Surabaya punya jalur lari baru yang lebih representatif. Jalurnya di sepanjang Kali Mas, dengan limbah sandal sebagai matras.

 

Jalur jogging track yang dikembangkan Pemerintah Kota Surabaya di sepanjang Kali Mas. (sa)

 

Surabayastory.com – Bagi para penghobi lari, ini merupakan kabar gembira. Jika biasanya berlari di jalan raya, kini ada alternatif baru dengan suasana baru, pemandangan baru. Ada jalur lari (jogging track) baru di sepanjang Kali Mas, di pinggir kali (girli), atau dalam bahasa kerennya river side.

Di jalur baru ini diharapkan ada pengalaman baru sekaligus memberikan tarikan tanggung jawab warga masyarakat Surabaya akan lingkungan sekitarnya. Misal, tentang sungai dan alirannya, tentang lahan-lahan di sepanjang sungai, hingga areal di sekitar jalur lari.

Di jalan-jalan utama kota Surabaya (juga kota-kota lainnya di Indonesia) lari telah menjadi bagian dari keseharian untuk sehat sekaligus gaya hidup. Motivasinya juga macam-macam, ada yang memang untuk sehat hingga bertahan hidup, atau hanya ingin gaya biar dikatakan hidup.

Lomba-lomba marathon juga makin banyak terselenggara. Dalam satu tahun lebih dari 12 event marathon tingkat nasional/ internasional yang terselenggara di beberapa kota di Indonesia. Klub hingga komunitas lari juga banyak bermunculan, mulai kelas kampung (RT/RW), komunitas kantoran, komunitas marathon, hingga komunitas askring alias asal kringeten (asal berkeringat).

Melihat gaya hidup yang positif ini, Pemerintah Kota Surabaya menyiapkan fasilitas baru untuk para pelari di Surabaya. Belum ada namanya secara pasti, yang dikenalkan saat ini adalah jogging track di sepanjang Kali Mas Keputran Selatan. Rencana untuk menata tepi pinggir sungai dengan adanya jogging track sudah direncanakan sejak tahun lalu. Namun, belum dapat direalisasikan secara langsung karena masih mengurus keperluan lain yang lebih mendesak.

 

Batu Paving dan Mural di Tembok

Saat ini, jika melihat keadaan trek lari yang tersedia, sudah sekitar 1 km yang telah siap dari rencana panjang 3 km. Jalur telah dipadatkan dan dipasang batu paving bentuk persegi warna abu-abu dengan aksen garis memanjang dengan paving warna merah bata. Sementara di bagian railing (pagar) sungai diberikan cat warna hijau cerah.

 

Trek lari yang telah terpasang dengan menggunakan batu paving. (sa)

 

Sementara itu di sebelah kiri-kanan, ditanami berbagai tanamanan peneduh dan tanaman perdu yang bisa mendinginkan mata. Di bagian pintu masuk trek lari, ada pemandangan lain yaitu saluran keluar rumah pompa Keputran dengan debit air sangat deras. Di dindingnya digambar dengan sangat menarik. Gambar-gambar mural ini juga masih berlanjut di beberapa bagian dinding yang ada di sepanjang jalur lari.

JIka melihat kondisi yang ada, jalur ini sudah bisa dipakai sebagai jogging track. Namun hingga saat ini belum terlihat ada yang memanfaatkannya.

Pemerintah Kota Surabaya terus melakukan penataan sebagai upaya agar fasilitas-fasilitas umum bagi warga Surabaya semakin banyak pilihannya. Dan tujuan akhirnya adalah menurunkan tingkat stress dan amarah warga kota karena melihat kota yang indah, fasilitas hidup tersedia dengan mudah dan murah. Kenyamanan warga kota ini yang terus diperjuangkan pemerintah kota.

 

Gambaran mural yang menarik di sepanjang trek termasuk di rumah pompa Keputran ini menjadi pemandangan tersendiri bagi para pelari. (sa)

 

Pembukaan jalur lari baru ini adalah bagian dari penataan tepi sungai di Pasar Keputran sisi selatan, yang nantinya dikoneksikan hingga Jembatan Ujung Galuh di Jl Ngagel. Bagian yang unik adalah jalur lari yang akan digunakan akan dilapisi dengan matras yang terbuat dari sandal jepit bekas. Digunakan matras dari potongan sandal jepit biar empuk dan kalau lari biar tidak sakit. Bahan sandal jepit akan diperoleh dari sandal bekas di TPA. Pemanfaatan karet dari sandal jepit bekas akan menghemat anggaran. Memanfaatkan limbah sandal jepit cukup murah. Kalau matras asli harganya sangat mahal.

 

Kotak-kotak karet bekas sandal jepit yang akan dirangkai menjadi matras lari di jalur lari sepanjang Kali Mas sisi Keputran Selatan. (humas pemkot Surabaya)

 

Proses pembuatannya, setelah dibersihkan, sandal akan dipilah sesuai dengan ketebalan yang dibutuhkan kemudian dipotong ukuran 4×6 cm. Kumpulan karet kotak tersebut kemudian ditata sesuai kreasi Tim Kreatif sehingga menjadi pola dan motif yang dikehendaki. Lalu dirajut menjadi matras berukuran 1 meter x 60 cm. Dalam sehari bisa diselesaikan 4-5 matras. Dari matras satu dengan lainnya kemudian disambung dengan dijahit. Untuk trek 200 meter dibutuhkan sekitar 3 ton limbah sandal jepit.

Ide awal pembuatan jogging track dari limbah sandal jepit ini berasal dari keisengan petugas rumah kompos dan kemudian dikembangkan. Para pekerja ini mengaku sudah mengerjakan matras dari limbah sandal jepit tersebut sejak empat bulan lalu. Pengerjaan matras jogging track ini sendiri dipusatkan di rumah kompos di kompleks Instalasi Pembuangan Limbah Cair Keputih. Dengan target waktu pengerjaan selesai hingga akhir tahun, tim kreatif akan mengumpulkan 3 ribu matras untuk menutup jogging track dengan panjang 3 km tersebut.

Pembuatan matras yang dikerjakan manual dengan memotong-motong karet sandal satu persatu dan kemudian merangkainya akan sangat menyita waktu. Pastilah waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan jalur lari Keputran ini akan memakan waktu lama.

Kawasan ini nantinya akan dipercantik dengan menambah aksen pohon bunga flamboyan dan tanaman perdu. Di beberapa titik juga disiapkan pos-pos penjagaan Satpol PP agar para pelari yang berolahraga di sini merasa aman dan nyaman.

Warga yang akan menggunakan fasilitas tersebut juga tidak akan dikenakan biaya. Banyak tempat dan spot menarik untuk dijadikan lokasi olahraga lari tersebar di sudut Kota Surabaya, mulai dari pusat kota hingga pinggiran kota. Lokasi lari baru ini di bantaran Kali Mas sisi Keputran Selatan, bisa menjadi referensi dan alternatif baru para penggemar olahraga lari. –sa

 

 

 

surabayastory
Bercerita berarti penyampaian cerita dengan cara bertutur. Yang membedakan adalah metode penyampaiannya.

Leave a Reply

  • (not be published)