Di tengah kota Surabaya hiruk-pikuk dan membuat pusing kepala. Di timur Surabaya, masih ada sejangkal kedamaian yang menyimpan kekayaan hayati. Burung-burung cantik ada di sini.

 

Jika kita beruntung, kita bias menemui Raja Udang Biru (Small Blue Kingfisher/SBKF) dan burung-burung dengan warna dan bentuk yang cantik yang bisa kita saksikan dalam penjelajahan di kawasan hutan mangrove Wonorejo, Rungkut. (Ivan Martin/ I’m Wildlife)

 

Surabayastory.com – Jika Anda ingin sebuah penjelajahan alternatif di dalam kota Surabaya, Anda pasti akan tertarik dengan tempat yang satu ini. Tempat ini juga sangat tenang dan damai. Jika Anda sedang merasa sumpek (gerah) dengan tekanan pekerjaan dan kehidupan, cobalah untuk datang ke sini. Tempat ini bukan di luar kota, tetapi ada di Surabaya! Tak perlu menghabiskan banyak waktu dan uang untuk bisa berdiam sejenak.

Inilah habitat burung-burung langka yang tersisa di Surabaya. Adalah pengalaman tersendiri ketika bisa menjelajahi tempat yang kaya akan spesies burung. Di sini juga bisa berjumpa dengan monyet ekor panjang yang juga mulai punah. Di pantai timur Surabaya (pamurbaya) Wonorejo, Rungkut, Anda bias memulai penjelajahan baru. Kawasan di yang hanya 3 km dari bibir pantai Surabaya ini, adalah lahan yang tersisa dari habitat asli keanekaragaman hayati pantai. Dan situasinya sudah mulai terdesak dengan adanya perumahan-perumahan baru yang melibas hutan-hutan mangrove.

Bagi yang baru pertama kali datang, patokan yang paling gampang adalah menuju pintu air Wonorejo, Kecamatan Rungkut. Jika ke wisata mangrove Wonorejo belok kiri, ini pilih yang ke kanan. Ikuti jalan hingga menemukan sebuah warung bambu di samping sebuah tower BTS. Warung Mbak Rum, tempat inilah yang kemudian dijadikan ‘markas’ atau titik bertemu para komunitas pemantau burung, peneliti, atau sekadar jeda sesaat. Di sini, kita bisa bertanya dan berbincang dengan banyak orang tentang burung-burung pantai (wetland bird). Perbincangan akan semakin gayeng ditemani dengan secangkir teh atau kopi. Di warung Mbak Rum, selain tempatnya semilir, juga dikenal dengan tahu petis dan pisang gorengnya yang yahud. Tak sedikit yang kembali lagi hanya karena makanan ringan ini.

Dari ‘markas’ ini kita bisa berjalan ke Timur, menyusuri pematang-pematang tambak. Semakin masuk ke hutan mangrove kita akan menemui beberapa petak-petak dengan beberapa burung bangau yang berjalan di air atau beterbangan rendah. Jika beruntung, kita juga bisa menyaksikan jenis burung-burung pantai lainnya.

 

Kawasan hutan mangrove Wonorejo, Rungkut, yang menyimpan kekayaan hayati yang menarik untuk dijelajahi (sa)

 

Wonorejo merupakan salah satu kawasan lahan basah yang berada di pantai timur Surabaya. Luasnya sekitar 50 hektar dan terdiri dari areal pertambakan dan kawasan mangrove sekunder yang dipengaruhi oleh pasang surut sehingga menyediakan mudflat (wilayah berair) yang luas bagi burung untuk tempat mencari makan.

Di kawasan mangrove pamurbaya ini merupakan habitat (tempat hidup asli) banyak sekali hewan; burung, katak, mamalia kera ekor panjang, serta reptil seperti biawak dan ular. Keaneka ragaman jenis-jenis burung yang hidup di hutan mangrove surabaya telah menunjukan bahwa burung-burung ini telah mampu beradaptasi dengan manusia.

Burung-burung ini telah di lindungi oleh pemerintah kota surabaya. Sejak 15 Mei 2009, kawasan Wonorejo ditetapkan sebagai kawasan ekowisata, atas prakarsa Camat Rungkut, Lurah Wonorejo dan Forum Perkumpulan Petani Mangrove Nirwana Eksekutif dengan No: 556/157/436.11.15.5/2009 dan dikukuhkan oleh Walikota Surabaya.

Hutan mangrove Wonorejo, Rungkut, di Pantai Timur Surabaya menyuguhkan keindahan yang luar biasa. Keindahan itu tidak hanya permukaan yang menyajikan garis cakrawala, tempat berpadunya langit dan laut dalagaris horizaon. Di sekitarnya tumbuh aksen daun-daun mangrove kecil yang yang menjadikannya harmoni.

Ada banyak obyek yang bisa dinikmati sebagai sajian wisata. Kawasan ini pun makin ditata dan dijadikan salah satu tempat referensi bagi wisatawan nusantara maupun mancanegara. Mangrove Wonorejo tidak hanya sebagai ekowisata, namun bisa juga menjadi tempat penelitian mengenai mangrove, serta kaya akan flora dan fauna.

Mangrove merupakan formasi tumbuhan yang terdapat di sepanjang daerah pantai maupun daerah muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Ekosistem hutan mangrove tumbuh di pantai atau di pantai yang berair tenang.

 

Migrasi Burung, Waktu yang Ditunggu

Di wilayah ini burung-burung yang khas Indonesia maupun burung-burung yang istirahat saat migrasi, dapat kita saksikan. Bahkan, jenis burung-burung langka kelas dunia yang selama ini jarang bisa kita lihat langsung.

Burung-burung yang singgah dalam proses migrasi di tambak-tambak Wonorejo, Surabaya sebagian besar menempati area pertambakan dan pantai berlumpur. Burung pantai penetap ataupun migran menjadikan hutan mangrove hamparan lumpur dan pasir sebagai habitatnya. Habitat ini sesuai dengan kebutuhan hidup burung pantai yang sangat tergantung pada ketersediaan rantai makanan seperti ikan, Crustacea, Mollusca, Polichaeta, dan biota lainnya. Di Wonorejo menempati daerah tambak ikan yang berlumpur serta hamparan pasir yang ada di tepi pantai saat terjadi surut.

Berikut gambaran area yang digunakan burung pantai untuk beraktivitas.

Peta wilayah persebaran burung pantai di Wonorejo, Rungkut, Surabaya (Jurnal Sains dan Seni ITS Vol.4, N0.1, 2015)

 

Dari penelitian Putri Ayu Jannatul Firdaus dan Aunurohim Jurusan Biologi, FMIPA, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), tentang persebaran burung pantai di Wonorejo, jumlah burung pantai yang paling mendominasi adalah Cerek Jawa (Charadrius javanicus). Di sana ditemukan tujuh spesies burung pantai yang memiliki pola sebaran mengelompok.

Setiap tahunnya, akan terjadi migrasi burung secara besar-besaran dari Eropa/ Asia ke Australia. Lebih dari satu juta burung pantai bermigrasi. Hal ini terjadi karena perubahan suhu yang terjadi. Burung-burung tersebut mencari tempat dengan suhu yang sesuai.

 

Pola dan alur migrasi burung pantai dari Eropa/ Asia ke Australia. (birds of Indonesia)

 

Posisi Indonesia yang terletak diantara daratan Eropa/ Asia dan Australia, membuat membuat Indonesia menjadi salah satu kawasan transit bagi burung-burung pantai tersebut. Migrasi yang panjang, membuat kawanan burung-burung ini perlu istirahat. Tersedianya ekosistem yang sesuaimembuat kawasan mangrove, Wonorejo menjadi tempat persinggahan. Proses migrasi burung ini terjadi di Wonorejo antara April-Juni. Namun, seiring berjalannya waktu, perubahan suhu, serta kelembaban, waktu migrasi itu kemudian menjadi bergeser, dan sering tak bisa lagi ditentukan waktu yang tepat.

Wilayah Wonorejo adalah salah satu kawasan persinggahan burung-burung pantai dunia, seperti biru laut ekor hitam, biru laut ekor blorok, burung blekok sawah, gajahan, cerek kernyut, raja udang, gajahan pengala, cerek pasir Mongolia, dan lainnya. Burung-burung itu terbang dari berbagai negara di belahan bumi bagian utara menuju Australia dan Selandia Baru pada Oktober-November saat musim dingin untuk mencari makan.

Begitu panjangnya jarak tempuh, burung-burung tersebut transit ke ke Wonorejo untuk istirahat dan cari makan, sebagai tambahan bekal selama perjalanan. Burung-burung ini rata-rata berhenti di beberapa pantai laut wilayah utara, seperti Medan, Jambi, Wonorejo (Surabaya), pantai Jogjakarta, Pulau Serangan di Bali, dan lain-lain.

Dari catatan Studi Burung Pantai terbitan Wetlands International Indonesia 2003, ada 19 lokasi lahan basah di Indonesia menjadi tempat mencari makannya burung air migran maupun habitat burung air setempat. Beberapa lokasinya itu adalah Tanjung Bakung, Delta Musi Banyuasin, Muara Gembong, Pantai Kupang, Tanjung Sembilang, Pantai Utara Teluk Bone, dan Taman Nasional Wasur.

Kembali ke Wonorejo. Tahun lalu (2017), migrasi burung terjadi si akhir tahun (November-Desember). Waktu singgahnya di Wonorejo juga lebih lama. Jenis burung da nasal burung juga lebih banyak dan beragam. Kesempatan inilah yang menjadi momentum istimewa bagi para pecinta dan pengamat burung. Para peneliti dari beberapa daerah dan asing juga turut serta. Untuk tahun ini (2018), belum diketahui secara detail perubahan waktu singgahnya. Di perkirakan tetap akhir tahun. Perubahan siklus ini disebabkan oleh perubahan-perubahan siklus lain di alam ini.

Sampai kapan kita bisa menjelajahi habitat dan menikmati keindahan migrasi burung-burung pantai? Lagi-lagi kita perlu merenung. Sebagai catatan yang dihimpun surabayastory, populasi burung pantai yang singgah di Wonorejo terus menurun. Penyebabnya, kawasan mangrove Wonorejo terus menyusut luasnya. Hutan mangrove banyak yang diurug, berubah fungsi lahan menjadi perumahan dan apartemen. Setiap tahun burung migran menurun 100-200 ekor! Bisa kita bayangkan, bagaimana indahnya dulu bisa menyaksikan ribuan burung unik dengan berbagai spesies dari beberapa negara. 📌

 

surabayastory
Bercerita berarti penyampaian cerita dengan cara bertutur. Yang membedakan adalah metode penyampaiannya.

Leave a Reply

  • (not be published)