SEMANGGI DEMPO: Rasa Otentik Semanggi Suroboyo

Semanggi Suroboyo naik pamor dalam dua tahun terakhir ini. Para pemburu semanggi mencoba mencari di berbagai penjuru Surabaya. Namun untuk cita rasa klasik, cobalah ke Jl. Dempo Surabaya.

 

Semanggi Suroboyo dengan cita rasa kuno di Jl Dempo 19, Surabaya. (sa)

 

Surabayastory.com – Para pecinta semanggi Suroboyo meningkat pesat. Di beberapa komunitas, percakapan tentang semanggi, rasa yang unik, semangat kedaerahan (selera lokal), dan tempat-tempat para penjualnya bermunculan dalam percakapan mereka. Rata-rata punya langganan tersendiri, kebanyakan para mbok bakul semanggi yang berdagang nomaden (keliling) atau berdiam di tepi jalan secara temporer.

Untuk para pemburu semanggi, untuk citarasa dan tempat makan yang lebih ‘beradab’, bisa mencoba Semanggi Dempo. Di sini ‘salad Suroboyo’ ini disajikan dengan ‘kelas yang lebih baik’, bersih, dan tempat makannya nyaman. Menempati bagian teras dari Depot Bakwan Dempo, ada di Jl Dempo 19, Surabaya. Di mana Jl Dempo berada? Yang paling gampang memang langsung tengok google maps. Sebagai petunjuk awal, Jl Dempo itu ada di sekitar Jl Raya Arjuno yang dekat Jl Tidar, lalu cari Jl Argopuro, belok kiri lagi ada Jl Penanggungan, dan di sebelahnya ada Jl Dempo. Ya benar, masuk ke kawasan perumahan lama, tempat makannya ada di daerah perumahan, bukan daerah komersial seperti seperti depot-depot zaman sekarang. Masuk saja, dan menjelang bagian ujung, sebuah rumah kuno (dibangun sekitar tahun 1950-an) dengan pintu putih terbuka. Di saja penjual semanggi Dempo berada.

 

Semanggi Dempo di teras rumah di Jl Dempo 19, Surabaya. (sa)

 

Semanggi Dempo ini, mengingatkan pada rasa semanggi yang asli yang dinikmati 30 tahun lalu. Sebagai makanan khas Surabaya, semanggi Suroboyo, kembali meraih popularitasnya dalam dua tahun terakhir. Surabaya dan semanggi, adalah dua kata yang tak terpisahkan.

Jika mengutip catatan sejarah, semanggi memang sudah sangat dikenal di Surabaya sejak zaman perang kemerdekaan. Dulu, semanggi adalah makanan kesukaan pejuang Surabaya, kala mengusir NICA dari Kota Pahlawan tahun 1945. Nikmatnya semanggi kemudian diabadikan dalam lagu keroncong Semanggi Suroboyo tahun 1950-an ciptaan S. Padimin yang dipopulerkan Tatiek Wiyono.

Bahan semanggi adalah daun semanggi. Semanggi adalah sejenis tanaman liar yang tumbuh di pematang sawah dan saluran irigasi sawah. Daun ini sebenarnya gulma di pematang sawah, namun daun kecil dengan empat helai ini telah menjadi sayur yang ikonik. Di Surabaya, daerah penghasil daun semanggi adalah Desa Made dan Desa Ledok di Surabaya Barat. Para penjual semanggi kebanyakan juga berasal dari desa-desa itu. Biasanya mereka berangkat beramai-ramai menggunakan angkutan umum, kemudian berjualan menyebar di seluruh penjuru surabaya. Ketika sore, mereka kembali lagi.

Sepincuk semanggi terdiri dari daun semanggi yang dikukus (dilayukan). Sayuran pendukungnya adalah taoge, dipilih ukuran sedang. Zaman dulu, dipakai kangkung sebagai pelengkap. Namun sekarang nyaris tak terlihat lagi yang memakai kangkung. Sayuran itu lalu disiram dengan saus kacang campur ketela, dan dilengkapi dengan krupuk puli. Memang selain di Surabaya, makanan ini tidak ditemui di daerah lain. Semanggi masih setia di surabaya.

Penjual semanggi Dempo saat ini adalah generasi ketiga. (sa)

 

Semanggi Dempo sudah lebih dari 30 tahun, sekarang ini generasi ketiga yang mengelola. “Ini dulu mulai dari nenek, dari dulu sampai sekarang resep dan takaran yang dipakai masih sama. Tidak ada yang berubah,” kata sang penjual siang itu. Semanggi Dempo buka setiap hari pukul 10.00 sampai 15.00. Namun kalau sudah habis lebih dulu, mereka tutup sebelum waktunya. Harganya Rp 13.000/ pincuk, sedikit lebih mahal dari yang ada di jalanan. Tapi, tentu saja ada harga, ada rupa.

 

 

Keistimewaan semanggi Dempo ada pada citarasanya yang otentik. Masih asli seperti semanggi Suroboyo tempo dulu. Dibanding semanggi yang dijual pedagang keliling, semanggi Dempo punya cita rasa klasik yang asli. Ya, ini cita rasa semanggi suroboyo yang benar. Kukusan semanggi masih tampak hijau segar. Dilengkapi dengan taoge yang memberi warna baru dari tampilan dan rasa.

Jajanan semanggi semuanya sama memakai bahan dasar sama: daun semanggi. Lalu apa yang membedakan antara semanggi yang satu dengan yang lain? Bumbu semangginya! Racikan serta pilihan bahan yang menjadi pembeda.

Bumbu semanggi Dempo ini memang unggul. Saus yang disiramkan cukup melimpah dan terasa legit. Paduan rasanya unik. Ada variasi rasa yang menarik antara manisnya ketela, kacang tanah yang gurih, serta ada rasa petis yang terasa tipis dan timbul-tenggelam. Sebagai efek kranci, krupuk puli yang disajikan juga punya kualitas bagus. Bersih, besar dan renyah.

Biar lebih leko (lebih nyaman) kerupuk puli dijadikan sendok untuk mengambil semanggi tersebut dan memakannya sekaligus.

 

Tempat makan yang bersih, longgar, dan nyaman. (sa)

 

Semanggi yang sebenarnya makanan jalanan (street food), di sini penyajiannya juga tetap dipertahankan. Tak ada piring, memakai daun pisang sebagai alas yang lazim disebut dengan pincuk. Dengan daun pisang yang segar, rasanya makanan sehat ini semakin lebih nikmat.

Semanggi termasuk makanan  sehat, tidak mengenyangkan, dan selalu dirindukan. Semanggi Dempo adalah ikon dari makanan khas Soroboyo yang telah teruji oleh waktu. –sa 📌

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *