Spirit kebangsaan itu sudah ada sejak lama. Di rumah ini, gelora perjuangan Bung Karno untuk melawan kolonialisme dan kapitalisme mulai bangkit.

 

Tampak depan Rumah HOS Tjokroaminoto yang tampak asri dan bersahaja. (sa)

 

Surabayastory.com – Jika ingin mengembalikan semangat yang sedang pudar, datanglah ke sini. Sebuah tempat kecil, di gang kecil, namun meluapkan aura yang besar. Angin dan hawa-hawa yang tak tampak, menjadi teman ketika hawa Surabaya sedang terik dan berpeluh. Ketenangan dan kedamaian itu akan beradu dengan ‘impian’ dan ‘harapan’. Antara semangat dan gejolak ingin bangkit lagi.

 

Gambar rumah ketika tahun 1907. Bentuk dan struktur masih sama dengan saat ini. (ceya)

Di rumah ini kita bisa jeda sejenak, dan mengembalikan elan yang tengah menurun dihempas tekanan pekerjaan atau kehidupan. Di Rumah HOS Tjokroaminoto, Anda akan menemukan suasana yang berbeda. Sebuah tempat yang mungkin akan dirindukan untuk disinggahi kembali. Seperti rumah orang tua atau rumah nenek yang lebih sering dilupakan, dan kembali diingat ketika kita sedang ‘terluka’.

Rumah itu dibangun sekitar tahun 1870. Struktur bangunannya khas rumah Jawa, sejak dari teras, ruang tamu, ruang tidur, ruang makan, ruang samping, hingga kamar mandi yang terletak di luar bangunan utama. Dalam adat Jawa, rumah disebut dengan omah, dalam adat Jawa memiliki posisi yang penting. Beberapa aturan diterapkan melalui titian mangsa (waktu) dan pranata (aturan). Arsitektur rumah Jawa ditandai dengan aturan hierarki dan aturan. Pawon (dapur) dan pekiwan (toilet dan kamar mandi) letaknya terpisah dari ruangan-ruangan dalam rumah. Ini karena dalam filosofi Jawa ruangan-ruangan yang dianggap ‘kotor’, sehingga diletakkan jauh dari ruangan-ruangan utama. Dalam omah, setiap bagian mengandung unsur filosofis yang yang sarat dengan nilai-nilai religius, kepercayaan, norma dan nilai budaya.

 

Wastu Citra

Rumah adalah wastu citra, sebuah bangunan yang memiliki nilai guna (tata ruang, pengaturan fisik, artistik, kenyamanan) yang di dalamnya terdapat jiwa dan harapan yang bersemi.

Rumah Tjokroaminoto ini memiliki arti penting bagi Surabaya dan Indonesia. Bangunan yang merupakan saksi bisu atas perjuangan para pejuang Indonesia. Rumah ini adalah rumah HOS Tjokroaminoto. Rumah seorang tokoh bangsa. Rumah yang menginspirasi banyak orang di masa lalu, juga masa kini.

Konon rumah Pak Tjokro lebih luas dari yang ada sekarang. Di bagian belakang masih ada tanah yang disekat menjadi 10 kamar kecil-kecil untuk tempat kos pemuda pergerakan, seperti Sukarno, Darsono, Semaoen, Alimin, Musso, dan Kartosoewirjo.

Dulu, tanah yang memanjang di belakang rumah, di bagian paling belakang ada kandang kuda. Kuda-kuda itu kadang ikut pacuan kuda. Yang merawat kuda-kuda ini selain Pak Tjokro juga dibantu anak-anak yang kos di sana.

Namun dari waktu ke waktu, batas tanah menjadi kabur. Ruang-ruang yang dulu ditempati para pemuda sudah tak ada. Bagian dalam rumahnya juga banyak mengalami perubahan sejak diambil alih TNI. Dalam berjalannya waktu, perlahan akomodasi mengikuti zaman, dengan alasan kebutuhan dan kepraktisan. Setelah kosong dan tak terurus, rumah ini direnovasi tahun 1987, hingga menjadi museum saat ini,  masih terjaga dengan baik. Dari renovasi ini, kita masih bisa menangkap jiwanya.

Menjelajahi tempat ini sebenarnya tidak terlalu sulit. Papan nama sudah terpasang, papan arah juga ada. Tempatnya di dalam gang dan berapa di tikungan, sering kali membuat terlewat. Lokasi tepatnya ada di Jl. Peneleh VII nomor 29-31. Persis di seberang Jembatan Peneleh. Rumah Pak Tjokro ini mudah di tempuh dari mana pun. Arah paling gampang untuk diucap adalah dekat Jembatan Peneleh, dekat Gemblongan atau Tunjungan. Masih di tengah kota.

 

 

Setelah memasuki gang, kita bisa melihat rumah dengan dominasi warna hijau. Sejak pagar kayu setinggi pinggang, talang air di genting depan, hingga kusen-kusen kayu jati tua yang juga disapu warna hijau tua. Sebagai aksen (di daun pintu dan jendela), ada warna kuning pucat (krem) yang melengkapi bagian depan tampak dinamis. Di tiang di kiri dan kanan pintu pagar, terdapat tulisan 29 dan 31. Ini menunjukkan rumah ini menempati nomor 29-31.

Mengunjungi rumah seorang pahlawan nasional, jika kita peka, kita akan merasakan kekaguman. Di balik kesederhanaannya, tempat ini tersimpan cerita perjuangan anak-anak negeri. Dari tempat yang adem ini, mengajak para anak muda Indonesia untuk kembali terpanggil untuk berkarya untuk bangsa dan negara.

Penjelajahan batin dan elan yang sedang memudar, tempat ini adalah rumah yang pas. Duduk dan menikmati setiap sudut ruang dengan bayangan-bayangan akan perjuangan, kekuatan tanpa kekerasan, kesetiaan, dan pengorbanan. Tentang kehidupan adalah sebuah proses yang tak bisa dihasilkan dalam waktu sekejap. Tentang cita-cita yang tak kunjung padam untuk dikejar.

Duduklah di sini, kembalikan semangat hidup yang tengah memudar. Entah itu pagi, siang, atau ketika menuju senja. Pilih waktu yang sesuai dengan Anda.

 

Kesederhanaan yang Berkekuatan

Rumah Pak Cokro memang tampak sangat sederhana. Namun, kesederhanaan rumah itu mampu melahirkan tokoh-tokoh besar negeri ini di kemudian hari nanti. Dalam penjelajahan surabayastory, sejak di ruang depan, imajinasi kita akan terbawa dalam api semangat perjuangan. Tentang kemerdekaan, tentang harapan. Jika kita rasuk ke dalam diri saat ini, kita akan diajak menjelajahi diri kita sendiri. Bertanya pada diri sendiri, tentang semangat, kemerdekaan diri sendiri, hingga harapan hidup di masa depan.

Semangat Tjokroaminoto yang berkobar, akan membentuk elan baru dalam tubuh kita. Secara kimiawi, darah kita yang lesu akan diajak berpacu dan kembali bangkit. Kata-kata Pak Tjokro yang berkobar, melarang adanya pribumi yang jalan jongkok ketika bertemu penguasa kolonial. Pakaiannya yang rapih menunjukkan sebuah kesetaraan bahwa rakyat jelata harus sejajar dengan bangsawan. Menunjukkan bahawa bangsa kita adalah bangsa yang besar, memiliki jiwa yang besar, semangat yang besar dan cita-cita yang besar. Cita-cita Pak Tjokro adalah ingin mempunyai bangsa yang bermartabat, terdidik, dan sejahtera.

 

Buku-buku koleksi Tjokroaminoto (ceya)

Pak Tjokro mengajarkan kita tentang kesederhanaan. Dengan pamornya yang besar, dengan sangat gampang beliau memilih rumah yang lebih besar dan di jalan raya. Namun, Pak Tjokro lebih memilih tinggal di gang, karena Pak Tjokro lebih mementingkan esensi daripada tampak muka. Rumah adalah jiwa dan spiritualisme penghuninya.

Rumah di gang sempit itu pula akan memberikan berbagai inspirasi kepada kita. Memberikan semangat baru dengan sebuah tekat untuk meraih sebuah cita-cita. Banyak sekali kenangan dan cerita sejarah yang tertoreh di sana.

Suasana kebatinan juga tertinggal di sini. HOS Tjokroaminoto adalah sosok guru besar bagi Bung Karno. Di rumah ini, dan banyak tokoh bangsa (pemuda pergerakan) yang pemikiran dan perkembangan wawasannya bermula dari sini. Di rumah ini juga, gelora Bung Karno untuk melawan kolonialisme dan kapitalisme mulai bangkit.

 

Wisata Spirit Kebangsaan

Jika tempat ini dimaknai sebagai tempat wisata, lebih cocok bernama wisata spirit kebangsaan. Di sini kita tak akan jemu jika menginginkan wisata yang hanya memanjakan mata. Di sini adalah penjelajahan batin. Beralur double flash-back. Kita berpijak di masa kini, kembali berimajinasi tentang masa lalu, dan kembali lagi memaknai semangat itu di masa sekarang.

Dalam perjalanan waktu, setiap tempat dan setiap masa, memiliki kisah dan ceritanya sendiri. Babak demi babak kemudian mengkristal dalam sebuah keyakinan, kenangan, dan harapan. Tempat yang kecil, bisa menghasilkan semangat yang besar.

Jalan Peneleh VII. Gang sempit di pusat kota, di pinggir aliran Sungai Kalimas. Menyimpan beberapa arti penting tentang kenangan. Tentang sejarah yang tak kan pernah kita lupa. Tentang lahirnya para tokoh pendiri bangsa Indonesia.

Rumah HOS Tjokroaminoto akan selalu dirindukan, dijelajahi, dan dikenang oleh siapa saja yang ingin semangat hidupnya kembali. —sa 📌

surabayastory
Bercerita berarti penyampaian cerita dengan cara bertutur. Yang membedakan adalah metode penyampaiannya.

Leave a Reply

  • (not be published)