WARUNG BU ULIL: Seperti Makan di Rumah Nenek

Warung makan ini hanya kecil menyempil di antara deretan tempat makan dan toko-toko besar di Walikota Mustajab. Menunya khas, menu rumahan yang bikin kangen.

 

Warung kecil Bu Ulil ‘tersembunyi’ di antara warung dan toko besar di Ondomohen. (sa)

 

Surabayastory.com – Jalan yang dulu dikenal dengan nama Jalan Ondomohen ini sekarang dikenal sebagai jalan yang penuh dengan tempat kuliner. Beberapa yang dikenal di sana ada Sate Klopo Bu Asih, Ayam Bakar Wong Solo, dan kambing bakar di Warung Timur Tengah. Dan kalau malam yang masih banyak pelanggannya adalah nasi goreng dan mie Jawa plus wedang rondenya. Jalan ini sejak dulu juga dikenal dengan pusat toko sepeda yang  sekarang tinggal dua toko tua yang masih tetap buka.

Jalan Ondomohen ini memang cukup ramai siang-malam. Lalu lintasnya kerap tersendat. Lajur parkir kanan-kiri jalan selalu penuh. Di jam-jam makan siang, sulit sekali bisa mendapatkan ruang parkir di jalan ini. Di sana berjajar warung-warung makan yang selalu ramai, dan makin lama makin banyak.

 

Sayuran untuk pecel cukup komplet dan pilihan lauk di loyang besar. (sa)

Di antara belantara warna-warni toko dan warung, di sini menyempil sebuah warung kecil dengan lebar tak lebih dari tiga meter. Tapi panjangnya dalam sekali. Warung ini mirip lorong panjang dengan tempat penyajian di bagian depan, diikuti tiga jajar meja panjang yang masing-masing dikelilingi empat kursi plastik.

Di sinilah kenangan akan makanan rumahan kembali menyeruak. Menu yang dihadirkan bener-benar membumi. Tidak ada yang aneh-aneh. Nyaris semuanya dikenal akrab. Di spanduk yang diletakkan paling atas adalah nasi pecel tumpang Ondomohen. Bagaimana rasa pecelnya? Ini yang akan kita perbincangkan. Nasi pecel Bu Ulil ini memang menarik. Yang paling penting adalah sayurannya lengkap, segar, dan proses perebusannya tak membuat sayuran itu letoy (layu). Di sana ada kangkung, kecipir, kembang turi, kecambah, juga bendoyo (krai muda yang dilayukan). Setiap hari selalu lengkap. Dari citarasa  bumbunya, lebih dekat dengan Madiunan, karena efek aroma kencur yang tidak begitu kuat seperti pecel Kediri, Tulungagung, atau Ponorogo. Namun untuk sajian rempeyeknya, dipakai rempeyek yang umum, tipis, renyah, dan kacang kecil-kecil menyebar. Berbeda dengan rempeyek Madiun yang cenderung lebih tebal, tidak lebar, dan kacangnya utuh dan mengumpul.

Nasi pecel Ondomohen ini memiliki porsi yang cukup. Dengan tambahan lauk tempe goreng saja sudah enak. Namun jika ingin yang lebih berkolesterol (gurih) bisa dipilih daging goreng (empal), ayam goreng, paru, ikan goreng, dan sebagainya.

 

Lodeh Paru

Di luar itu ada menu-menu lain yang cukup sedhut (enak sekali). Yang patut dicoba adalah nasi sayur lodeh plus paru goreng. Nasi lodeh ini cukup nikmat karena dimasak dengan bumbu jangkep dan tampak sudah nginep (dimasak hari sebelumnya) yang membuat lodehnya semakin menyatu. Patut diketahui, untuk masakan-masakan Jawa dengan bumbu jangkep standar untuk mencapai keenakan yang paripurna adalah diinapkan semalam, seperti lodeh, kare, opor, atau rawon. Bumbunya lebih merasuk kata simbah-simbah kita. Sayur lodeh yang dipakai adalah lodeh tewel (nangka muda), bukan lodeh kluwih atau lodeh manisah yang gampang hancur. Tewel dilengkapi dengan kacang panjang. Dalam penyajiannya sederhana saja, nasi disiram lodeh dengan kuah, dan diberikan sambal bajak (sambal tomat yang digongso matang). Untuk lauk banyak pilihan. Namun di sini surabayastory memilihkan paru goreng plus krupuk udang. Silakan dicoba. Untuk selera memang tidak bisa diperdebatkan.

 

Nasi pecel komplet dan nasi lodeh paru, menu yang patut dicoba. (sa)

 

Depot Bu Ulil ini tidak datang tiba-tiba. Di Ondomohen saja sudah lebih dari 12 tahun. Kami mengenalnya ketika masih kaki lima dengan gerobak di atas trotoar. Tempatnya di seberang sate klopo Bu Asih kalau pagi. Kala itu kami mengenalnya dengan rawonnya yang nikmat untuk mengisi perut ketika malam diterpa angina dingin. Seiring larangan tak boleh berjualan di trotoar, Bu Ulil akhirnya mendapat slot depot yang ada sekarang ini (seberang pertigaan Jl. Wuni).

Menu-menu makanan di tempat Bu Ulil ini semuanya makanan rumahan; pecel, rawon, kare, krengsengan, sayur asem, sayur sop, lodeh, dll. Setiap hari menunya selalu sama dan siap tersedia. Jadi jangan takut untuk datang tapi makanannya tidak dibuat.

 

Kehangatan Meja Makan

 

Dengan menu makanan seperti ini, kita serasa makan di rumah. Menikmati masakan ibu atau nenek di rumah. Mengapa begitu? Sudah sangat jarang kita melihat di rumah-rumah zaman sekarang adanya masakan rumahan seperti ini di meja makan. Sebuah masakan dengan menu tradisional, dibuat dengan bumbu lengkap yang tidak instan. Kita merasakan ada kenikmatan, cinta, dan kehangatan di setiap makanan. Entah zaman yang berganti, atau gaya hidup yang berpacu dengan waktu, yang jelas makanan rumahan dengan kualitas bagus jarang lagi kita temui.

Karena itu, kita seakan rindu dengan suasana itu. Dengan citarasa masakan yang otentik yang dibuat oleh ibu atau nenek di rumah atau kampung halaman dulu. Jika Bu Ulil nantinya berkembang, suasana meja makan di rumah-rumah dulu bisa dibuat, menggantikan meja panjang yang berkesan warung kaki lima.📌

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *