Tjokroaminoto.

Tjokroaminoto sendiri memberikan teladan moralitas ditanamkan lewat perbuatan. Tjokroaminoto bertindak bijaksana dalam setiap kesempatan.

Strategi pendidikan Tjokroaminoto adalah dengan menekankan pendidikan agama. Ini dilakukan untuk mengimbangi pendidikan Barat yang diperoleh saat itu yang rata-rata para anak bersekolah di sekolah-sekolah Belanda. Tjokroaminoto mengajarkan bahwa tiap-tiap orang Islam tidak boleh takut kepada siapapun atau kepada apapun, kecuali Tuhannya. Tjokroaminoto mengajarkan tentang pentingnya kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan. Dengan pendidikan agama diharapkan anak-anak yang belajar secara informal di sana kelak dapat memahami serta mengamalkan ajaran agama dan ajaran agama sebagai dasar dalam berkehidupan. Penanaman nilai-nilai keagamaan sudah diyakini oleh Tjokroaminoto sebagai strategi yang sangat penting selain ajaran-ajaran yang bersifat duniawi dan kemanusiaan. Pendidikan agama dipandang bisa membentuk sikap moral dan sifat jati diri seseorang.

Tjokroaminoto memang sangat kokoh di ranah kemanusiaan. Ia juga memperjuangkan persamaan derajat sebagai manusia. Diskriminasi yang banyak terjadi pada pribumi yang dilakukan orang-orang Belanda menjadi pelecut semangat kebangsaannya. Tjokroaminoto tidak setuju aturan aturan sembah-jongkok ketika seorang pribumi bertemu dengan orang Belanda.

Strategi pendidikan lainnya yang dilakukan Tjokroaminoto adalah dengan melakukan pendekatan kehidupan dengan seni-budaya. Dengan sentuhan seni-budaya Tjokroaminoto berusaha mendidik dan menanamkan cinta budaya kepada anak-anak di dalam rumahnya. Kesenian yang digunakan Tjokroaminoto sebagai media adalah seni tari dan gamelan. Seminggu sekali atau dua kali mereka berlatih tari-tarian wayang bertempat di Taman Seni Panti Harsoyo, tempat hiburan murah yang juga menyediakan buku-buku untuk dibaca, papan bermain catur, dan meja bilyar. Selain tari dan musik, juga diadakan pelatihan seni beladiri. Tjokroaminoto selalu mengidolakan sosok Hanoman Menurutnya, Hanoman adalah simbol perjuangan melawan penindasan.

 

Belajar Melalui Buku

Strategi berikut dari pendidikan Tjokroaminoto adalah membangun kecintaan pada buku. Buku-buku  banyak terserak di rumah Tjokroaminoto. Dengan gemar membaca bacaan bermutu, diyakini akan membentuk pola pemikiran dan pribadi-pribadi yang tangguh.

 

Beberapa koleksi buku Tjokroaminoto dengan berbagai topik yang luas. (sa)

 

Buku-buku yang tersedia berbagai topik; mulai dari nasionalisme, kebangsaan, profil tokoh-tokoh dunia, buku agama, buku kesehatan, kedokteran, seni-budaya, hingga bacaan ringan.

Dengan berbagai strategi pendidikan informal Tjokroaminoto tersebut telah membangun kesadaran kebangsaan. Beberapa tokoh-tokoh berpengaruh pada masa pergerakan maupun pada masa kemerdekaan lahir dari pendidikan dalam keluarga ini. Nilai-nilai sosial ditanamkan oleh Tjokroaminoto melalui kesadaran kebangsaan yang dibangun oleh Tjokroaminoto telah berhasil memberi warna kuat dalam perjuangan bangsa Indonesia. –sa

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *