Jejak Pelaut Nusantara di Laut Dunia

Bangsa Nusantara di awal abad masehi diketahui sudah berlayar ke Cina, Jepang, India, dan bahkan Afrika untuk berdagang. Bahkan sekitar abad ke-5 Masehi, mereka telah mendirikan koloni di Madagaskar.

 

 

Surabayastory.com – Seorang Afrikanis dari London University, Robert Dick-Read menyatakan bahwa sejarah bahari dari penduduk pulau Asia Tenggara mungkin yang tertua di dunia. Mereka telah melintasi wilayah perairan selama 60.000 tahun, sejak migran awal berhasil bermigrasi dari Sundaland ke Sahulland untuk mencapai Australia.

Situs prasejarah di gua-gua Pulau Muna, Seram dan Arguni yang  dipenuhi oleh pahatan perahu layar, menggambarkan bahwa bangsa Indonesia adalah keturunan  bangsa pelaut  sejak tahun 10.000 sebelum masehi! Selain itu, ditemukannya kesamaan benda-benda sejarah antara Suku Aborigin di Australia dengan di Jawa menandakan bahwa nenek moyang kita sudah melakukan hubungan dengan bangsa lain  dengan kapal-kapal yang laik layar.

Setelah itu, sekitar 5000 tahun yang lalu, ketika orang laut yang berbahasa ‘Austronesian’ bermigrasi dari Formosa (sekarang Taiwan) dan mulai mengeksplorasi pulau-pulau Pasifik. Banyak di antara mereka juga menyebarkan bahasa mereka ke arah barat ke pulau-pulau yang berbatasan dengan Lautan India, dan bahkan lebih jauh.

James Hornell, salah satu dari ahli etnografi kelautan yang paling dihormati pada abad ke-12, menulis sebuah artikel yang menegaskan bahwa Polynesia, yaitu orang yang berbahasa Austronesia, menjadi mapan di India selatan di masa-masa sebelum orang-orang yang berbahasa Dravidian. Pemikirannya berdasarkan penyebaran geografis perahu bercadik:

Sebuah titik penting tertinggi dalam hubungan ini adalah kenyataan yang umum dengan bangsa Polynesia, mereka menggunakan cadik tunggal pada perahu mereka, sangat kontras dengan cadik ganda sehingga karakteristik kapal kecil Malaysia…. itu tidak mengejutkan bahwa kita menemukan perahu Polynesia menghasilkan berbagai variasi yang umum dengan peralatan mencari ikan Polynesia, berlanjut pada kehormatan tinggi oleh nelayan dan penyelam lokal.

Sesudah diskusi rinci ia menyimpulkan: Saya cenderung berpikir bahwa Parawas ini (India Selatan) menggambarkan bagian dari ras Naga yang ganas yang digambarkan oleh para penulis Tamil kuno sebagai bagian distrik pantai dan dengan Negapatam sebagai kota terpenting mereka ketika Tamil pertama tiba di selatan.  Saya akan kemudian mengidentifikasi Nagas dengan keluarga orang pantai Polynesia kuno.

Ini adalah sebuah pandangan yang didukung oleh kenyataan bahwa kata-kata Tamil seperti padavu, padangu, atau hadagu untuk ‘kapal’ atau ‘perahu’ diturunkan dari bahasa Austronesia padaw atau perahu. Apabila Hornell benar, para pelaut yang berbahasa Austronesia,  menjadi alasan bagi kita untuk menyebut mereka ‘Orang Indonesia’, yang bergerak dengan bebas di Lautan India berabad-abad sebelum terbentuknya perdagangan Mediterania, membuat bukti “cengkeh dari Maluku” dan “biri-biri ke Timor” merupakan kemungkinan yang masuk akal.

Dalam bukunya Early Trade between India  and Southeast Asia hal. 93-98 (Hull: Koningstone, 1989), I.C. Glover,  mengungkapkan, nenek moyang bangsa Indonesia adalah bangsa Austronesia yang kedatangannya ke kepulauan Nusantara ini mulai sejak kira-kira 2000 tahun sebelum masehi. Masa kedatangan mereka itu termasuk pada jaman neolitikum yang memiliki dua sub-kebudayaan dan dua jalur penyebaran.

 

Bukti Prasejarah

 

Sejak masa prasejarah nenek moyang Indonesia dikenal sebagai pelaut yang tangguh dan berani. Mereka telah menjelajah lautan dari pulau yang satu ke pulau yang lain di wilayah nusantara, atau berlayar ke arah selatan menuju pantai utara Australia atau pun ke Samudra Hindia.

Sebagai pelaut ulung, Bangsa Indonesia pada awal abad masehi diketahui sudah berlayar ke Cina, Jepang, India, dan bahkan Afrika untuk berdagang. Bahkan sekitar abad ke-5 Masehi, mereka telah mendirikan koloni di Madagaskar. Bersama dengan bangsa-bangsa lain yang baru datang, orang-orangIndonesia berbaur membentuk bangsa Madagaskar seperti yang ada saat ini.

Memang sangat sedikit bukti-bukti tertulis yang berhubungan dengan koloni Indonesia di Madagaskar. Tapi banyak jejak arkeologis yang berasal dari Indonesia di Madagaskar bahkan Afrika. Seperti kemiripan wajah dan perawakan antara orang Madagaskar dan orang Indonesia, di samping bahasa, jenis tanaman, alat-alat musik dan artefak-artefak lainnya.

Dengan munculnya jalur perdagangan yang membentang antara Lautan Hindia hingga Laut Cina Selatan, maka posisi Selat Malaka menjadi penting. Para pedagang dari India yang akan mengirim barang ke Asia Tenggara maupun China harus melewati Selat Malaka. Begitu juga para pedagang China yang akan mengirim barang ke India dan Arab harus lewat selat ini.

Akibatnya muncul kerajaan-kerajaan kecil dan besar yang tumbuh di kawasan ini. Dan persaingan dagang pun tak terelakkan lagi mewarnai kawasan ini.  Kerajaan yang paling awal muncul di kawasan ini adalah Kerajaan Funan yang terletak di sebelah utara Semenanjung Malaya, yang menjadi kaya karena berhasil menyeberangi Tanah Genting. Kemunculan Funan diikuti kerajaan-kerajaan kecil di pantai timur Sumatera.

Kemudian muncul persaingan antar kerajaan untuk menguasai Selat Malaka. Yang pertama-tama berhasil mengontrol kawasan Selat Malaka adalah Sriwijaya. Setiap negara yang melewati Selat Malaka untuk berdagang harus singgah ke pelabuhan Sriwijaya yang untuk kebutuhan itu telah menyediakan berbagai fasilitas seperti pergudangan. Kerajaan ini menjadi besar setelah berhasil menundukkan berbagai kerajaan di wilayah nusantara sampai yang ada di luar Indonesia yang sekarang. Dan Sriwijaya mendapatkan keuntungan yang sangat besar dan menjadi makmur berkat keberhasilannya mengontrol perdagangan di Selat Malaka.

Setelah kerajaan Sriwijaya runtuh, posisinya digantikan oleh Kerajaan Majapahit dari Jawa. Seperti Sriwijaya, Majapahit mencapai kebesarannya setelah menundukkan berbagai kerajaan di wilayah Nusantara dan kerajaan-kerajaan lain di sekitar Nusantara. Kerajaan yang berpusat di Trowulan Mojokerto itu juga berhasil mengendalikan perdagangan regional dan internasional antara barat dan timur.

Namun pusat perdagangan Majapahit tampaknya bergeser dari Kawasan Malaka ke Laut Jawa dimana di pesisir pantai pulau itu terdapat banyak pelabuhan Majapahit yang cukup ramai. Ini sesuai dengan letak ibukota Majapahit yang berada lebih jauh ke arah timur dibanding ibukota Sriwijaya yang ada di Palembang. Rempah-rempah dari Maluku berlabuh ke pelabuhan-pelabuhan ini, lalu dikirim ke Malaka oleh para pedagang lokal dan kemudian dikirim ke India, Arab atau negeri-negeri lain yang lebih jauh oleh para pedagang mancanegara.

Ketika Majapahit runtuh, perdagangan regional dan internasional dilakukan oleh kerajaan-kerajaan yang lebih kecil yang kebanyakan telah mendapatkan pengaruh Islam seperti Samudera Pasai, Malaka, Demak, Cirebon, Mataram, Kesultanan Aceh, dan berbagai kerajaan di kawasan timur. Satu persatu kerajaan itu ditundukkan oleh Belanda. Di antara yang paling lama bertahan adalah Kesultanan Aceh yang baru jatuh ke tangan Belanda pada awal abad ke-20.

Setelah Aceh jatuh tak ada lagi kerajaan-kerajaan merdeka di wilayah Nusantara yang bisa melakukan perdagangan internasional. Semualnya harus melewati pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

Kalau dalam era pemerintahan saat ini Poros Maritim hendak dihidupkan lagi tentu bagus. Namun dengan kehadiran moda transportasi yang lebih cepat dan efisien seperti pesawat terbang tentu kemaritiman di Indonesia harus diberi tekanan baru. Selain untuk mengkoneksikan pulau-pulau di Indonesia dan melengkapi sarana transportasi untuk perdagangan internasional, kemaritiman haruslah diartikan sebagai peningkatan eksplorasi sumber daya alam yang terpendam di lautan. –drs

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *