Jembatan penyeberangan orang dibangun untuk keamanan. Dengan alasan tidak praktis, jembatan ditinggalkan dan mempertaruhkan keselamatan. Surabaya membangun kembali jembatan penyeberangan yang lebih nyaman dan manusiawi.

 

Surabayastory.com – Sebagai warga Surabaya, kita pasti mengenal Jembatan Penyeberangan Orang (JPO). Ada beberapa jembatan yang tampak berdiri di jalan-jalan utama. Namun tak banyak yang menggunakannya. Alasannya, tidak praktis dan merepotkan. Keamanan dan keselamatan tidak lagi jadi pilihan. Karena itu, pemerintah kota Surabaya bermaksud membangun dan memperbaiki salah satu fasilitas yang memudahkan masyarakat dalam menyeberang.

Upaya pembangunan JPO untuk memudahkan para pejalan kaki. Para pejalan bisa nyaman menyeberang, sekaligus bisa mengurangi hambatan arus lalu lintas. JPO ini bisa dimanfaatkan demi ketertiban, keamanan dan keselamatan berlalu lintas.

 

Di kota-kota besar dengan jalanan ramai, jembatan penyeberangan orang merupakan kebutuhan manusia. Jalur lalu lintas yang lebar, penuh sesak kendaraan, menyebabkan banyak kecelakaan terjadi yang menimpa para penyeberang jalan. Tidak terpisah secara fisik antara penyeberang dan pengendara, membuat risiko itu besar. Fasilitas penyeberangan berupa zebra cross memang sudah tersedia, tetapi disiplin yang terbengkalai membuat risiko terjadi kecelakaan mmaasih besar.

Penggunaan JPO sebenarnya sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, dengan sanksi tilang bagi pelanggarnya. Namun pada kenyataanya, peraturan ini hanya peraturan. Terbukti masih banyak ditemukannya pejalan kaki yang berani menyeberang di sembarang tempat.

Jembatan penyeberangan orang adalah bagian dari struktur fasilitas umum. Jembatan ini adalah bangunan pelengkap jalan yang berfungsi melewatkan lalu lintas yang terputus. JPO yang baik adalah menjamin kkeeamanan dan keselamatan penggunanya. Selain itu, juga harus praktis. Karena sejatinya, jembatan dibangun adalah mendekatkan yang jauh bukan menjauhkan yang dekat.

 

Solusi Kemacetan dan Keamanan

Pembangunan JPO di jalan –jalan Surabaya diharapkan akan menjadi solusi kemacetan sekaligus melindungi para pejalan kaki dari kecelakaan. Untuk meningkatkaan kenyamanannya JPO ini dibuat menggunakan lift. Memang, salah satu yang membuat pejalan kaki malas untuk naik JPO karena tangga naiknya sangat terjal.

 

Tangga jembatan penyeberangan di Jl Pemuda yang terjal membuat orang malas melintasi jembatan penyeberangan. (sa)

 

Di Surabaya, dijadwalkan ada 7 JPO yang dilengkapi lift. Yang sudah terpasang saat ini adalah JPO Basra (Basuki Rahmat). Untuk membantu penyeberang dan sebagai antisipasi terjadinya vandalisme ataupun aksi kriminalitas di dalam JPO, ditempatkan petugas Satpol PP yang berjaga 24 jam. Selanjutnya akan dibangun di depan Rumah Sakit Bhayangkara (Jl. A Yani) dan di depan Pusat Veteriner Farma (Pusvetma) atau di depan Giant Margorejo. JPO kemudian diperpanjang hingga ke Frontage sisi barat, yaitu JPO di depan Kantor Dinas Pertanian Pemprov Jatim dan di depan kampus UIN Sunan Ampel Surabaya. Untuk pembangunan melalui perlintasan kereta api yang berada di antara Jalan Ahmad Yani dan Frontage sisi timur, masih akan menunggu persetujuan Direktorat Jenderal Perkeretaapian.

 

Jembatan penyeberangan di Jl Basuki Rachmad yang sudah dilengkapi dengan lift. (sa)

 

Dengan adanya JPO yang dilengkapi dengan lift membuat para pejalan kaki menjadi nyaman dan tidak lagi menyeberang sembarangan. Selama pembangunan ini untuk sementara JPO ditutup. Seperti yang tampak di JPO Karangmenjangan (depan RS Dr. Soetomo), JPO Pemuda (depan Surabaya Plaza). JPO lainnya yang sedang dalam progres pembangunan adalah di Jl Basuki Rahmat (depan Hotel Bumi), Jl Gubernur Suryo (depan SMAN 6), Jl Urip Sumoharjo, dan Jl Wonokromo depan stasiun. Penyeberang juga diminta memaklumi ditutupnya sementara JPO selama pembangunan hingga selesai.

Sebenarnya masih ada ada dua JPO lagi (di Jl Diponegoro (depan RS RKZ) dan Jl Darmo (depan SMA Santa Maria)) yang akan dibangun bersamaan. Namun karena beberapa hambatan spesifik, maka pembangunannya akan dilakukan setelah kloter pertama selesai.

 

Prinsip Pembangunan Fasilitas Pejalan Kaki

( Dok Kementerian PUPR)

 

Jika menengok perkembangan di luar negeri, JPO sudah dibangun dengan bentang panjang dan lantai bertingkat. Nantinya, jenis JPO seperti ini akan mulai banyak di bangun di kota-kota besar di Indonesia. JPO nantinya dibangun sebagai sarana penghubung dari satu bangunan ke bangunan lainnya, sekaligus berfungsi sebagai jembatan penyeberangan lalu lintas yang berada di bawahnya. Dan yang lebih penting bisa memudahkan pejalan kaki dan menjamin keselamatan dan kenyamanannya. –sa📌

surabayastory
Bercerita berarti penyampaian cerita dengan cara bertutur. Yang membedakan adalah metode penyampaiannya.

Leave a Reply

  • (not be published)