Di balik keindahan kota Surabaya yang tak putus-putus, ada remah yang mencoreng wajah Kota Surabaya.

Coretan yang sangat mengganggu di papan larangan Pemerintah Kota Surabaya di Jl Boulevard Pemuda. (sa)

Surabayastory.com – Menyusuri jalanan Kota Surabaya, kita akan menikmati keindahan visual yang seakan tiada habisnya. Taman kota yang indah dan tematik, jalanan bersih, pohon-pohon besar yang rindang, serta masyarakatnya yang ramah dan bersahabat menjadikan Surabaya menjadi kota yang nyaman untuk diikuti alur kotanya.

Meski sudah bejibun keindahan taman kotanya, Pemerintah Kota Surabaya seakan tak juga ingin usai untuk menambah keindahan-keindahan baru. Variasi-variasi hiasan terus dibuat, diletakkan, dan ditawarkan kepada warga masyarakat untuk menikmatinya. Setelah taman-taman kota tuntas diselesaikan dengan tema masing-masing, pedestrian diperlebar dan ditata nyaman untuk pejalan kaki, ditanami juga dengan tanaman Tabebuya yang bunganya mekar kecil-kecil bak bunga sakura di Jepang, gantungan anggrek bulan dan simbar menjangan di popon-pohon besar sepanjang jalan besar. Masih belum puas juga, masih ditambah dengan pilihan lampu-lampu jalan beraneka desain. Di lampu kota ini pun digantungi keranjang-keranjang tanaman perdu.

Apakah sudah selesai? Belum. Masih ada tawaran baru seperti tong-tong warna-warni yang ditanami lidah mertua di median jalan beberapa jalan utama. Di atas jalanan dipasangi lampu-lampu hias, kurungan burung hingga payung-payung. Kota Surabaya memang indah dengan pandangan mata. Yang melintasi tak akan merasa jemu.

Wajah Bopeng Tengah Kota

Papan milik Pemerintah Kota Surabaya yang dicoret di Jl Gentengkali. (sa)

Keindahan tengah kota Surabaya yang bisa dinikmati siapa saja, ternyata menyimpan noktah-noktah pengganggu, kotor, dan kadang melanggar kesopanan. Gambar-gambar itu tampak serampangan, ada pula yang tak patut dan tak senonoh.

Corat-coret itu tanpa makna dan tanpa bentuk. Apalagi komposisi, taka da sama sekali. Coret-coretan itu terlihat jelas dengan kuat karena dicoret dengan cat semprot warna biru, merah, hitam, hijau, oranye. Sebagian juga memakai cat metalik yang memantulkan cahaya.

Entah sudah disadari atau tidak, akhir-akhir ini coretan-coretan kotor itu semakin melebar titiknya. Banyak tempat telah menjadi korban. Tempok-tembok, pagar pembatas proyek, hingga pagar-pagar perkantoran atau rumah hunian menjadi sasaran tangan-tangan jahil yang berlagak seniman. Yang paling gampang dilihat di tengah kota ada di sepanjang Jl Pemuda. Di sini banyak tembok yang dicorat-coret sporadis tak jelas maksudnya. Sepanjang Jl Pemuda, ada beberapa spot yang nyata-nyata mengganggu pemandangan. Sejak depan RRI hingga ujung tikungan menuju Jl Yos Sudarso. Yang paling mengganggu adalah papan pengumuman yang dicorat-coret. Contohnya ada di Jl Boulevard Pemuda, papan larangan berjualan di trotoar/ saluran/ bahu jalan dicoret habis. Begitu pula papan pengumuman di Jl Gentengkali bekas SPBU yang saat ini dipaving dan dialihfungsikan sebagai lapangan parkir. Ini terus berlanjut hingga di dinding pembatas bekas Sekolah Taman Siswa yang ada di ujung Jembatan Undaan.

Pemandangan tak sedap ini mengganggu pandangan visual yang telah tersebar. Bak bopeng-bopeng yang ada di beberapa titik wajah yang cantik.

Bukan Mural

Corat-coret yang mengganggu wajah Kota Surabaya. (sa)

Itu mural? Bukan! Mural adalah bagian dari keindahan dinding kota karena digambari dengan tema, teknik, serta menjaga atmosfer wilayah kota tersebut. Dalam seni mural kita tema dan teknik bisa lebih bebas dan biasanya menggunakan media pewarna berupa cat tembok atau cat kayu. Media lain yang bisa digunakan (masih jarang dipakai di Indonesia) adalah kapur tulis warna. Mural biasanya mengandung pesan moral, kemasyarakatan, sekaligus hiburan.

Sementara grafiti lebih menekankan pada esensi isi tulisan. Permainan graffiti biasanya berupa komposisi warna yang mencolok dengan teks pesan yang dibuat dengan cat semprot.

Kalau corat-coret dinding kota tanpa tema yang merusak pandangan, adalah vandalisme alias perusakan visual. Vandalisme cenderung corat-coret secara liar mencorat-coret dinding semau-maunya dengan sesuatu yang tidak pantas.

Secara semantik, vandalisme di zaman Romawi kuno adalah suatu sikap kebiasaan yang dialamatkan kepada bangsa vandal (perusak) . Budayanya antara lain melakukan perusakan dan penistaan terhadap mutu segala sesuatu yang indah dan terpuji. Bisa terhadap bangunan atau karya seni lainnya. Jadi apapun yang bagus akan dirusak.

Jika pahamnya seperti ini, tentu tidak bisa kita diamkan sebagai bagian dari warga Kota Surabaya. Aksi vandalisme dengan coretan coretan dinding yang dilakukan oleh pihak tidak bertanggungjawab.

Tak ada bentuk, tak ada tema, tak ada makna. Ini bukan mural kota. (sa)

Di titik-titik vandalisme tengah kota, sebenarnya letaknya hanya selemparan batu dari pusat kota Surabaya, Balai Kota. Namun pengawasan tentang keindahan kota dan tindakan nyata untuk para perusak wajah kota tampaknya belum berjalan (belum ada). Operasi Yustisi tentang kebersihan sudah seharusnya menjangkau sektor ini. Harus ada pengawasan sehingga tidak ada pelanggaran pembuatan mural yang sebenarnya adalah coret-coret dinding kota yang merusak. Vandalisme ini keisengan-keisengan, tetapi mengganggu masyarakat.

Corat-coret fasilitas umum di ujung Jl Sulawesi. (sa)

Selain dinding, coretan itu juga terjadi di beberapa fasilitas umum. Seperti tembok jembatan, panel telekomunikasi, gardu listrik, jembatan penyeberangan orang, dan sebagainya. Kotak perangkat listrik yang paling sering menjadi sasaran adalah sumber pendukung traffic light (TL). Banyak coretan dari cat maupun tempelan pamflet.

Tindakan pro-aktif oleh pemerintah kota dibutuhkan dalam pengawasi aksi yang tidak bertanggung jawab dalam ini. Memberikan ruyang dan pemahaman terhadap komunitas mural dan graffiti di Surabaya akan bisa turut menjaga ketertiban dan keindahan kota. Sehingga coretan warna bisa tertata dan tidak menggunakan tempat yang seenaknya.

Bagaimana sekarang? Tindakan yang paling urgen dilakukan adalah dengan menghapus atau membersihkan coretan-coretan yang merusak itu. Mural yang tidak mengganggu pandangan dan kesopanan bisa dihapus dan dibersihkan secepatnya. Pembersihan ini bisa dilakukan mulai tengah kota dan kemudian menyebar hingga pinggiran kota. Atau bisa juga dibuat beberapa rayon seperti yang dilakukan dinas kebersihan dalam pembersihan sungai dan saluran dan bergerak serentak.

Sebenarnya aksi pembersihan sudah pernah dilakukan oleh Satpol PP, ketika mengecat jembatan di depan kalimas Surabaya, dua tahun lalu. Pengecatan ini membersihkan tulisan dengan kata-kata kotor dan vandalisme. Tim dari Odong – odong dan Kungfu Panda Satpol PP berjumlah 25 orang yang bergerak di lokasi karena perintah langsung dari Wali Kota Surabaya.

Namun kemudian belum terlihat ada tindakan pembersihan kembali. Pembersihan secara masif, teguran, atau sanksi bagi para perusak belum juga terlihat.

Tindakan pengawasan yang menjadi bagian kemudian adalah sebuah keharusan. Mau tidak mau, di titik-titik yang kerap dibuat ajang corat-coret, dipasang kamera pengintai atau petugas penjaga. Sehingga pelaku yang mengotori fasilitas publik bisa dicari dan diberikan sanksi.

Peran serta masyarakat menjadi kunci penting menjaga kebersihan dan ketertiban kota. Pemberdayaan, membangkitkan kesadaran, serta swa-pantau dari masyarakat menjadi elemen mendasar untuk menjaga kebersihan lingkungan sekitar, dan tentu menjaga kecantikan wajah Kota Surabaya yang seutuhnya.—sa 📌

surabayastory
Bercerita berarti penyampaian cerita dengan cara bertutur. Yang membedakan adalah metode penyampaiannya.

Leave a Reply

  • (not be published)