Surabayastory.com – Setiap kota atau wilayah, selalu mempunyai sepotong jalan yang legendaris. Surabaya punya Jalan Tunjungan. Di Tunjungan, memori bersama masyarakat kota Surabaya akan berjalan kembali melintasi lorong waktu. Belajar tentang kejayaan masa lalu, kearifan, dan kehangatan. Tunjungan adalah sebuah kawasan yang sudah menjadi ikon bagi Kota Surabaya.

Dulu, Tunjungan adalah kawasan pertokoan, dengan pemandangan semarak dan trotoar yang nyaman untuk dibuat jalan-jalan sore hingga malam hari. Lingkungan yang hangat serta interaksi warga kota yang terbangun, membuat Tunjungan menjadi tempat jalan-jalan dan rekreasi bagi warga kota Surabaya. Belum ke Surabaya sebelum berjalan di Tunjungan.

Jalan Tunjungan sebagai salah satu pusat Kota Surabaya memiliki nilai historis yang kuat. Lokasinya sangat strategis di tengah kota. Jalan ini menghubungkan banyak jalan utama di Surabaya seperti Jalan Gubernur Suryo, Jalan Embong Malang, Jalan Genteng Besar dan Jalan Gentengkali, Jalan Gemblongan dan Jalan Praban yang berlanjut ke Jalan Blauran di sisi barat. Masuk dalam kawasan segitiga emas dengan Jalan Embong Malang dan Jalan Blauran. Tunjungan selalu ramai sejak dulu.

Kawasan Tunjungan memang menarik. Kenangan akan masa lalu masih bisa dilihat dari deretan bangunan kuno peninggalan Hindia Belanda. Setiap gedung menyimpan pesona bentuk dan detil masing-masing. Arsitektur gedung-gedung serta lanskap yang tersaji mengundang kagum kejayaan masa dulu. Toko Lalwani, Sporting House, Optik Seis, Toko Tjantik memberi arti nyata kejayaan Tunjungan.

Jalan Tunjungan menyisakan banyak memori bagi wisatawan dan tentu warga Surabaya.

Sebelum tahun 1900-an, kawasan Tunjungan belumlah tertata. Dari dokumen foto ini terlihat tahun 1899 Tunjungan Surabaya masih terlihat seperti jalan lainnya yang belum tersentuh modernisasi dan belum ada gedung tinggi.

Semenjak awal tahun 1910, dari dokumen-dokumen foto dan catatan yang dikumpulkan surabayastory, kawasan Tunjungan kemudian mulai berkembang dengan cepat.

Modernisasi semakin cepat dengan berdiri Gedung Whiteaway Laidlaw tahun 1923, perusahaan dagang Inggris yang mempunyai jaringan internasional dengan cabang di Burma, Srilanka, Singapura dan Malaysia. Di Indonesia, Whiteaway Laidlay melebarkan sayapnya ke Surabaya dan mendirikan gedung paling indah di Hindia Belanda saat itu.

 

Tempat Bersejarah

Jalan Tunjungan merupakan lokasi penting dalam sejarah Indonesia. Di sini menjadi tempat aksi heroik arek-arek Surabaya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Hotel Oranje yang kemudian menjadi Hotel Majapahit adalah lokasi perobekan bendera Belanda menjadi bendera Indonesia.

Hotel Majapahit didirikan oleh Lucas Martin Sarkies. Selanjutnya berganti nama menjadi Hotel Yamato pada masa kekuasan Jepang.

 

Kawasan Bisnis yang Masyur

Kawasan Tunjungan sejak awal perkembangannya didesain sebagai kawasan komersial dengan koridor panjang (863 meter) melintasi berderet took, restoran, dan hotel. Dari ujung Whiteaway (Siola) hingga Toko Kundandas samping Toko Metro.

Dari catatan dan dokumen foto-foto sejarah Tunjungan, diketahui kawasan ini sudah dikenal sejak tahun 1923. Bangunan-bangunan cantik berdiri di sepanjang jalan ini. Beberapa yang dikenal dan menjadi land mark adalah Toko Siola, Toko Aurora, Toko Metro, Toko Sentral dan sebagainya. Sebagian kecil masih bisa dinikmati sekarang, dan sebagian besar sudah musnah.

Perusahaan perdagangan besar dari Inggris Whiteaway Laidlaw & Co, memutuskan untuk membangun sebuah toko di ujung utara Jl. Tunjungan. Gedung yang kemudian menjadi Gedung Siola, adalah milik orang Inggris bernama Robert Laidlaw. Sejak tahun 1877, gedung ini telah menjadi pusat perkualakan grosir sebuah brand ternama Whiteaway Laidlaw & Co. Keputusan membuat bangunan beton tiga lantai yang sangat besar dan indah di masa itu tak lepas dari potensi bisnis di Tunjungan.

Di masa kependudukan Jepang, gedung ini berganti nama menjadi Toko Chiyoda. Jualan utamanya tas dan koper.

Setelah itu toko tersebut berganti nama menjadi Toko Siola yang kita kenal hingga sekarang. Siola dimiliki oleh beberapa konglomerat Indonesia saat itu, dan adalah akronimnya menjadi Siola, dari nama: Soemitro-Ing Wibisono-Ong Liem-Ang.

Gedung Siola juga sempat menjadi lokasi arek-arek Surabaya untuk melawan Inggis (sekutu). Bangunan itu bertahan dan tetap elok meski sudah melewati tiga zaman: zaman Hindia Belanda, zaman Jepang, zaman Kemerdekaan, dan bertahan hingga hari ini.

Di seberang Monument Pers Perjuangan Surabaya, di tikungan Jl Tunjungan dan Jl Embong Malang, dahulu adalah bangunan toko bernama Toko Nam yang berdiri 1930-an. Bangunannya modern dengan struktur beton. Sebelumnya tempat ini adalah bekas sebuah toko agen penjual mobil. Toko pakaian ini cukup terkenal hingga awal 1980-an. Toko Nam sempat bernama Toko Kwang. Sayang, bangunan legendaris itu dirobohkan sekitar tahun 1990-an.

Di sepanjang Jalan Tunjungan salah satu restoran yang terkenal adalah restoran Hellendorn yang dirancang Van Oyen. Sayang, restoran favorit di zamannya itu kini terbengkalai.

Tunjungan yang menawan membuat jalan-jalan di jalanan ini adalah sebuah gaya hidup. Mengajak handai taulan serta keluarga ke Tunjungan, menunjukkan status social yang tinggi. Makan malam di restoran mahal atau mengudap es krim Zangrandi yang kala itu membuka cabang tepat di samping gedung Siola. Namun tempat minum es krim di Tunjungan itu sudah tidak ada, tinggal yang ada di Jl. Yos Sudarso.

Dipastikan dari kebiasaan pelesiran inilah kemudian lahir lagu Rek Ayo rek yang melegenda dan menjadi backsound tayangan ini.

Tunjungan dibangkitkan kembali menjadi destinasi jalan-jalan yang membangkitkan kenangan. Sebagai pusat mlaku-mlaku (jalan santai). Jalan Tunjungan memang bernilai historis dan legendaris.

****

Naskah: Sandiantoro
Graphic: Bambang
Sumber gambar: KILTV, Soerabaia Tempoe Doeloe, Djawa tempodoeloe
Musik Latar: Rek Ayo rek (cipt. Is Haryanto, penyanyi Mus Mulyadi)

 

surabayastory
Bercerita berarti penyampaian cerita dengan cara bertutur. Yang membedakan adalah metode penyampaiannya.

Leave a Reply

  • (not be published)