Universitas Airlangga Surabaya mengembangkan
formula dari sel punca untuk awet muda.

Surabayastory.com – Usia boleh bertambah, tetapi penampilan jangan ikut tua. Itulah yang dialami dan menggejala dalam masyarakat dunia juga Indonesia. Keinginan untuk memiliki postur tubuh dan wajah yang tetap kencang, dan muda, membuat manusia mencari banyak cara dengan akal dan usahanya.

Pusat pengembangan dan Penelitian Stem Cell Universitas Airlangga Surabaya meneliti sel punca (stem cell) untuk menghambat penuaan. Formula awet muda (anti-penuaan) dari Universitas Airlangga dan Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya ini dinilai efektif untuk menghambat proses penuaan sel dengan menghambat inflamasi, mendorong peremajaan kulit, memicu produksi kolagen, dan mencegah kematian sel.

Teknologi stem cell yang terus dikembangkan, adalah proses pengobatan dengan penanaman sistem sel induk yang berfungsi untuk membentuk sel baru. Stem cell disebut juga sel punca atau sel induk merupakan pengobatan regeneratif (regenerative medicine) yang dikembangkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga dan RSUD Dr Soetomo dalam Instalasi Bank Jaringan sejak sejak 2010. Pengembangan ini didukung dengan kelengkapan peralatan dan bank jaringan. Bank jaringan adalah tempat penyaringan donor, pengambilan, pemrosesan, penyimpanan, serta distribusi sel dan jaringan tubuh manusia untuk kepentingan stem cell. Stem cell menjadi harapan baru bagi dunia kedokteran ketika perkembangan medical treatment internasional mulai meninggalkan sintetis ke biological.

Saat ini stem cell menjadi primadona karena dinilai bisa membawa harapan baru. Ada banyak masalah kesehatan di dunia yang bisa diselesaikan. Prof. Vladimir Mironov M.D. PhD, dari Institute for Regenerative Medicine, Sechenov University, dalam kuliah umum di ruang Amerta lantai IV gedung Rektorat Universitas Airlangga (UNAIR), Rabu (13/9/2017) menyatakan tentang peluang besar untuk memecahkan problem kesehatan khususnya berhubungan dengan penyakit organ dalam. “Organ printing, secara umum, berbicara tentang keinginan untuk ‘menciptakan’ atau membentuk organ manusia,” katanya.

Diproduksi 2019

Gedung dan Institute of Tropical Diseases (ITD), di sini penelitian dan pengembangan stem Cell dilakukan. (dok)

Dari data dan informasi yang dihimpun surabayastory, formula penghambat penuaan dini yang dikembangkan Unair ini akan diproduksi secara massal sekitar tahun 2019. Kualitas produk ini dinyatakan tidak kalah dengan luar negeri. Justru bisa lebih unggul karena biayanya lebih hemat. Saat ini produk metabolit sel punca Universitas Airlangga ini ada pada tahapan pendaftaran produk di Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM), setelah itu izin edar bisa berjalan.

Pemerintah melalui Kemenristek Dikti mendukung upaya penelitian dan inovasi pengembangan riset sel punca (stem cell) untuk memperbaiki kesehatan masyarakat. Hal itu dinyatakan oleh Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Prof. Muhammad Nasir, saat peresmian Teaching Industry Stem Cell dan Metabolit Stem Cell Universitas Airlangga, Rabu (11/7), di gedung Lembaga Penyakit Tropis (LPT), Kampus C UNAIR.

Dalam penelitian dan pengembangan di bidang stem cell dan produk-produk yang terkait, institusi lain yang turut berperan adalah Kemenristekdikti terkait dana hibah, P3SP (Pusat Penelitian dan Pengembangan Sel Punca) terkait transfer teknologi, dan dunia industri sebagai ujung tombak langsung di masyarakat.

Sejak 2008

Jejak sukses yang dipahat hari ini, ada baiknya kita melihat catatan sebelumnya. Sekitar tahun 2008, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, RSUD Dr. Soetomo, dan Institute of Tropical Diseases (ITD) telah membentuk Surabaya Regenerative Medicine Center sebagai pusat pengembangan metode pengobatan stem cell. Lembaga ini terus berkembang dan eksis berinovasi.

Surabaya Regenerative Medicine Center melalui Instalasi Bank Jaringan RSUD Dr. Soetomo telah menangani puluhan pasien dengan berbagai penyakit menggunakan metode stem cell. Mulai dari pasien penderita diabetes, kanker darah, stroke, cerebral palsy, hingga osteoarthritis.

Dr. Ferdiansyah, SpOT, Ketua Surabaya Regenerative Medicine Center menyatakan, jika sebelumnya stem cell banyak dikembangkan menggunakan metode sel based therapy dan stem cell menggunakan sel dan biomaterial bernama scaffold atau biasa disebut rekayasa jaringan. Kini pusat pengembangan ini tengah mengembangkan metode rekayasa jaringan.

Sel based therapy banyak digunakan oleh dokter ‘non bedah’. Tujuannya untuk mengganti sel yang rusak akibat penyakit maupun proses penuaan (degenerasi). Selain itu, metode ini juga bertujuan mengganti protein untuk metabolisme tubuh. Sementara gabungan stem cell dengan scaffold memiliki keunggulan yang berbeda. Rekayasa jaringan ini umumnya digunakan oleh dokter bedah untuk menangani kasus penyakit yang lebih besar.

Jika hanya terjadi kerusakan di area sel saja, seperti stroke, diabetes, parkinson, maka dapat digunakan metode penyembuhan menggunakan sel based terapy. Namun jika kerusakannya lebih besar dan kompleks, maka harus diimbangi dengan menggunakan rekayasa jaringan, yaitu teknik menggabungkan stemcell dengan scaffold.

Lahirnya berbagai inovasi tentu telah melalui serangkaian proses penelitian yang panjang dan berkelanjutan. Selama sembilan tahun berkembang, proses riset dasar in-vitro di laboratorium dan animal study dilakukan di Institute of Tropical Disease (ITD) UNAIR. Proses ini bertujuan untuk memantapkan stabilitas dan keamanan sel sebelum diaplikasikan ke pasien.

Instalasi Bank jaringan dan Sel RSUD Dr. Soetomo merupakan badan pelayanan nirlaba yang bertugas mengambil, memproses, menyimpan, dan mendistribusikan jaringan biologis untuk dicangkokkan pada pasien yang membutuhkan. Instalasi tersebut dirintis sejak tahun 1992. Saat itu, bank jaringan telah memproduksi tulang beku (fresh frozen bone). Tahun 2000 Bank Jaringan mendapat fasilitas baru berupa peralatan canggih untuk mendukung proses produksi jaringan biologis. Sejak saat itu, bank jaringan dapat memproduksi berbagai jenis jaringan biologis dengan standar mutu yang terjamin sesuai standar. –sa 📌

surabayastory
Bercerita berarti penyampaian cerita dengan cara bertutur. Yang membedakan adalah metode penyampaiannya.

Leave a Reply

  • (not be published)