Surat-surat cinta Kahlil Gibran pada May Ziadah berpuluh jumlahnya. Dari tahun ketahun, surat-surat itu berkembang indah, dan menarik untuk dinikmati hingga akhir zaman.

 

 

Surabayastory.com – Ini adalah salah satu surat cinta Kahlil Gibran yang juga sempat diterbitkan. Sangat menarik sebagai surat yang kaya dengan prosa yang kuat dan penuh dengan keindahan. Fragmen ini adalah surat cinta Kahlil Gibran pada May Ziadah yang ditulis tahun 1928. Karya ini diambil dari Buku Potret Diri Kahlil Gibran yang disusun dan diterjemahkan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Inggris oleh Anthony R.Ferris. Mari kita nikmati.

*****

 

May sayang,

Aku berhutang untuk segala yang kusebut “Aku” terhadap wanita, sejak aku kecil. Wanitalah yang membuka jendela mataku dan pintu-pintu jiwaku. Kalau saja bukan karena Ibu, saudara perempuan dan teman wanita, tentulah aku masih tidur lelap bersama orang-orang yang mencari ketenangan  dunia dalam dengkur mereka.

. . . Aku telah menemukan kesenangan dalam sakit. Kesenangan ini dengan segala pengaruhnya, berbeda dari segala kesenangan yang lain. Aku telah menemukan semacam ketentraman yang membuat aku mencintai sakitku. Orang sakit itu selamat dari persaingan manusia, tuntutan, kencan janji, pembicaraan yang ngelantur serta dering telepon. Aku telah menemukan kenikmatan yang lain lewat sakit ini yang lebih penting dan tak ternilai. Aku menemukan diriku lebih dekat kepada hal-hal yang abstrak dalam sakitku ini daripada dalam sehat. Manakala aku meletakkan kepalaku di bantal dan menutup mataku da melupakan segala urusan duniawi, aku menemukan diriku sedang melayang-layang laksana seekor burung menjelajahi lembah-lembah dan rimba raya yang tentram, yang terbungkus dalam selubung yang lembut. Aku dapatkan diriku akrab dengan mereka yang aku cintai, seraya menyeru dan bercakap dengan mereka, tetapi tanpa marah, dan dengan perasaan seperti yang mereka rasakan, dengan pikiran seperti yang mereka pikirkan. Kadang-kadang mereka meletakkan tangannya pada dahiku untuk memberkati.

. . . Aku ingin menjalani sakitku di Mesir atau di kampung halamanku, agar aku bisa dekat dengan orang-orang yang kucintai. Tahukah kau, May, bahwa setiap pagi maupun senja hari aku merasa seolah diriku berada di sebuah rumah di Kairo, bersama engkau yang duduk di depanku membacakan artikel terakhir yang belum di terbitkan.

. . . Tahukah kau, May, bahwa manakala aku memikirkan tentang keberangkatan yang di sebut orang kematian itu, aku merasakan kesenangan dalam memikirkan dan merindukan Keberangkatan itu. Lalu aku kembali pada diriku dan ingat bahwa ada sebuah kata yang mesti kukatakan sebelum keberangkatanku. Aku menjadi bingung di antara ketidakmampuanku dan keharusanku, lalu aku menyerah pada harapanku. Tidak, aku belum mengatakan kata itu, dan hanya asap yang keluar dari cahaya ini. Inilah yang membuat aku merasa bahwa menganggur itu lebih pahit daripada empedu. Kukatakan ini padamu, May, dan tidak kepada orang lain pun. Jika aku tidak berangkat sebelum aku mengeja dan mengucapkan kataku itu, aku akan kembali untuk mengatakan kata itu, yang kini sedang menggantung laksana awan di lazuardi hatiku.

. . . Apakah hal ini terasa asing bagimu? Sesuatu yang paling asing adalah yang paling dekat pada kebenaran yang hakiki. Dalam hasrat manusia terdapat satu tenaga kerinduan yang mampu mengubah kabut dalam diri kita menjadi matahari.

Gibran

surabayastory
Bercerita berarti penyampaian cerita dengan cara bertutur. Yang membedakan adalah metode penyampaiannya.

Leave a Reply

  • (not be published)